Hal Menarik dan Kondisi Hutan di Sulawesi

Hutan merupakan hal yang krusial bagi masyarakat Sulawesi. Adanya delapan taman nasional di seluruh pulau Sulawesi memberikan gambaran mengenai betapa pentingnya ekosistem hutan bagi kehidupan. Hutan Sulawesi menyimpan keragaman kekayaan flora dan fauna endemik yang jarang dimiliki hutan lain di dunia. Berada di antara garis Wallace dan Weber yang memisahkan kawasan asiatis dan australis membuat flora dan fauna di hutan Sulawesi memiliki kekhasannya tersendiri. Selain itu, masih adanya masyarakat adat yang tinggal dan menggantungkan hidupnya pada hutan membuat hutan Sulawesi semakin kaya akan keragaman. 

Ads
Hutan Sulawesi, Photo by Heru Haryanto via Unsplash
Hutan Sulawesi, Photo by Heru Haryanto via Unsplash

Kondisi Hutan Sulawesi Terkini

Pulau Sulawesi merupakan pulau terbesar keempat di Indonesia. Memiliki 6 provinsi, empat di antaranya masuk dalam jajaran 15 provinsi dengan area hutan terluas di Indonesia. Keempat provinsi tersebut adalah Sulawesi Barat (1,6 juta hektar), Sulawesi Selatan (2,1 juta hektar), Sulawesi Tenggara (2,5 juta hektar), dan Sulawesi Tengah dengan area hutan terluas sebesar 4, 3 juta hektar (RimbaKita, 2019). Wilayah hutan ini mencakup hutan lindung hingga hutan produksi baik hutan produksi biasa maupun hutan produksi terbatas. 

Sayangnya, angka luas hutan ini terus menurun dari tahun ke tahun. Berdasarkan penelitian Jatna Supriatna (2019), sepanjang tahun 2000 – 2017 pulau Sulawesi telah kehilangan 10,89% dari total wilayah hutan yang dimilikinya. Angka ini setara dengan 2,07 juta hektar. Beberapa contohnya seperti hutan di Sulawesi Selatan misalnya, pada tahun 2019 area hutan seluas 516 ribu hektar berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Hutan di Sulawesi Tengah juga dikabarkan hilang hingga 100 ribu hektar pada tahun 2014. Menurut Supriatna (2019), provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara merupakan provinsi dengan angka deforestasi tertinggi di Sulawesi. Keduanya kehilangan 13,41% dan 13,37% wilayah hutan dalam kurun waktu tahun 2000-2017.

Data Penurunan Luas Area Hutan di Sulawesi © mongabay.com
Data Penurunan Luas Area Hutan di Sulawesi © mongabay.com

Menurunnya angka luas hutan di Sulawesi dipengaruhi berbagai hal, tetapi penyebab utamanya adalah pembalakan liar dan deforestasi untuk kepentingan pembukaan lahan. Hutan tropis yang dimiliki pulau Sulawesi telah mengalami pembabatan besar-besaran untuk keperluan pertanian, penebangan kayu, hingga pertambangan (Hence, n.d.). Deforestasi yang meningkat tajam ini juga dilatarbelakangi dukungan yang muncul dari pemerintah dengan dikeluarkannya izin untuk penebangan komersial dan agrikultur. Hutan-hutan di Sulawesi saat ini telah beralih fungsi menjadi sumber pendapatan bagi perusahaan yang tak begitu peduli pada lingkungan. Menyedihkannya, hutan-hutan yang beralih fungsi ini berada pada kawasan hutan lindung yang seharusnya menjadi wilayah yang aman bagi segala jenis biodiversitas di dalamnya (Wahyu, 2013). Hutan Sulawesi yang perlahan-lahan menghilang ini berdampak besar pada flora dan fauna endemik pulau Sulawesi. Ketiadaan tempat tinggal di habitat asli membuat mereka semakin lama semakin menipis populasinya. 

 

Ragam Flora dan Fauna

Terletak di wilayah Wallacea, hutan Sulawesi memiliki ragam flora fauna yang menarik dan tidak dapat ditemukan di tempat lain. Flora dan fauna endemik khas pulau Sulawesi tersebar di berbagai hutan lindung yang ada. Terdapat delapan hutan lindung dengan fokus utama perlindungan flora fauna yang berbeda (P3E Suma KLHK, n.d.). Di antaranya adalah Taman Nasional Lore Lindu di Sulawesi Tengah, Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai di Sulawesi Tenggara, dan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung di Sulawesi Selatan. Masing-masing hutan lindung memiliki flora dan fauna andalan yang menarik untuk dilihat dan pelajari. 

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com
  • Burung Maleo
Maleo Senkawor, burung endemik pulau Sulawesi © wikipedia.com
Maleo Senkawor, burung endemik pulau Sulawesi © wikipedia.com

Satwa dengan nama latin Macrocephalon maleo ini merupakan spesies burung endemik yang ada di hutan Sulawesi. Saat ini, Maleo dapat ditemukan di beberapa tempat seperti Taman Nasional Lore Lindu, Suaka Margasatwa Pinjang Tanjung Matop, Suaka Margasatwa Bakiriang, dan Cagar Alam Morowali (VOI, 2020). Menurut Badan Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tengah (BKSDA Sulteng), burung dengan tonjolan unik di kepala tersebut saat ini berstatus endangered dan terancam punah di alam liar. 

  • Kuskus Beruang
Kuskus Beruang, © wikipedia.com
Kuskus Beruang, © wikipedia.com

Hewan yang masuk dalam spesies marsupial ini memiliki bulu hitam keabu-abuan yang lebat dan lembut seperti beruang. Memiliki nama latin Ailurops ursinus, Kuskus Beruang menghabiskan banyak waktunya di kanopi pohon untuk tidur dan beristirahat. Ia termasuk hewan dengan pergerakan sangat lambat dan pendiam. Kuskus Beruang dapat ditemukan di Cagar Alam Batu Angus Sulawesi Utara karena statusnya saat ini sudah terancam punah (KSDA Sulsel, 2018).

  • Kayu Hitam Sulawesi
Kayu Hitam Sulawesi atau Eboni, tanaman khas hutan Sulawesi. © greeners.com
Kayu Hitam Sulawesi atau Eboni, tanaman khas hutan Sulawesi. © greeners.com

Kayu Hitam Sulawesi atau lebih banyak dikenal dengan Kayu Eboni merupakan tumbuhan berkayu yang menarik perhatian karena warnanya yang hitam dengan teras kecoklatan yang cantik (Megumi, 2018). Eboni memiliki berbagai jenis, namun yang paling terkenal adalah Diospyros celebica dan Diospyros rumphii. Eboni memiliki sebaran alami di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Gorontalo, dan Sulawesi Utara. Jenis kayunya yang cantik membuat kayu Eboni diperdagangkan dan dieksploitasi secara besar-besaran. Eksploitasi ditambah dengan kemampuan regenerasi alami yang kurang baik membuat Pohon Eboni masuk ke dalam daftar tanaman yang vulnerable. 

  • Strongylodon Celebicus Huang
Strongylodon celebicus © iNaturalist.ca
Strongylodon celebicus © iNaturalist.ca

Tanaman ini merupakan jenis tanaman liana berkayu endemik yang hanya ditemukan di hutan Sulawesi. Strongylodon Celebicus Huang memiliki bunga berbentuk mirip kuku burung elang yang tersusun layaknya pagoda. Bunganya memiliki warna yang beragam dari merah muda hingga putih. Ia dapat ditemukan di Taman Nasional Lore Lindung, Sulawesi Tengah.

 

Masyarakat Adat di Hutan Sulawesi

Taman Nasional Lore Lindu © Doni Heru Kristianto
Taman Nasional Lore Lindu © Doni Heru Kristianto

Hutan Sulawesi bukan hanya menjadi habitat bagi ragam flora dan fauna, terdapat juga suku-suku adat yang masih tinggal dan merawat hutan Sulawesi seperti sebagaimana seharusnya. Suku-suku adat sampai hari ini masih berjuang melindungi hutan adat milik mereka dan tersebar di berbagai daerah di Pulau Sulawesi. Beberapa suku adat yang menetap dan bergantung pada hutan di Sulawesi di antaranya adalah:

  • Tau Taa Wana Posangke/ Orang Wana Posangke

Tau Taa Wana Posangke merupakan komunitas adat yang tinggal di lembah dan bukit sepanjang aliran Sungai Salato (Nutfa, 2019, 62). Secara administrasi, wilayah adat Tau Taa Wana Posangke berada pada Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Orang Wana Posangke hidup dengan bergantung pada hutan, namun mereka memiliki pola tata guna lahan tersendiri yang digunakan secara turun temurun agar hutan tempat tinggal mereka tetap terjaga dan berkelanjutan. 

Orang Wana Posangke memiliki 7 pembagian area hutan dan lahan dengan fungsi yang berbeda-beda. Di antaranya adalah Pangale atau hutan rimba yang belum diolah dan difungsikan sebagai perlindungan mata air, Kapali atau hutan larangan yang tidak boleh disentuh dan diotak-atik, Navu atau area ladang yang dirotasi dengan tanaman-tanaman jangka pendek, hingga Pompalivu yaitu area hutan yang difungsikan sebagai tempat mencari rotan, damar, gaharu, dan ragam kayu bernilai ekonomis lainnya (HuMa, n.d.). Orang Wana Posangke merupakan satu komunitas adat yang paling nyaring gaungnya dalam mempertahankan wilayah hutan adat mereka. Mereka berusaha untuk terus hidup dan menghidupkan hutan tempat tinggal mereka selama ini. 

  • Masyarakat Lindu

Masyarakat adat Lindu sangat menghargai hutan adat, bagi mereka hutan merupakan sumber kehidupan. Hutan memberi mereka makan dan air, hutan adalah penopang hidup mereka. Itulah alasan mengapa Masyarakat Lindu sangat melindungi hutan adat mereka yang berada di dalam Taman Nasional Lore Lindu. Mirip dengan Tau Taa Wana Posangke, Masyarakat Lindu juga melakukan zonasi penggunaan hutan dan menerapkan sanksi adat yang berat pada pelanggar. Masyarakat Lindu mengambil hasil hutan dan danau Lindu sesuai dengan kebutuhan mereka, tidak berlebihan agar kondisi hutan tetap terjaga untuk waktu yang lama (PSKL KLHK, 2018). Masyarakat Lindu dan hutan Sulawesi hidup berdampingan tanpa adanya perusakan. 

  • Orang Rantetarima
Desa Rantetarima © mongabay.com
Desa Rantetarima © mongabay.com

Desa Rantetarima terletak di Mamasa, Sulawesi Barat. Masyarakat di sana yang dikenal dengan Orang Rantetarima hidup dengan mengandalkan kebaikan alam. Di Rantetarima, masyarakat hidup berdampingan dengan alam, hutan mereka rimbun dengan berbagai macam vegetasi yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan. Bagi Orang Rantetarima, masuk ke dalam hutan dan mengambil sesuatu harus dilakukan dengan sopan santun sesuai ketentuan adat yang ada (Mawan, 2019). Tidak boleh ada yang menebang pohon dengan sembarang, tidak boleh membuka kebun dengan membabat seluruh hutan, bahkan ketika mengambil kayu untuk membuat rumah pun kayu harus diletakkan sesuai dengan aturan tertentu. Orang Rantetarima memanfaatkan hutan dengan memperhatikan keseimbangan alam agar sumber kehidupan mereka tidak rusak dan menghilang. 

 

Hutan di Sulawesi merupakan sebuah ekosistem yang penting tidak hanya bagi flora dan fauna tetapi juga bagi masyarakat adat yang masih menggantungkan hidupnya pada hasil-hasil hutan. Kondisi hutan Sulawesi yang semakin menyempit tentu akan mengancam keberlangsungan hidup mereka dan mengganggu keseimbangan lingkungan. Apalagi, flora dan fauna yang dimiliki hutan Sulawesi tidak dapat ditemukan lagi di tempat lain. Indonesia tidak boleh kehilangan kekayaan ragam flora fauna karena maraknya alih fungsi hutan. Pemerintah terus menerus memperbarui peraturan mengenai penebangan kayu juga meningkatkan frekuensi patroli pada hutan-hutan lindung untuk mencegah terjadinya pembalakan liar. Meski begitu, upaya perlindungan dan pemberdayaan hutan terutama di Pulau Sulawesi tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat juga perlu mengambil bagian dalam menjaga hutan Sulawesi, dimulai dari meningkatkan kesadaran akan pentingnya hutan pada diri sendiri. Selain itu, masyarakat dapat turut berpartisipasi dengan melakukan reboisasi dan melaporkan tindakan pembalakan liar yang terjadi. 

 

Penulis: Auni Azizah 

 

Referensi Artikel

Arfandi, I. (2019, August 28). Mengenal Suku Polahi, Komunitas Adat yang Masih Langgengkan Kawin Sedarah. Liputan6. Retrieved December 23, 2020, from https://www.liputan6.com/regional/read/4048883/mengenal-suku-polahi-komunitas-adat-yang-masih-langgengkan-kawin-sedarah

Arief, A. (n.d.). Taman Nasional Lore Lindu – Kekayaan Flora & Fauna Sulawesi Tengah. Pesona Wisata Sulteng. Retrieved December 23, 2020, from https://pesonawisata.sultengprov.go.id/index.php/en/sigi-dan-taman-nasional-lore-lindu/taman-nasional-lore-lindu-kekayaan-flora-fauna-sulawesi-tengah.html?jjj=1608794708457

Hence, J. (n.d.). Sulawesi. rainforest mongabay. Retrieved December 22, 2020, from https://rainforests.mongabay.com/sulawesi/

HuMa. (n.d.). Tau Taa Wana Posangke, Sulawesi Tengah. HuMa: Perkumpulan untuk Pembaharuan Hukum Berbasis Masyarakat dan Ekologis. Retrieved December 23, 2020, from https://web.huma.or.id/penetapan-hutan-adat-demi-terwujudnya-kesejahteraan-masyarakat/rangkaian-kegiatan/tau-taa-wana-posangke-sulawesi-tengah

KSDA Sulsel. (2018, August 14). Identifikasi Spesies Kunci Sulawesi (Kuskus Beruang Sulawesi- Si Gemar Tidur). KSDA Sulawesi Selatan. Retrieved December 23, 2020, from http://ksdasulsel.menlhk.go.id/post/identifikasi-spesies-kunci-sulawesi-kuskus-beruang-sulawesi-si-gemar-tidur

Mawan, A. (2019, December 7). Makna Penting Hutan bagi Orang Rantetarima. mongabay.co.id. Retrieved December 23, 2020, from https://www.mongabay.co.id/2019/12/07/makna-penting-hutan-bagi-orang-rantetarima/

Megumi, S. R. (2018, March 16). Eboni, Pohon Unggulan Sulawesi yang Mulai Langka. greeners.co. Retrieved December 23, 2020, from https://www.greeners.co/flora-fauna/eboni-pohon-unggulan-sulawesi-mulai-langka/

Nutfa, M. (2019, December 2). Tau Taa Wana, Dari Alam untuk Alam: Filosofi dan Praktik Bijaksana Menata Relasi Manusia dan Alam. Sosioreligius, 2(IV), 61-68. Repository UIN Alauddin. ISSN 2550-0333

P3E Suma KLHK. (n.d.). 8 Taman Nasional di Pulau Sulawesi. P3E Suma Kementerian LHK. Retrieved December 22, 2020, from http://p3esuma.menlhk.go.id/versi3/index.php/news/87-berita/384-8-taman-nasional-di-sulawesi

PSKL KLHK. (2018, January 29). Masyarakat Adat Kearifan Lokal yang Menjaga Hutan. pskl.menlhk.go.id. Retrieved December 23, 2020, from http://pskl.menlhk.go.id/berita/281-masyarakat-adat-kearifan-lokal-yang-menjaga-hutan.html

RimbaKita. (2019). 15 Provinsi dengan Hutan Terluas di Indonesia. rimbakita.com. Retrieved December 22, 2020, from https://rimbakita.com/15-provinsi-dengan-hutan-terluas-di-indonesia/

Strongylodon celebicus S.F.Huang in GBIF Secretariat (2019). GBIF Backbone Taxonomy. Checklist dataset https://doi.org/10.15468/39omei accessed via GBIF.org on 2020-12-24.

Supriatna, J. (2019, October 23). Riset: Penebangan Hitan di Sulawesi Merusak Habitat Monyet dan Kera Lokal. theconversation.com. Retrieved December 22, 2020, from https://theconversation.com/riset-penebangan-hutan-di-sulawesi-merusak-habitat-monyet-dan-kera-lokal-148625

VOI. (2020, October 16). Burung Maleo, Satwa Endemik Sulawesi yang Berstatus Genting. voi.id. Retrieved December 23, 2020, from https://voi.id/berita/16963/burung-maleo-satwa-endemik-sulawesi-yang-berstatus-genting

Wahyu, C. (2013, September 26). Hutan Lindung di Sulawesi jadi Sasaran Konversi Lahan. Mongabay. Retrieved December 23, 2020, from https://www.mongabay.co.id/2013/09/26/hutan-lindung-di-sulawesi-jadi-sasaran-konversi-lahan/

 

Referensi Gambar

https://rainforests.mongabay.com/sulawesi/

https://id.wikipedia.org/wiki/Maleo_senkawor

https://id.wikipedia.org/wiki/Kuskus_beruang

https://www.greeners.co/flora-fauna/eboni-pohon-unggulan-sulawesi-mulai-langka/

https://inaturalist.ca/taxa/138619-Strongylodon

http://ksdae.menlhk.go.id/album/10/43.html

https://www.mongabay.co.id/2019/12/07/makna-penting-hutan-bagi-orang-rantetarima/

 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak! 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!