Kampanye Alam: Merealisasikan Nama Pantai “Bahagia”

Kampanye Alam Pantai Bahagia
Poster Kampanye 200 Pohon Pantai Bahagia

“Bekasi punya pantai?”, pertanyaan yang mungkin terlintas oleh orang awam ketika mendengar kata Bekasi. 

Ads

Daerah Bekasi di provinsi Jawa Barat terbagi atas dua wilayah yaitu Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi. Apabila Kota Bekasi sering disamakan dengan kota besar seperti Jakarta, maka lain halnya dengan Kabupaten Bekasi yang masih menggambarkan sebuah perkampungan. Kabupaten Bekasi terdiri dari 23 kecamatan dan masih ada 167 desa. Disana masih  terdapat laut, gunung, persawahan, pantai dan lainnya yang tidak ditemukan di Kota Bekasi.

Bicara soal pesisir utara Kabupaten Bekasi, ada Muara Gembong yang terdapat suatu desa yang bernama Desa Pantai Bahagia. Mengingat daerah pesisir rentan terjadi abrasi dan banjir rob, Desa Pantai Bahagia menjadi salah satunya. Bahkan desa ini hampir dikatakan hilang.

Sebagian besar warga di Desa Pantai Bahagia  berprofesi sebagai nelayan. Hasil tangkapan mereka dijual tidak jauh dari wilayah tempat tinggal dan hanya di sekitar desa tersebut. Pendapatan mereka pun tidak menentu. Meski tinggal di desa yang bernama Pantai Bahagia, warga di sana justru tidak merasa bahagia. Penyebabnya adalah bencana abrasi dan air rob yang menerpa tiada henti.

Abrasi dan ombak laut telah menghantam wilayah desa ini, ratusan rumah ditelan karena ganasnya abrasi. Hal ini dikarenakan kurangnya tanaman mangrove yang menahan gelombang air laut sehingga masuk ke daratan mengakibatkan abrasi dan banjir rob. Jika dibiarkan begitu saja, masyarakat setempat dapat kehilangan tempat tinggal mereka.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com
Kondisi Desa Pantai Bahagia
Kondisi Desa Pantai Bahagia Yang Tak Bertuan. Dokumentasi © kompas.com

Ya, tidak seperti namanya  “Desa Pantai Bahagia”, keadaannya sangat berlawanan. Sudah sejak lama desa ini menjadi langganan banjir luapan air laut bahkan nyaris tenggelam. Jika tak diatasi, luapan air laut tersebut dapat berdampak pada daerah sekitar desa tersebut. Abrasi yang terjadi secara  masif, mencapai 10-20 meter per tahun, menjadikan garis pantai banyak berkurang. Akibatnya, ratusan rumah rusak dan ditinggalkan oleh penghuninya lantaran terkena abrasi.

Di sekitar rumah-rumah tak berpenghuni, terlihat pucuk-pucuk nisan sebagai penanda bahwa tempat tersebut dulunya pemakaman. Letak kuburan itu bersebelahan dengan sebuah masjid yang pelatarannya tak pernah kering dan selalu becek serta berlumut. Masjid itu masih dipergunakan oleh warga setempat untuk beribadah.

Aca Sigianto sebagai penggagas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) menceritakan bahwa tak terhitung banyaknya warga yang pergi karena tak tahan selalu kebanjiran. Mereka tak bisa berbuat banyak  dan terpaksa membiarkan rumah hancur dihantam abrasi.

Selama 13 tahun abrasi menyerang, belum ada penanganan untuk menyelamatkan desa ini. Di beberapa lokasi abrasi masih ada sebagian warga yang memilih untuk tetap bertahan di rumahnya meski sudah sepi penghuni. Salah satunya Bu Tuti memilih untuk tetap tinggal di desa  tersebut karena tidak ada pilihan lain. Ia tinggal bersama anak dan cucu juga. Kadangkala, ia merasa kesulitan untuk berpergian ke lain tempat karena akses yang terbatas. “Habis mau tinggal di mana lagi. Sekarang hanya tinggal tiga rumah, dan ada sembilan orang di sini,”  tutur Bu Tuti.

Dengan melakukan upaya penanaman mangrove segera, sebagai bentuk agar tidak semakin meluasnya abrasi di Muara Gembong ini khususnya Desa Pantai Bahagia. Lewat Kampanye Alam Online “200 Pohon Bahagia” ini diharapkan kondisi Desa Pantai Bahagia dapat membaik hingga berpenghuni seperti dulu kala.

“Rp 10.000 untuk parkir jika diubah untuk 1 pohon mangrove akan jauh lebih indah. Pandemi = jarang keluar = jarang parkir = donasipohonsaja : )”, ujar Devon selaku pencetus kampanye tersebut.

Mari bantu wujudkan Desa Pantai Bahagia untuk merealisasikan namanya sebagai Desa yang “Bahagia”. Jadikan Desa Pantai Bahagia yang layak berpenghuni seperti desa lainnya.

Desa Pantai Bahagia butuh kalian agar tidak lenyap dan hilang. Daya dan dana dari kalian yang ditunggu-tunggu oleh Desa Pantai Bahagia!

Penulis : Tasyah Anjani

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak! 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!

Enable Notifications    Ok No thanks