Fauna dalam Ekosistem Hutan

Ekosistem dan Jaring Makanan

Fauna Ekosistem Hutan
Gambar 1: Ekosistem Hutan

Suatu ekosistem dapat disebut sebagai ekosistem hutan apabila di dalamnya terdapat komponen biotik dan abiotik, tetapi tetap didominasi oleh keberadaan pohon. Komponen biotik di dalam hutan terdiri dari tumbuhan, satwa, hingga makhluk mikroskopik seperti bakteri. Sementara komponen abiotik di dalam hutan terdiri dari edafis (tanah), klimatik (iklim), sampai keberadan sungai. Berikut dijelaskan mengenai fauna dalam ekosistem hutan.

Ads

Setiap komponen yang ada di hutan memiliki perannya masing-masing untuk menjaga ekosistem hutan. Keberadaan komponen biotik di dalam hutan bisa menjadi pelaku dari rantai makanan di dalam hutan, mulai dari produsen, konsumen, sampai pengurai hingga dapat membentuk jaring-jaring makanan. Jaring-jaring makanan di dalam hutan tidak akan terjadi tanpa adanya pendukung dari komponen abiotik.

Komponen abiotik, seperti sinar matahari yang terserap oleh pohon akan dikonversi menjadi energi melalui proses fotosintesis. Pohon yang di dalam trofik makanan berperan sebagai produsen akan dimakan oleh satwa-satwa herbivora. Satwa herbivora kemudian dimakan oleh satwa karnivora. Satwa yang sudah mati kemudian akan didekomposisi oleh pengurai seperti jamur maupun bakteri.

Kegiatan rantai makanan terjadi agar ada perputaran materi dan energi. Perputaran energi dan materi ini harus selalu ada karena keduanya dibutuhkan oleh makhluk hidup. Sehingga secara alamiah makhluk hidup akan melakukan kegiatan makan dan dimakan atau yang selama ini dikenal sebagai rantai makanan agar tetap ada perputaran energi.

Melalui proses rantai makanan, dapat disimpulkan jika hewan akan selalu ada dimanapun terdapat tumbuhan. Tumbuhan sebagai makhluk heterotrof atau dapat membuat makanan sendiri memiliki peran yang sangat penting bagi hewan, baik hewan herbivora maupun karnivora. Itulah mengapa fauna selalu dapat ditemukan di dalam ekosistem hutan.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Baca juga: Danau Indah di Gunung Indonesia, Di mana saja, Ya?

Manfaat Fauna dalam Ekosistem Hutan

Fauna Ekosistem Hutan
Gambar 2: Fauna dalam Hutan

Keberadaan hewan di dalam hutan tentunya bukan hanya untuk perputaran makanan. Hewan yang ada di hutan juga berdampak terhadap pertumbuhan pohon yang ada di dalam hutan. Perilaku hewan yang dapat berdampak terhadap pertumbuhan tanaman salah satunya adalah sekresi.

Pembuangan atau ekskresi yang dikeluarkan oleh hewan kemudian bisa menjadi pupuk yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan. Kotoran hewan mengandung unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan oleh tanah. Unsur hara makro tersebut adalah nitrogen, fosfor, dan kalium. Sementara unsur hara mikro yang dihasilkan dari kotoran hewan dapat berupa kalsium, magnesium, besi, dan lain-lain.

Manfaat lain dari kotoran hewan di hutan adalah dapat memperbaiki struktur tanah. Struktur tanah yang baik akan membuat makhluk hidup seperti pengurai atau cacing dapat hidup di tanah, sehingga tumbuhan yang tumbuh di tanah tersebut menjadi lebih subur. Selain itu, tanah yang baik dapat menyerap air dengan baik, sehingga pohon tidak akan mengalami kekurangan air atau malah jenuh air.

Bukan hanya kotoran hewan yang memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Perilaku beberapa fauna, khususnya serangga yang tinggal di hutan juga berpengaruh terhadap proses pertumbuhan tanaman adalah penyerbukan. Kegiatan penyerbukan ini dilakukan dengan cara mutualisme. Tumbuhan yang biasanya dihinggapi serangga biasanya adalah tumbuhan yang berumah tunggal. Tumbuhan berumah tunggal merupakan tumbuhan yang hanya memiliki satu kelamin pada satu pohon. Tumbuhan sejenis ini bisa melakukan pembuahan secara mandiri jika tanpa bantuan dari faktor lingkungan, hewan, maupun manusia. 

Pembuahan yang dilakukan karena faktor lingkungan biasanya dilakukan oleh angin. Embusan angin dapat menerbangkan bunga jantan kemudian hinggap ke bunga betina Sementara penyerbukan yang dilakukan oleh serangga biasanya dilakukan karena ketertarikan serangga terhadap tumbuhan tersebut. Sebagai contoh, bunga akan mengeluarkan nektar untuk dapat menarik perhatian serangga. Serangga yang tertarik dengan aroma atau bentuk bunga kemudian akan menghampiri bunga tersebut. Serangga kemudian akan menghampiri bunga tersebut biasanya sudah membawa bunga jantan ke bunga betina, sehingga penyerbukan pada bunga dapat terjadi.

Contoh lainnya terjadi pada buah pohon beringin yang dapat menjadi tempat tinggal dan sumber makan serangga polinator. Serangga polinator yang secara alamiah mengetahui bila buah pohon beringin merupakan habitatnya sampai ia dewasa akan menetap dan tinggal di dalam buah pohon beringin. Pohon beringin kemudian mendapatkan keuntungan dari adanya serangga polinator tersebut karena serangga polinator membawa bunga jantan untuk melangsungkan pembuahan. Selain bermanfaat terhadap pertumbuhan pohon, keberadaan hewan juga menjadi pengendali hama di dalam hutan. Jaring-jaring ekosistem yang sudah disebutkan sebelumnya tentunya bukan hanya sebagai perputaran energi. Jaring-jaring makanan juga bisa menjadi pengendali dari populasi.

Jika di dalam hutan tidak ada satupun karnivor atau dalam trofik makanan sebagai pelaku konsumen tingkat tiga, maka keberadaan populasi tingkat dua akan menjadi tidak terkendali. Sebagai contoh, punahnya populasi harimau di dalam hutan akan membuat keberadaan babi hutan dan tikus menjadi meningkat, sehingga populasi produsen akan menurun secara drastis. Padahal untuk dapat tetap melakukan perputaran energi, populasi makanan harus lebih banyak daripada populasi yang memakan. Sebagai contoh, populasi hewan herbivor harus lebih banyak daripada populasi hewan karnivora, sehingga satwa karnivora tidak kekurangan pangan. Dengan demikian akan terbentuk ekosistem yang sehat di dalam hutan.

Kabar Fauna Hutan

Kabar Fauna Hutan – Wanaswara
Gambar 3: Kabar Fauna Hutan

Pada saat ini fauna sudah jarang sekali menemukan ketentraman tinggal di dalam ekosistem hutan. Habitatnya yang diusik atau justru keberadaannya yang diburu seringkali membuat hewan yang tinggal di hutan tidak memiliki pilihan lain untuk tinggal di tempat lain. Padahal, tidak ada tempat sebaik hutan untuk dapat ditinggali hewan-hewan yang sebelumnya tinggal di hutan.

Hewan yang meninggali hutan kemudian akan melakukan jelajah untuk mencari tempat baru. Hewan yang melakukan jelajah bisa saja malah masuk ke pemukiman penduduk sehingga membuat penduduk ketakutan. Penduduk yang merasa terancam kemudian membunuh hewan-hewan tersebut. 

Hewan tentunya memilih untuk tetap tinggal di hutan jika saja tempat tinggalnya tidak diusik. Kecuali pada hewan-hewan tertentu seperti gajah yang memang punya daya jelajah yang luas, mereka tidak bisa hanya tinggal di satu tempat saja. Meskipun begitu, ruang jelajah gajah tidak pernah mengganggu penduduk. Apabila ditemukan gajah di kawasan pemukiman, besar kemungkinan bila dulunya wilayah permukiman tersebut merupakan ruang jelajah gajah.

Hewan-hewan yang berkeliaran di pemukiman bukan berniat untuk mengancam warga, tetapi hanya bingung akan keberadaan tempat tinggalnya. Namun masih banyak orang yang masih salah menilai dan justru malah memberikan julukan hewan buas kepada hewan-hewan yang membuat mereka merasa terancam. Pada akhirnya hewan-hewan tersebut bukan hanya kehilangan tempat tinggalnya tetapi juga kesempatan hidupnya. 

Bayangkan apa yang akan terjadi jika keberadaan fauna benar-benar hilang di dalam ekosistem hutan. Proses perputaran energi mungkin sudah tidak ada lagi. Selain itu, pohon-pohon yang ada di hutan mungkin saja hanya menjadi pohon tua dan mati yang dibiarkan begitu saja keberadaannya.

Pohon tua dan sudah mati tidak akan dapat melakukan aktivitas hidupnya lagi. Itulah mengapa jaring-jaring makanan harus tetap ada dan menghasilkan perputaran energi agar kehidupan tetap dapat berjalan. Proses tersebut tidak akan bisa dilakukan apabila salah satu komponen dihilangkan.

 

Penulis: Fifi Melinda Setiawati

Dikurasi oleh: Citra Isswandari Putri 

 

Referensi Artikel

HumasTNTN. 2019. Serangga penyerbuk dan hewan pemencar: penjaga keberlanjutan hutan dan kehidupan [internet]. TN Tesso Nilo; [diunduh pada Februari 24 2021]. Tersedia pada: https://tntessonilo.com/2019/04/16/serangga-penyerbuk-dan-hewan-pemencar-penjaga-keberlanjutan-hutan-dan-kehidupan/

 

Rimbakita. 2019. Pengamatan satwa liar-pengertian dan metode [internet]. Indonesia (ID): Rimbakita.com; [diunduh pada Februari 24 2021]. Tersedia pada: https://rimbakita.com/pengamatan-satwa-liar/.

 

 

LindungiHutan.com adalah Platform Crwodfounding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealamuntuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dan bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak.

 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!