Ikan Gelodok, Penghuni Hutan Mangrove yang Berkaki

[1] Gambian mudskipper
[1] Gambian mudskipper

Sekilas tentang Ikan Gelodok

Ikan gelodok adalah salah satu penghuni ekosistem mangrove. Kawasan mangrove menjadi habitat bagi banyak tumbuhan dan biota laut dengan keanekaragaman yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh kemampuan mangrove dalam menyediakan makanan yang berlimpah dan tempat perlindungan yang aman. Di kawasan mangrove, terdapat rantai makanan yang terjadi secara alami dan terjaga dengan baik sehingga bisa menjadi penopang kehidupan organisme yang hidup di dalamnya, termasuk ikan gelodok.

Ads

Ikan gelodok atau mudskipper sangat cocok hidup di sekitar tanaman mangrove yang berakar besar dan tumbuh mencuat dari dalam tanah karena ia bisa merangkak dan bertengger pada akar mangrove. Ikan ini memiliki sirip yang bisa ditekuk dan berfungsi untuk membantunya ‘berjalan’ di lumpur, ataupun di batang pohon. Ini artinya, ketika ikan ini berjalan di lumpur, ia juga mampu bernapas di atas air. Unik banget, kan?

Bentuk tubuh yang unik ini mengundang satu pertanyaan penting. Di antara sekian banyak jenis ikan, mengapa hanya sirip ikan gelodok yang mengalami perubahan evolusi? Beberapa jenis ikan yang hidup di dua habitat mengalami proses adaptasi yang ekstrim. Dalam kasus ini, siripnya akan berevolusi menjadi cenderung lebih ‘kuat’. Ikan jenis ini mampu hidup di dua alam, memiliki sirip yang berfungsi sebagai kaki, dan bisa bernapas di atas air. Ikan ini mengalami perubahan morfologis dan fisiologis untuk beradaptasi terhadap lingkungan dan gaya hidupnya.

Ikan gelodok mampu tumbuh sepanjang 10-30 cm. Mudskipper Atlantik biasanya berukuran lebih besar sekitar 20-25 cm. Ikan ini memiliki mata berukuran besar, tumbuh mencuat keluar dari kepalanya, bisa digerakkan dan menonjol di bagian atas. Mulutnya menghadap ke bawah agar mudah memakan lumpur. Setiap jenisnya dibedakan berdasarkan ukuran tubuh, morfologi bagian luar, jumlah sinar pada tiap sirip, pola warna tubuh, dan bintik hitam di kulitnya.

Habitat dan Daerah Sebaran

[2] Periophthalmus kalolo
[2] Periophthalmus kalolo
Mudskipper biasanya hidup di habitat intertidal (zona pasang surut air laut). Mereka keluar dari air untuk mencari makan, dan menggali liang sebagai pertahanan diri dari predator dan gangguan pada habitatnya. Beberapa spesies ikan gelodok hanya muncul di malam hari untuk makan alga, melarikan diri dari predator, dan mencegah kondisi hipoksia ketika terlalu lama berada di perairan. Ikan glodok yang hidup di kawasan mangrove beradaptasi dengan fluktuasi pasang surut air laut. Mereka akan melompat ke daerah laut yang terbuka, atau berjalan cepat ke tanah berlumpur dan akar-akar mangrove dengan sirip yang kuat. Jenis Periophthalmus kalolo dan Periophthalmus argentilineatus mudah ditemukan di habitat mangrove. Beberapa jenis yang berbeda hidup di rawa, dataran lumpur, dan daerah intertidal.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Menurut Sunarni & Maturbongs (2016), ikan gelodok hidup di wilayah tropis hingga subtropis. Mereka juga diketahui hidup di seluruh wilayah Pantai Atlantik. Jenis yang paling banyak ditemukan adalah ikan gelodok bergenus Periophthalmus, yang memiliki 18 spesies. Sebenarnya, ikan ini lebih suka hidup di lingkungan yang cenderung panas seperti kawasan mangrove dan wilayah berlumpur. Jenis ikan gelodok lain malah cenderung hidup di lingkungan yang lebih dingin, seperti Periophthalmus barbarus dan beberapa jenis Periophthalmus lain hidup di zona iklim sedang meliputi Jepang bagian selatan dan Australia bagian timur. Ikan gelodok spesies Boleophthalmus dan Scartelaos juga hidup di zona iklim sedang.

[3] Atlantic mudskipper
[3] Atlantic mudskipper
Ansari., dkk. (2014) menuturkan distribusi spesies ikan gelodok yang umumnya hidup di ekosistem mangrove dan dataran berlumpur tersebar di Afrika, Madagaskar, India, Asia Tenggara, Australia bagian Utara, China bagian tenggara, Jepang bagian selatan, Pulau Samoa dan Tonga, Saudi Arabia, Teluk Kuwait, dan Pulau Hoga di Indonesia. Lebih lanjutnya, keanekaragaman ikan satu ini tertinggi berada di daerah pesisir Asia Tenggara, Australia dan Papua Nugini. Keanekaragaman populasi ikan gelodok di suatu wilayah dipengaruhi oleh kondisi komponen abiotik dan biotik dalam habitatnya. Kondisi habitat yang baik akan meningkatkan kelimpahan jenis ikan satu ini di suatu wilayah.

Peran Ikan Gelodok bagi Lingkungan

Banyak peneliti yang membuktikan peran ikan gelodok sebagai bioindikator dan bioakumulator kondisi lingkungan di sekitarnya. Ansari., dkk. (2014) menjelaskan dengan detail bagaimana hubungan ikan ini dengan jenis polutan yang terkandung dalam perairan. Ikan ini mampu menyerap dan mengakumulasi berbagai jenis polutan, termasuk zat buang dari sisa produksi industri, agrikultur, domestik, dan aktivitas transportasi.

Ketahanan dan toleransi ikan gelodok terhadap kondisi perairan yang terkontaminasi membuat mereka mampu bertahan hidup dengan baik, tanpa menimbulkan efek yang signifikan di tubuhnya. Jadi, perubahan fisiologis, histologis, dan embriologis pada ikan ini dijadikan sebagai indikator penilaian kualitas perairan.

Kebocoran minyak, sisa kebakaran hutan, dan aktivitas vulkanik menyumbang tingginya konsentrasi polutan dalam perairan. Ikan gelodok jenis Periophthalmus waltoni adalah bioindikator perairan yang potensial karena bisa menilai pengaruh polutan anorganik dalam ekosistem yang rusak. Perubahan morfologis dan jumlah populasi mudskipper berpengaruh pada kandungan polutan di suatu wilayah. Peningkatan populasi ikan jenis ini menunjukkan efek nyata penurunan kualitas perairan.

Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan populasi ikan gelodok adalah dengan menjaga kebersihan dan kualitas habitatnya. Perlu ada kerja sama dari berbagai pihak agar implementasinya bisa berjalan. Kita bisa mulai dengan tidak membuang sampah sembarangan, termasuk sampah cair dan sisa limbah industri yang tidak ditangani dengan tepat. Dengan memastikan habitat alaminya terjaga, populasi ikan unik ini akan ikut stabil dan bisa membantu kita menilai kondisi lingkungan perairan di sekitarnya.

 

Penulis: Mutiara Misksalma

 

Referensi Literatur

Ansari, A. A., dkk. 2014. Mudskipper A Biological Indicator for Environmental Monitoring and Assessment of Coastal Waters. Journal of Entomology and Zoology Studies.

Britannica, T. Editors of Encyclopaedia (21 Maret 2020). Mudskipper. Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/animal/mudskipper. Diakses pada 2 Februari 2021.

Megumi, S. R. (23 Juni 2017). Ikan Gelodok, Ikan yang Senang Muncul di Darat. Greeners.co. https://www.greeners.co/flora-fauna/ikan-gelodok-ikan-senang-muncul-darat/. Diakses pada 2 Februari 2021.

Sunarni., & Maturbongs. M. R. 2016.. Biodiversitas dan Kelimpahan Ikan Gelodok (Mudskipper) di Daerah Intertidal Pantai Payum, Merauke. Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumberdaya Pulau-Pulau Kecil, 1(1): 125-131. Universitas Musamus Merauke.

 

Referensi Gambar

[1] Mudskipper. (29 December 2020). Wikipedia, The Free Encyclopedia. https://simple.wikipedia.org/w/index.php?title=Mudskipper&oldid=7231577.

[2] Wikipedia contributors. (26 March2019). Common mudskipper. Wikipedia, The Free Encyclopedia. https://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Common_mudskipper&oldid=889544774.

[3] Atlantic mudskipper. Zoo Leipzig. https://www.zoo-leipzig.de/en/animal/atlantic-mudskipper/.

 

Lindungihutan.com merupakan Platfrom Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya yang dapat merugikan pihak!

 

 Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!