Hutan Kota, Aset Berharga Masyarakat Perkotaan

Hutan Kota, Sarana Pelepas Stres Masyarakat Kota
Hutan Kota, Sarana Pelepas Stres Masyarakat Kota

Apa yang muncul di benak teman-teman jika mendengar kata “kota”? Ya, sebagai pusat dari kehidupan masyarakat, kota selalu identik dengan kepadatan penduduk, keramaian, kemacetan, dan hingar bingar yang jauh dari kata tenang, sunyi, dan asri. Tuntutan kebutuhan masyarakat yang semakin tinggi, ditambah dengan semakin banyaknya orang yang memilih hidup di perkotaan membuat pemerintah mendesain kota menjadi lingkungan yang dipadati oleh gedung pencakar langit, perumahan yang padat, dan beton-beton pelapis jalan yang menutupi hampir setiap jengkal tanah yang ada di kota. Setiap lahan kosong selalu diubah menjadi aset yang bernilai ekonomis, yang bisa dimanfaatkan untuk menunjang kehidupan masyarakat. Jika kita berjalan-jalan dan melihat papan rencana pembangunan di setiap sudut kota, akan dengan mudah kita menebak apa yang akan dibangun di kawasan tersebut. Sudah jelas, jika tidak gedung perkantoran, gedung pemerintahan, pasti sarana hiburan seperti mall, kafe, atau tempat bermain. Jarang kita menemui papan rencana pembangunan untuk taman kota, hutan kota, atau ruang terbuka hijau lainnya.

Ads

Baca Lainnya: 2.000 Pohon untuk Demak, Cegah Rob Musim Kesongo

Meskipun demikian, sebenarnya sudah ada peraturan yang mengatur terkait dengan kewajiban pemerintah daerah untuk membangun ruang terbuka hijau di lingkungan kotanya masing-masing. Hal tersebut dapat dilihat di Undang-undang Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007 Pasal 29 yang menjelaskan bahwa setiap kota harus menyediakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) minimal 30% dari total luas kawasan kota, dengan pembagian 20% disediakan oleh pemerintah dan 10% oleh pihak swasta dan masyarakat. Hal tersebut menunjukkan bahwa pembangunan hutan kota dan bentuk RTH lainnya merupakan hal yang penting dan menyangkut hajat hidup masyarakat di perkotaan. Namun, apa yang sebenarnya membuat keberadaan hutan kota menjadi penting bagi masyarakat perkotaan?

Hutan Kota Sebagai Penyedia Jasa Lingkungan

Menurut UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Ruang Terbuka Hijau (RTH) dapat diartikan sebagai area yang berbentuk memanjang dan/atau mengelompok yang penggunaannya bersifat terbuka dan ditumbuhi oleh tanaman, baik secara alami, maupun ditanam secara sengaja oleh manusia. Sebagai komponen utama penyusun hutan kota dan jenis RTH lainnya, pohon memiliki peranan yang penting bagi masyarakat perkotaan, khususnya di dalam menyediakan jasa lingkungan. Jasa lingkungan yang diberikan oleh pohon di antaranya adalah menjaga siklus hidrologi dan kestabilan iklim mikro.

Yuk, Adakan Penghijauan di Daerahmu!

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Bersama LindungiHutan, Menghijaukan Indonesia.

Penjaga Siklus Hidrologi

Peran menjaga siklus hidrologi pada pohon dilakukan oleh sistem perakaran dan humus yang dihasilkan oleh pohon. Sistem perakaran yang dimiliki oleh pohon dan humus yang dihasilkan oleh daun yang telah mengering memiliki peran di dalam memperbesar pori-pori tanah. Hal tersebut akan berguna ketika musim hujan tiba. Air hujan yang turun akan masuk ke dalam tanah, mencegah adanya limpasan air, dan mengurangi potensi terjadinya banjir. Air hujan yang tersimpan di dalam tanah juga dapat dimanfaatkan sebagai air tanah ketika musim kemarau
tiba.

Penjaga Kestabilan Iklim Mikro

Kemudian, peran menjaga kestabilan iklim mikro dilakukan oleh pohon melalui fungsi fotosintesis yang terjadi pada bagian pohon yang memiliki klorofil. Proses fotosintesis menjadi penting karena berperan di dalam menyaring udara yang ada di perkotaan. Padatnya kawasan perkotaan, ditambah dengan maraknya penggunaan kendaraan bermotor, membuat udara di perkotaan memiliki kualitas yang buruk. Melalui proses fotosintesis, akumulasi karbon yang tinggi di udara dapat diubah menjadi oksigen yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk bernafas. Dampak yang terjadi dapat dirasakan secara nyata melalui perbedaan suhu dan kelembaban. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Muthmainah dan Tahnur (2018), suhu udara di bawah pohon lebih rendah 3-5 o dibandingkan dengan suhu di luar naungan pohon. Kelembaban pun juga lebih tinggi 20-30%. Hal tersebut akan sangat berarti bagi masyarakat perkotaan. Bayangkan jika tidak ada pohon, dapat dibayangkan betapa panas dan polutifnya
udara di kawasan perkotaan.

Meskipun memiliki peran yang penting di dalam menjaga kestabilan lingkungan, masih banyak pemerintah daerah yang belum menjadikan RTH sebagai prioritas pembangunan di daerahnya masing-masing. Melansir dari website Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, pada tahun 2019, baru 13 dari 174 kota di Indonesia yang sudah mengikuti Program Kota Hijau dan memiliki RTH lebih dari 30%. Angka tersebut masih termasuk kecil dan
menunjukkan bahwa pembangunan RTH masih kurang memberikan manfaat dibandingkan dengan pembangunan gedung-gedung bertingkat. Nilai ekonomi selalu menjadi pertimbangan di dalam melakukan pembangunan di kawasan perkotaan. Namun sebenarnya, apakah hutan kota dan jenis RTH lainnya benar-benar tidak memiliki nilai ekonomi?

Nilai Ekonomi Hutan Kota

Nilai Ekonomi Hutan Kota
Nilai Ekonomi Hutan Kota

Anggapan bahwa hutan kota tidak memberikan manfaat secara ekonomis merupakan bentuk kekeliruan yang besar. Hutan kota justru memiliki nilai ekonomi yang jarang disadari oleh banyak orang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Muthmainah dan Tahnur (2018), hutan kota memiliki nilai ekonomi melalui produk yang dihasilkan oleh pohon-pohon yang menjadi penyusun utama hutan kota. Produk tersebut dapat berupa kayu, kesejukan udara, dan ketersediaan air tanah.

Pohon yang terdapat di hutan kota memiliki nilai manfaat ekonomi yang tinggi. Nilai manfaat ekonomi ditentukan berdasarkan harga pasaran dari pohon yang terdapat di hutan kota. Nilai manfaat ekonomi tersebut dapat menjadi aset yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah ketika pohon tersebut sudah mencapai umur yang tua. Pada penelitian yang dilakukan di Hutan Kota Universitas Hasanuddin Makassar, diperoleh nilai manfaat ekonomi sebesar Rp 46.586.400/tahun pada kawasan seluas 13,16 ha. Bayangkan jika masing-masing kota menyediakan RTH hingga 30%, nilai manfaat ekonomis yang dimiliki dapat mencapai lebih dari 100 juta per tahun. Meskipun tidak dapat dimanfaatkan secara langsung, setidaknya hutan kota memiliki nilai yang dapat menjadi aset miliki pemerintah daerah.

Manfaat Ekonomi: Pohon sebagai Penghasil Udara

Kesejukan udara yang dihasilkan oleh pohon, sebagai produk dari proses fotosintesis juga memiliki nilai ekonomi. Bayangkan kesejukan udara yang dihasilkan oleh hutan kota harus diganti dengan air conditioner (AC), akan seberapa besar uang yang dikeluarkan oleh pemerintah. Anggap saja AC 1 PK dapat memberikan kesejukan pada ruangan dengan ukuran 4×5 m, dan harga 1 unit AC 1 PK adalah sebesar Rp 3.457.800, diperlukan AC sebanyak 10.000 unit dengan total harga sebesar Rp 34.578.000.000 untuk memberikan kesejukan pada lahan seluas 20 ha. Belum lagi ditambah dengan biaya perawatan yang perlu dikeluarkan untuk mengisi freon dan memperbaiki AC yang rusak. Tentu itu akan sangat memberatkan pemerintah jika memang harus dilakukan.

Manfaat Ekonomi: Air Tanah

Manfaat ekonomi lain dimiliki oleh air tanah yang dapat tersimpan di dalam tanah berkat fungsi hidrologis yang dilakukan oleh hutan kota. Air tanah yang dihasilkan secara alami oleh hutan kota dapat menggantikan konsumsi air yang berasal dari PDAM. Berdasarkan survey yang dilakukan di Amerika Serikat, diperkirakan 1 USD biaya yang dikeluarkan untuk merehabilitasi hutan dapat menghemat biaya pengelolaan air hingga sebesar 200 USD. Bayangkan jika pemerintah dapat menjadikan hutan kota sebagai sarana penyedia air bagi masyarakat, akan banyak biaya yang dihemat oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan air.

Manfaat ekologis dan ekonomis merupakan segelintir manfaat yang didapat dari pembangunan hutan kota. Masih banyak manfaat lain yang akan diperoleh, seperti manfaat rekreasi, sosial, dan estetika, apabila pemerintah gencar membangun hutan kota sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Tidak semua kebutuhan manusia bisa dipenuhi melalui bangunan fisik yang didirikan secara artifisial. Terkadang kita hanya perlu memberikan ruang bagi pohon untuk tumbuh dan menjamin keberlangsungan hidup siapapun yang menjaga dan menanamnya.

 

Penulis : Tatag Suryo Pambudi

Dikurasi oleh: Citra Isswandari Putri

 

Referensi

Muthmainah dan Tahnur, M. 2018. Nilai Manfaat Ekonomi Hutan Kota Universitas Hasanuddin Makassar. Jurnal Hutan dan Masyarakat. 10(2) : 239-245.

Pemerintah Indonesia. 2007. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Lembaran RI Tahun 2007 Nomor 26. Jakarta : Sekretariat Negara.

 

LindungiHutan merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Dalam rangka mendukung kegiatan penghijauan teman-teman di Indonesia, yuk dukung Kampanye Alam daerahmu dengan berkunjung pada situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam.

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!