Daun Payung: Tumbuhan dengan Daun Raksasa

Pernah berteduh di bawah pohon saat hujan atau ketika matahari sedang terik-teriknya? Di daerah pedesaan masih sering kita temui pemanfaatan daun sebagai payung darurat ketika hujan turun. Biasanya daun yang dimanfaatkan adalah daun dengan permukaan lebar seperti daun pisang. Namun, tahukah kalian kalau di Indonesia ada tumbuhan yang benar-benar bernama daun payung? Seperti namanya, daun ini memiliki bentuk seperti payung karena ukurannya yang lebar. Penasaran kan? Yuk kenalan lebih lanjut sama daun payung!

Ads
Gambar 1. Daun Payung yang Raksasa
Gambar 1. Daun Payung yang Raksasa

Karakteristik Daun Payung

Daun payung atau daun sang yang bernama latin Johannestijsmania altifrons adalah spesies palem yang hanya tumbuh di Asia Tenggara. Tanaman ini unik karena daunnya yang menonjol dan berukuran raksasa. Di daerah yang berbeda, daun payung memiliki nama yang berbeda pula. Misalnya di Sumatera Utara daun ini lebih dikenal dengan sang gajah atau sang minyak sedangkan di Riau terkenal sebagai daun salo. Dalam Bahasa Inggris, daun ini bisa disebut pula sebagai Umbrella Leaf Palm atau Joey Palm. Tanaman ini biasanya tumbuh secara tunggal dengan daun sejumlah 20 hingga 30 helai dalam satu tanaman. Panjang dari daun payung dapat mencapai 3 hingga 6 meter dengan rata-rata 2,5 meter dan lebarnya bisa mencapai ukuran 1 meter. Daun payung memiliki bentuk yang melebar di bagian tengah dan runcing di bagian ujung dan pangkal daunnya. Daun dari tumbuhan ini cukup tebal dan memiliki guratan di permukaannya dengan gerigi di tepinya serta duri terbalik pada kedua sisi pelepah daun. Warna hijaunya yang mengkilat menyebabkan daun ini sedikit mirip dengan daun kelapa. Bunga dari tumbuhan berbentuk malai dengan warna putih, bertekstur lunak, dengan panjang 5 milimeter dan ini terletak di bagian ketiak daun. Buah yang dihasilkan berbentuk bulat dan pangkalnya berbentuk seludang dengan panjang 40 cm dan lebar 20 cm. Layaknya tumbuhan palem lainnya, akar dari tumbuhan ini berjenis serabut.

Tumbuhan ini memiliki batang yang pendek dan tersembunyi di dalam tanah. Oleh karena itu, ketika melihatnya kebanyakan orang mengira tumbuhan ini tidak berbatang karena hanya daunnya yang terlihat. Kita akan banyak menemukan daun ini di bawah pohon rindang yang berkelompok. Hal ini karena daun payung tidak tahan panas dan hanya dapat tumbuh di tempat yang tidak langsung terpapar oleh sinar matahari. Tanaman ini juga hidup berdampingan dengan tumbuhan Lipai atau Licuala spinosa dan Rafflesia hasseltii. Karakteristik lainnya adalah pertumbuhannya di daerah 85 hingga 175 meter di atas permukaan laut dan sering ditemukan di daerah tropis utamanya lereng bukit dengan kemiringan 45 derajat atau lereng curam dengan kemiringan lebih dari 60 derajat. Untuk perkembangbiakannya, tumbuhan ini lebih sering tumbuh dari tunas dibanding biji karena bentuk bijinya yang berkulit tebal dan keras. Tumbuhan ini pertumbuhannya tergolong lambat dan hanya bisa tumbuh di hutan yang primer. Ia akan mudah mati jika lingkungan sekitarnya dibuka sebagai perkebunan. Akibat sulitnya budidaya dan pertumbuhan lambat, tumbuhan ini jadi cepat langka.

Gambar 2. Daun Payung atau Daun Sang
Gambar 2. Daun Payung atau Daun Sang

Sebaran Daun Payung

Daun ini ditemukan pertama kali di Sumatera pada awal abad ke-19 oleh Profesor Elias Teymann Johannes, seorang ahli botani dari Belanda.. Sebelumnya tanaman ini dapat ditemukan di berbagai daerah seperti Aceh, Sumatera Timur, Sumatera Barat, hingga Kalimantan Timur. Namun karena budidayanya yang sulit, pertumbuhannya yang lambat, dan semakin luasnya deforestasi kini lokasi daun payung semakin terbatas. Saat ini daun payung dapat digolongkan sebagai flora endemik daerah Sumatera karena persebarannya di Indonesia terbatas di daerah Riau, Jambi, dan Sumatera Utara. Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Riau adalah salah satu lokasinya, tepatnya di Desa Alim, Desa Sanglap, Hulu Sungai Metah dan Hulu Sungai Malau. Selain itu, daun ini juga bisa ditemukan di Taman Nasional Gunung Leuser di Sumatera Utara yaitu daerah Aras Napal, Desa Bukit Mas, dan Kecamatan Besitang. Baru-baru ini pada tahun 2019, daun payung kembali ditemukan di Desa Semambu, daerah Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Jambi. Tanaman tersebut berhasil ditemukan setelah diperoleh laporan dari masyarakat sekitar. Tak hanya di Indonesia, tanaman unik ini dapat ditemukan di wilayah Asia Tenggara lain seperti Malaysia dan Thailand. Di Malaysia daun ini disebut Sal dan bisa ditemukan di daerah Kelantan, Johor Baru, dan Serawak. Sedangkan di Thailand dikenal dengan nama Bang Soon dan biasanya terdapat di Thailand bagian selatan.

Gambar 3. Habitat Daun Payung di Hutan
Gambar 3. Habitat Daun Payung di Hutan

Manfaat Daun Payung

Daunnya yang tebal dan kuat memiliki beragam fungsi untuk masyarakat sekitar. Seperti namanya, daun bisa dimanfaatkan sebagai payung ketika hujan turun. Bahkan daun ini juga bisa menjadi bahan utama untuk menyusun rumah. Pada zaman dahulu, masyarakat sekitar banyak menggunakan daun payung ini untuk dijadikan atap rumah, dinding pondokan, hingga pintu. Hal ini disebabkan ukurannya yang besar dan kekuatannya yang tahan lama bisa menahan manusia dari panas dan hujan. Di daerah Besitang dan Langkat, Sumatera Utara, daun ini masih sering dimanfaatkan menjadi gubug. Pengolahan daun ini menjadi bahan bangunan juga cukup mudah. Cukup dengan menjemur daun hingga kering lalu disusun menjadi papan. Selanjutnya, daun yang telah disusun diikatkan ke kerangka dari kayu untuk menjadi dinding atau menganyam daun tersebut jadi atap rumah.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Bagaimana? Unik dan banyak manfaatnya ya tumbuhan yang satu ini. Namun, seperti yang kita tahu persebarannya semakin menyempit dan bukan tidak mungkin jika tumbuhan ini dapat mengalami kepunahan jika tidak dijaga lebih lanjut. Oleh karena itu pemerintah menetapkan tumbuhan ini sebagai spesies yang dilindungi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999. Nah, saat ini kita juga dapat berperan dengan membantu menjaga kelestarian hutan. Yuk bersama-sama kita jaga hutan agar tumbuhan unik seperti daun payung tetap terjaga eksistensinya di masa depan!

 

Penulis: Novia N Sabrina

 

Referensi literatur:

KSDAE, D. (13 Maret, 2017). Salo – SI Daun Besar Dari TN Bukit Tigapuluh. Ditjen KSDAE – Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem. Tersedia dalam: https://ksdae.menlhk.go.id/berita/389/salo-%E2%80%93-si-daun-besar-dari-tn-bukit-tigapuluh.html. Diakses pada 3 Februari 2021.

KSDAE, D. (5 November, 2019). Penemuan Salo (Johannesteijsmannia altifron) Di SPTN I TN.Bukit Tigapuluh. Ditjen KSDAE – Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem. Tersedia dalam: https://ksdae.menlhk.go.id/info/7059/penemuan-salo-(johannestijsmania-altifron)-di-sptn-i–tn.bukit-tigapuluh.html. Diakses pada 3 Februari 2021.

Ralie, Z. (17 Desember, 2017). Daun sang, tanaman unik serbaguna yang semakin langka. Beritagar.id. Tersedia dalam: https://beritagar.id/artikel/sains-tekno/daun-sang-tanaman-unik-serbaguna-yang-semakin-langka. Diakses pada 3 Februari 2021.

Wahyuni, I. (n.d.). Daun sang, Daun Raksasa Penghuni Sumatera. Go Sumatra | Keindahan alam dan wisata pulau Sumatera. Tersedia dalam: https://www.gosumatra.com/daun-sang-daun-raksasa-penghuni-sumatera/. Diakses pada 3 Februari 2021.

 

Referensi gambar:

Gambar 1: Photo on Factsofindonesia

Gambar 2: Photo by bellaputry on Steemit

Gambar 3: Photo by KSDAE Kemenlhk

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk melakukan kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di berbagai daerah. Mari kita sama-sama melestarikan lingkungan dan menjaganya. 

Yuk bergabung bersama kami sebagai pioneer penghijauan!