Cengkih, Rempah Nusantara Penyebab Datangnya Bangsa Eropa

Sejarah Panjang Cengkih di Nusantara

Salah satu penyebab utama datangnya bangsa Eropa ke Indonesia adalah karena mereka melihat rempah-rempah memiliki keuntungan besar. Rempah-rempah tersebut tersedia dengan jumlah yang besar di Indonesia. Rempah-rempah dapat dengan mudah ditemui di berbagai penjuru wilayah di Indonesia. Karena itu lah bangsa-bangsa Eropa datang untuk mengeksplorasi berbagai macam rempah, seperti cengkih. Bangsa Portugis adalah bangsa yang pertama kali datang untuk memburu rempah-rempah di Indonesia pada tahun 1512. Kemudian disusul oleh Spanyol pada tahun 1521. Setelah itu, disusul oleh Bangsa Belanda pada akhir abad ke-16 M.  

Ads

Belanda datang untuk menyaingi bangsa-bangsa lain yang mengeksplorasi berbagai rempah-rempah di Indonesia. Salah satunya adalah cengkih atau Syzygium aromaticum L. Rempah ini banyak ditemukan di daerah Maluku. Langkah awal Belanda untuk mengeksplorasi cengkih adalah membuat kerjasama dengan Kerajaan Hitu di Maluku. Kerjasama yang pertama yang dibuat adalah memerangi Bangsa Portugis. Lalu, kerjasama kedua adalah membuat perjanjian. Isi dari perjanjiannya adalah Kerajaan Hitu harus menjual seluruh cengkih yang telah dipanen kepada pihak Belanda berdasarkan harga yang telah disepakati. 

 

Gambar 1 Cengkih 
Gambar 1 Cengkih Kering

Setelah langkah awal tersebut berhasil, Belanda kemudian menyiapkan segala upaya untuk melakukan monopoli cengkih. Upaya-upaya yang dilakukan adalah dengan menyingkirkan Portugis dari Maluku, menaklukkan penguasa-penguasa lokal, dan menutup akses pedagang-pedagang Nusantara dengan penguasa lokal di Hoamul, yaitu daerah penghasil cengkih terbesar di Maluku Tengah. Selain itu, Belanda juga melakukan perjalanan yang disebut dengan Hongi Tochten, yaitu perjalanan menghancurkan pohon-pohon cengkih yang berada di luar wilayah kekuasaan Belanda, yaitu di Ambon dan Kepulauan Lease. Perjalanan Hongi Tochten ini menegaskan bahwa rempah ini hanya boleh diproduksi oleh Belanda. 

Monopoli yang dilakukan Belanda membuat perdagangan cengkih dalam skala global berada di tangannya. Monopoli yang dilakukan Belanda berjalan selama hampir dua abad. Hingga pada akhir abad ke-18, perdagangan rempah ini mengalami kemunduran. Penyebab kemunduran tersebut adalah karena adanya korupsi dari para petinggi VOC dan rendahnya harga cengkih. Rendahnya harga ini disebabkan karena Belanda tidak mampu untuk mempertahankan dirinya sebagai pusat produksi cengkih dunia. Eksplorasi cengkih oleh Belanda secara permanen berhenti pada tahun 1865. Saat itu, Belanda menjual pohon-pohon cengkih kepada masyarakat. Kemudian Belanda juga mengganti tanaman cengkih dengan membudidayakan tanaman lain, seperti coklat. 

Kandungan dan Manfaat Rempah Cengkih

Cengkih begitu diburu dan diperebutkan oleh bangsa-bangsa Eropa. Namun, apa sih yang terkandung di dalamnya? cengkih begitu banyak dimanfaatkan karena mengandung senyawa eugenol yang terkandung dalam minyak atsiri. Senyawa eugenol tersebut mengandung antioksidan yang tinggi. Minyak atsiri dalam cengkih diperoleh dari bunga dan tangkai bunga cengkih. 

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com
Gambar 2. Bunga Cengkih
Gambar 2. Bunga Cengkih

Lalu, untuk apa sih cengkih digunakan? Pada awalnya, rempah ini digunakan oleh orang-orang Tiongkok untuk keperluan keagamaan, yaitu untuk mengharumkan mayat. Selain itu, orang Tiongkok menggunakannya untuk pengharum mulut. Setiap perwira yang hendak menghadap kaisar diharuskan mengunyah cengkih. 

Cengkih dan rempah-rempah lain kala itu digunakan oleh bangsa-bangsa Eropa untuk berbagai keperluan. Sebut saja untuk pengawet makanan, pewangi ruangan dan yang paling utama adalah untuk penyedap makanan. Saat itu, pada abad 16 M dan 17 M, harga cengkih sangat tinggi. Harga 1 kg-nya hampir sama dengan harga 7 gr emas. 

Pada perkembangan selanjutnya, cengkih digunakan sebagai campuran tembakau untuk rokok. Indonesia menjadi salah satu  negara produsen dan konsumen cengkih terbesar di dunia. Setiap pabrik rokok mempunyai kriteria tersendiri untuk cengkih yang akan dicampurkan dengan tembakau. 

 

Penulis: Irfan Maulana

 

Referensi Literatur:

Luthfi, Mukhtar and Ani Kurniawati. “Harvest Management (Syzygium aromaticum L) at Branggah Banaran Estate, Blitar, East Java.” Agroharti (2018): 188-197. https://journal.ipb.ac.id/index.php/bulagron/article/view/18940.

Mansyur, Syahruddin. “Perdagangan Cengkih Masa Kolonial dan Jejak Pengaruhnya di Kepulauan Lease.” Kalpataru (2013): 43-60. https://jurnalarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/kalpataru/article/view/120.

Maulia, Yussy. nationalgeographic.grid.id. 27 Desember 2020. https://nationalgeographic.grid.id/read/132482876/pala-dan-cengkih-rempah-nusantara-yang-menjadi-primadona-di-maluku?page=all. 1 April 2021.

Nurdjannah, Nanan. “Diversifikasi Penggunaan Cengkeh.” Perspektif (2004): 61-70. https://media.neliti.com/media/publications/156775-ID-diversifikasi-penggunaan-cengkeh.pdf.

Redaksi. travel.kompas.com. 23 Agustus 2017. https://travel.kompas.com/read/2017/08/23/080500227/mengapa-rempah-rempah-begitu-diburu-pada-zaman-dahulu. 1 April 2021.

Referensi Gambar: 

Gambar 1: https://www.wikiwand.com/id/Cengkih

 Gambar 2: https://bibitbunga.com/manfaat-cengkeh-untuk-kesehatan-dan-kecantikan/

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdplanting, penggalangan dana online untuk konservasi hutan dan lingkungan. Kunjungi situs https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga lingkungan dan alam.

 

Yuk!, bergabung dan jadi pioneer penghijauan!