Site icon Wanaswara

Jejak Karbon: Pengertian, Sejarah Singkat dan Mekanismenya

Jejak karbon: Pengertian, Sejarah Singkat dan Mekanismenya

Kelimpahan sumber daya alam di bumi telah memicu pemanfaatan yang luar biasa oleh manusia. Sekitar 7 miliar orang mengonsumsi sumber daya alam. Nilai ini bersifat tentatif diiringi oleh bertambahnya angka penduduk dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memprediksi populasi global akan mencapai 9,7 miliar orang pada tahun 2050 dan lebih dari 11 miliar pada tahun 2100. Pertumbuhan penduduk ini dikhawatirkan dapat menyebabkan emisi yang lebih besar, bahkan dapat menghabiskan sumber daya bumi.

Ads

Aktivitas manusia berpengaruh besar telah menyumbang gas rumah kaca di atmosfer. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) bahkan merilis pernyataan bahwa lebih dari 95% kemungkinan jika aktivitas manusia selama 50 tahun terakhir menyebabkan suhu bumi yang kian menghangat. Selama satu dekade terakhir, pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara dan minyak terbukti meningkatkan konsentrasi karbon dioksida (CO2) di atmosfer. Pada tingkat yang lebih rendah, pembukaan lahan untuk pertanian, industri, dan aktivitas manusia lainnya juga meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca.

Gas-gas rumah kaca di atmosfer memiliki kemampuan untuk mengikat radiasi sinar matahari yang dipantulkan oleh bumi dan sinar yang datang dari luar angkasa. Alaminya, gas-gas ini diperlukan atmosfer untuk menjaga permukaan bumi tetap hangat. Jika tidak, kehidupan di bumi tidak dapat berlangsung seperti sekarang.

Namun, gas rumah kaca yang terlalu banyak terperangkap di atmosfer tentu akan membawa kerugian. Akumulasi gas rumah kaca tersebut dapat menyebabkan peningkatan suhu permukaan bumi.

Peningkatan temperatur rata-rata bumi yang lebih tinggi akan menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Seiring berjalannya waktu, perubahan faktor-faktor iklim, seperti curah hujan, penguapan, dan temperatur juga mengalami perubahan.

Ads

Akibatnya, terjadi bencana lingkungan dengan skala yang lebih besar dan frekuensi yang lebih sering. Dengan demikian, perubahan iklim mengancam peradaban manusia modern dan keberlanjutan ekosistem global.

Cikal Bakal Jejak Karbon

Istilah ‘jejak karbon’ tidak asing didengar di banyak telinga orang. Sebutan itu digunakan untuk menggambarkan jumlah gas rumah kaca CO2 yang dilepaskan ke atmosfer. Gas rumah kaca dapat dihasilkan akibat dari aktivitas individu, organisasi, atau komunitas tertentu.

Penggunaan frasa ‘jejak karbon’ dipopulerkan melalui kampanye iklan yang didanai sebesar $250 juta oleh perusahaan minyak dan gas, British Petroleum (BP). Industri tersebut mempekerjakan tim PR terkenal yaitu Ogilvy & Mather untuk mempromosikan ‘jejak karbon’. Campaign yang dilakukan dimaknai sebagai bentuk perubahan pandangan bahwa perubahan iklim bukanlah kesalahan dari perusahaan minyak raksasa, melainkan disebabkan oleh individu.

Dengan kata lain, BP bertujuan untuk mengalihkan perhatian publik terkait pembatasan yang harus dilakukan oleh perusahan.

Strategi yang dilakukan BP dapat dikatakan berhasil. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya perhatian konsumen terhadap tindakan pribadi mereka. Bahkan pada tahun 2004, perusahaan minyak swasta terbesar kedua di dunia ini juga meluncurkan kalkulator jejak karbon. Dengan adanya alat tersebut, orang dapat memahami bagaimana sebagian besar rutinitas kehidupan mereka menyebabkan pemanasan dunia.

Sayangnya, BP tidak berusaha mengurangi jejak karbonnya sendiri. Justru mereka justru memperluas pengeboran minyaknya hingga tahun 2020-an.

Kini perhitungan jejak karbon telah banyak dilakukan oleh individu maupun industri. Konsep ini lebih dikenal sebagai indikator kategori dampak siklus hidup yang berpotensi pada pemanasan global. Karenanya, bentuk jejak karbon secara konseptual dapat menjadi indikator potensi pemanasan global.

Sementara itu, survei menyatakan jika jejak karbon dianggap sebagai ukuran total dari hasil emisi. Gas rumah kaca tersebut dihasilkan baik secara langsung maupun tidak langsung dari penggunaan produk dalam kehidupan sehari-hari, misalnya pembakaran bahan bakar fosil dari penggunaan kendaraan bermotor.

Bagaimana Cara Menghitung Jejak Karbon?

Kalkulator jejak karbon adalah alat yang dapat digunakan untuk memahami dampak perilaku pribadi atau kelompok terhadap pemanasan global. Tidak sedikit orang yang terkejut ketika melihat jumlah CO2 yang dihasilkan oleh tiap aktivitasnya. Oleh karena itu, perhitungan dan pemantauan terhadap jejak karbon pribadi sangat penting, terlebih jika ingin berkontribusi untuk menghentikan pemanasan global.

Beberapa alat kalkulator jejak karbon sudah dikembangkan oleh sejumlah organisasi dan dapat ditemukan di internet. Hanya saja, alat yang selama ini bertebaran di dunia maya cenderung didasarkan pada pola hidup, teknologi, dan kebiasaan yang ada di negara-negara maju, khususnya negara Eropa dan Amerika Utara.

Faktor emisi yang dipakai juga lebih relevan dengan perkembangan teknologi yang ada di negara-negara tersebut. Banyak fitur atau aktivitas yang tidak relevan dengan kondisi sehari-hari di negara-negara berkembang.

Untuk menghitung jejak karbon, jumlah gas rumah kaca (GRK) yang dipancarkan atau terkandung dalam produk atau aktivitas yang dihitung. Kalkulasi kemudian dilakukan pada siklus hidup yang mencakup semua tahapan, meliputi pembuatan bahan mentah hingga pengemasan akhir, distribusi, konsumsi/penggunaan, dan tahap akhir yaitu pembuangan.

Perhitungan jejak karbon pada skala industri, produk, atau layanan merupakan suatu tugas yang kompleks. Perusahaan dapat menggunakan pendekatan Life-cycle assessment (LCA). Penggunaan pendekatan tersebut dilakukan apabila jejak karbon menjadi salah satu dari banyak faktor yang dipertimbangkan saat menilai suatu produk atau layanan. Metode ini akan menghasilkan gambaran lengkap mengenai input dan output yang relevan dengan timbulnya polutan udara, konsumsi energi, emisi GRK, atau parameter kepentingan dan inisiatif biaya lainnya.

Greenhouse Gas Protocol (GHG Protocol) adalah metode lain untuk menghitung besaran jejak karbon. Proses pengembangan protokol ini tidak hanya dilakukan oleh dunia usaha semata tetapi juga melibatkan Non-Governmental Organizations (NGOs), perusahaan, dan pemerintah dari beberapa negara tempat perusahaan terlibat.

Perhitungan yang dikembangkan oleh World Business Council for Sustainable Development ini dilakukan mulai dari proses produksi, baik proses langsung dan tidak langsung. Proses langsung dimulai dari awal barang datang hingga barang keluar dari pabrik dan terdiri atas 3 scope, yaitu:

Selain itu, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) 2006 juga membentuk pedoman Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional yang diklasifikasikan ke dalam 5 sektor. 5 sektor tersebut meliputi:

  1. Energi,
  2. Proses industri dan penggunaan produk,
  3. Pertanian,
  4. Kehutanan dan penggunaan lahan lainnya.
  5. Limbah.

Metode tersebut mendukung perhitungan emisi yang andal dan diakui secara internasional. Hingga saat ini, perhitungan emisi digunakan oleh seluruh negara yang meratifikasi United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Dengan demikian, inventarisasi emisi dari negara-negara terlibat dapat dibandingkan satu dengan lainnya.

Dalam pelaksanaan perhitungan emisi menggunakan IPCC-2006 diperlukan data kegiatan (activity data) dan faktor emisi. Sistem ini menganut pada tier yang menggambarkan tingkatan dan kompleksitas metode penghitungan emisi GRK. Semakin tinggi tier yang digunakan, maka hasil penghitungan emisi GRK semakin akurat. Tentu saja hal ini diiringi dengan penggunaan data yang lebih detail.

Meskipun demikian, nilai tier yang tinggi akan menunjukkan nilai emisi GRK yang lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh dengan tier yang tinggi, maka emisi CO2 yang dipertimbangkan adalah emisi CO2 yang terlepas ke atmosfer. Di samping itu, masih ada karbon tersisa yang tidak habis terbakar, misalnya karbon tersisa pada fly ash dan bottom ash.

Mulai Perhatikan Emisi Jejak Karbon yang Kita Hasilkan

Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini, kendaraan pribadi digunakan sebagai alternatif di hampir segala aktivitas mobilisasi.

Sayangnya, mengendarai mobil pribadi atau sepeda motor akan menghasilkan emisi lebih banyak dibandingkan menggunakan transportasi umum. Dengan mobil misalnya, diperkirakan kita akan menghasilkan lebih dari 4 kg CO2 jika menempuh jarak 20 km.

Berbeda dengan perjalanan menggunakan bus atau kereta sejauh 40 km. Jumlah pengguna yang mampu ditampung menggunakan transportasi umum relatif lebih banyak. Oleh karena itu, dapat dibayangkan jika emisi yang dikeluarkan per orang dengan menggunakan bus jauh lebih minimal.

Emisi akan menjadi lebih rendah jika kita bepergian dengan menggabungkan mobil pribadi dan bus umum atau kereta api. Misalnya, dari total 20 km perjalanan pulang pergi, kita menggunakan taksi hanya 5 km dan sisa perjalanan naik kereta api. Hal ini menyebabkan perkiraan emisi sebesar 900 kg CO2 per tahun, sehingga diperlukan 2 pohon mangga untuk mengimbangi.

Listrik sebagai kebutuhan sehari-hari juga merupakan salah satu sumber emisi. Penggunaan listrik akan memproduksi sejumlah CO2 yang berasal dari pembangkit listrik untuk memasok energi listrik yang dipakai. Untuk setiap lampu berdaya 10 watt yang dinyalakan selama 1 jam, CO2 yang dihasilkan sebesar 9,51 g. Bisa dibayangkan betapa banyak emisi yang kita hasilkan setiap harinya.

Ada beberapa cara untuk mengimbangi emisi yang kita timbulkan. Langkah yang dapat diambil seperti mematikan listrik ketika tidak digunakan. Menanam pohon adalah cara sederhana dan terjangkau untuk dilakukan.

Kita hanya membutuhkan tiga pohon mangga dewasa untuk setiap 1.300 kg emisi CO2 setiap tahun.

Penulis : Shofy Khairunnisa

Exit mobile version