Fast Fashion, Solusi Kebutuhan yang Mencemar Lingkungan

Sandang atau pakaian tidak bisa dilepas dari kebutuhan primer manusia. Namun seiring berjalannya waktu, pakaian tidak lagi sekadar kebutuhan tetapi berevolusi menjadi sebuah alat aktualisasi diri. Tren berpakaian yang terus menerus berganti, keinginan manusia yang secara alamiah ingin mengikuti perkembangan terkini membuat konsumsi pakaian meningkat setiap saat. Permintaan pakaian yang tinggi membuat perusahaan-perusahaan garmen perlu meningkatkan volume produksinya. Fast fashion menjadi jawaban untuk produksi pakaian dengan jumlah besar namun tetap sesuai dengan budget pasar. Sayangnya, keseluruhan rantai konsep fashion ini memberikan dampak yang kurang menyenangkan bagi lingkungan. Apabila rantai ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin bila nantinya kita tenggelam di antara kain-kain tak bertuan yang menggunung.  

Ads
© Fashion United
© Fashion United

Apa itu fast fashion?

 

Fast fashion didefinisikan sebagai pakaian yang murah dan trendi di mana potongan pakaian tersebut mengambil sampel dari catwalk papan atas maupun tren pakaian para selebriti dan disulap menjadi sepotong pakaian yang terjangkau untuk memenuhi permintaan konsumen. Konsep fashion ini ingin membawa model pakaian yang paling trendi secepat mungkin ke etalase toko sehingga konsumen dapat membelinya ketika pakaian tersebut berada di puncak popularitas. Tetapi dengan cepatnya pergantian tren mode di masyarakat, pakaian-pakaian tersebut juga tidak akan bertahan lama di lemari para pembeli. Manusia memiliki kecenderungan untuk terus mengikuti tren agar tidak merasa tertinggal sehingga ketika model pakaian terbaru muncul, lingkaran pembelian akan kembali terjadi. 

Pada umumnya tren mode akan berganti di setiap musim, tetapi brand-brand fast fashion saat ini memiliki cara untuk selalu mengisi rak-rak mereka dengan potongan pakaian terbaru. Dalam satu tahun terdapat 52 minggu, bagi brand fashion ini setiap minggu adalah musim baru yang sering disebut dengan “micro-season”. Menurut The Good Trade, adanya 52 “micro-season” ini berarti setidaknya terdapat satu koleksi pakaian baru di setiap minggunya. “Micro-season” menjadi hal yang normal bagi seluruh merek fashion ini. Strategi ini memberikan kesan bahwa konsep fashion ini menyajikan kebaruan dan kesegaran pada pakaian yang mereka jual. Ini membuat merek-merek konsep fashion memiliki kesempatan untuk memproduksi pakaian dalam jumlah besar secara terus-menerus tanpa membuat konsumen bosan dengan koleksi yang mereka miliki. 

Saat ini terdapat ratusan merek fast fashion dan terus berkembang dari tahun ke tahun. Apabila satu merek mengeluarkan satu koleksi pakaian baru tiap minggunya, dapat dibayangkan berapa banyak pakaian yang diproduksi dan dikonsumsi dalam satu tahun saja. Rantai permasalahan yang diciptakan oleh industri fashion tersebut tidak hanya berhenti pada proses produksi dan konsumsi tetapi berlanjut hingga masa pakaian-pakaian ini tidak lagi diminati oleh pemiliknya. Kompleksnya permasalahan yang ditimbulkan oleh industri tersebut inilah yang menjadi kekhawatiran bagi pegiat lingkungan saat ini. 

 

Permasalahan dan Dampaknya pada Lingkungan

 

Produksi pakaian dari berbagai brand fast fashion tidak pernah berhenti. Permintaan masyarakat akan pakaian yang tinggi, serta masalah keterbatasan finansial untuk opsi yang lebih ramah lingkungan membuat industri tersebut seperti berada di atas awan. Hal ini menciptakan permasalahan berkepanjangan pada berbagai sektor terutama permasalahan pada lingkungan. 

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

 

  • Konsumsi Berlebihan

Permintaan akan pakaian yang trendi membuat brand fast fashion terus berproduksi untuk memenuhi keinginan konsumen. Menurut The True Cost, pada tahun 2015, tercatat bahwa seluruh orang di dunia mengkonsumsi setidaknya 80 miliar potong pakaian baru setiap tahunnya. Angka ini menunjukkan bahwa konsumsi pakaian meningkat sebanyak 400% dibandingkan 20 tahun yang lalu. Dengan angka konsumsi yang sebesar itu, masyarakat juga menciptakan sampah yang tidak kalah besar. Di Amerika, satu orang rata-rata menghasilkan 37 kilogram sampah pakaian setiap tahunnya. Masalah konsumsi pakaian berlebihan ini hanya satu dari banyak permasalahan yang dihasilkan oleh keberadaan konsep fashion ini.

 

  • Sampah Pakaian
Limbah pakaian © beintelligent.eu
Limbah pakaian © beintelligent.eu

Menyambung permasalahan konsumsi berlebihan, produksi sampah pakaian berjalan seiringan dengan konsumsi yang dilakukan. Pakaian dianggap sebagai sebuah benda yang disposable atau sekali pakai yang dapat dienyahkan kapan saja dari lemari. Dilansir dari Sustainyourstyle.com, sebuah keluarga di belahan bumi Barat rata-rata membuang 30 kg pakaian setiap tahunnya. Hanya 15% yang didaur ulang atau didonasikan, sisanya akan berakhir di tempat pembuangan akhir begitu saja. Padahal, pakaian yang diproduksi oleh brand fast fashion sebagian besar menggunakan kain sintetis seperti polyester yang tidak biodegradable. Sehingga, setiap potong kain itu memerlukan waktu hingga 200 tahun untuk bisa diurai oleh bumi. 

Selain disebabkan oleh konsumsi, proses produksi pakaian fast fashion juga menghasilkan limbah pakaian yang sangat besar. Dalam satu tahun setidaknya ada 400 miliar kubik kain yang masuk ke dalam ruang produksi. Sayangnya, 60 miliar kubik dari angka tersebut hanya akan berakhir di ruang pemotongan dan pada akhirnya dibuang karena tidak dapat lagi digunakan (Chung, 2016). Sampah-sampah pakaian yang ada pada akhirnya akan mencemari lingkungan dan berpengaruh pada air, tanah, serta udara tempat kita tinggal. 

 

  • Polusi Produksi Fast Fashion

Proses produksi yang dilakukan oleh brand fast fashion menimbulkan polusi dengan dampak yang tidak main-main. Di antaranya polusi pada air, tanah, juga udara. Produksi pakaian menggunakan bahan kimia sebagai bahan baku utamanya. Pada proses produksi fiber, pewarnaan, hingga bleaching, senyawa kimia digunakan untuk menciptakan produk yang menarik tetapi tidak berbiaya besar. Pada sebagian besar pabrik garmen, limbah kimia ini tidak diolah secara baik dan dibuang begitu saja ke sungai maupun danau yang ada. Ini tidak hanya menimbulkan masalah polusi pada air tetapi sekaligus pencemaran pada keseluruhan ekosistem air. Proses ini juga biasanya menggunakan mesin yang menghasilkan asap dan berpotensi menjadi polusi udara bagi lingkungan sekitarnya. Ini juga didukung dengan data dari Frost (2020) yang menyatakan bahwa industri tersebut bertanggung jawab atas 10% emisi karbon yang ada di bumi. 

© EHEF
© EHEF

Selain masalah limbah kimia yang mencemari air, bahan baku pakaian fast fashion yang cenderung menggunakan serat sintetis seperti poliester dan nilon mengandung microfiber, partikel kecil yang berbahaya bagi lingkungan. Ketika serat ini dicuci baik saat produksi maupun oleh konsumen, partikel-partikel sintetis yang terkandung pada kain akan terbawa air dan membuat laut kita dipenuhi microfiber yang berbahaya. Microfiber dan limbah kimia juga menjadi salah satu penyebab kualitas tanah bumi semakin hari semakin memburuk. 

 

  • Deforestasi 
Photo credit © National Geographic Society
Photo credit © National Geographic Society

Keberadaan fast fashion juga mempercepat terjadinya deforestasi. Hal ini dikarenakan hutan-hutan alami yang kaya akan biodiversitas digunduli agar bisa ditanami pohon-pohon penghasil kain. Serat seperti rayon, viscose, dan modal merupakan beberapa yang menyebabkan deforestasi hutan demi manusia terlihat trendi. Padahal, penggunaan serat ini juga tidak sepenuhnya ramah lingkungan karena pada akhirnya tetap dikombinasikan dengan serat sintetis lainnya. 

 

Solusi Mengatasi Fast Fashion 

Slow fashion practices © Prakati
Slow fashion practices © Prakati

 

Mengatasi fast fashion berarti melakukan sesuatu yang berkebalikan dari segala yang ada dalam rantai produksi dan konsumsinya. Salah satunya dengan menerapkan konsep slow fashion dalam kehidupan. Slow fashion merupakan sebuah gaya hidup yang mempromosikan penggunaan pakaian dengan lebih bijak. Praktik slow fashion memastikan pakaian digunakan dalam rentang waktu yang lama setelah diproduksi, memiliki kualitas baik dengan daya tahan tinggi, serta diproduksi dengan etika serta ramah lingkungan (Amanda, n.d.). Slow fashion mengajak masyarakat untuk melihat kembali isi lemari sebelum membeli potongan pakaian yang baru. Selain itu, slow fashion juga menerapkan konsep recycle dan upcycle dalam mengelola pakaian yang tidak lagi digunakan. Beberapa contoh perilaku yang sadar akan slow fashion adalah memilih pakaian dengan serat alami yang lebih ramah lingkungan, melakukan thrift-shopping, melakukan tukar baju dengan sesama pegiat slow fashion, hingga mendaur ulang baju yang tidak terpakai menjadi barang lain yang bermanfaat sehingga pakaian tersebut tidak berakhir di tempat pembuangan sampah. 

 

Penulis: Auni Azizah 

 

Referensi Literatur:

Amanda, Z. (n.d.). Slow Fashion (Fesyen Lambat). zerowaste.id. Retrieved January 13, 2021, from https://zerowaste.id/zero-waste-fashion/fesyen-lambat-slow-fashion/

Barrow, H. (2020, July 13). Conscious Fashion – Fast Fashion and Covid-19: An End to Overconsumption. greenunion.co.uk. Retrieved January 12, 2021, from https://www.greenunion.co.uk/lifestyle/1041/CONSCIOUS-FASHION—-Fast-Fashion-And-Covid-19%3A-An-End-To-Overconsumption%3F

Chung, S.-W. (2016, April 21). Fast Fashion Is “Drowning” The World. We Need A Fashion Revolution! greenpeace.org. Retrieved January 14, 2021, from https://www.greenpeace.org/international/story/7539/fast-fashion-is-drowning-the-world-we-need-a-fashion-revolution/

Earth Organization. (2020, February 6). Fast Fashion’s Detrimental Effect on The Environment. impakter.com. Retrieved January 12, 2021, from https://impakter.com/fast-fashion-effect-on-the-environment/#:~:text=Among%20the%20environmental%20impacts%20of,amounts%20of%20water%20and%20energy.

Frost, R. (2020, April 10). Experts Call For ‘Total Abandonment’ of Fast-Fashion to Prevent Envoromental Disaster. euronews.com. Retrieved January 13, 2021, from https://www.euronews.com/living/2020/04/10/experts-call-for-total-abandonment-of-fast-fashion-to-prevent-environmental-disaster

Rauturier, S. (2020, May 10). What Is Fast Fashion? goodonyou.eco. Retrieved January 12, 2021, from https://goodonyou.eco/what-is-fast-fashion/

Sustain Your Style. (n.d.). The Fashion Industry is The Second Largest Polluter in The World. sustainyourstyle.org. Retrieved January 13, 2021, from https://www.sustainyourstyle.org/old-environmental-impacts

Utami, S. F. (n.d.). Mengenal Fast Fashion dan Dampak yang Ditimbulkan. zerowaste.id. Retrieved January 15, 2021, from https://zerowaste.id/zero-waste-lifestyle/mengenal-fAast-fashion-dan-dampak-yang-ditimbulkan/

 

Referensi Gambar

https://fashionunited.com/news/business/can-the-fast-fashion-business-model-embrace-sustainability/2019082929678

https://www.beintelligent.eu/is-fast-fashion-expanding-greenwashing-as-conscious-consumerism-is-increasing/

https://ehef.id/post/global-challenges-and-opportunities-fashion/en

https://www.nationalgeographic.org/encyclopedia/deforestation/

https://www.prakati.in/slow-fashion-concept-meaning/

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak! 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!