Banjir Masamba 2020: Arti Penting Alam Bagi Kehidupan

 

Beberapa waktu ini masih dalam suasana tidak kondusif akibat pandemi COVID-19, Indonesia kembali berduka. Bencana alam banjir bandang yang melanda wilayah Masamba, Kabupaten Luwu Utara menjadi sebuah tangisan di negeri ibu pertiwi. Masamba merupakan sebuah daerah nan jauh disana, terletak kurang lebih 324 km dari Makassar sebagai ibukota Sulawesi Selatan. 

Ads

Banjir Masamba merupakan salah satu bencana alam terdahsyat di negeri ini pada tahun 2020. Kejadian ini bermula pada bulan juli. Namun, sampai saat ini tanggal 12 agustus bencana tersebut belum berakhir. Banjir susulan masih kerap melanda. Diperkirakan ada 14.483 warga yang mengungsi akibat banjir bandang ini. 

Banjir merupakan bencana alam yang sering melanda negara kita. Selama periode tahun 1991 sampai 1995, misalnya, bencana banjir di Indonesia telah menimbulkan kerugian triliunan rupiah dengan korban jiwa sebanyak 4.246 meninggal, 6.635 luka-luka, dan sekitar 7 juta menderita serta 324.559 rumah mengalami kerusakan. Perkiraan kerugian tersebut belum memperhitungkan bencana banjir dalam skala kecil, kerugian immaterial dan kerugian tidak langsung yang tidak sedikit jumlahnya (BNPB, 2013).

Meskipun bencana alam memang sering melanda negeri ini. Namun, banjir bandang Masamba ini merupakan sebuah bencana yang disebabkan oleh kerakusan para manusia. Manusia yang hanya memikirkan materi duniawi dan tidak memikirkan masa depan kehidupan. Banyak manusia yang kehilangan disebabkan ulah para manusia yang rakus. 

Dilansir dari Tirto.id, Direktur Eksekutif sekaligus aktivis lingkungan Junal Celebes Mustam Arif mengatakan dari perspektif lingkungan banjir bandang di Masamba merupakan bencana ekologis akibat degradasi lingkungan sehingga menyebabkan sungai-sungai di sekitar Masamba meluap. Lebih lanjut, menurutnya banjir bandang di Masamba ini terjadi hampir sama di semua wilayah di Indonesia yang rentan, akibat perencanaan pembangunan tidak serius memperhitungkan daya dukung lingkungan.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Memang bencana ini seperti tidak terlalu terekspos oleh media. Mungkin tidak penting, atau malah ada oknum pemilik media yang terlibat di dalam rusaknya ekosistem di Luwu Utara. Entahlah apapun itu bencana ini menjadi tanda bahwa alam punya arti penting bagi kehidupan. Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional yang jatuh pada 10 Agustus lalu, seharusnya menjadi cambuk untuk kita semua untuk senatiasa menjaga alam dan berkontribusi aktif di dalamnya. Banyak cara menjaga alam, termasuk dalam memelihara Daerah Aliran Sungai (DAS) yang seringkali menjadi sebab bencana alam. 

Menurut Sudaryono (2002), setidaknya ada beberapa upaya dalam menjaga Daerah Aliran Sungai (DAS):

Peningkatan kegiatan reboisasi

Menurut JurnalBumi, reboisasi merupakan kegiatan penghijauan di kawasan hutan atau areal yang akan dijadikan kawasan hutan. Kegiatan reboisasi akan meregenerasi atau memperbaiki kualitas hutan di sekitar sungai. Semakin banyak penanaman pohon maka daerah resapan air pun akan baik sehingga kegiatan reboisasi dinilai sebagai penopang utama dalam kegiatan memperbaiki Daerah Aliran Sungai (DAS).

Peningkatan pembinaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH)

Menurut data.go.id, HPH adalah hak untuk mengusahakan hutan didalam suatu kawasan hutan, yang meliputi kegiatan-kegiatan penebangan kayu, permudaan, pemeliharaan hutan, pengolahan dan pemasaran hasil hutan sesuai dengan rencana kerja pengusahaan hutan menurut ketentuan-ketentuan yang berlaku serta berdasarkan asas kelestarian hutan dan asas perusahaan. Meningkatkan pembinaan tentunya akan semakin menyadarkan para pemegang HPH untuk bekerja secara benar dan tidak melakukan penyimpangan yang menyebabkan rusaknya ekosistem di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS).

Peningkatan kegiatan pengendalian perladangan berpindah

Kegiatan perladangan berpindah seringkali menimbulkan dampak negatif. Pembukaan lahan yang amburadul dan serampangan terkadang menyebabkan rusaknya hutan di sekitar sungai. Dibutuhkan pengendalian akan hal ini sehingga mampu menahan laju peladang nakal yang biasa menggunakan lahan sembarangan tanpa memikirkan efek selanjutnya.

Pengembangan sistem pengendalian kebakaran hutan

Kebakaran hutan menjadi sebuah momok sampai saat ini. Banyak faktor yang menyebabkannya. Namun, alasan membuka lahan seringkali terjadi sehingga marak pembakaran hutan dengan alasan tersebut. Solusi dari hal ini yaitu dengan mengembangkan sistem pengendalian kebakaran hutan. Butuh sinergi antar elemen berupa Kementerian Kehutanan, Badan Penanggulangan Bencana Nasional, dan masyarakat sehingga mampu membuat sistem yang baik apabila terjadi kebakaran hutan di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS).

Peningkatan pembangunan hutan tanaman industri

Hutan tanaman industri merupakan salah satu potensi yang bisa dikembangkan oleh masyarakat. Dengan membangun hutan tersebut bisa menjadi jalan supaya masyarakat tidak mempunyai niat jahat untuk merusak ekosistem hutan di sekitar sungai serta dari hutan tanaman industri mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

Pengembangan pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Daerah Aliran Sungai merupakan wilayah yang potensial. Ketika dikelola dengan baik maka sungai akan menjadi baik. Banyak cara mengelola Daerah Aliran Sungai (DAS). Termasuk membuat gerakan-gerakan yang membangun kesadaran masyarakat untuk peduli dan cinta dengan sungai. Apabila berhasil, maka imbas dari gerakan ini sangatlah positif karena mampu menyadarkan banyak orang bahwa sungai memiliki peranan penting dalam hidup sehingga wajib dijaga kelestariannya. 

Peningkatan penelitian keanekaragaman hayati

Di banyak Daerah Aliran Sungai (DAS) tentu menyimpan karakteristik yang berbeda. Ada yang memiliki flora dan fauna khas daerah situ sehingga pastinya menarik. Dengan adanya penelitian maka akan mampu menghadirkan inovasi. Dari inovasi ini akan banyak memberi tahu cara jitu untuk memelihara dan menjaga keanekaragaman hayati di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS).

Dari upaya menjaga tersebut, sudah seharusnya kita bisa melaksanakannya walau hanya beberapa poin saja. Dengan menjaga alam berarti menjaga kelestarian lingkungan hidup juga. Hadirnya bencana banjir bandang Masamba jadi peringatan untuk kita bahwa alam memiliki arti penting bagi kehidupan. Terus, tunggu apalagi untuk berkontribusi kepada alam? Ayo bergerak!

 

Sumber Referensi:

https://regional.kompas.com/read/2020/07/16/20430751/14483-orang-mengungsi-dan-24-jiwa-meninggal-akibat-banjir-masamba

https://tirto.id/penyebab-banjir-masamba-luwu-utara-yang-tewaskan-puluhan-orang-fRm6

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (2013): Bencana di Indonesia 2012.

https://jurnalbumi.com/knol/reboisasi/

https://data.go.id/dataset/produksi-kayu-bulat-perusahaan-hak-pengusahaan-hutan-hph-menurut-provinsi-m3

https://news.detik.com/berita/d-5092898/analisis-bmkg-soal-banjir-bandang-masamba-luwu-utara