Cara Menanam Mangrove: Mulai Dari Pembibitan Hingga Perawatan

Gambar 1. Menanam Mangrove
Gambar 1. Menanam Mangrove

Salam Lestari! 

Ads

Mangrove merupakan pohon yang penting. Kesadaran masyarakat terhadap lingkungan terus meningkat. Sahabat Alam pasti sudah sering mendapatkan banyak ajakan program berbau lingkungan. Termasuk pula kegiatan penanaman, baik di darat maupun di laut. Jika di darat akan ada kegiatan penanaman pohon. Maka di kawasan pesisir digalakkan program menanam mangrove. Mangrove adalah ekosistem tumbuhan yang mudah ditemui di kawasan pesisir pantai. Lebih tepatnya di daerah air payau. Sudah banyak yang tahu manfaat dari pohon yang berada di pesisir ini, salah satunya adalah pencegah abrasi. Banyak instansi baik Pemerintah maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang turut andil menyemarakkan kegiatan menanam mangrove ini. Namun masih banyak lapisan masyarakat yang belum mengetahui cara penanamannya yang baik agar tumbuh optimal. Saat proses penanamannya, tidak boleh sembarangan. Ada banyak beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya:

 

Pemilihan Lokasi Penanaman 

Ada beragam kondisi pantai mulai dari yang berombak tenang hingga besar. Dan adapula yang dasarnya berupa pasir atau lumpur. Habitat yang ideal sebagai lokasi penanamannya harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

  • Air tenang atau ombak tidak terlalu besar 

Karena bibit mangrove yang baru ditanam belum mampu menahan ombak.

  • Air payau 

Kawasan estuari atau muara sungai yaitu pertemuan air tawar dengan air laut. Dekat dengan pantai dan pasang surut air laut. Dengan salinitas berkisar 7-15 ppt.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com
  • Dasar berupa lumpur

Substrat dari lumpur akan tahan terhadap pergerakan arus air alut dibandingkan pasir.

 

Pembibitan

Di Indonesia ada sekitar 75 spesies mangrove. Beberapa jenisnya yang mudah ditemui adalah api-api (Avicennia), pedada (Sonneratia), bakau (Rhizophora) dan tanjang (Bruguiera). Berikut ini adalah langkah melaksanakan pembibitan.

  • Pengambilan Buah

Gambar 2. Buah Mangrove
Gambar 2. Buah Mangrove

Gambar (a) bakau besar/laki (R. mucronata), (b) tumu/ tanjang/bius (B. gymnorrhiza), (c) bakau kecil/bini (R. apiculata), (d) api-api (Avicennia sp.), (e) pedada (Sonneratia sp.).

Bagian buah atau propagul diambil dari mangrove yang berumur delapan hingga sepuluh tahun. Buah yang baik adalah buah yang bebas dari serangan hama. Ciri-ciri buah api-api yang digunakan, yaitu berwarna putih kekuningan dan kulit buah sedikit mengelupas. api-api (A. alba) berwarna coklat kekuningan. Buah prepat (Sonneratia alba) berwarna hijau tua dan pedada (S. caseolarist) berwarna kekuning-kuningan. Buah disimpan dalam ember berisi air agar terjaga kesegarannya selama 1-2 hari. Serta jauhkan dari terik sinar matahari.

  • Penanaman Buah

Sebelumnya disiapkan polybag berukuran 15 x 20 cm. Kemudian dimasukkan lumpur sebanyak 2/3 bagian polybag. Pada tiap polybag dimasukkan masing-masing satu benih (buah) mangrove. Lakukan perawatan hingga benih berumur 3-4 bulan.

 

Penanaman Mangrove

  • Sebelum melakukan prosesi penanaman, perlu ditentukan jalur yang tepat. Jarak tanam ideal dari mangrove adalah 1m x 1m atau 1m x 2m.
  • Pembuatan lubang sedalam polybag pada lokasi yang ditentukan dengan menggunakan alat bantu.
  • Mengeluarkan lumpur berisi benih dari polybag secara perlahan. Jangan lupa untuk menyingkirkan polybag dan membuangnya di tempat sampah.
  • Kemudian letakkan bibit tersebut ke dalam lubang yang telah dibuat. Agar mengantisipasi mangrove dari terjangan ombak. Gunakan alat bantu berupa tiang pancang yang terbuat dari bambu ataupun kayu. Tiang pancang ini memiliki diameter berkisar 7,5 cm, panjang 1 m dan runcing di bagian bawahnya. Lalu ditancapkan ke dalam lumpur sedalam kurang lebih 0,5 m (Gambar 1). Alternatif lain adalah menanam benih ke dalam ruas bambu yang bagian bawahnya diruncingkan dengan diameter 20-25 cm. Bambu ditancapkan pada substrat lumpur sedalam 0,5 m (Gambar 2).
Gambar 3. Penyangga Bambu
Gambar 3. Penyangga Bambu

 

Perawatan Setelah Penanaman Mangrove

Pada tahap ini adalah penentu keberhasilan program penanaman yang sudah dilakukan. Setelah aktivitas penanaman, akan muncul beberapa tumbuhan pengganggu (gulma) seperti paku-pakuan. Oleh karena itu, diperlukan penyiangan atau penebasan tanaman pesaing secara berkala. Selain itu, memeriksa kondisi mangrove juga sangat penting. Untuk mengetahui apakah mangrove bertahan hidup ataukah tidak. Jika terdapat yang mati, maka harus dilakukan penyulaman. Penyulaman sama halnya dengan cara menanam sebelumnya. Yang membedakan adalah penggunaan benih yang seumur dengan tanaman yang mati agar dapat seragam. 

Sudah tau kan apa saja yang perlu dipahami dan dipersiapkan sebelum melakukan penanaman mangrove? Semakin menjamurnya kegiatan penanaman, diharapkan mampu direncanakan dengan baik sebelumnya. Agar aktivitas penanaman ini tidak hanya sebagai seremonial belaka. Namun dapat menjaga keberlangsungan hidup dan pertumbuhan dari mangrove. Salam Lestari!

 

Penulis: Melynda Dwi Puspita

 

Referensi Artikel:

Khazali, M. 1999. Panduan Teknis: Penanaman Mangrove Bersama Masyarakat. Wetlands International – Indonesia Programme, Bogor.

Sinaga, R. S. C. Teknik penanaman mangrove pada areal pasang surut berombak besar. Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wilayah II Kementerian Kehutanan.

Referensi Gambar:

https://www.pixabay.com/

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak!

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!

 

Enable Notifications    Ok No thanks