Budaya Sasi, Kebudayaan yang Menjaga Ekosistem Lau

Budaya Sasi

Budaya sasi adalah upaya yang dilakukan masyarakat adat di pesisir Maluku dan Papua untuk menjaga ekosistem laut dengan cara pelarangan pengambilan hasil sumber daya alam. Masyarakat adat Maluku dan Papua sudah turun menurun hidup di laut, mereka menjaga laut sebagai penghormatan karena laut telah menjadi sumber kehidupan mereka. Tradisi ini adalah praktik konservasi tradisional yang masih dilaksanakan hingga sekarang. 

Ads
Gambar 1. Budaya Sasi di Pulau Haruku
Gambar 1. Budaya Sasi di Pulau Haruku

Tradisi sasi laut adalah tradisi di mana masyarakat dilarang mengambil hasil laut di daerah tertentu, biasanya yang termasuk dalam wilayah adat dalam jangka waktu tertentu hingga ritual pembukaan sasi tiba. Hal ini dilakukan sebagai wujud pelestarian alam dan menjaga populasi, agar saat nanti hasil laut tersebut dipanen hasilnya akan lebih banyak. Banyak peneliti mengatakan bahwa penggunaan metode tradisional dan kearifan lokal dalam pemanfaatan sumber daya laut seperti budaya sasi berhasil menjaga kestabilan sumber daya perikanan dan praktik konservasi laut, sehingga tercapai keseimbangan antara mata pencaharian dan lingkungan. 

Sebenarnya sasi ada lima jenis, salah satunya sasi umum. Sasi umum adalah sasi yang harus dilakukan oleh seluruh masyarakat desa. Sasi umum dibagi dua menjadi sasi air, yang mencangkup sasi laut dan sasi sungai, serta sasi darat, yang mencangkup sasi hutan dan sasi binatang. Sasi laut meliputi kawasan laut dan pantai. Semua hasil laut bisa dikenakan sasi karena memiliki nilai bagi masyarakat setempat. 

Trasidi Sasi di Maluku

Tradisi sasi lompa di Maluku sudah dilakukan turun menurun sejak tahun 1600-an. Lompa atau trisima baelama adalah nama sejenis ikan sarden yang dijaga. Tradisi sasi ini terletak di Haruku, Maluku. Tradisi sasi di Haruku adalah perpaduan antara sasi laut dan sasi sungai. Tradisi sasi di Haruku diawasi oleh lembaga adat yaitu Kewang. Fungsi Kewang adalah membuat ketentuan dari pelaksanaan sasi. Jangka waktu yang ditetapkan oleh Kewang biasanya antara 3 sampai 6 bulan bahkan 1 sampai 2 tahun, semua tergantung dengan jenis sumber daya alam yang akan dilestarikan. Saat sasi akan dilaksanakan, kepala Kewang yaitu kewang besar akan memimpin memasang kayu yang diikat dengan daun kelapa muda sebagai tanda tutup sasi. Selama ritual tutup sasi, Kewang akan membacakan pengumuman dan aturan adat sembari berkeliling kampung dengan menabuh alat musik adat tanda tutup sasi telah dimulai. Kewang besar akan berteriak si lo ooo, yang berarti sasi. Teriakan itu akan dijawab oleh anak-anak Kewang ; mese eee ooo, yang berarti tetap. Setelah proses tersebut dilakukan, sumber daya alam yang di-sasi-kan tidak diperbolehkan untuk dimanfaatkan sampai proses buka sasi. 

Gambar 2. Panen Ikan Lompa di Haruku
Gambar 2. Panen Ikan Lompa di Haruku

Ketika sasi lompa akan dilakukan, ikan lompa akan masuk ke sungai dan dipanen 6 bulan berikutnya. Selama masa sasi, sungai harus bersih karena ikan lompa akan dipanggil ke sungai untuk ditangkap. Dilarang buang air, mencuci, dan melakukan hal-hal yang dapat mencemari sungai. Saat pembukaan sasi, masyarakat akan membentangkan jaring di muara sungai. Sebelum penangkapan ikan dimulai, dilakukan jamuan pemanggilan ikan lompa oleh Bapa Raja selaku tetua adat maupun pendeta. Hasil panen biasanya mencapai 40 ton ikan lompa. Hasil panen tersebut dapat dinikmati oleh masyarakat dan juga oleh masyarakat luar pulau Haruku. Tradisi sasi di Haruku memperbolehkan janda dan anak yatim untuk mengambil ikan lompa langsung dari jaring masyarakat lain. Eli, seorang Kewang yang sudah mengabdi selama 41 tahun mendapatkan penghargaan Hadiah Kalpataru pada tahun 1985 dan penghargaan Coastal Award tahun 2010 sebagai keberhasilannya menjaga keseimbangan ekosistem.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Budaya sasi selain mengatur tentang pengambilan hasil laut juga mengatur alat yang digunakan untuk penangkapan. Dalam penangkapan ikan, ada aturan khusus untuk jenis mata jaring. Biasanya yang dilarang adalah mata jaring kelambu. 

Budaya Sasi di Papua

Di Papua Barat terdapat tradisi yang disebut sasi nggama. Sasi laut ini dilakukan oleh masyarakat adat di Kampung Siawatan, Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Tradisi ini sudah menjadi budaya suku Koiwai di Kampung Siawatan. Konon, sasi nggama adalah hasil akultrasi antara Papua Barat dan masyarakat Ternate yang menetap. Sasi nggama dilakukan para leluhur masyarakat untuk mengatur pemanfaatan sumber daya alam dan melindunginya dari eksploitasi. 

Sasi nggama, melarang masyarakat mengambil hasil laut seperti teripang, lola, dan batulaga selama 11 bulan dalam setahun. Hasil laut tersebut biasanya boleh diambil pada musim angin barat antara Maret sampai Mei. Sasi nggama diawasi oleh istri dari kepala adat atau raja. Siapapun yang melanggar akan dikenakan denda bisa berupa piring, uang, dan perhiasan mahal. Selain itu, pelanggar juga mendapat sanksi sosial yaitu dikucilkan oleh masyarakat. Pelanggar juga dilarang mengikuti acara buka sasi dan panen nanti. Sejak tahun 2016, Sasi Nggama sudah disahkan sebagai peraturan daerah formal. Siapapun yang melanggar akan mendapat sanksi hukum juga.

Gambar 3. Upacara Buka Sasi di Kaimana
Gambar 3. Upacara Buka Sasi di Kaimana

Saat sasi nggama akan dilakukan, masyarakat diperbolehkan memanen hewan laut selama dua minggu penuh. Namun, hewan laut yang boleh dipanen hanya yang sudah berukuran besar. Sebelum acara buka sasi, masyarakat Kaimana melakukan upacara adat. Upacara adat dilakukan sebagai rasa syukur dan penghormatan masyarakat Kaimana terhadap alam. Ritual buka sasi di Kaimana berlangsung selama satu minggu diawali dengan diberi pengumuman tentang kepada masyarakat adat untuk memanfaatkan sumber daya yang di-sasi-kan. Pencabutan sasi dilakukan dengan pencabutan janur dan kemudian dicelupkan kembali ke dalam laut hingga tiga kali sebagai tanda sasi telah dibuka sehingga boleh dimanfaatkan oleh masyarakat. 

 

Penulis : Rusda Elpiani

 

Referensi Artikel

Andriarsi, Melati Kristina. 2021. Tradisi Sasi, Hukum Adat Jaga Ekosistem Laut. Diakses pada 8 Mei 2021 di

https://katadata.co.id/padjar/berita/6046153e28ccf/tradisi-sasi-hukum-adat-jaga-ekosistem-laut#:~:text=Sasi%20laut%20merupakan%20peraturan%20adat,hingga%20ritual%20pembukaan%20Sasi%20tiba.

Hamsah, Musthain Asbar. 2019. Aturan Adat Sasi, Cara Orang Papua dan Maluku Melestarikan Alam. Diakses pada 8 Mei 2021 di

https://etnis.id/aturan-adat-sasi-cara-orang-papua-dan-maluku-melestarikan-alam/

Sankhyaadi, Aria. 2019. Uniknya Tradisi Menjaga Laut Ala Penduduk Kaimana, Papua. Diakses pada 8 Mei 2021 di

https://kumparan.com/kumparantravel/uniknya-tradisi-menjaga-laut-ala-penduduk-kaimana-papua-barat-1s8ldtKaOEd/full

 

Referensi Gambar

Gambar 1

 https://beritabeta.com/mengintip-tradisi-unik-sasi-lompa-di-negeri-haruku-bagian-ke-1

Gambar 2

https://www.antarafoto.com/asian-games-2018/v1445089826/ritual-budaya-sasi-lompa

Gambar 3

https://lokalisme.id/rubrik/timur/sasi-nggama-cara-masyarakat-adat-kaimana-menjaga-sumber-daya-alam/ 

 

 

LindungiHutan.com adalah Platform Crowdfunding Penggalangan Dana untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung penghijauan yang ada di seluruh Indonesia. mari bersama menjaga dan melestarikan hutan seluruh Indonesia.

Yuk jadi pioneer penghijauan untuk hutan Indonesia yang lebih baik.