Antara SDG 9 dan Eksistensi Hutan: Bagaimana Menyeimbangkannya?

Gambar 1 SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur 
Gambar 1 SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur

Hutan menyediakan jasa ekosistem vital bagi kesejahteraan manusia dan juga bagi pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam mencapai ketujuh belas Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs) yang merupakan agenda 2030 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun, masih sedikit perhatian yang berfokus pada bagaimana upaya untuk mencapai SDGs ini akan berdampak pada hutan dan juga masyarakat yang bergantung padanya. Salah satu SDG yang dikhawatirkan akan bersinggungan dengan hutan adalah SDG 9, yakni industri, inovasi, dan infrastruktur. Untuk itu, bagaimanakah cara untuk menyeimbangkan antara upaya pemenuhan tujuan-tujuan dari SDG ini tanpa merusak hutan dan tetap menjaga kontribusinya terhadap iklim dan pembangunan?

Ads

SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 9 berpusat pada tiga pilar utama: industri, infrastruktur, dan inovasi yang terdiri delapan target dan dua belas indikator. Penetapan SDG ini mengakui bahwa industrialisasi harus inklusif, berwawasan lingkungan, dan berkelanjutan. Sedangkan infrastruktur harus tangguh dan teknologi harus memainkan peran sentral dalam mencapai tujuan ini melalui efisiensi sumber daya dan energi serta akses ke teknologi digital. Sehingga melihat target yang ingin diangkat pada SDG 9 ini, tentunya dikhawatirkan akan memberikan dampak ganda, baik positif maupun negatif pada hutan serta masyarakat yang mata pencaharian dan ekonominya bergantung pada hasil hutan

SDG 9 sendiri juga membawa suatu narasi “modernisasi ekologi” yang lebih menekankan pada peran sains dan teknologi dalam memastikan kesesuaian antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan (Tracy et al. 2017). Namun, narasi ini sendiri masih diperdebatkan, mengingat populasi manusia yang sekarang melebihi 7,5 miliar dengan pertumbuhan tahunan sebesar 1,1 persen (UNEP 2016). Sehingga jejak ekologi global kita terus meningkat, membuat biokapasitas global akan terus menurun (Wackernagel and Rees 1996) yang justru membuktikan bahwa belum terjadinya kesesuaian antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Gambar 2 Grafik Jejak Ekologi Dunia yang Melebihi Kapasitas Lingkungan 
Gambar 2 Grafik Jejak Ekologi Dunia yang Melebihi Kapasitas Lingkungan

Hal inilah yang menjadi pertimbangan penting ketika mengevaluasi potensi dampak SDG 9 pada hutan, masyarakat yang bergantung pada hutan, dan ekonomi berbasis hutan. Karena ketika PBB (2017a) dan Bank Dunia (2017) mengidentifikasi beberapa perkembangan dalam pencapaian SDG ini seperti peningkatan nilai tambah manufaktur sebagai bagian dari produk domestik bruto (PDB), pertumbuhan penerbangan udara, peningkatan penelitian dan investasi pembangunan, peningkatan bantuan pembangunan untuk proyek infrastruktur (terutama transportasi dan energi), serta penurunan emisi CO2 per unit nilai tambah manufaktur. Nyatanya, upaya-upaya tersebut memberikan dampak yang buruk bagi lingkungan, seperti perubahan iklim, integritas biosfer (misalnya hilangnya keanekaragaman hayati), perubahan sistem lahan, dan perubahan aliran biokimia (misalnya siklus nitrogen dan fosfor) (Steffen et al. 2015). 

Potensi Dampak SDG 9 Terhadap Hutan

Upaya pemenuhan SDG 9 diprediksikan akan memiliki banyak dan beragam dampak pada hutan dan masyarakat yang bergantung pada hutan sebagai konsekuensi dari perluasan infrastruktur (Target 9.1), peningkatan manufaktur (Target 9.2), menumbuhkan sektor UKM (Target 9.3), mengembangkan industri yang lebih bersih dan efisien (Target 9.4), dan meningkatkan akses ke teknologi digital serta telekomunikasi (Target 9.C).

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com
Gambar 3 Tabel Analisis Dampak Implementasi Target SDGs 9 Terhadap Hutan dan Mata Pencaharian yang Bergantung pada Hasil Hutan
Gambar 3 Tabel Analisis Dampak Implementasi Target SDGs 9 Terhadap Hutan dan Mata Pencaharian yang Bergantung pada Hasil Hutan

Berdasarkan hasil kajian yang pernah dilakukan sebelumnya, target yang terdapat dalam SDG 9 dapat memberikan berdampak negatif maupun positif kepada hutan, bergantung bagaimana dilihat dari perspektif bisnis, sosial atau ekologis. Seperti perluasan infrastruktur (Target 9.1) jalan dan transportasi, tentunya secara ekologis kemungkinan besar akan berdampak negatif karena adanya alih fungsi lahan atau pembebasan lahan untuk pembangunan jalan. Namun, keberadaan jalan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat yang bergantung pada hasil hutan karena akses untuk menyalurkan hasil hutan semakin dipermudah.

Selanjutnya, peningkatan manufaktur (Target 9.2) dan menumbuhkan sektor UKM (Target 9.3) dapat bersifat negatif jika pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan justru menimbulkan efek yang buruk bagi lingkungan (misal limbah atau polusi akibat aktivitas ekonomi). Namun juga dapat memberikan dampak positif apabila dapat meningkatkan kualitas hasil hutan yang menjadi sumber pendapatan beberapa masyarakat (khususnya di wilayah perdesaan). Serta pembukaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang mungkin juga dapat terkait dengan pemanfaatan hasil hutan.

Sedangkan pengembangan industri yang bersih dan efisien (Target 9.4) dapat bersifat negatif, lantaran terjadinya rebound effect atau ketika peningkatan efisiensi yang ada (karena menggunakan teknologi ramah lingkungan) akan menurunkan biaya produksi barang atau jasa yang justru meningkatkan konsumsi barang atau jasa. Peningkatan konsumsi inilah yang dikhawatirkan akan berdampak negatif pada lingkungan. Karena beberapa hasil studi menunjukkan bahwa meskipun intensitas karbon ekonomi global telah turun, namun tidak dengan total emisi yang mencapai puncaknya pada tahun 2014 dan bahkan meningkat lagi pada tahun 2017. Terakhir, untuk target meningkatkan akses ke teknologi digital dan telekomunikasi (Target 9.C), dampak positif dan negatif pada hutan akan bergantung pada bagaimana kita memanfaatkan teknologi tersebut.

Alternatif Menyeimbangkan Antara SDGs 9 dengan Hutan

Mengingat beberapa dampak yang mungkin terjadi dan sulit diubah pada hutan dari beberapa pencapaian target dan indikator SDG 9, alternatif model sosio-ekonomi dan paradigma pembangunan baru mungkin perlu dipertimbangkan untuk memitigasi dampak yang ada. Sektor kehutanan sebagai bagian dari ekonomi konservasi dapat memainkan peran penting dalam mendorong penurunan konsumerisme dan pengurangan jejak ekologi global. Kehutanan yang dikontrol secara lokal dapat memainkan peran penting dalam transisi ini (Tomaselli dkk. 2017). Pemanfaatan hutan skala kecil dan menengah (termasuk bisnis berbasis komunitas) cenderung memiliki kesadaran yang lebih kuat dan pengetahuan ekologi lokal yang lebih dalam, terutama jika mereka telah mendiami tempat yang sama selama beberapa generasi (Rockwell dan Kainer 2015).

Dengan mendorong kegiatan ekonomi lokal, kekayaan dapat didistribusikan secara lebih lokal dan regional (Pokorny dan de Jong 2015) yang menghasilkan peluang kerja berkualitas tinggi dan meningkatkan mata pencaharian masyarakat pedesaan (Macqueen 2008). Karena tidak diragukan lagi, hutan alam dapat memberikan manfaat yang lebih baik dalam sistem ekonomi dan politik dalam hal mengenali dan menginternalisasi nilai alam dan jasa baik secara langsung yang tak terhitung banyaknya kepada masyarakat. Dalam konteks ini, pemeliharaan jasa ekosistem hutan harus dilihat sebagai poin penting dari ekonomi hijau secara berkelanjutan dan bukan sebagai batu sandungan untuk pembangunan untuk menjamin kesejahteraan dan kehidupan yang sehat.

Gambar 4 Pemanfaatan Hasil Hutan Secara Lokal
Gambar 4 Pemanfaatan Hasil Hutan Secara Lokal

Membatasi karbon dan emisi GRK lain dalam penciptaan ekonomi hijau yang berkelanjutan juga penting, tidak hanya akan mengurangi laju perubahan iklim, tetapi mengurangi dampak negatif perubahan iklim terhadap kesehatan ekosistem hutan pula. Misalnya, meningkatnya kebakaran hutan di hutan beriklim sedang dan boreal (Hansen dkk. 2013) dan peningkatan risiko terjadinya destabilisasi pada hutan hujan tropis Amazon jika batas peningkatan suhu (di bawah 2 derajat celcius) terlampaui (Nobre dkk. 2016). Karena itu, jika pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi terus berlanjut, bahkan energi hijau dan terbarukan dapat berdampak parah pada ekosistem hutan dan orang-orang yang secara langsung bergantung padanya jika pembatasan emisi GRK tidak dilakukan.

Target SDG 9 lainnya juga mungkin akan cocok dengan kebijakan sosial-ekonomi alternatif ini. Seperti target teknologi informasi dan komunikasi yang dampaknya sendiri dapat dikatakan positif atau negatif, bergantung pada bagaimana mereka dimanfaatkan. Jika tujuan ekonomi dan politik kita adalah untuk meningkatkan konsumsi dan pertumbuhan, maka teknologi kemungkinan besar akan berdampak negatif. Memang, teknologi sangat efektif dalam memfasilitasi akses pasar dan menyebarkan budaya konsumen ke seluruh dunia. Namun, jika tujuannya adalah beralih dari konsumsi material menuju kesejahteraan yang berkelanjutan, maka teknologi kemungkinan akan memainkan peran sentral dalam memfasilitasi transisi ini.

Kesimpulan

Beberapa target SDGs 9 jelas akan berdampak pada negatif hutan dan mungkin sifat tersebut tidak dapat diubah (terutama Target 9.1), sementara untuk target lainnya akan bergantung pada bagaimana mereka dicapai (misalnya Target 9.C) atau diimplementasikan (misalnya Target 9.3). Secara umum, SDG 9 tidak secara serius mempertimbangkan keseluruhan biaya lingkungan dari industrialisasi dan bagaimana dampaknya terhadap hutan. Selain itu, premis pemisahan ekonomi yang menjadi dasar SDG 9 tidak didukung kuat melalui bukti empiris saat ini. Hal ini menunjukkan adanya kontradiksi antara SDGs 9 dengan SDGs 15 yang berfokus utama pada pemeliharaan hutan dan keanekaragaman hayati dan mungkin juga SDG 13 (aksi iklim).

Gambar 5 Pembukaan Lahan Hutan untuk Infrastruktur Jalan
Gambar 5 Pembukaan Lahan Hutan untuk Infrastruktur Jalan

Jika SDGs 9 mencari dan mendukung model sosio-ekonomi alternatif (yang tidak didasarkan pada pertumbuhan ekonomi yang tak terbatas dan sangat bergantung pada perluasan infrastruktur), pemeliharaan hutan dan jasa ekosistem dapat dipandang penting untuk lingkungan hijau, serta ekonomi berkelanjutan. Mengingat aktivitas umat ​​manusia sudah melebihi kapasitas berkelanjutan bumi (misalnya jejak ekologi, hilangnya keanekaragaman hayati, penggundulan hutan, dan perubahan iklim), sehingga penting untuk mempertanyakan apa artinya terus memperluas budaya konsumen di seluruh dunia? 

Inilah tantangan terbesar untuk mengubah paradigma jika konsumsi marjinal yang lebih besar tidak berarti kualitas hidup yang lebih baik secara signifikan (karena menurunnya kualitas lingkungan). SDGs tampaknya tidak memberikan fokus yang serius pada sisi lain dari pencapaian target ini. Maksudnya adalah SDG 9 tidak secara serius mempertimbangkan batasan skala biofisik ekonomi. Meskipun SDG 9 memasukkan konsep seperti tangguh, berkelanjutan, dan adil, indikator yang ada tidak menggambarkan dampak yang dapat dihasilkan oleh dari industrialisasi yang bersifat business as usual yang dapat bermasalah bagi kelestarian hutan, keanekaragaman hayati, dan masyarakat yang bergantung hutan.

 

Penulis: Farijzal Arrafisena

 

Referensi Literatur:

Tomaselli, M., Timko, J., Kozak, R., Bull, J., Kearney, S., Saddler, J., . . . Zhu, X. (2019). SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure – Anticipating the Potential Impacts on Forests and Forest-Based Livelihoods. In P. Katila, C. Pierce Colfer, W. De Jong, G. Galloway, P. Pacheco, & G. Winkel (Eds.), Sustainable Development Goals: Their Impacts on Forests and People (pp. 279-314). Cambridge: Cambridge University Press.

Referensi Gambar:

  1. https://www.isglobal.org/en/-/sdg-9-build-resilient-infrastructure-promote-inclusive-and-sustainable-industrialization-and-foster-innovation 
  2. https://knowledge4policy.ec.europa.eu/foresight/topic/aggravating-resource-scarcity/world-ecological-footprint_en 
  3. https://www.cambridge.org/core/books/sustainable-development-goals-their-impacts-on-forests-and-people/sdg-9-industry-innovation-and-infrastructure-anticipating-the-potential-impacts-on-forests-and-forestbased-livelihoods/C925D10F6738A9682EE883A6EAA5652C
  4. https://www.siani.se/news-story/making-forest-wonders-work-for-nutrition-biodiversity-and-livelihoods/
  5. https://www.worldwildlife.org/threats/infrastructure

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di berbagai daerah. Mari kita sama-sama melestarikan lingkungan dan menjaganya. 

Yuk

bergabung bersama kami sebagai pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!