Emisi Karbon dan Ancamannya terhadap Masa Depan Hidup Manusia

Gambar 1. Asap pabrik sebagai sumber emisi karbon di atmosfer
Gambar 1. Asap pabrik sebagai sumber emisi karbon di atmosfer

Pandemi Covid-19 merupakan masalah besar yang sedang dihadapi oleh setiap manusia di muka bumi. Sejak pertama kali diumumkan kemunculannya pada penghujung tahun 2019 di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, penyakit yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-Cov-2) ini telah menyebar ke berbagai negara dan ditetapkan menjadi pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kemunculan pandemi Covid-19 cukup memberikan dampak yang berarti bagi setiap aspek pada kehidupan manusia. Banyak negara yang menerapkan kebijakan lockdown sebagai cara untuk memutus rantai penyebaran penyakit yang mudah disebarkan melalui kontak fisik ini. Pandemi Covid-19 yang belum bisa diprediksi kapan berhentinya ini rupanya baru merupakan awal dari masalah besar yang akan dialami oleh manusia. Sebuah pandemi baru menanti dan mengancam kehidupan manusia dalam jangka waktu yang panjang. Pandemi ini merupakan dampak dari perbuatan yang tidak disadari oleh manusia. Pandemi ini bisa ditanggulangi. Pandemi ini merupakan dampak dari emisi karbon.

Ads

Jumlah manusia yang semakin banyak ditambah dengan kebutuhan yang semakin meningkat rupanya merupakan pemicu awal dari menumpuknya emisi karbon di atmosfer. Penggundulan hutan dan meningkatnya industri merupakan penyebab dari menumpuknya emisi karbon tersebut. Hutan memiliki fungsi yang penting di dalam menyerap karbon yang ada di atmosfer. Kebutuhan tanaman, di dalam hutan, terhadap karbon sebagai bahan proses fotosintesis merupakan sarana bagi hutan untuk menyaring gas-gas kotor yang bisa menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim tersebut. Menebang dan membabat habis hutan sama saja menghancurkan penyaring udara alami yang dimiliki oleh bumi. Ditambah lagi, berkembangnya industri dan meningkatnya ketergantungan manusia terhadap mesin yang dapat menghasilkan karbon, semakin memperparah kondisi bumi tempat kita tinggal ini.

Pemanasan global dan perubahan iklim merupakan permasalahan yang nyata. Menurut Syaifullah (2015), suhu rata-rata permukaan bumi meningkat sebesar 0,74oC selama 100 tahun terakhir dan akan terus meningkat jika tidak diimbangi dengan upaya untuk menanggulanginya. Dampak yang ditimbulkan akibat pemanasan global bukanlah dampak yang tunggal. Setiap aspek pada kehidupan manusia mengalami dampak akibat bencana yang tidak dirasakan secara langsung oleh manusia tersebut, tak terkecuali kesehatan. Menurut Sudarso (2010), kematian oleh berbagai faktor akan meningkat sebesar 3% setiap kali terdapat kenaikan suhu rata-rata bumi sebesar 1oC. Sudarso mengemukakan bahwa penyakit yang ditimbulkan akibat adanya respon terhadap pemanasan global dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis, yaitu penyakit yang ditularkan melalui air (water-borne disease), penyakit yang disebarkan melalui makanan (food-borne disease), dan penyakit yang disebarkan melalui vektor (vector-borne disease).    

Penyakit yang Ditimbulkan akibat Adanya Respon terhadap Pemanasan Global

Water-Borne Disease

Water-borne disease adalah penyakit yang menyebar melalui media air dengan pola penularan melalui pencernaan, pernapasan, atau absorbsi kulit dari mikroba atau alga yang beracun. Air yang menyebabkan water-borne disease merupakan air yang memiliki kualitas yang buruk. Variabilitas iklim yang disebabkan oleh pemanasan global rupanya memberikan anomali pada kondisi atmosfer secara keseluruhan. Suhu, kelembaban, dan curah hujan yang berubah-ubah turut mempengaruhi kualitas air yang dikonsumsi oleh manusia. Air menjadi terkontaminasi, dikonsumsi oleh manusia, dan menyebabkan penyakit yang dapat menyerang setiap orang yang ada di daratan.

Salah satu penyakit yang disebabkan oleh air yang tercemar adalah kolera. Adanya limpasan air akibat banjir di daratan, memicu berkembangnya zooplankton di laut yang menjadi sarang bagi bakteri Vibrio cholerae. Ikan dan hasil tangkapan laut, yang diperoleh dari laut yang terkontaminasi, menjadi media berpindahnya bakteri yang berkembang di laut ke tubuh manusia. Suhu udara yang meningkat, yang dapat menurunkan imunitas tubuh, turut memperparah bagi berkembangbiaknya bakteri kolera. 

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Food-Borne Disease

Food-borne disease merupakan penyakit yang penyebarannya terjadi melalui media makanan. Jenis penyakit ini tidak hanya terjadi di negara berkembang saja, tetapi juga di negara maju. Proses memasak yang kurang matang biasanya menjadi penyebab dari berkembangnya jenis penyakit ini. Bahan makanan laut, seperti ikan, kerang, dan udang, memiliki resiko penyebaran penyakit yang lebih tinggi. Air yang terkontaminasi, yang disebabkan oleh limpasan banjir di darat, yang menjadi penyebab dari terjadinya water-borne disease, rupanya juga menjadi penyebab dari terkontaminasinya bahan makanan laut yang dikonsumsi oleh manusia. Penyebaran dari food-borne disease sangat dipengaruhi oleh kondisi air dan makanan yang dipengaruhi oleh adanya peningkatan suhu udara.

Vector-Borne Disease

Vector-borne disease bisa dibilang merupakan jenis penyakit yang sangat peka merespon terjadinya perubahan iklim. Faktor klimatik seperti suhu, curah hujan, dan kelembaban, merupakan penyebab dari berkembangnya vektor pembawa penyakit tersebut. Nyamuk adalah vektor yang paling banyak menyebarkan penyakit, khususnya di Indonesia. Malaria, filariasis, dan demam berdarah dengue merupakan jenis penyakit yang disebarkan oleh nyamuk.

Gambar 2. Nyamuk Aides aigypti, penyebab penyakit demam berdarah dengue
Gambar 2. Nyamuk Aides aigypti, penyebab penyakit demam berdarah dengue

Perubahan iklim lagi-lagi menjadi penyebab dari berkembangnya penyakit yang tersebar melalui media nyamuk. Penyakit malaria disebabkan oleh vektor nyamuk Anopheles. Nyamuk jenis ini mudah berkembang di daerah yang memiliki kualitas air yang buruk. Suhu udara yang semakin meningkat ditambah dengan curah hujan yang tinggi, semakin memperparah penyebaran penyakit malaria ini. Epidemi malaria yang terjadi di Afrika Timur merupakan bukti nyata dampak perubahan iklim yang memperngaruhi kesehatan manusia. Curah hujan dan suhu yang tinggi akibat badai El Nino memperparah persebaran malaria di benua Afrika tersebut. Di Indonesia, cuaca dan curah hujan yang tidak menentu pada musim penghujan menjadi penyebab utama dari berkembangnya nyamuk Aides aegypti. Nyamuk yang menjadi penyebab dari penyakit demam berdarah ini selalu menjadi masalah besar setiap memasuki musim penghujan di setiap perkotaan di Indonesia. Lingkungan perkotaan yang kumuh semakin memperparah berkembangbiaknya jenis nyamuk tersebut.

Akan Dibawa Kemana Nasib Rumah Kita?

Perubahan iklim bukanlah permasalahan tunggal yang bisa diselesaikan dengan solusi yang sederhana. Dampak sekunder yang disebabkan oleh perubahan iklim dapat kita rasakan secara perlahan tanpa kita menyadarinya. Emisi karbon, sebagai biang dari terjadinya rentetan permasalahan iklim, dapat kita kurangi melalui kegiatan sehari-hari yang ramah lingkungan. Pengurangan penggunaan kendaraan bermotor dan menanam kembali hutan yang telah rusak bisa menjadi langkah awal untuk mengurangi emisi karbon. Masa depan bumi, sebagai rumah bagi segala jenis makhluk hidup, termasuk manusia, terletak di tangan kita semua. Perbuatan sekecil apapun dapat mempengaruhi “rumah kita” di masa depan. Tinggal kita yang memilih, ingin tetap serakah dan merusak alam atau mengubah pola hidup untuk bumi yang lebih baik di masa mendatang? Semua kita yang menentukan.

 

Penulis: Tatag Suryo

 

Referensi 

Sudarso. 2010. Perubahan Iklim dan Pengaruhnya terhadap Peningkatan Gangguan Kesehatan. Journal of Medicine. 9(1) : 12-22.

Syaifullah, M.D. 2015. Suhu Permukaan Laut Perairan Indonesia dan Hubungannya dengan Pemanasan Global. Jurnal Segara. 11(2) : 103-113.

Referensi Gambar:

National Geographic

Wikipedia.org

 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak!

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!