Celepuk Rinjani, Burung Hantu Endemik dari Pulau Lombok

Indonesia merupakan salah satu negara dengan fauna burung paling banyak di dunia. Namun, hingga kini belum semua jenis burung dapat didokumentasikan dan diteliti. Salah satunya adalah burung hantu. Pada tahun 2008 saja, terdapat 250 spesies burung hantu. Meski demikian, angka tersebut tentu saja bertambah dengan ditemukannya Otus jolandae atau yang dikenal dengan nama celepuk rinjani dalam bahasa Indonesia dan Rinjani Scops Owl dalam bahasa Inggris. Penamaan nama “Rinjani” pada jenis baru burung hantu ini tentu karena tempat asalnya, yaitu di sekitar Gunung Rinjani, Pulau Lombok.

Ads
Gambar 1. Celepuk Rinjani
Gambar 1. Celepuk Rinjani

Sejarah Penemuan Celepuk Rinjani

Penemuan celepuk rinjani ini bermula ketika George Sangster dan Jolanda A. Luksenburg pada September 2003 berkunjung ke kaki Gunung Rinjani di daerah Sapit, Lombok. Saat itu, mereka berdua mendengar suara burung hantu. Kemudian mereka berdua mencocokkan suara tersebut dengan rekaman suara dari burung hantu jenis lain di beberapa daerah di sekitar Lombok. Mereka menyimpulkan bahwa suara burung hantu yang mereka dengar berbeda dari jenis lain. 

Beberapa hari setelahnya, Ben F. King, seorang peneliti dari American Museum of Natural History berkunjung ke Gunung Rinjani. Ia juga berjumpa dengan spesies yang sama, seperti yang didengar oleh George Sangster dan Jolanda A. Luksernburg sebelumnya. Ia menyimpulkan bahwa jenis yang ia dengar berbeda dengan jenis lain yang ada. 

Berbekal rekaman suara dari George Sangster, dua peneliti dari Belgia, yaitu Philippe Verbelan dan Bram Demeulemeester mengunjungi Gunung Rinjani pada tahun 2008. Mereka berdua berhasil memotret dan merekam jenis burung yang sama. Peneliti terakhir, yaitu Jan Van der Laan pada tahun 2011 merekam suara dari jenis yang sama di hutan sekunder Lombok Barat. 

Perbedaan dengan Jenis lain

Dari hasil penelitian yang ditulis dalam jurnal yang berjudul “A New Owl Species of the Genus Otus (Aves: Strigidae) from Lombok, Indonesia”, para peneliti menyimpulkan bahwa celepuk rinjani memiliki beberapa perbedaan dengan jenis burung hantu lain. Perbedaan yang pertama bisa dilihat dari suara. Fauna ini memiliki suara teritorial, yaitu suara yang menandakan daerah kekuasaan. Suaranya yang khas terdengar berbunyi “pok” dengan siulan dalam satu variabel. Karena suaranya itu, masyarakat sekitar sering menyebutnya dengan sebutan burung pok. 

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Perbedaan kedua dapat dilihat dari bentuk dan ukuran. Celepuk rinjani merupakan jenis celepuk terkecil yang pernah ditemukan. Selain itu, burung dengan jenis ini memiliki corak bulu pada bagian atas yang berbeda dengan jenis-jenis lain. 

Persebaran dan Habitat 

Keberadaanya yang hanya terdapat di Lombok menjadikan burung ini sebagai burung endemik. Sejauh ini, clepuk rinjani hanya terdapat di lima tempat. Persebarannya, yaitu di daerah Senggigi, daerah Sesaot di lereng barat daya Gunung Rinjani, daerah Jeruk Manis, Sapit, dan Senaru yang masih berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. 

Gambar 2. Hutan Joben di Lombok Timur yang Menjadi Salah Satu Habitat Celepuk Rinjani
Gambar 2. Hutan Joben di Lombok Timur yang Menjadi Salah Satu Habitat Celepuk Rinjani

Celepuk rinjani berasal dari pohon dengan ketinggian sedang, yaitu 15 hingga 20 meter. Burung ini dapat hidup baik di dalam hutan padat atau dari pohon-pohon dengan lanskap yang lebih terbuka. Burung ini juga mendiami hutan-hutan sekunder dengan ketinggian rendah, yaitu 7 hingga 9 meter di atas permukaan laut (mdpl). 

Terancam Punah 

Berdasarkan The International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada tahun 2019, celepuk rinjani masuk dalam kategori mendekati terancam. Hal tersebut disebabkan oleh penebangan liar dan alih fungsi kawasan di Taman Nasional Gunung Rinjani. Jika hutan berkurang, maka secara otomatis celepuk rinjani kekurangan pasokan makanan yang berasal dari hutan. Alih fungsi lahan menjadi satu-satunya ancaman kepunahan burung ini. Berbeda dengan burung lain yang terancam karena perburuan liar. Burung ini malah diperlakukan sebaliknya oleh masyarakat lokal yang menjaga dan melestarikannya. Bagi masyarakat lokal, suara celepuk rinjani atau yang disebut burung pokpok ini adalah tanda malapetaka. Bagi siapa saja yang mendengarnya, maka harus waspada. Terlebih lagi jika melihatnya, bisa menjadi pertanda yang tidak baik. Oleh karena itu, burung ini dijaga dan dilestarikan sebagai pertanda untuk mengingatkan masyarakat lokal jika sesuatu hal yang buruk akan terjadi dan mengingatkan masyarakat untuk selalu berhati-hati ketika mendengar atau melihat burung ini. 

Penulis: Irfan Maulana

 

Referensi Literatur:  

Megumi, Sarah R. greeners.com. 26 Januari 2020. https://www.greeners.co/flora-fauna/celepuk-rinjani-burung-hantu-endemik-pulau-lombok/. 24 Maret 2021.

Prasetyo, Aris. jelajah.kompas.id. 14 Oktober 2019. https://jelajah.kompas.id/ekspedisi-wallacea/baca/celepuk-rinjani-pembunuh-senyap-hama-petani/. 24 Maret 2021.

Rakhman, Fathul. mongobay.co.id. 12 November 2020. https://www.mongabay.co.id/2020/11/12/celepuk-rinjani-mengenal-burung-hantu-kecil-dari-lombok/. 24 Maret 2021.

Redaksi. mongobay.co.id. 13 Februari 2013. https://www.mongabay.co.id/2013/02/14/celepuk-rinjani-spesies-baru-dari-pulau-lombok/. 24 Maret 2021.

Sangster, George, et al. “A New Owl Species of the Genus Otus (Aves: Strigidae) from Lombok, Indonesia.” PLOS ONE (2013): 1-13. https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0053712.

Referensi Gambar: 

Gambar 1: https://www.mongabay.co.id/2013/02/14/celepuk-rinjani-spesies-baru-dari-pulau-lombok/ 

Gambar 2: https://webfip2.menlhk.go.id/berita/post/226 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk melakukan kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di berbagai daerah. Mari kita sama-sama melestarikan lingkungan dan menjaganya. 

 

Yuk bergabung bersama kami sebagai pioneer penghijauan!