Inisiatif Mandiri Bantu Mak Jah Pulih Dari Pandemi

Inisiatif Mandiri Bantu Petani Indonesia
Inisiatif Mandiri Bantu Petani Indonesia

Perkenalkan, Mak Jah. Petani bibit di Dukuh Rejosari Senik, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Demak, yang telah menjadi mitra petani bibit LindungiHutan sejak tahun 2017. Mak Jah merupakan salah satu dari sekian banyak mitra petani bibit LindungiHutan yang terdampak COVID-19. LindungiHutan ingin membantu Mak Jah menyambung kembali kehidupannya di tengah pandemi dengan membuat inisiatif mandiri berupa donasi online dan kampanye alam.

Mak Jah telah membantu LindungiHutan dan seluruh campaigner kampanye alam LindungiHutan pada beberapa aksi penanaman di Kabupaten Demak. Namun, karena adanya penyebaran COVID-19 dan himbauan di di Kota Demak, aksi tanam pohon tidak dapat serta merta dilaksanakan, sehingga salah satu sumber pendapatan Mak Jah terputus. Pun dengan hasil tangkapannya dari menjaring ikan di laut. Pasar-pasar yang pedagangnya diberlakukan aturan sedemikian rupa untuk mencegah dampak COVID-19 menyebar, membuat Mak Jah sekeluarga kelimpungan mencari tempat menjual hasil lautnya.

Baca Lainnya : Terdampak Corona, Bibit Mak Jah Tak Laku

Penyebaran COVID-19 menyebabkan Pemerintah menghimbau berbagai hal dengan harapan memutus rantai penyebaran tersebut. Mulai dari belajar dari rumah, bekerja dari rumah hingga beribadah dari rumah. Tidak sedikit masyarakat yang sebelumnya memiliki pekerjaan tetap, kini dirumahkan, tidak dibayar gajinya hingga di-PHK. Para petani yang tidak memiliki usaha sampingan seperti Mak Jah pun terdampak. COVID-19 menyebabkan masyarakat semakin sulit memenuhi kebutuhan hidupnya.

Mak Jah, Petani Bibit di Tengah Desa yang Tenggelam

Penanaman Bersama Relawan LindungiHutan
Penanaman Bersama Relawan LindungiHutan

Selama 20 tahun terakhir, banjir rob telah menenggelamkan dua Dusun di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Berujung pada pindahnya 200 kepala keluarga, meninggalkan Mak Jah sebagai satu-satunya warga yang masih bertahan hidup di tengah laut. Pasijah atau yang akrab disapa Mak Jah, merupakan petani bibit serta warga Desa Bedono yang masih mampu hidup di antara daratan yang hilang, tenggelam oleh kejamnya banjir rob.

Desa Bedono dulunya terkenal sebagai desa dengan luasan sawah yang biasa dipergunakan masyarakatnya bercocok tanam menanam padi dan jagung. Rob yang datang terus menerus membuat luasan sawah terpaksa diubah oleh warga sekitar menjadi tambak untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Namun, rob yang semakin mengganas dan menerjang seakan tanpa halangan, malah merubah tambak yang dibuat warga menjadi laut. Meninggalkan sebuah rumah yang masih berdiri tegak, sendiri di tengah laut bertetangga camar dan hutan mangrove dengan harapan dapat menguatkan satu-satunya rumah tersebut.

Baca Lainnya : Mak Jah, Wonder Woman dari Pesisir Demak

Laut dulunya berjarak hanya sekitar empat kilometer dari rumah Mak Jah. Perlahan, jarak tersebut semakin menipis hingga pada suatu saat, Mak Jah terbangun dengan bantal yang telah terapung akibat air laut pasang yang telah mencapai tempat tidurnya. Lantai rumahnya terpaksa ditinggikan tiga kali. Berbekal perahu yang dimilikinya, Mak Jah mengunjungi rumah-rumah kerabatnya untuk meminta material yang dapat dipergunakan menyelamatkan kehidupannya, seperti pecahan tembok dan retakan genteng yang sudah tak terpakai.

Kendala ekonomi dan keterbatasan dana merupakan alasan utama Mak Jah bertahan di tengah laut. Ia masih harus menghidupi ketiga putranya yang mana dua di antaranya masih bersekolah. Begitu pula dengan suaminya yang hanya berprofesi sebagai nelayan. Dimana pada masa-masa pandemi seperti ini, pendapatannya dari menjaring ikan hanya mampu dipergunakan untuk kehidupan sehari-hari seperti makan dan membeli sembako.

Inisiatif Mandiri LindungiHutan Bantu Petani Bibit terdampak COVID-19

Inisiatif Mandiri LindungiHutan Bantu Petani Bibit
Inisiatif Mandiri LindungiHutan Bantu Petani Bibit

LindungiHutan ingin turut serta membantu kehidupan Mak Jah selama pandemi COVID-19. Dengan menggalang donasi online untuk Petani yang Terdampak COVID-19, yang salah satunya adalah Mak Jah di Demak, diharapkan donasi yang disalurkan dapat membantu kehidupan petani terdampak tersebut. Donasi yang didapat juga akan di bundle dengan pohon yang penanamannya akan dilaksanakan dua bulan setelah penggalangan dana ini berakhir.

Dengan berdonasi bersama LindungiHutan, Sahabat Alam dapat turut membantu meringankan beban Mak Jah di tengah masa pandemi serta mendukung gerakan konservasi lingkungan. (Intan Widianti Kartika Putri / LindungiHutan)

 

LindungiHutan merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Dalam rangka mendukung kegiatan penghijauan teman-teman di Indonesia, yuk dukung Kampanye Alam daerahmu dengan berkunjung pada situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam.

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!