Hasil Hutan Bukan Kayu

Indonesia merupakan salah satu negara dengan hutan terluas di dunia. Keberadaannya sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup yang ada di sekitarnya. Selain sebagai paru-paru dunia, manfaat lain dari hutan dapat dirasakan secara langsung maupun tidak langsung. Perlu diketahui pula bahwa manfaat hutan bukan berasal dari kayunya saja. Namun, masih banyak sumber daya alam hasil hutan bukan kayu yang dapat dimanfaatkan. Penasaran tentang hasil hutan bukan kayu? Makanya, jangan ke mana-mana. Simak tulisan saya dalam beberapa alinea ke depan.

Ads

Apa itu Hasil Hutan Bukan Kayu?

Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) merupakan hasil bagian dari pohon dan tumbuhan di hutan atau berasal dari sumber daya lainnya yang memiliki sifat khusus dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Definisi lain HHBK menurut Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 35 Tahun 2007 tentang HHBK, menjelaskan HHBK merupakan hasil hutan hayati baik nabati maupun hewani serta produk turunannya dan budidaya kecuali kayu yang berasal dari hutan. HHBK terdiri dari benda-benda hayati yang berasal dari hewan dan tumbuhan. Selain itu termasuk juga jasa air, udara, dan manfaat tidak langsung dari hutan (Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan). 

Biasanya HHBK dianggap sebagai hasil sampingan dari pohon, misalnya getah, daun, kulit, buah atau sumber daya alam lainnya, tetapi dapat menjadi sumber kehidupan sehari-hari. Menurut BPS tahun 2019 produksi HHBK di Indonesia didominasi oleh bambu dan rotan (BPS, 2019). Selain bambu dan rotan masih banyak HHBK yang tumbuh di Indonesia.

Hasil Hutan Bukan Kayu di Indonesia 

Tercatat ada sekitar 565 jenis HHBK di Indonesia yang dapat dimanfaatkan dan diolah oleh masyarakat. Namun, ada beberapa HHBK yang cukup familiar dan menjadi produksi komoditas strategis serta berpotensi untuk dimanfaatkan. Jenis-jenis HHBK tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

  1. Getah Kayu
Gambar 1. Petani Menyadap Getah. Sumber: insight.kontan.com
Gambar 1. Petani Menyadap Getah. Sumber: insight.kontan.com

Getah kayu merupakan HHBK bersifat cair dan kental yang bersumber dari batang, dan kulit yang terluka. Definisi lain mengungkapkan bahwa getah merupakan cairan/larutan putih yang diperoleh dengan cara melukai tanaman penghasil getah  (Marshall and Chandrasekharan, 2009). Getah yang secara umum diproduksi dengan jumlah besar adalah tanaman karet (Heveabraziliensies). Ada beberapa karakteristik getah diantaranya: (a) tidak bisa dilarutkan dalam air; (b) jika terpapar udara akan mengeras; (c) tidak memiliki fungsi primer dalam pertumbuhan; (d) umumnya diproduksi tumbuhan berkayu; dan (e) tidak elastis.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Menurut BPS (2019) hasil produksi getah di Indonesia dari 2014-2018 mencapai 105.362 ton/ tahun untuk getah pinus dan 27.199 ton/ tahun untuk getah karet. Komoditas tersebut banyak ditemukan di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Selain sebagai komoditas yang sudah masuk perdagangan internasional, getah kayu juga memiliki manfaat bagi masyarakat. Menurut Chanan (2009) dilihat dari segi ekonomi dapat menjadi komoditi perdagangan dan menyerap tenaga kerja setempat dan penghasil bahan industri. Dari segi sosial juga dapat memperbaiki penghidupan masyarakat.

       2. Bambu

Gambar 2. Hutan Bambu. Sumber: unsplash.com
Gambar 2. Hutan Bambu. Sumber: unsplash.com

Bambu merupakan rumput-rumputan  yang masuk ke dalam jenis famili gramineae yang merupakan bagian dari komoditas HHBK. Bambu memiliki potensi sebagai bahan substitusi kayu karena produksi bambu dapat dikendalikan dan direncanakan. Menurut Sulastiningsih et-al (2005), masa tumbuh bambu relatif pendek cepat, hanya membutuhkan 3-4 tahun untuk bisa dipanen. Adapun jenis-jenis bambu diantaranya ada bambu betung, pring kuning /bambu kuning, bambu duri, bambu buluh, bambu tamiang, bambu apus, bambu legi, bambu cina,  dan bambu haur/haur kuning (Arsad, 2013).

Produksi bambu pada tahun 2014-2018 menurut data BPS 2019 rata-rata 11.308.735 batang/ tahun. Jumlah tidak sedikit ini tentunya memberikan manfaat kepada masyarakat. Bambu memiliki manfaat yang dapat digunakan untuk membangun rumah, peralatan dapur, kerajinan, industri alat musik, jembatan, tirai, sumpit dan masih banyak lagi. Selain itu bambu juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan minuman, tusuk sate, tusuk gigi, bahan pengisi kayu lapis, lotion, dan sebagainya.

       3. Rotan

Gambar 3. Rotan. Sumber: rimbakita.com
Gambar 3. Rotan. Sumber: rimbakita.com

Rotan tanaman yang merambat dari keluarga Palmae. Rotan memiliki keunikan diantaranya panjang batang bisa mencapai kurang lebih 100 meter meskipun diameternya sebesar ibu jari. Rotan juga bersifat lentur dan kuat sehingga dapat dibentuk bermacam-macam hiasan-hiasan, perabotan rumah tangga, dan alat pendukung kegiatan sehari-hari (Januminro, 2000).

Hasil Produksi Rotan menurut BPS 2019 dari 2014-2018 rata-rata mencapai 8.915 ton/ tahun. HHBK ini dihasilkan oleh daerah-daerah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Ada sekitar lebih dari 50 jenis rotan yang dimanfaatkan dan diperdagangkan di Indonesia, namun hanya sebagian kecil yang diekspor diantaranya; rotan tohiti, rotan manau, rotan pulut putih, rotan sega,  rotan pulut merah, rotan irit, rotan semambu, yang semua ini termasuk dalam kelompok calamus. Manfaat langsung dari rotan adalah batangnya, namun selain itu manfaat lainnya dapat diperoleh dari buah, akar, dan daunnya. Umbutnya dapat dikonsumsi sebagai sayuran dan akar serta buahnya digunakan sebagai obat tradisional. 

       4. Damar

Gambar 4. Damar. Sumber: bobo.id
Gambar 4. Damar. Sumber: bobo.id

Damar adalah hasil sekresi (getah atau gum) yang didapatkan dari pohon damar atau nama latinnya agathis dammara. Pohon damar ini merupakan tanaman asli Indonesia yang dibudidayakan hingga negara Filipina. Damar diperoleh dengan memanen dari getah tanaman damar yang masih segar. Proses untuk mendapatkan damar di proses seperti menyadap getah pada pohon karet. Damar menjadi sisa buangan yang sering terkenal dengan sebutan resin. 

Produksi damar di Indonesia rata-rata 2.964 ton per tahun pada tahun 2014-2018 (BPS, 2019). Adapun daerah penghasil damar tersebar di Jawa, Maluku, Sulawesi, hingga Pelalawan. Getah damar keluar dari kulit atau kayu damar yang digores. Setelah beberapa hari getah akan membeku dan mengeras. Getah damar yang mengeras inilah kemudian disebut kopal. Kandungan dalam kopal terdapat asam-asam resinol, resin, dan minyak atsiri. Kopal dimanfaatkan sebagai bahan dasar bagi cairan pelapis kertas supaya tinta tidak menyebar dan dapat digunakan untuk campuran lak dan pernis, perekat pada penambal gigi, serta perekat plester.

      5. Buah-Buahan

Gambar 5. Buah-buahan. Sumber: unsplash.com
Gambar 5. Buah-buahan. Sumber: unsplash.com

Buah-buahan merupakan salah satu HHBK yang sering  dimanfaatkan oleh masyarakat. Hutan di Indonesia menghasilkan banyak dan beragam buah yang selalu berbuah sepanjang tahun atau musiman. Dilansir panennews.com ada lima komoditi buah dengan produksi terbesar di Indonesia pada tahun 2018 diantaranya durian yang mencapai 1.142.102 ton, nanas 1.805.506 ton, jeruk siam 2.408.043 ton, mangga 2.624.791 ton, dan Pisang 7.264.383 ton (panennews.com, 2020). Buah-buah tersebut hampir tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Buah-buahan juga memiliki banyak kandungan yang bermanfaat bagi masyarakat. Masing-masing mempunyai manfaat tersendiri bagi tubuh sesuai warnanya yang dijabarkan sebagai berikut: a) warna putih untuk menjaga kesehatan tulang dan sendi; b) warna kuning-jingga untuk menjaga kesehatan mata; c) warna merah untuk menjaga kesehatan jantung; d) warna ungu untuk menjaga kesehatan otak; e) warna hijau untuk menjaga kesehatan sel (Global Phytonutrient Reports dari Nutrilite, 2014).

      6. Madu

Gambar 6. Lebah memproduksi madu. Sumber: unsplash.com
Gambar 6. Lebah memproduksi madu. Sumber: unsplash.com

Madu merupakan HHBK yang terbuat dari nektar mahkota bunga yang diserap oleh lebah dan kemudian dikumpulkan dan disimpan dalam sarangnya. Madu memiliki karakteristik kental dan berwarna kuning pucat atau kuning keemasan (Sahly, 1992). Di dalam madu terdapat beberapa kandungan gizi yang bermanfaat bagi manusia seperti karbohidrat, protein, asam amino, vitamin dan mineral. Vitamin yang terkandung dalam madu antara lain vitamin B1, B2, B3, B6, C, A, E, flavonoid, sedangkan untuk kandungan mineralnya Na, Ca, K, Mg, Cl, Fe, Zn dan lain-lain. Kandungan nutrisi dalam madu yang berfungsi sebagai antioksidan adalah vitamin C, B3, asam organik, enzim, asam fenolik, flavonoid, vitamin A serta vitamin E, dengan demikian pada madu terdapat banyak nutrisi yang berfungsi sebagai antioksidan (Bogdanov et al 2008). Salah jenis madu yang kaya manfaat adalah madu klanceng yang menjadi suplemen terbaik (mediacenter.temanggungkab.go.id, 2020). Madu klanceng sudah banyak di kembangkan di daerah di Indonesia. Salah satunya Desa Kalipoh di Kabupaten Kebumen yang mendapatkan julukan Kampung Klanceng, sebuah kampung pemberdayaan masyarakat di bidang hasil hutan non kayu.

Salah satu daerah penghasil madu terbesar di Indonesia adalah Riau. Jumlah produksi madu hutan pada Provinsi Riau menjadi yang tertinggi jika dibandingkan dengan provinsi Nusa Tenggara Barat. Nilainya dapat mencapai hampir 400 ton/tahun.Perlu kita ketahui juga bahwa madu merupakan HHBK yang sangat penting dan memiliki nilai komersial yang tinggi.

      7. Hewan

Gambar 7. Monyet. Sumber: unsplash.com
Gambar 7. Monyet. Sumber: unsplash.com

Hewan adalah makhluk hidup yang sebagian dari siklus hidupnya tinggal di hutan.  Ada beberapa kelompok hewan yang tinggal di hutan diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Kelompok hewan buru : i). Kelas mamalia : babi hutan, kancil, kelinci, orang utan, bekantan, rusa. ii). Kelas reptilia : bunglon, kadal, landak, buaya, dan ular iii). Kelas amfibi : katak iv). Kelas aves : alap-alap, betet, beo, kasuari, nuri perkici, dan serindit 
  2. Kelompok hasil penangkaran: arwana, kupu kupu, dan rusa.
  3. Kelompok hasil hewan : walet, kutu lak, lebah, ulat sutera. 

Permasalahan Hasil Hutan Bukan Kayu

Jumlah yang cukup banyak ternyata masih ditemukan masalah pada HHBK. Permasalahan ini muncul ketika produk-produknya bergeser menjadi komoditi perdagangan (Rostiwati, 2006). Adapun permasalahan HHBK yang ditemukan sampai sekarang antara lain: 

  1. Teknologi silvikultur/budidaya yang belum dikuasai secara maksimal, di sisi lain hasil hutan alam menurun, kepunahan, dan lahan yang berkurang (perubahan fungsi hutan, perambahan, dan kebakaran hutan).
  2. Masih banyak masyarakat yang belum tahu tentang teknologi pengolahan produk HHBK.
  3. Masih ada masalah sosial ekonomi dan kebijakan, misalnya: kewenangan kelembagaan yang kurang jelas, kondisi pasar tidak menentu, akses pasar yang sulit dan tidak mempunyai cukup modal.

Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) merupakan SDA yang melimpah di Indonesia dan memiliki potensi yang tinggi untuk dikembangkan di masa depan. Penggunaan HHBK di beberapa daerah di Indonesia digunakan sebagai komponen struktural yang tetap diminati. Oleh karena itu, kita perlu menjaga dan melestarikannya agar bisa dinikmati oleh anak cucu kita nanti.

Penulis: Riki Purwanto

 

Referensi Literatur:

Anonim. 2019. Pohon Damar (Agathis dammara) Pohon Asli Indonesia, Penghias Jalan Utama ITB Kampus Jatinangor. Diakses di https://jatinangor.itb.ac.id/2019/06/02/pohon-damar-agathis-dammara-pohon-asli-indonesia-penghias-jalan-utama-itb-kampus-jatinangor/ 

Anonim. 2020. Klanceng, Madu Dengan Banyak Manfaat dan Kasiat. https://mediacenter.temanggungkab.go.id/berita/detail/klanceng-madu-dengan-banyak-manfaat-dan-kasiat- 

Arsad, E 2013. Peningkatan Nilai Tambah Bambu Non Komersial Sebagai Bahan Baku Pembuatan Pellet Bambu. Baristand Industri Banjarbaru. 24 halaman.

BPS. 2019. Ketersediaan Data Hasil Hutan Bukan Kayu. Diakses di https://wri-indonesia.org/sites/default/files/Statistik%20HHBK%20-%20Eko%20Haryono.pdf 

Bogdanov, S. (2009). Physical properties of honey. Dalam: Book of Honey, Chapter 4. Bee Product Science. www. bee-hexagon.net.

Chanan M. 2009. Respon Perkecambahan Benih dan Pertumbuhan Semai Pinus (Pinus merkusii Jung et de Vriese) Dengan Aplikasi Konsentrasi Dan Lama Perendaman Larutan Abitonik. Jurnal Gamma Vol. 5 No. 1, September 2009.

Hartanti, G. (2012). Perkembangan material rotan dan penggunaan di dunia desain interior. Humaniora3(2), 494-503.

Januminro. 2000. Rotan Indonesia, Potensi, Budi Daya, Pemungutan, Pengolahan, Standar Mutu, dan Prospek Pengusahaan. Yogyakarta: Kanisius.

Maarif, Ali. 2019. Ini Dia, 5 Komoditi Buah Dengan Produksi Terbesar Di Indonesia. Diakses di https://panennews.com/2020/03/ini-dia-5-komoditi-buah-dengan-produksi-terbesar-di-indonesia/

Nutrilite (2014). Global Phytonutrient Report. Majalah Amagram. 11 Januari. Jakarta.

Rostiwati, Tati. 2006. Silvikultur Tanaman Penghasil HHBK. Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam, Bogor. (unpublish)

Sahly, salim. Petunjuk PENGOBATAN dengan resep-resep asli : panduan ilmu kedokteran dan hasil riset bahan obat dari tumbuh-tumbuhan berkhasiat untuk berbagai penyakit. Solo : CV. ANEKA. Cet.IV. 1992. Hlm.129

Sulastiningsih, I.M dan Santoso, A 2012. Pengaruh Jenis Bambu Waktu Kempa dan Perlakuan Pendahuluan Bilah Bambu terhadap Sifat Papan Bambu Lamina. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 30 (3), 198 – 206.

 

Referensi Gambar:

https://insight.kontan.co.id/news/strategi-mendongkrak-konsumsi-karet-domestik

https://unsplash.com/photos/VCRci_usn0w

https://unsplash.com/photos/D4ZtZX1UeAI 

https://unsplash.com/photos/ofAvwoZBTLI 

https://unsplash.com/photos/nQ0WUBRcVvk 

https://rimbakita.com/rotan/ 

https://bobo.grid.id/read/08682076/damar-mata-kucing-harta-karun-yang-sangat-berharga-bagi-masyarakat-krui 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak! 

Yuk, jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!