Ekosistem Pesisir dan Perannya Melawan Karbon

Dalam kurun tahun 1990 hingga 2014, tingkat konsumsi energi Indonesia meningkat hingga 62,55% dan emisi karbon dari kegiatan konsumsi meningkat 140% berdasarkan penelitian Confronting Carbon Inequality. Adanya emisi karbon dapat menyebabkan suhu bumi terus meningkat. Selama masa pandemi ini, sempat terdapat penurunan emisi karbon secara global karena adanya regulasi lockdown. Akan tetapi, angka emisi karbon dapat kembali mengalami peningkatan setelah pemerintah di berbagai negara mulai melonggarkan aturan tersebut dan masyarakat mulai menjalani berbagai bisnisnya kembali (Tirto.id, 2020).

Ads

Seiring berjalannya waktu, konsep karbon biru mulai banyak dikenal sebagai bentuk penekanan emisi karbon. Blue carbon atau karbon biru didefinisikan sebagai karbon yang diserap, disimpan, dan dibebaskan kembali ke lingkungan oleh ekosistem vegetasi laut, seperti mangrove, padang lamun, dan rawa air asin. Karbon biru dinilai sebagai layanan ekosistem penting terkait mitigasi krisis iklim dengan penurunan karbon (Kompas, 2020). 

Mekanisme Perpindahan Karbon pada Ekosistem Pesisir

Pada gambar di bawah ini, mekanisme perpindahan karbon pada ekosistem pesisir dapat dilihat. 

Mekanisme Perpindahan Karbon
Mekanisme Perpindahan Karbon pada Ekosistem Pesisir © US Ocean Carbon and Biogeochemistry

Pada gambar di atas, terdapat vegetasi pesisir yang menyerap dan melepaskan karbondioksida. Tanda panah berwarna ungu dengan ukuran atau ketebalan lebih besar dibandingkan dengan tanda panah berwarna hitam memiliki arti bahwa jumlah karbondioksida yang diserap lebih banyak dibandingkan yang dilepas ke lingkungan oleh vegetasi. Karbondioksida di atmosfer diserap oleh tumbuhan pada saat proses fotosintesis. Hal ini disebut sekuestrasi. Sementara itu, terdapat jumlah karbondioksida yang hilang dalam jumlah sedikit karena adanya respirasi. Sisa karbon lainnya disimpan pada bagian akar, ranting, dan daun tumbuhan. 

Terdapat karbon juga di dalam tanah pada di gambar di atas. Sebagian besar tanah berada di dalam kondisi anaerobik (tanpa oksigen) sehingga proses penguraian karbon yang masuk ke dalam tanah terjadi sangat lambat, bahkan itu dapat tersimpan hingga ratusan tahun. Hal ini biasa disebut dengan carbon storage atau simpanan karbon. Penurunan jumlah karbon yang ada di atmosfer dapat membantu menangani masalah pemanasan global. Sementara itu, adanya peningkatan jumlah karbon dalam tanah atau SOC (soil organic carbon) dapat meningkatkan kesuburan tanah yang nantinya akan berdampak positif pada ketahanan pangan. SOC dinilai sebagai komponen yang penting pada siklus karbon global (Siringoringo, 2014).

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Jenis Ekosistem Pesisir

Terdapat 3 jenis ekosistem pesisir yang dapat membantu mengurangi emisi karbon, yaitu padang lamun, rawa asin pasang surut, dan mangrove. Ketiga jenis ini memiliki nilai  SOC (soil organic carbon) yang berbeda. Sekuestrasi SOC dinilai penting sebagai strategi mitigasi krisis iklim. SOC memiliki hubungan dengan penyimpanan karbon ke dalam tanah. Semakin banyak karbon yang disimpan sebagai karbon organik di dalam tanah, maka jumlah karbon di atmosfer dapat berkurang sehingga membantu menangani masalah pemanasan global. Berikut pada tabel di bawah ini nilai rata-rata dan rentang simpanan SOC pada kedalaman 1 meter di padang lamun, rawa asin pasang surut, dan mangrove

Tabel 1. Nilai Rata-Rata dan Rentang Simpanan SOC di Padang Lamun, Rawa Asin Pasang Surut, dan Mangrove.

Jenis Ekosistem Pesisir Carbon Stock (Mg/ha) Rentang (Mg/ha)
Padang Lamun 108 10 hingga 829
Rawa Asin Pasang Surut 255 16 hingga 623
Mangrove 386 55 hingga 1376

Sumber: Howard et al (dalam Buku Coastal Blue Carbon)

Tabel di atas dapat dilihat bahwa Bakau memiliki nilai carbon stock tertinggi. Berikut pada di uraian di bawah ini karakteristik dari ketiga jenis ekosistem pesisir tersebut dijelaskan lebih lanjut.

Padang Lamun (Seagrass Meadow)

Lamun adalah tumbuhan laut yang berimpang (rhizome) dan berpembuluh. Pada umumnya, ekosistem lamun dapat ditemukan di pesisir pantai dengan kedalaman kurang dari 5 meter saat kondisi pasang. Akan tetapi, terdapat pula jenis lamun yang memiliki kemampuan tumbuh di tempat yang lebih dalam selama keadaan lingkungannya menunjang untuk hidup. Tumbuhan yang sering dianggap sama dengan rumput laut (seaweed) ini diperkirakan memiliki luas mencapai 3 juta hektare di Indonesia. Akan tetapi, berdasarkan data dari Pusat Oseanografi LIPI, hanya 25.752 hektare yang tervalidasi dari sebanyak 29 tempat di Indonesia. Asosiasi lamun dengan pasir membuat tumbuhan ini cukup sulit untuk dipetakan. Berikut pada gambar di bawah ini seagrass meadow dapat dilihat.

Padang Lamun
Seagrass Meadow © The Guardian dari WWF

Padang lamun memiliki peran penting dalam keberlangsungan kehidupan alam dan manusia. Kontribusi padang lamun yaitu membantu memperbaiki kualitas air, melindungi pantai dari erosi, meningkatkan produksi ikan sehingga memberi pengaruh positif terhadap ketahanan pangan, dan menjadi sumber makanan bagi hewan herbivora, seperti penyu hijau dan dugong, serta menjadi tempat tinggal bagi hewan laut seperti kerang, kepiting, ikan baronang, dan teripang (Berita Satu, 2016). Tumbuhan ini memiliki kemampuan menyerap karbon dari atmosfer hingga 35 kali lebih cepat apabila dibandingkan dengan hutan hujan tropis dan menyimpan 10% karbon laut tahunan dunia dan menguncinya dalam sedimen (The Guardian, 2020). Akan tetapi, terjadi penurunan jumlah lamun sejak tahun 1930-an secara global, dengan sensus terbaru bahwa terdapat perkiraan sebanyak 7% dari habitat laut penting ini hilang setiap tahunnya (United Nations Environment Programme, 2020).

Rawa Asin Pasang Surut (Tidal Salt Marshes)

Berikut pada gambar di bawah ini rawa asin pasang surut dapat dilihat.

Rawa asin pasang surut
Tidal Salt Marshes © Howard et al (dalam Buku Coastal Blue Carbon) dari Sarah Hoyt

Rawa asin pasang surut didefinisikan sebagai ekosistem intertidal bervegetasi makroalga dan tumbuhan vaskular. Tanah di ekosistem ini dapat menyimpan karbon hingga 210 g C/sq m/year. Rawa ini banyak yang telah hilang akibat dari adanya pengerukan, pelaksanaan konstruksi jalan, dan kenaikan permukaan air laut (Laffoley & Grimsditch, 2009).

Mangrove

Mangrove diketahui dapat menyimpan karbon lebih banyak di tanahnya jika dibandingkan dengan jenis tumbuhan lainnya. Hal tersebut menjadikan mangrove sebagai aset penting dalam menangani masalah pemanasan global. Mangrove diketahui memiliki kemampuan penyerapan karbon hingga 10 kali lipat polusi karbon per hektar apabila dibandingkan dengan kemampuan hutan hujan. Tidak hanya itu, Mangrove juga menjadi rumah untuk melindungi sebanyak lebih dari 3.000 spesies ikan (National Geographic Indonesia, 2020). Berikut pada gambar di bawah ini mangrove dapat dilihat.

Kawasan mangrove
Mangrove © Kompas

Mangrove juga dapat menahan gelombang akibat badai, berperan sebagai penyaring air garam agar tidak masuk ke lahan pertanian, dan menjadi tempat berkembang biak bagi ikan dan hewan perairan lainnya. Indonesia memiliki hutan bakau dengan total 3,2 juta hektar yang menjadikannya terluas di dunia. Angka tersebut merupakan sebanyak 22,4% dari total mangrove di dunia (Kompas, 2020).

Dengan membaca artikel ini, para pembaca telah mengetahui sejumlah hal mengenai pentingnya peran ekosistem pesisir dalam membantu menangani permasalahan emisi karbon. Para pembaca dapat ikut berkontribusi dalam pelestarian lingkungan bersama tim dari LindungiHutan, seperti contoh yang baru terjadi pada bulan Oktober 2020 ini, yaitu sebanyak lebih dari 8000 bibit pohon bakau berhasil ditanam dalam project 1000 Pohon untuk BTS Jimin. Project ini diinisiasi oleh Asabell Audida, seorang penulis dan ARMY dari Indonesia, sebagai bentuk perayaan hari ulang tahun Jimin ke-26. Penanaman tersebut dilakukan di Pesisir Bedono, Demak. Para pembaca dapat mengikuti jejaknya untuk memberi dampak positif lainnya dengan berdonasi di LindungiHutan. 

Para pembaca juga dapat menyerap jejak karbon dengan bantuan aplikasi Gojek yang telah bekerjasama dengan pihak LindungiHutan. Aplikasi ini dapat menunjukkan jejak karbon pembaca dan jumlah pohon yang dibutuhkan. Dengan wadah ini, para pembaca secara tidak langsung dapat turut memberi kontribusi dalam melakukan pengurangan emisi karbon.

Penulis: Elgin Martama 

Referensi:

Berita Satu. (2016, March 6). Lamun, Penopang Ekosistem Laut yang Sering Terlupa. Berita Satu. Retrieved October 15, 2020, from https://www.beritasatu.com/whisnu-bagus-prasetyo/archive/353312/lamun-penopang-ekosistem-laut-yang-sering-terlupa

The Guardian. (2020, September 15). Welsh seagrass meadow sows hope for global restoration. The Guardian. Retrieved October 15, 2020, from https://www.theguardian.com/science/2020/sep/15/welsh-seagrass-meadow-global-restoration-pembrokeshire-climate-plant-project

Kompas. (2020, April 27). Mangrove Indonesia Bisa Serap dan Simpan Karbon Dioksida Global. Kompas. Retrieved October 15, 2020, from https://www.kompas.com/sains/read/2020/04/27/180300623/mangrove-indonesia-bisa-serap-dan-simpan-karbon-dioksida-global?page=all

Kompas. (2020, September 28). Sewindu Riset Pesisir, Data Karbon Biru Padang Lamun Indonesia Tercapai Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Sewindu Riset Pesisir, Data Karbon Biru Padang Lamun Indonesia Tercapai. Kompas. Retrieved October 15, 2020, from https://www.kompas.com/sains/read/2020/09/28/190600323/sewindu-riset-pesisir-data-karbon-biru-padang-lamun-indonesia-tercapai?page=all

Laffoley, D., & Grimsditch, G. (2009). The Management of Natural Coastal Carbon Sinks. IUCN, Gland, Switzerland.

National Geographic Indonesia. (2020, October 1). Elegi Hutan Mangrove tentang Retaknya Hubungan Manusia dan Alam. National Geographic Indonesia. Retrieved October 15, 2020, from https://nationalgeographic.grid.id/read/132011159/elegi-hutan-mangrove-tentang-retaknya-hubungan-manusia-dan-alam

Siringoringo, H. H. (2014, August). Peranan Penting Pengelolaan Penyerapan Karbon dalam Tanah. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan, 11(2), 175-192. http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JAKK/article/view/665

Tirto.id. (2020, September 28). Jejak Karbon Indonesia Naik 140%, Memperparah Krisis Iklim & Polusi. Tirto.id. Retrieved October 16, 2020, from https://tirto.id/jejak-karbon-indonesia-naik-140-memperparah-krisis-iklim-polusi-f5h3

United Nations Environment Programme. (2020, June 4). Out of the Blue: The Value of Seagrasses to the Environment and to People. UN Environment Programme. Retrieved October 15, 2020, from https://www.unenvironment.org/resources/report/out-blue-value-seagrasses-environment-and-people

 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak!

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!

Enable Notifications    Ok No thanks