Cagar Alam Pegunungan Cycloop, dari Sejarah Hingga Kerusakan

Sejarah Pegunungan Cycloop

"Gambar

Apakah kalian pernah mendengar Pegunungan Cycloop? Bagi yang belum pernah mendengar nama tersebut, pasti kalian berpikir bahwa pegunungan tersebut berada di luar negeri, iya bukan? Tentu saja salah besar, pegunungan yang satu ini berada di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. 

Ads

Nama yang kebarat-baratan tersebut tak lepas dari pemberian nama yang diberikan oleh pelaut Prancis. Ia adalah Louis Antoine de Bougenville  pada tahun 1768 ketika berlabuh di Teluk Humboldt (Teluk Yos Sudarso). Saat itu, Bougainville melihat pegunungan di pesisir utara Jayapura yang terlihat seperti raksasa bermata satu. Nama “Cycloop” diambil oleh Bougainville dari nama anak laki-laki Dewa Poseidon dan Dewa Thoosa. 

Nama “Cycloop” sendiri kemudian melekat untuk pegunungan ini hingga sekarang.Namun, Masyarakat Papua sendiri mengenal pegunungan ini dengan nama Dafonsoro. Sejak dulu, masyarakat Sentani mempercayai bahwa Pegunungan Dafonsoro adalah rumah bagi dewi pemberi kehidupan (ibu pertiwi) atau yang dalam Bahasa Papua disebut dengan Hokaimiyae. Selain itu, masyarakat Sentani juga mempercayai pegunungan ini dijaga oleh empat dewa dari empa penjuru mata angin, yaitu Dewa Nu (timur), Dewa Wai (barat), Dewa Ebun, (selatan), dan Dewa Bobon (utara).     

Pegunungan Cycloop merupakan kawasan yang sudah menjadi cagar alam. Penetapan tersebut berdasar pada Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 56/Kpts/Um/1/1978 tanggal 26 Januari 1978 dan ditetapkan juga berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan  Nomor : 365/Kpts-II/1987 dengan luas 22.500 ha. Kemudian pada tahun 2012, cagar alam ini diperluas menjadi 31.479 ha berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK 782/Menhut-II/2012. 

Gambar 2. Ekidna Moncong Panjang (Zaglossus attenboroughi)
Gambar 2. Ekidna Moncong Panjang (Zaglossus attenboroughi)

 Cagar Alam Pegunungan Cycloop menyimpan flora dan fauna endemik. Salah satu fauna endemik yang terdapat di kawasan cagar alam ini adalah ekidna moncong panjang dengan nama latin Zaglossus attenboroughi. Sedangkan untuk flora adalah tumbuhan suwang dengan nama latin Xanthostemon novoguineensis Namun sayangnya, habitat dari flora dan fauna tersebut kini sudah mengalami kerusakan yang disebabkan oleh berbagai faktor. Kira-kira apa saja ya faktor-faktor  kerusakan pada cagar alam ini. 

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com
Gambar 3. Tumbuhan Suwang (Xanthostemon novoguineensis)
Gambar 3. Tumbuhan Suwang (Xanthostemon novoguineensis)

Kerusakan Hutan 

Menurut World Wildlife Fund (WWF), Cagar Alam Pegunungan Cycloop selama beberapa tahun terakhir mengalami kerusakan hutan. Kerusakan tersebut terjadi di daerah-daerah penyangga dan tangkapan air. Kerusakan tersebut disebabkan oleh aktivitas-aktivitas warga di sekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop.

Penelitian yang dilakukan oleh Fedrik AP, Roland A. Barkey, dan Daniel dengan judul “Faktor-Faktor Penyebab Kerusakan Hutan dan Strategi Pengendaliannya (Studi Kasus Pada Cagar Alam Pegunungan Cycloop) Kabupaten Jayapura Provinsi Papua” menjelaskan bahwa terdapat enam faktor kerusakan hutan pad Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Faktor pertama adalah bertambahnya pemukiman penduduk. Dekatnya pemukiman warga dengan kawasan cagar alam membuat bangunan-bangunan baru masuk ke dalam kawasan cagar alam. Bangunan-bangunan baru tersebut menjadi pemukiman liar yang tidak sesuai dengan prosedur dan rencana tata ruang wilayah Kabupaten Jayapura. 

Faktor kedua adalah adanya tradisi perladangan berpindah yang sudah dilakukan masyarakat setempat secara turun temurun. Faktor ketiga adalah penebangan kayu yang dilakukan di kawasan cagar alam. Penebangan tersebut dilakukan baik oleh masyarakat lokal maupun masyarakat pendatang untuk berbagai keperluan, mulai dari keperluan memasak, bahan bangunan rumah, serta untuk di jual. 

Faktor keempat adalah adanya pembangunan jalan raya yang lokasi-lokasi pembangunannya memasuki kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Kemudian, faktor kelima adalah penambangan bahan golongan C, seperti nitrat, asbes, magnesit, dan yang lainnya. Penambangan tersebut ada yang dilakukan secara ilegal dan legal, seperti perusahaan-perusahaan yang sudah mendapat izin. Faktor yang terakhir adalah adanya sengketa tanah atau lahan antara pemerintah dengan masyarakat Sentani. Masyarakat sentani menganggap kawasan hutan Pegunungan ini yang telah ditetapkan sebagai cagar alam merupakan tanah adat mereka. Secara tidak langsung, hal tersebut mempengaruhi pengelolaan kawasan cagar alam ini. Seharusnya, pemerintah dalam hal ini kedepannya mampu menyelesaikan masalah sengketa lahan dan mampu mengajak masyarakat Sentani untuk menjaga dan melestarikan bersama Cagar Alam Pegunungan Cycloop. 

 

Penulis: Irfan Maulana

 

Referensi Literatur:

AP, Fedrik, Roland A. Barkey and Daniel. “Faktor-Faktor Penyebab Kerusakan Hutan dan Strategi Pengendaliannya (Studi Kasus Cagar Alam Pegunungan Cycloop) Kabupaten Jayapura Provinsi Papua.” Kerusakan Lingkungan (2018): 1-12. https://fdokumen.com/document/jurnal-kerusakan-lingkungan.html.

Maintindom, Yaconias. Analisis Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Lahan Pada Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Tesis. Bogor: Institut Pertanian Bogor, 2005. https://docplayer.info/47560991-Analisis-kebijakan-pengelolaan-sumberdaya-lahan-pada-cagar-alam-pegunungan-cycloop-yaconias-maintindom.html.

Sorandanya, Constant K. Potensi Keanekaragaman Hayati Cagar Alam Pegunungan Cycloops. Laporan Penelitian. Jayapura: Universitas Ottow Geisler, 2014. https://www.academia.edu/33176420/POTENSI_KEANEKARAGAMAN_HAYATI_CAGAR_ALAM_PEGUNUNGAN_CYCLOPS.

Wuragil, Zacharias. travel.tempo.co. 18 Januari 2021. https://travel.tempo.co/read/1424315/mitologi-pegunungan-cycloop-papua-dewa-yunani-dewa-sentani-gunung-adumama. 14 April 2021.

Yumai, Prince and Selvi Jikwa. “Strategi Pengelolaan Lingkungan Sebagai Upaya Perlindungan Hutan di Kawasan Cagar Alam Cycloop Distrik Sentani Kabupaten Jayapura.” MEDIAN (2018): 63-70. https://ojs.ustj.ac.id/median/article/view/297/228.

 

Referensi Gambar:

Gambar 1: http://www.beritalingkungan.com/2019/03/cerita-tentang-si-mata-satu-cagar-alam_20.html

Gambar 2: https://unanything.fandom.com/wiki/Sir_David%27s_long-beaked_echidna

Gambar 3: http://raynardsanito.com/potensi-tumbuhan-xanthostemon-novoguineensis-dalam-fitoteknologi/ 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk melakukan kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di berbagai daerah. Mari kita sama-sama melestarikan lingkungan dan menjaganya. 

 

Yuk bergabung bersama kami sebagai pioneer penghijauan!