Ekowisata

Ruang Lingkup Ekowisata

Gambar 1. Kegiatan ekowisata. Sumber: https://www.republika.co.id/
Gambar 1. Kegiatan ekowisata. Sumber: https://www.republika.co.id/

Perkembangan media sosial membawa pengaruh yang cukup besar bagi gaya hidup masyarakat. Kegiatan pariwisata yang pada awalnya dianggap sebagai sesuatu yang sangat menarik bagi wisatawan, kini dengan kemajuan media sosial dan isu-isu konservasi bumi cukup menggeser fokus masyarakat menuju ekowisata. Hijriati dan Mardiana (2014) mengemukakan bahwa paradigma masyarakat dalam memandang pariwisata secara massal kini mulai berpindah menjadi wisata dengan minat khusus seperti ekowisata. Ekowisata merupakan suatu bentuk wisata berbasis sumberdaya alam yang berfokus untuk menikmati dan mempelajari alam dengan memperkecil dampak yang ditinggalkan sehingga dapat menciptakan kelestarian sumberdaya alam (Seeland 2008). Wisata ini mencangkup kegiatan berkunjung ke alam dengan berbagai tujuan, seperti belajar mengenai ekologis kawasan, flora, fauna dan habitatnya, serta belajar mengenai kearifan masyarakat lokal (Kiper 2013). Istilah dari wisata ini awalnya dikenal sebagai sebuah konsep alternative tourism yang lahir pada tahun 1980-an sebagai kritik terhadap paradigma perkembangan pariwisata sebelumnya, yang cenderung lebih fokus pada pembangunan secara besar-besaran serta eksploitasi sumberdaya alam tanpa memperhatikan prinsip kelestarian (Sunarta dan Arida 2017). Kelestarian secara ekologis dapat dicapai apabila pembangunan wisata tidak menimbulkan dampak negatif yang besar terhadap ekosistem, walaupun pengembangan wisata yang mencakup aktivitas banyak orang tetap akan menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem. Namun, kehadiran wisata ini diharapkan mampu memperkecil dampak yang ditimbulkan bagi ekosistem. 

Ads

Mass Tourism vs Sustainable Tourism

Gambar 2. Mass Tourism. Sumber: www.linkedin.com
Gambar 2. Mass Tourism. Sumber: www.linkedin.com

Kegiatan ekowisata yang lahir sebagai kritik penyimpangan terhadap praktik pariwisata massal ternyata masih mampu menyebabkan ledakan jumlah pengunjung melebihi daya dukung kawasan. Keadaan ini terjadi akibat pengelola kawasan lebih fokus terhadap keuntungan ekonomi yang diperoleh serta tidak konsistennya pengelola dalam menerapkan tujuan awal pembentukkan dari wisata ini. Trend yang berkembang pada masyarakat juga mampu menjadi pendorong bagi pengelola untuk mengatasnamakan wisata mereka sebagai kawasan ekowisata tanpa memahami definisinya secara keseluruhan , sehingga dalam perkembangannya kedatangan wisatawan dapat menciptakan ledakan pengunjung. Padahal, konsep pembangunan ekowisata itu sendiri seharusnya memperhatikan keseimbangan antara aspek kelestarian alam dan ekonomi (Fandeli dan Mukhlison 2000). Pengelolaan ekowisata yang berkelanjutan perlu memperhatikan daya dukung kawasan agar dalam pembangunannya dapat terjadi keseimbangan antara kelestarian secara ekonomi dan ekologi. 

Patterson (2002) menyebutkan beberapa karakteristik bisnis dalam ekowisata yang berkelanjutan, Sebagai berikut:

  1. Berdampak rendah bagi sumber daya alam kawasan lindung
  2. Melibatkan komunitas masyarakat, individu, dan pemerintah serta pemangku kepentingan lainnya dalam proses perencanaan, pengembangan, implementasi dan pemantauan kawasan
  3. Membatasi jumlah pengunjung yang datang ke kawasan dalam setiap hari, minggu, bulan, maupun musim
  4. Mendukung kelompok konservasi yang bergerak dalam pelestarian alam berdasarkan pengalamannya
  5. Membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal atau membeli barang untuk kebutuhan ekowisata dari masyarakat 
  6. Menghargai privasi dan budaya masyarakat lokal
  7. Menggunakan jasa pemandu terlatih untuk menginterpretasikan ilmu pengetahuan ataupun sejarah kawasan
  8. Memastikan sumber daya alam ( tumbuhan dan satwa liar) tidak terganggu

Beberapa karakteristik diatas dapat dicapai apabila dilakukan perencanaan menyeluruh dan terfokus bukan hanya pada keuntungan materiil semata. Keberlanjutan kawasan ekowisata diharapkan mampu memberi berbagai dampak positif bagi berbagai sektor kehidupan. 

Manfaat Ekonomi

Salah satu penyebab ekowisata memiliki pasar yang lebih besar dari pariwisata karena kegiatan wisata ini mampu memberi dampak yang besar bagi peningkatan ekonomi dunia. Diprediksi oleh UNWTO dan UNEP (2012), bahwa perekonomian dunia akan meningkat sebesar 20% tiap tahunnya dengan kontribusi ekowisata, bahkan Avenroza et al. (2013) juga mencatat pada tahun 2007 wisata ini telah memberikan kontribusi sebesar 7% dari total biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan pariwisata. Berdasarkan manfaatnya yang menjanjikan inilah kegiatan ekowisata mulai dilirik oleh banyak negara sebagai alat yang menguntungkan bagi perekonomian mereka. Jika kita perhatikan dalam skala yang kecil, keberadaan ekowisata di suatu kawasan mampu membuka banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal maupun masyarakat luas. Pembangunan ekowisata di suatu daerah dapat menarik masyarakat lokal untuk berpartisipasi secara langsung dalam praktik ekowisata, seperti berdagang, menyewakan fasilitas yang dibutuhkan pengunjung, pemandu wisata, serta beberapa lapangan pekerjaan lain yang menguntungkan. Kehadiran ekowisata di suatu wilayah secara tidak langsung membuka lapangan pekerjaan lain bagi masyarakat luas, seperti para pedagang di sebuah wisata yang mendapatkan kiriman bahan mentah dari penjual di luar daerah wisata tersebut berada. 

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Jejaring kebutuhan yang berputar pada wisata tersebut mampu memperbaiki taraf hidup masyarakat luas. Keberlanjutan ekowisata dapat menstimulasi peningkatan devisa negara melalui pajak yang diperoleh dari wisatawan mancanegara. Praktik ekowisata ini merupakan suatu kegiatan yang menjanjikan secara ekonomi, karena pendapatan yang diperoleh dari ekowisata bukan hanya dapat memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat lokal namun dapat meningkatkan perekonomian negara. Jika perkembangan ekowisata direncanakan dengan baik dan fokus untuk kelestarian jangka panjang, maka bisnis di bidang ekowisata ini akan menjadi bisnis yang menguntungkan bagi kondisi perekonomian. Peningkatan pada sektor perekonomian inilah yang dapat mendorong dilakukannya pelestarian terhadap sumberdaya kawasan. 

Manfaat Ekologi

Perkembangan ekowisata bukan hanya mendongkrak keberhasilan secara ekonomi saja, namun tidak luput sisi ekologis kawasan juga diuntungkan oleh keberadaan praktik ekowisata. Perkembangan ekowisata yang cenderung cepat serta didorong oleh kemajuan teknologi yang pesat, cukup membuat sebuah kawasan ekowisata dikenal oleh pengunjung. Isu-isu mengenai bencana alam yang akan menimpa dunia, serta penyebaran berita konservasinya yang sangat cepat cukup menarik perhatian wisatawan untuk merubah perjalanan mereka, dari sekedar menikmati alam menjadi melestarikan alam. Perilaku konservasi yang timbul dalam diri wisatawan saja sudah mampu membawa dampak yang besar terhadap kelestarian sumberdaya alam. Pepatah pernah mengatakan “mulailah kebaikan, dari dirimu sendiri” begitupun dengan perilaku konservasi. Mulailah dari dirimu, lalu tularkan kepada satu orang di sekitarmu, maka orang tersebut akan menyebarkan hal tersebut kepada orang lainnya lagi sehingga edukasi yang kamu berikan akan menyebar begitu luas. Apabila setiap wisatawan yang datang dapat memetik pesan konservasi yang disampaikan, maka perilaku konservasi tidak akan sulit untuk ditimbulkan. Kepuasan wisatawan terhadap suatu kawasan ekowisata juga dapat menjadi salah satu faktor konservasi ekologis kawasan. Kepuasan yang dirasakan pengunjung serta pelajaran yang mereka peroleh dapat menjadi sebuah investasi yang ditanam oleh pengelola kawasan untuk  mendatangkan lebih banyak pengunjung lainnya. Peningkatan jumlah pengunjung inilah yang akan memberikan biaya perawatan terhadap sumberdaya alam kawasan untuk mencapai kelestarian. Kurangnya pengetahuan mengenai alam menjadi salah satu penyebab perilaku konservasi sulit diterapkan, dan beberapa informasi yang tersebar terkadang kurang menarik untuk dibaca. Maka dari itu, edukasi yang akan disampaikan oleh kawasan ekowisata harus dikemas semenarik mungkin serta membawa pesan yang mudah dimengerti pengunjung, agar tujuan dari praktik ekowisata sebagai alat menuju kelestarian ekologi dapat dicapai sejalan dengan pergerakan ekonomi yang terus meningkat. 

Manfaat Psikologi

Gambar 3. Manfaat psikologi. Sumber: https://www.korea.net/
Gambar 3. Manfaat psikologi. Sumber: https://www.korea.net/

Dorongan psikologi tiap pengunjung turut andil dalam menentukan motivasi pengunjung mendatangi suatu kawasan wisata. Tiap pengunjung yang datang memiliki tujuan dan rencana masing-masing mengenai kegiatan yang akan mereka lakukan dalam kawasan wisata. Kondisi individu (fisik dan psikis) serta kondisi eksternal pengunjung seperti kondisi sosial budaya lingkungan tinggalnya, tingkat pendidikan, dan sudut pandang pengunjung turut mempengaruhi motivasi pengunjung untuk berwisata. Dorongan motivasi inilah yang menentukan tujuan wisatawan untuk berwisata serta durasi wisata yang mereka habiskan dalam kawasan wisata. Beberapa tujuan para wisatawan menghabiskan waktu mereka untuk melakukan kegiatan ekowisata antara lain untuk rekreasi, edukasi dan penelitian, pekerjaan, mempelajari kebudayaan, olahraga serta religi. Diantara seluruh tujuan tersebut, rekreasi cukup menjadi alasan mayoritas pengunjung. 

Rekreasi sebagai tujuan mayoritas pengunjung untuk berwisata diartikan sebagai kegiatan yang bertujuan untuk menyegarkan kembali kondisi fisik dan mental, sehingga dapat memberikan energi yang baru untuk menciptakan suatu kreasi (Yuristiawan  2000). Kegiatan rekreasi sering dianggap sebagai pelepas penat atas kesibukan yang pengunjung rasakan. Pekerjaan bagi para karyawan maupun tugas bagi para mahasiswa seringkali membuat mereka stres bahkan depresi. Depresi hampir menjadi faktor utama remaja bunuh diri apabila mereka tidak mendapatkan penanganan segera. Penanganan pasien depresi di Indonesia masih terpusat pada rumah sakit jiwa maupun obat-obatan rumah sakit, sedangkan seringkali kita lupa bahwa faktor lingkungan ikut andil dalam depresi yang banyak pasien rasakan. Maka, faktor lingkungan juga seharusnya mampu menjadi obat bagi pasien depresi (Tedjamulja dan Kurnia 2019). Kehadiran ekowisata sebagai sebuah wisata yang menjual keindahan bentang alam dengan edukasi yang terselip di dalamnya, dapat menjadi alternatif lingkungan yang tepat untuk pemulihan pengunjung. Bentang alam kawasan ekowisata yang didominasi oleh pohon-pohon serta tumbuhan hijau cukup memberi dampak signifikan bagi psikologi pengunjung. Dilansir oleh Psyline.id bahwa benda yang berwarna hijau dapat membantu psikologi seseorang yang merasa tertekan, sehingga mereka mampu menyeimbangkan dan menenangkan emosinya. Berkaitan dengan hal tersebut ekowisata dianggap mampu menciptakan lingkungan yang cocok bagi pemulihan psikologi pengunjung yang stres maupun depresi.

Dampak Negatif Pengembangan Ekowisata

Gambar 4. Dampak Negatif Ekowisata. Sumber: https://www.lancangkuning.com/dampak-negatif-ekowisata
Gambar 4. Dampak Negatif Ekowisata. Sumber: https://www.lancangkuning.com/dampak-negatif-ekowisata

Apabila di atas kita telah membicarakan dampak positif dari pengembangan ekowisata dalam beberapa bidang, maka kali ini kita akan membahas dampak negatif yang akan ditimbulkan dari keberadaan ekowisata beserta pengembangannya. Keterlibatan manusia dalam suatu kawasan tentu saja dapat menyebabkan gangguan alam skala ringan maupun berat. Keberadaan flora dan fauna yang berada di sekitar kawasan ekowisata tentu saja dapat terkena dampak dari kehadiran pengunjung tersebut. Secara ekologi, bentang alam kawasan dan kondisi biotik serta abiotik suatu kawasan tentu akan mengalami perubahan akibat pengembangan ekowisata secara sengaja maupun tidak disengaja. Perubahan pada ekologis kawasan tentu saja akan mempengaruhi banyak hal lainnya. pada sektor ekonomi, pengembangan ekowisata dapat menyebabkan ketimpangan ekonomi dan sosial masyarakat lokal. Kondisi ketimpangan ini dapat menyebabkan konflik antar masyarakat dan pengelola kawasan atau antar masyarakat yang terlibat dalam ekowisata dengan yang tidak terlibat. 

Dampak sosial yang dirasakan oleh masyarakat lokal akibat ekowisata dapat berupa ketidakhadiran masyarakat dalam pelaksanaan tradisi dan budaya yang dilaksanakan secara rutin oleh masyarakat, dengan alasan lelah setelah bekerja penuh untuk melayani pengunjung. Kondisi ketidakhadiran masyarakat ini dapat terjadi apabila pengembangan ekowisata di sekitar mereka tidak turut mengembangkan budaya serta tradisi yang hidup dalam masyarakat lokal. Permasalahan ini apabila dibiarkan secara terus menerus mampu menciptakan konflik yang besar. Kehadiran konflik dalam kawasan ekowisata tentu saja bukan kondisi yang baik bagi pengembangan kawasan ekowisata tersebut. Konflik yang membesar dapat menghalangi perkembangan ekowisata kedepannya dan menimbulkan banyak kerugian bagi pengelola, masyarakat, dan pengunjung. Mengatasi hal tersebut, diperlukan perencanaan yang matang sebelum pengembangan kawasan ekowisata dimana kebutuhan setiap pihak dapat dipenuhi secara adil. 

 

Penulis: Fitra Khadijah S

 

REFERENSI

[UNWTO] World Tourism Organization, United Nations Environment Programme. 2012. Tourism in the Green Economy – Background Report. Madrid (ES): UNWTO.

Avenroza R, Dahlan EN, Sunarminto T, Nurazizah GR, Utari WD, Utari AV. 2013. Ecological And Psychological Carrying Capacity of Ecotourism Activities. Bogor (ID): IPB University Press.

Fandeli C, Mukhlison. 2000. Pengusahaan Ekowisata. Yogyakarta (ID): Universitas Gadjah Mada. 

Hijriati E, Mardiana R. 2014. Pengaruh ekowisata berbasis masyarkat terhadap perubahan kondisi ekologi, sosial dan ekonomi di Kampung Batusuhunan, Sukabumi. Jurnal Sosiologi Pedesaan. 2(3): 146-159.

Kiper T. 2013. Role of Ecotourism in Sustainable Development. Adv Landsc Archit.. doi:10.5772/55749

Patterson C. 2002. The Business of Ecotourism: The Complete Guide for Nature and Culture-Based Tourism Operations 2nd Edition. Bloomington(AS) : Trafford Publishing.

Seeland K. 2008. Ecotourism in Bhutan, Extending its Benefits to Rural Communities. Annals of Tourism Research. 35(2):489–508. doi:10.1016/j.annals.2008.02.004.

Sunarta N, Arida NS. 2017. Pariwisata Berkelanjutan. Denpasar(ID): Cakra Press.

Tedjamulja AL, Kurnia AS. 2019. Pusat rehabilitasi kaum milenial depresi di Jagakarsa. Jurnal Stupa. 1(2): 941-954. 

www.psyline.id/arti-dan-pengaruh-warna-bagi-psikologi-manusia 

Yuristiawan D. 2000. Fasilitas Rekreasi Pantai Sebagai Pendukung Daya Tarik Wisatawan Ke Pantai Jatimalang Purworejo [SKRIPSI]. Yogyakarta(ID): Universitas Islam Indonesia.

 

Referensi Gambar

www.korea.net 

www.lancangkuning.com/dampak-negatif-ekowisata 

www.linkedin.com 

www.republika.co.id 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak!

Yuk, jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!

Enable Notifications    Ok No thanks