CollaboraTree: Aksi Kolaborasi Brand Peduli Lingkungan Bersama LindungiHutan

Keanekaragam Hutan di Indonesia

Siapa yang tidak mengenal ekosistem hutan? Menurut Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999, hutan merupakan suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Hutan merupakan ekosistem yang menyimpan berbagai keanekaragaman hayati, meliputi flora dan fauna. Menurut Kusmana dan Hikmat (2015) Indonesia menempati peringkat ketujuh sebagai negara dengan jumlah spesies mencapai 20.000 spesies atau memiliki spesies tumbuhan sebesar 25% dari total tumbuhan di dunia. Famili Orchidaceae (anggrek-anggrekan) yang paling mendominasi mencapai 4.000 spesies. Sementara itu, untuk tumbuhan berkayu famili Dipterocarpaceae memiliki 386 spesies, Moraceae (Ficus) dan Myrtaceae (Eugenia) sebanyak 500 spesies.

Ads
Anggrek Paphiopedilum glanduliferum © The Orchid Column
Anggrek Paphiopedilum glanduliferum © The Orchid Column

Indonesia memiliki keanekaragaman jenis palem (Arecaceae) tertinggi di dunia. Selain kayu, hutan Indonesia menyimpan potensi hasil hutan bukan kayu yang sangat potensial. Hasil hutan merupakan benda-benda hayati, non hayati, dan turunannya, serta jasa yang berasal dari hutan (Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999). Sebanyak 20.000 spesies tumbuhan digunakan sebagai bahan obat-obatan oleh penduduk dunia. Indonesia menjadi salah satu pusat sebaran keanekaragaman genetik tumbuhan budidaya/pertanian atau dikenal dengan sebutan Vavilov untuk tanaman pisang (Musa spp.), durian (Durio spp.), rambutan (Nephelium spp.), dan cengkeh (Syzygium aromaticum).

Burung Jalak Bali © Forester Act
Burung Jalak Bali © Forester Act

Jumlah jenis burung di Indonesia sebesar 16% dari total jenis burung yang ada di dunia, sebanyak 10.711 jenis. Hal ini menjadikan Indonesia menempati peringkat empat di dunia setelah Columbia, Peru, dan Brazil (Prawiradilaga, 2019). Hewan endemik antara lain harimau jawa (Panthera tigris), jalak bali putih (Leucopsar rothschildi), tarsius (Tarsius bancanus), binturong (Arctictis binturong), dan masih banyak lagi. Fauna tersebut memiliki pesona dan menjadi penciri khas daerah-daerah di Indonesia.  

Peranan Hutan

Hutan tidak hanya menyimpan flora dan fauna serta pemanfaatan kayu, melainkan hutan dapat memberikan jasa lingkungan yang sangat berdampak besar bagi lingkungan dan masyarakat. Menurut Pramono (2009) jasa lingkungan dari hutan dapat dirasakan oleh wilayah itu sendiri (on-site effect) maupun di wilayah sekitarnya (off-site effect) dan saling mempengaruhi antar wilayahnya. Hutan berperan dalam menciptakan iklim, menyerap emisi karbon, menyerap air, menyediakan air bersih, dan mampu memberikan rasa gembira masyarakat dalam hal rekreasi di ruang terbuka hijau.

Emisi karbon merupakan dampak dari intensifikasi pembangunan di bidang transportasi dan industri. Hal ini menyebabkan emisi karbon meningkat dan menimbulkan kerugian bagi kelestarian fauna, flora, hingga kesehatan manusia. Vegetasi pepohonan sebagai penyusun hutan mampu menyerap karbon dioksida yang digunakan dalam proses fisiologisnya, yaitu fotosintesis. Setiap tipe hutan memiliki kemampuan penyerapan karbon yang berbeda-beda. Menurut Widiyanto (2011) hutan konservasi Taman Nasional Gede Pangrango, Jawa Barat diduga hasil estimasi potensi karbon sebesar 1.597,44 kg/pohon. Hal tersebut menunjukkan bahwa pohon memiliki peranan penting dalam hal pengurangan emisi karbon di udara. Kandungan karbon yang berlebihan di udara dapat memusnahkan flora dan fauna, menyebabkan penyakit pada manusia, dan perubahan iklim secara global.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Kerusakan Hutan dan Lingkungan

Populasi manusia dari tahun ke tahun meningkat. Peningkatan ini mendesak kebutuhan tempat tinggal, sandang, dan pangan. Salah satu sumber daya alam yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah hutan. Akan tetapi, sifat merusak dan rakus dalam diri manusia, berani melakukan eksploitasi hutan secara berlebihan. Hal ini berdampak pada pengurangan kualitas dan kuantitas hutan. Menurut Prawiradilaga (2019) kerentanan dan kepunahan keanekaragaman hayati (flora dan fauna) disebabkan oleh kerusakan habitat alaminya. Tahun 1950-an luasan hutan alami Indonesia masih sekitar 162 juta hektar. Tahun 2018 luasan hutan turun drastis hingga tersisa 93,5 juta hektar atau turun sebesar 36%.

Sudah saatnya masyarakat membuka mata. Melihat fenomena degradasi dan deforestasi hutan secara nyata. Tidak ada lagi kehidupan apabila merusak hutan terus dikerjakan. Semua lapisan masyarakat harus saling bekerja sama. Demi hutan yang lestari dan berkelanjutan.

CollaboraTree Brand dengan LindungiHutan

CollaboraTree merupakan salah satu program kolaborasi dari LindungiHutan dengan brand-brand atau perusahaan yang ingin berkontribusi dalam menjaga alam dan hutan. Tujuan diadakannya kolaborasi ini agar semakin banyak pihak yang terlibat dan peduli terhadap permasalahan lingkungan di Indonesia. Terdapat tiga skema kolaborasi, yaitu Product Bundling, Profit Percentage, dan Monthly Commitment. Product Bundling yaitu setiap pembelian produk X maka brand/perusahaan akan menanam sebanyak Y pohon melalui LindungiHutan. Profit Percentage yaitu alokasi beberapa persen dari keuntungan untuk menanam pohon melalui LindungiHutan pada setiap bulannya. Sementara itu, Monthly Commitment merupakan skema kolaborasi dengan mengalokasikan sejumlah uang setiap bulannya untuk penanaman pohon melalui LindungiHutan. Sudah banyak brand yang telah berkontribusi bersama LindungiHutan, antara lain Sustaination, klen & kind, HornyCupcakes, dan puluhan brand lainnya.

Brand CollaboraTree © LindungiHutan
Brand CollaboraTree © LindungiHutan

Berdasarkan hasil penelitian ribuan warga US, terdapat hubungan antara konsumen dengan brand yang peduli terhadap isu lingkungan. Berikut hasil penelitiannya:

  1. Sebesar 92% konsumen percaya pada perusahaan yang berperan serta pada permasalahan sosial atau lingkungan.
  2. Sebesar 87% masyarakat di Amerika Serikat lebih suka membeli produk yang punya andil langsung pada isu sosial dan lingkungan.
  3. Sebesar 88% pelanggan lebih loyal dan setia pada perusahaan yang memberikan dukungan sosial bagi persoalan sosial atau lingkungan.

Lantas manfaat apa yang didapatkan brand atau perusahaan? Terdapat tiga manfaat utama yang akan didapatkan yaitu Campaign Page (halaman khusus yang hanya jadi milikmu, supaya kamu bisa bagikan ke konsumen atas kepedulianmu terhadap hutan), Better Brand Recognition (dalam bentuk e-certificate), Publication (mengenai kolaborasi sehingga semakin banyak konsumen yang peduli terhadap isu lingkungan), dan masih banyak lagi. Jadi, tunggu apalagi, daftarkan segera brand kamu untuk saling menjaga alam bersama LindungiHutan. Pendaftaran CollaboraTree dapat melalui link berikut: https://lindungihutan.com/collaboratree

 

Penulis: Deni Prihanto

 

Referensi:

Kusmana C, Hikmat A. 2015. Keanekaragaman hayati flora di Indonesia. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. 5(2):187-198.

Pemerintah RI. 1999. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan.

Pramono AA. 2009. Jasa lingkungan hutan bagi masyarakat lokal di DAS Ciliwung hulu. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan 6(1):29-51.

Prawiradilaga DM. 2019. Keanekaragaman dan Strategi Konservasi Burung Endemik Indonesia. Jakarta: LIPI Pr.

Widiyanto A. 2011. Potensi serapan karbon pada beberapa tipe hutan di Indonesia. Artikel. https://www.researchgate.net/publication/299749137_POTENSI_SERAPAN_KARBON_PADA_BEBERAPA_TIPE_HUTAN_DI_INDONESIA

 

Referensi Gambar:

http://www.theorchidcolumn.com/2017/02/paphiopedilum-glanduliferum.html

https://foresteract.com/jalak-bali/2/

 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak!