Cagar Alam Mutis, Hutan Bonsai di Indonesia

 

Gambar 1. Cagar Alam
Gambar 1. Cagar Alam

 Cagar alam merupakan sebuah tempat tinggal bagi makhluk hidup yang dilindungi seperti tumbuhan dan hewan yang memiliki ciri khas tertentu. Kawasan ini dilindungi oleh undang-undang agar spesies yang berada di dalamnya terjaga dari risiko bahaya kepunahan.  Biasanya, spesies yang dilindungi seringkali menjadi target utama perburuan liar untuk dipelihara atau dijual secara ilegal.  Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem mendefinisikan cagar alam sebagai kawasan suaka alam yang mempunyai kekhasan pada satwa, tumbuhan, beserta ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perkembangannya berlangsung secara alami. Kegiatan yang dapat dilakukan di cagar alam biasanya merupakan kepentingan penelitian, pengembangan, pendidikan hingga budidaya. banyak cagar alam di berbagai daerah Indonesia yang dilindungi, salah satunya adalah cagar alam mutis.

Ads

yuk mengenal cagar alam mutis yang terkenal dengan pohon bonsainya!

Cagar Alam Mutis

Gambar 2. Cagar Alam Mutis
Gambar 2. Cagar Alam Mutis

Menurut surat keputusan Menteri Kehutanan yaitu SK.3911/MENHUT-VII/KUH/2014, kawasan yang berada di Pulau Timor Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur ditunjuk sebagai salah satu cagar alam dengan luas kawasan sekitar 12.315,61 Hektar. Masyarakat yang tinggal di daerah ini merupakan suku tertua di Nusa Tenggara Timur. Suku tersebut adalah Suku Dawan. Terdapat gunung-gunung batu marmer di Cagar Alam Mutis yang biasa disebut Faut Kanaf.

Secara geografis, kawasan suaka alam ini berada di 124º 10’ – 124º 20’ Barat Timur dan 9º 30’– 9’’ 40’ Lintang Selatan. Relief dari kawasan ini secara topografi berbukit, bergunung, terdapat lembah besar, dan memiliki lereng yang kemiringannya sedang hingga curam. Titik tertinggi dari cagar alamnya adalah puncak Gunung Mutis yang berada di ketinggian 2.427 mdpl. Daerah ini terdiri dari Deret, Sekis Hablus, Batuan Basah, Batuan Basah Menengah, Batuan Endapan Paleogen dan Neogen.

Secara administratif, Cagar Alam Mutis ini terletak di Desa Fatumnasi, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan atau TTS. Kawasan ini berjarak 140 km dari sebelah timur laut Kota Kupang. Suhu rata-rata dari tempat ini sekitar 12º hingga 19º Celsius. Gunung Marmer yang berada di kawasan ini menjadi salah satu pilar utama pendukung kehidupan masyarakat suku Dawan. Selain itu, terdapat mata air yang menjadi sumber mata air masyarakat TTS hingga masyarakat TTB (Timor Tengah Barat). Cagar alam yang luas ini sebagian kecil masuk ke dalam kawasan Kupang yang berada di Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com
Gambar 3. Ampupu, Bonsai di Gunung Mutis
Gambar 3. Ampupu, Bonsai di Gunung Mutis

Hutan homogen yang berada di dataran tinggi adalah definisi yang tepat untuk mendeskripsikan Cagar Alam Mutis ini. Dataran ini ditumbuhi oleh tanaman ampupu atau Eucalyptus urophylla yang merupakan pohon endemik asli Indonesia dan tersebar di NTT dan Maluku Tenggara. Tanaman ampupu tersebar secara alami di ketinggian 2.500 mdpl di kawasan Cagar Alam Mutis. Tumbuhan ampupu tersebutlah yang membuat kawasan cagar alam ini terkenal sebagai hutan bonsai.

Gambar 4. Biawak Timor, Fauna di Cagar Alam Mutis
Gambar 4. Biawak Timor, Fauna di Cagar Alam Mutis

Spesies flora yang tersebar selain ampupu adalah haubesi (Olea paniculata), cemara gunung (Casuarina equisetifolia), bijama (Elaeocarpus petiolatus), manuk moto (Decaspermum fruticosum) hingga oben (Eugenia littorale). Itu sebabnya kawasan ini terkenal sebagai tempat yang ditumbuhi tumbuhan hijau dan pepohonan yang tinggi. Selain flora, spesies fauna yang terdapat di kawasan ini adalah kuskus (Phalanger orientalis), babi hutan (sus vitatus), biawak timor (Varanus salvator), ular sanca timor (Phyton timorensis), ayam hutan (Gallus gallus), hingga rusa timor (Cervus timorensis).

Fakta Menarik

Gambar 5. Pohon Ampupu 
Gambar 5. Pohon Ampupu

Hutan Bonsai Ampupu merupakan kawasan yang memiliki daya tarik tinggi di Cagar Alam Mutis. Hutan ini berada di Pulau NTT paling ujung timur dengan luas 30.777 km persegi. Hutan bonsai ini disebut dengan nama Akuna. Pemandangan eksotis hutan ini bersatu dengan keindahan perbukitan marmer dan padang rumput. Tak heran apabila daerah Fatumnasi ini sangat memiliki nilai keestetikaan yang tinggi.

Ekosistem ini dijaga kelestariannya melalui penerapan 3A oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur yaitu Ahimsa, Anekanta dan Aparigraha. Ahimsa merupakan cara damai menghentikan kekerasan, Anekanta merupakan perundingan dan pembangunan kerukunan, dan terakhir Aparigraha merupakan pembangunan kesadaran semua pihak yang terlibat untuk bermusyawarah dalam mengatasi masalah. 3A ini dijalankan oleh warga dan pemerintah dengan tujuan mencegah kebakaran hutan selama musim kering. 

Gambar 6. Gunung Mutis
Gambar 6. Gunung Mutis

Gunung Mutis merupakan gunung tertinggi di Pulau Timor. Ketinggian Gunung Mutis sekitar 2.427 meter di atas permukaan laut. Namanya diambil dari kata “Muti” yang berarti putih. Penamaannya tersebut berasal dari bagian atas gunung selalu diselimuti awan putih kecuali pada saat turun hujan. Selain itu, makna kata “Muti” juga berarti bersih yang disebabkan oleh angin yang menyapu bersih kebakaran hutan di gunung tersebut.

Masyarakat Mollo (penghuni sekitar Gunung Mutis) yang berasal dari Hindia bagian barat memiliki suatu mitos. Masyarakat di sana percaya bahwa terdapat penjaga Gunung Mutis sehingga ada kawasan yang dinamai kawasan terlarang. Kawasan terlarang ini merupakan kawasan yang hanya digunakan untuk ritual adat kepercayaan dan tidak boleh dieksploitasi berlebihan. Beberapa percaya apabila ada yang meninggal di kawasan tersebut, arwahnya akan tinggal selamanya ditandai dengan adanya guntur sebagai pintu arwah yang tertutup. Masyarakat setempat percaya bahwa Gunung Mutis merupakan tempat bersemayamnya raja Timor.

 

Bacaan Lainnya : Cagar Alam Pegunungan Cycloop, dari Sejarah Hingga Kerusakan

Ekowisata

Kegiatan ekowisata merupakan kegiatan pariwisata yang berbasis lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, pemberdayaan ekonomi dan sosial budaya, serta keilmuan dan penelitian. Bila dikutip dari pengertian tersebut, ekowisata semata-mata dilakukan untuk menjaga alam dan dikembangkan untuk membantu kehidupan masyarakat sekitarnya. Sehingga, selain berperan sebagai sarana konservasi alam, Cagar Alam Mutis juga berperan dalam pengembangan kehidupan masyarakat yang tinggal di daerah sekitarnya.

Gambar 7. Wisatawan di Cagar Alam Mutis
Gambar 7. Wisatawan di Cagar Alam Mutis

Menurut petugas lapangan, jumlah pengunjung Cagar Alam Mutis setiap tahunnya sekitar 1.500 orang. Jumlah tersebut memiliki kontribusi sekitar 15% terhadap total kunjungan wisata di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Tak diragukan lagi bahwa Cagar Alam Mutis cukup diminati oleh para wisatawan dengan jumlah persentase tersebut. Meski begitu, tingkat kepopulerannya masih kalah dengan Labuan Bajo dan Taman Nasional Pulau Komodo.

Wisatawan yang mengunjungi daerah ini akan disuguhi pemandangan alam yang menakjubkan. Pemandangan alam ini merupakan daya tarik bagi para pengunjung untuk menikmati keindahan Pulau Timor. Uniknya ketika beristirahat di pepohonan yang rindang, wisatawan akan mudah menemukan ranting dan dahan yang dipenuhi oleh madu hutan. Madu hutan tersebut merupakan salah satu penunjang ekonomi masyarakat sekitar. Bahkan, banyak sekali pepohonan terutama ampupu yang sudah hidup ratusan tahun.

Gambar 8. Ume Kbubu
Gambar 8. Ume Kbubu

Cagar alam yang terletak di Desa Fatumnasi ini juga menyediakan penginapan yang merupakan rumah warga. Rumah adat yang terbuat dari ilalang khas Timor menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Rumah ini memiliki atap kerucut yang disebut Ume Kbubu. Setiap warga desa tersebut memiliki setidaknya Ume Kbubu di samping rumah utama mereka sebagai tempat tinggal.

Gambar 9. Pohon Eukaliptus
Gambar 9. Pohon Eukaliptus

Untuk mencapai kawasan Gunung Mutis, para wisatawan akan dikenakan biaya retribusi yang dibayarkan di gerbang utama tempat pembayaran. Biaya retribusi bervariasi tergantung dengan hari wisatawan tersebut berkunjung. Sebelum menuju ke bagian utama gunung tersebut, para wisatawan akan melihat sekawanan kuda maupun sapi atau hewan ternak lainnya yang sedang memakan rumput di bawah pepohonan. Pepohonan tersebut merupakan pohon eukaliptus yang cukup menjulang tinggi. Pohon ini mengeluarkan aroma yang harum saat tertiup oleh angin. Kawasan gunung ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00.

Gambar 10. Hewan Ternak di Gunung Mutis
Gambar 10. Hewan Ternak di Gunung Mutis

Daerah wisata yang indah ini merupakan daerah terbasah di Pulau Timor dengan curah hujan sekitar 2.000 hingga 3.000 mm/tahun. Curah hujan tersebut terhitung cukup tinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya di Pulau Timor yang hanya berkisar 800 hingga 1.000 mm/tahun. Frekuensi hujan terjadi selama 7 bulan dari November hingga Juli. Karena merupakan pulau terbasah di pulau ini, cagar alam mutis tentu memiliki suhu yang cukup dingin dan menyegarkan yaitu sekitar 12º hingga 19º Celcius dengan suhu terekstrim adalah 9º  Celcius.

Untuk mencapai Cagar Alam Mutis dari Kota Kupang, wisatawan bisa menggunakan kendaraan umum yaitu bus dengan jurusan Kupang – SoE dengan jarak tempuh sekitar 110 km dan biayanya hanya berkisar Rp. 25.000,- per orang. Perjalanan menggunakan bus akan memakan waktu sekitar tiga jam atau lebih. Setibanya di SoE, wisatawan bisa menyewa mobil seperti mobil pickup maupun atap tertutup dengan biaya pulang pergi berkisar Rp. 600.000,- dengan waktu tempuh dua jam sekali jalan. Jarak yang ditempuh dari SoE menuju kawasan ini sekitar 30 km. 

 

Penulis: Fitri Nurul Falah

Dikurasi Oleh: Daning Krisdianti

 

Referensi Literatur

Gego, E. D. (2010). Kajian potensi ekowisata di Cagar Alam Gunung Mutis Kabupaten Timor Tengah Selatan (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada).

Pemerintahan Indonesia. (2020). Eksotisme Hutan Bonsai Fatumnasi. Diakses pada Februari 2021 dari https://indonesia.go.id/kategori/seni/2238/eksotisme-hutan-bonsai-fatumnasi 

Setiaji, A., Ashari, H., Dharmawan, M., & Sasongko, A. B. (2017). Manajemen Hutan Lestari: Situs Keramat Alami dan Peran Masyarakat Lokal dalam Upaya Konservasi Keanekaragaman Hayati. Yogyakarta: UGM.

Website Resmi Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2019). Cagar Alam Mutis (Cagar Alam). Diakses pada Februari 2021 dari http://nttprov.go.id/2018/index.php/pariwisata/cagar-alam 

 

Referensi Gambar

https://petualang.travelingyuk.com/unggah/2019/08/60906405_2625633810996363_3974315654839795712_o__1__JmB.jpg 

https://petualang.travelingyuk.com/unggah/2019/08/60950602_2625634107663000_5139935191602561024_o_6jQ.jpg 

https://cdn.idntimes.com/content-images/community/2020/01/65760122-488717321889461-330728281420295081-n-681045b37f5fbcf3c21ef884e34010a3_600x400.jpg 

https://akcdn.detik.net.id/customthumb/2010/12/09/1025/detik_3375034823_43178f579e.jpg?w=600&q=90 

https://sep.yimg.com/ay/yhst-13621674513170/100-seeds-eucalyptus-urophylla-timor-mountain-gum-timor-white-gum-3.gif 

https://www.tempatwisata.pro/users_media/3136/Gunung-Mutis.jpg 

https://media.suara.com/pictures/653×366/2019/09/17/71255-pesona-gunung-mutis-di-ntt-instagramatzaqi-iqb.jpg 

https://1.bp.blogspot.com/-Rj3tHXOo1lM/WZeyBV4W2XI/AAAAAAAAAHo/0f7Jk0LQahI4El8hXaw3blpsOcE_Tb6qgCLcBGAs/s1600/fatumnasi-rumah-adat.jpg 

https://www.greeners.co/wp-content/uploads/2020/03/Pohon-Pelangi-Indonesia-Eucalyptus-deglupta-1-1.jpg 

https://www.goodnewsfromindonesia.id/uploads/post/large-gunung-mutis-2f3fb157f34f720beab3ca56e0b7594f.jpg 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk melakukan kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di berbagai daerah. Mari kita sama-sama melestarikan lingkungan dan menjaganya. 

Yuk bergabung bersama kami sebagai pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!