Capung, Serangga yang Berperan sebagai Indikator Lingkungan

 

Gambar 1. Capung © legendsandmyths.net
Gambar 1. Capung © legendsandmyths.net

Capung merupakan serangga yang sering kita jumpai di berbagai tempat. Sejak kecil, kita cukup akrab dengan serangga ini ketika bermain di sungai ataupun sawah. Kini, alih fungsi lahan untuk pembangunan dan pencemaran air di mana-mana berimbas pada keberadaan mereka, capung pun hilang hingga jarang terlihat di berbagai tempat. 

Ads

Meskipun tidak berukuran raksasa seperti dinosaurus, ternyata capung termasuk dalam serangga pertama yang menghuni bumi. Mereka hidup sebelum dinosaurus ada, yaitu selama 300 juta tahun. 

Spesies capung beragam dan dapat ditemukan di setiap benua kecuali Antartika. Terdapat sekitar 6.000 jenis capung di seluruh dunia. Di Indonesia, terdapat 750 jenis atau 12,5 persen dari total jenis capung di seluruh dunia.

Serangga dengan nama latin Orthetrum sabina ini termasuk dalam ordo Odonata, dengan dua sub-ordo yakni anisoptera dan zygoptera. Capung memiliki ciri fisik diantaranya memiliki kaki bergerigi berjumlah 6, dengan 2 pasang sayap yang transparan. Mereka memiliki kepala besar dengan mata majemuk yang terdiri dari sekitar 24.000 ommatidia (mata kecil). Mata ini yang memungkinkan mereka dapat memiliki sudut pandang hampir 360 derajat. 

Capung memiliki kemampuan terbang yang luar biasa. Mereka dapat terbang ke depan dengan kecepatan rata-rata 35 mil per jam. Bahkan, serangga ini dapat melayang di tengah penerbangan selama hampir satu menit dan berputar 360 derajat di tempatnya. Apalagi, capung bisa terbang mundur dengan kecepatan yang sama.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Di samping keahlian terbangnya, capung bisa terbang pada waktu yang berbeda, termasuk pagi hari, siang hari, ataupun sore hari. Mereka juga dapat terbang pada berbagai musim, baik kemarau, pancaroba, maupun saat musim penghujan.

Makhluk ini sama sekali tidak berbahaya bagi manusia meski penampilannya agak menakutkan. Di samping itu, capung memiliki warna sayap dan tubuh yang indah dan mempesona. Ragam warna biru, merah, kuning, hijau, ungu, tembaga atau oranye kecoklatan, merah muda, dan lain-lain dari serangga ini dapat memberikan keindahan yang memikat untuk kolam, sungai, atau perairan lainnya.

Makanan dari capung bisa terdiri dari apa saja, mereka makan apapun yang tersedia. Umumnya, mereka makan serangga seperti semut, rayap, nyamuk, lebah, lalat, walang sangit, dan serangga kecil lain. Capung dewasa dapat menangkap mangsa mereka saat terbang, dengan memanfaatkan penglihatan dan kemampuan terbangnya yang luar biasa. Serangga ini berada di bagian atas rantai makanan, yang tidak banyak memiliki musuh alami. Musuh alami capung  di antaranya katak, burung, lalat perampok (robber fly), dan laba-laba.

 

Perannya bagi Manusia

Selama ini capung juga telah berjasa bagi manusia, mereka memangsa jentik-jentik nyamuk, lalat, dan berbagai serangga lain yang mengganggu. Terlebih, capung membantu mengontrol populasi serangga hama tersebut. Hal ini turut membantu lingkungan, karena memungkinkan manusia mengurangi pemakaian pestisida untuk membunuh serangga tersebut.

Capung juga dapat digunakan untuk membantu mengurangi penyakit yang ditularkan oleh nyamuk atau lalat dengan melepaskan capung di daerah yang menjadi sarang serangga tersebut. Pasalnya, serangga ini dapat menyebarkan penyakit seperti malaria, cacing jantung, demam kuning, antraks, dan tularemia.

Penggunaan racun insektisida dalam skala yang luas telah menghilangkan sumber makanan bagi capung. Serangga-serangga yang tidak lagi muncul membuat capung kesulitan mencari makan hingga mengalami penurunan populasi. Tidak heran, capung disebut sebagai indikator lingkungan. Jika keberadaannya hilang, maka terdapat masalah pada rantai makanan.

 

Habitat

Gambar 2. Habitat Capung © lakecountynature.com
Gambar 2. Habitat Capung © lakecountynature.com

 

Capung adalah serangga yang dekat dengan air. Seringnya capung terlihat di sekitar perairan karena mereka serangga akuatik. Serangga ini selalu berada tidak jauh dari sumber air, seperti tepi sungai, kolam, sawah, hingga taman. Mereka juga tinggal di habitat yang tidak memiliki intensitas sinar matahari terlalu tinggi atau terik menyengat.

Capung memiliki 3 fase utama dalam hidupnya, mulai dari telur, nimfa, hingga menjadi capung dewasa. Dilihat dari fase hidupnya, serangga ini memang tidak memiliki metamorfosis yang sempurna seperti kupu-kupu. Sebagian besar waktunya saat menjadi telur dan nimfa, mengharuskan capung untuk hidup di dalam air.

Capung betina akan menyimpan telurnya di atas atau permukaan air, atau terkadang memasukkannya ke dalam tumbuhan air atau lumut. Capung nimfa yang telah menetas di air akan menghabiskan waktunya untuk berburu invertebrata air lainnya. Mereka juga terkadang makan ikan kecil atau kecebong.

Setelah berganti kulit antara 6-15 kali, capung tumbuh untuk menuju ke permukaan. Nimfa capung yang sudah siap untuk dewasa akan merangkak keluar dari air untuk melepaskan kulit terakhirnya yang belum matang. 

Daur hidup capung sangat tergantung pada air dan tumbuhan. Capung hidup di air sebagai larva capung. Sementara itu, capung dewasa membutuhkan tumbuhan semak untuk tempat hinggap dan istirahat pada malam hari.

 

Kualitas Air bagi Kehidupan Capung

Gambar 3. Kualitas Air dalam Kehidupan Capung © allwallpaper.in
Gambar 3. Kualitas Air dalam Kehidupan Capung © allwallpaper.in

Capung tidak bisa sembarang hidup. Capung merupakan hewan yang sensitif terhadap kualitas air. Mereka hanya berkembang biak di habitat air yang bersih. Mereka bergantung pada ekosistem perairan yang sehat dan rantai makanan yang sehat. Serangga ini tidak akan menempati sungai tanpa tumbuhan dan tercemar limbah. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan capung dapat memprediksi kualitas lingkungan sekitarnya. 

Profesor capung dari Stellenbosch University, Afrika Selatan Samways mengatakan bahwa semakin banyak jenis capung yang hidup di suatu area menunjukkan bahwa air di lingkungan tersebut bersih dan terhindar dari polusi atau pencemaran.

Capung dapat menjadi penanda ada tidaknya air. Sebagian besar capung hanya akan tinggal di lingkungan dengan kualitas air yang bersih. Atas hal itu, capung bisa menjadi indikator kualitas air. Apabila air telah tercemar oleh bahan beracun, capung tidak akan tinggal di sana. Siklus hidup capung pun menjadi terganggu. Populasinya pun akan menurun. Begitu pula dengan terjadinya perubahan suhu atau kualitas air.

 

Konservasi Capung

Gambar 4. Konservasi Capung © freeimages.com
Gambar 4. Konservasi Capung © freeimages.com

Kehadiran capung menjadi penanda awal ekosistem yang sehat pada sebuah kawasan. Pencemaran air berdampak negatif pada habitat capung. Habitat capung yang semakin menyusut harus segera diselamatkan dengan upaya konservasi. Hal ini lantaran capung merupakan indikator lingkungan penting dari kualitas air.

Josef Settele dalam jurnal BioRisk 5 menyatakan bahwa perubahan iklim menjadi salah satu dari empat penyebab utama menurunnya keragaman capung. Ketiga penyebab lain yaitu penggunaan bahan kimia, invasi biologis, dan hilangnya penyerbuk. Namun, hanya penyebab terakhir sebagai penyebab tidak langsung.

Terjadinya pencemaran perairan, menyusutnya bahkan hilangnya area pertanian maupun ruang terbuka hijau (RTH), alih fungsi hutan, penggunaan bahan kimia dalam pertanian, semua ini semakin memperburuk keadaan bagi capung. 

Menurut Norman W. Moore dalam laporan IUCN, Dragonflies: Status Survey and Conservation Action Plan, tindakan konservasi capung sangat mendesak dan diperlukan berbagai tindakan untuk menyelamatkan capung dari kondisinya yang saat ini terancam di seluruh dunia melalui hilangnya habitat dan terjadinya polusi. Lantaran, capung memiliki nilai melekat sebagai sumber keanekaragaman genetik, sebagai bioindikator lingkungan, kesehatan manusia, dan pengendali populasi serangga hama.

Manfaat capung bagi manusia seringkali tidak diperhatikan. Keberadaannya yang semakin jarang cenderung tidak disadari oleh kita. Padahal, hewan ini memiliki peran yang efektif bagi kehidupan manusia sehari-hari. Capung lenyap, begitu pula dengan hilangnya air bersih.

 

Penulis: Destri Ananda

 

Referensi Literatur

Mongabay. 9 November 2020. Melihat Perubahan Iklim Lewat Capung. Dilansir pada 21 Januari 2021 dari laman https://www.mongabay.co.id/2020/11/09/melihat-perubahan-iklim-lewat-capung/

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit. Capung di Lingkungan B2P2VRP: Serangga Cantik Pengendali Hayati dan Penunjuk Air Bersih. Dilansir pada 21 Januari 2021 dari laman http://www.b2p2vrp.litbang.kemkes.go.id/mobile/berita/baca/365/Capung-Di-Lingkungan-B2P2VRP-Serangga-Cantik-Pengendali-Hayati-Dan-Penunjuk-Air-Bersih

Biophilia Foundation. Dragonflies -The Hawks of the Insect World Are Important Environmental Indicators. Dilansir pada 21 Januari 2021 dari laman. https://www.biophiliafoundation.org/dragonflies-environmental-indicators/.

Thought Co. 10 Fascinating Facts About Dragonflies. Dilansir pada 21 Januari 2021 dari laman. https://www.thoughtco.com/fascinating-facts-about-dragonflies-1968249.

 

Referensi Gambar

https://www.legendsandmyths.net/dragonflies-their-symbolism-in-feng-shui/ 

https://www.freeimages.com/photo/dragonfly-1365054 

https://www.allwallpaper.in/animals-insects-macro-dragonflies-wallpaper-9158.html 

https://lakecountynature.com/2013/04/17/water-connects-lake-county/ 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk 

Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk melakukan kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di daerahmu. Mari kita sama-sama melestarikan lingkungan dan menjaganya. 

 

Yuk bergabung bersama kami sebagai pioneer penghijauan!