Bencana Abrasi

Definisi Erosi dan Abrasi

Erosi didefinisikan sebagai proses geologis yang mencakup pengikisan lanskap akibat angin, air atau es. Erosi merupakan kebalikan dari deposisi (pembentukan). Salah satu jenis erosi adalah abrasi pantai. Hal ini didefinisikan sebagai hilangnya lahan pantai akibat dari penghilangan sedimen atau batuan dasar dari garis pantai karena gelombang laut. 

Ads

Faktor Penyebab Abrasi

Faktor penyebab dapat berasal dari alam dan aktivitas manusia. Contoh dari faktor alam adalah angin laut yang menimbulkan terjadinya gelombang laut yang mempunyai kekuatan untuk mengikis pantai. Selain itu, persentase tutupan vegetasi pada daerah pesisir juga dapat menentukan tingkat keparahan. Persentase >80% untuk tingkat rendah, 40 hingga 80% untuk tingkat sedang, dan <40% untuk tingkat tinggi berdasarkan Peraturan Kepala BNPB Nomor 2 Tahun 2012 mengenai Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana. Sementara itu, contoh dari faktor manusia atau faktor antropogenik adalah penambangan pasir yang dapat mempengaruhi kecepatan dan arah arus laut yang akan menghantam pantai (Badan Nasional Penanggulangan Bencana, 2016). Terdapat 7 parameter yang dapat membantu penentuan tingkat bahaya, yaitu morfologi pesisir, batimetri, geologi pesisir (formasi batuan), tingkat kemiringan lereng pesisir, histori kejadian abrasi, tutupan vegetasi pantai, dan posisi pantai terhadap arah angin laut (Wisyanto, 2019).

Mekanisme Terjadinya Abrasi

Mula-mula, angin yang bergerak menyebabkan gelombang laut datang menuju ke arah letak pantai. Seiring berjalannya waktu, dengan proses yang terjadi secara terus-menerus, gelombang dapat mengikis bagian pantai. Terjadinya badai dapat mempercepat proses tersebut. Selain dari alam, proses terjadinya  juga dapat disebabkan dari penambangan pasir yang dilakukan oleh manusia. Hal tersebut diketahui dapat mempengaruhi kecepatan dan arah arus air laut yang menghantam daerah pantai (Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi, 2016).

Dampak dan Kejadian Abrasi di Indonesia

Garis pantai di sejumlah daerah di Indonesia diketahui mengalami penyempitan dalam beberapa tahun terakhir akibat dari abrasi. Sedikitnya 400 kilometer pantai telah tergerus di Indonesia akibat bencana  berdasarkan laporan data Kementerian Perikanan dan Kelautan. Apabila tidak segera dilakukan penanganan, sejumlah bagian daratan di Indonesia dapat terancam hilang dalam beberapa tahun ke depan (Kompas, 2019). Bencana ini dapat berdampak negatif seperti kerusakan permukiman masyarakat, lahan tambak, dan wisata pantai, serta kerusakan infrastruktur atau sarana-prasarana lainnya seperti jalan, dermaga, pepohonan, dan tiang listrik.

Di Kalimantan Utara, Garis Pantai Kayu Angin sepanjang 27 meter tergerus abrasi yang terjadi sejak pada tahun 1980-an. Abrasi menyebabkan kebun milik warga dan kampung yang dulunya dihuni oleh belasan suku Bajau di Desa Tanjung karang hilang. Berikut pada gambar di bawah ini dapat dilihat daerah setelah bencana di Pantai Kayu Angin.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com
Gambar 1. Abrasi di Pantai Kayu Angin
Gambar 1. Abrasi di Pantai Kayu Angin

Sumber: Kompas

Pada gambar tersebut, bencana ini membuat pohon menjadi miring. Sejauh 1,5 kilometer dari lokasi pantai tersebut, abrasi terjadi juga di Pantai Batu Lamampu. Selain 2 pantai yang telah disebutkan, Pantai Tanjung Aru juga diketahui mengalami abrasi, yang telah terjadi sejak tahun 1980-an menyebabkan puluhan rumah warga harus dipindah ke daerah yang lebih aman (Kompas, 2017).

Di Jawa Timur, abrasi terjadi di sepanjang 300 meter pada Pantai Tegal Banteng di Kabupaten Lumajang. Gelombang yang diperkirakan setinggi 3 meter diketahui menerjang pantai tersebut. Sejumlah tumbuhan, termasuk pohon kelapa ikut terseret oleh gelombang. Data dari BMKG menunjukkan bahwa potensi terjadinya bencana masih dinilai tinggi, khususnya di 4 lokasi pada kabupaten tersebut, yaitu daerah Wisata Pantai Bambang, Pantai Dampar, Pantai TPI Tempursari, dan Pantai Wotgalih (Detik, 2019).

Sementara itu, di Desa Labuhan, Madura, daerah pantai sepanjang hampir 100 meter telah terkikis selama hampir 15 tahun. Pantai ini tidak terlindungi dengan pohon bakau akibat penebangan yang dilakukan oleh warga sekitar Kecamatan Sepulu untuk pakan ternak dan penggunaan sebagai kayu bakar. Pada tahun 2014, terdapat penanaman mangrove dan cemara laut (National Geographic, 2019).

Di Kelurahan Mangunharjo, Provinsi Jawa Tengah, tingkat abrasi dinilai tinggi sejak tahun 1997. Seluas 150 hektar pesisir diketahui rusak akibat abrasi. Aksi mitigasi dilakukan oleh warga setempat dengan cara penanaman mangrove yang merupakan bagian dari program MERA atau Mangrove Ecosystem Restoration Alliance sejak pada tahun 2019 lalu. Saat ini, kelurahan tersebut diketahui menjadi kawasan hutan mangrove terluas apabila dibandingkan dengan tempat lainnya yang ada di Semarang. Luas kawasan mangrove di kelurahan tersebut mencapai 62,83 hektare. Sementara itu, Kota Semarang memiliki kawasan mangrove dengan total luas 268,76 hektar. Pengelolaan  daerah pesisir dengan terpadu yang memperhatikan sisi sosial, ekonomi, dan ekologi juga dilakukan untuk meningkatkan kualitas kehidupan warga setempat dan mengembalikan fungsi hutan tersebut (Kompas, 2020).

Pencegahan Abrasi

            Untuk mencegahnya, ilmu keteknikan biasa diterapkan, seperti pembuatan sea wall, breakwater, dan groin. Ketiga jenis penghalau gelombang laut tersebut dapat dilihat pada gambar sebagai berikut.

Sumber: 2.(a) CNN dari George Rose, (b) ,dan (c) The National Park Service
Sumber: 2.(a) CNN dari George Rose, (b) ,dan (c) The National Park Service

Seawall merupakan tanggul atau dinding laut yang biasa ditempatkan di pinggir pantai. Sementara itu, breakwater merupakan pemecah gelombang yang biasa ditempatkan hingga kedalaman 3 meter dan 100 meter dari garis pantai. Groin diletakkan pada bagian pantai yang mengalami abrasi yang cukup buruk agar dapat menangani pindahnya sedimen. Selain ketiga hal tersebut, penanaman mangrove juga biasa dilakukan sebagai bentuk pencegahan . Akan tetapi, Indonesia diketahui mengalami penurunan luas mangrove. Berikut pada gambar di bawah ini, grafik penurunan luas mangrove di Indonesia dapat dilihat.

Gambar 3. Penurunan Jumlah Mangrove di Indonesia
Gambar 3. Penurunan Jumlah Mangrove di Indonesia

Sumber: Tirto.id dari FAO, CIFOR

Pada gambar 3 di atas, grafik menunjukkan Indonesia mengalami penurunan luas kawasan mangrove dari tahun 1980 dengan luas 4.200.000 Ha hingga tahun 2005 menjadi seluas 2.900.000 Ha. Indonesia diketahui memiliki sebanyak 27% dari total luas mangrove yang ada di seluruh dunia. Berdasarkan informasi dari Adi Purwananda yang merupakan seorang peneliti oseanografi dan perubahan iklim global dari LIPI, akar mangrove dinilai efektif dalam menangkal gelombang laut. Tidak hanya untuk hal tersebut, tetapi mangrove juga memiliki kemampuan penyimpanan karbon sebanyak 5 kali lebih besar dibandingkan hutan di daratan, menurut informasi dari CIFOR atau Centre for International Forestry Research (Tirto.id, 2020). Dengan demikian, peningkatan jumlah mangrove di Indonesia penting untuk dijadikan sebagai perhatian atau misi untuk mencegah abrasi.

Dengan membaca artikel ini, para pembaca dapat mengetahui sejumlah hal mengenai abrasi. Para pembaca dapat ikut melakukan pencegahan dengan cukup mudah bersama pihak Lindungi Hutan melalui penanaman tumbuhan. Lindungi Hutan diketahui telah melakukan banyak project positif bersama masyarakat. Bersama Lindungi Hutan, para pembaca dapat membuat sarana donasi dan mengajak orang lain untuk ikut berkontribusi. Kontribusi masyarakat bernilai sangat penting untuk pencegahan di Indonesia.

Penulis: Elgin Martama

Referensi

Badan Nasional Penanggulangan Bencana. (2016). Risiko Bencana Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana. http://inarisk.bnpb.go.id/pdf/Buku%20RBI_Final_low.pdf

Detik. (2019, January 22). Pantai di Lumajang Abrasi Usai Diterjang Gelombang Tinggi. Detik. Retrieved October 22, 2020, from https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4394757/pantai-di-lumajang-abrasi-usai-diterjang-gelombang-tinggi

Kompas. (2017, September 22). Digerus Abrasi, Pantai Kayu Angin di Nunukan Hilang 27 Meter. Kompas. Retrieved October 22, 2020, from https://regional.kompas.com/read/2017/09/22/17053321/digerus-abrasi-pantai-kayu-angin-di-nunukan-hilang-27-meter

Kompas. (2019, November 19). Nasib Pesisir Pantai Indonesia di Tengah Ancaman Abrasi. Kompas. Retrieved October 22, 2020, from https://foto.kompas.com/photo/read/2019/11/19/1574158801a47/Nasib-Pesisir-Pantai-Indonesia-di-Tengah-Ancaman-Abrasi

Kompas. (2020, July 30). Atasi Abrasi dengan Mangrove, Taraf Hidup Masyarakat Ikut Meningkat. Kompas. Retrieved October 22, 2020, from https://www.kompas.com/sains/read/2020/07/30/200200423/atasi-abrasi-dengan-mangrove-taraf-hidup-masyarakat-ikut-meningkat?amp=1&page=2

National Geographic. (2019, April 13). Perjuangan Warga Lokal Melawan Abrasi di Pesisir Utara Pulau Madura. National Geographic. Retrieved October 22, 2020, from https://nationalgeographic.grid.id/read/131697333/perjuangan-warga-lokal-melawan-abrasi-di-pesisir-utara-pulau-madura

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi. (2016). Modul Diklat Operasi dan Pemeliharaan Bangunan Pantai. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi. https://simantu.pu.go.id/epel/edok/c47fe_Modul_Permasalahan_Kerusakan_Pantai.pdf

Tirto.id. (2020, January 24). Benteng Hutan Bakau Tidak Bisa Sendirian Melawan Abrasi. Tirto.id. Retrieved October 23, 2020, from https://tirto.id/benteng-hutan-bakau-tak-bisa-sendirian-melawan-abrasi-euGp

Wisyanto. (2019). Analisis Bahaya Abrasi di Wilayah Kabupaten Banggai Kepulauan. Jurnal Alami (ISSN: 2548-8635), 3(1), 21-31.

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak!

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!