Kayu, Hasil Hutan yang Istimewa

Selayang Pandang Hasil Hutan Kayu

Gambar 1: Hutan
Gambar 1: Hutan

Secara singkat definisi dari pohon merupakan tumbuhan berkayu. Kayu merupakan salah satu bentuk dari batang tumbuhan. Artinya, tidak semua tumbuhan memiliki batang yang berupa kayu. Batang tumbuhan dibagi menjadi tiga jenis, yaitu batang berkayu, batang basah, dan batang rumput. Tumbuhan dengan batang berkayu seperti tumbuhan mahoni, nangka, eboni, dan jati biasa sering dimanfaatkan untuk perabotan rumah tangga. Tumbuhan dengan batang basah seperti pisang, kangkung, dan bayam biasa dimanfaatkan untuk dikonsumsi. Sementara, tumbuhan rumput biasa dijadikan sebagai pakan ternak. Berdasarkan spesiesnya, jumlah tumbuhan dengan batang berkayu dapat ditemukan lebih banyak daripada jumlah tumbuhan batang basah dan rumput. Di kehutanan sendiri, tumbuhan dengan batang berkayu memiliki keistimewaan karena manfaatnya yang melimpah. Tumbuhan berkayu atau yang akrab disebut pohon oleh masyarakat sering dimanfaatkan sebagai hasil hutan kayu.

Ads

Hasil Hutan Kayu saat ini berkontribusi jauh lebih sedikit pada hasil hutan daripada Hasil Hutan Bukan Kayu. Meskipun begitu, hasil hutan kayu masih menjadi hasil hutan yang paling sering dimanfaatkan keberadaanya. Hal tersebut diduga karena masih banyak manusia yang menggantungkan kehidupan terhadap kayu.

Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu

Gambar 2: Log Kayu 
Gambar 2: Log Kayu

Setidaknya sejak zaman nenek moyang, manusia sudah memilih kayu untuk dijadikan sebagai alat-alat pembantu kehidupan. Pada zaman itu, kayu dimanfaatkan sebagai tempat berlindung dari hewan buas, kayu bakar, bahkan memburu. Ketergantungan manusia terhadap kayu masih berlangsung sampai sekarang. 

Kayu merupakan objek kehidupan yang sangat unik. pemanfaatan yang paling sering dilakukan dari kayu adalah untuk dijadikan furniture atau alat-alat rumah tangga. Tidak hanya di Indonesia, masyarakat luar negeri pun banyak yang menjadikan kayu sebagai bahan dasar favorit mereka dalam pembuatan berbagai produk.

Sifat kayu yang konduktor membuat masyarakat yang hidup di negara empat musim sangat menyukai salah satu hasil hutan ini. Pada saat musim panas, kayu tidak akan menyerap cuaca panas berlebihan, sementara ketika musim dingin kayu biasa dimanfaatkan sebagai bahan bakar di perapian.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Sifat konduktor kayu ini juga sering dimanfaatkan sebagai menara pemantau keadaan hutan. Kayu yang konduktor membuat para jagawana yang berjaga di sekitar hutan lebih aman ketika terjadi kebakaran hutan ketimbang penggunaan logam untuk menara pemantau hutan. Sifat konduktor kayu akan membuat kayu lebih sulit terbakar apabila terjadi kebakaran hutan, sehingga potensi selamat jagawana lebih besar saat terjadi kebakaran hutan.

Pemanfaatan kayu tidak hanya sampai di sana. Sebagai benda yang mudah dibentuk, ukiran kayu juga menjadi favorit bagi para pecinta kayu. Sampai sekarang, ukiran kayu asal Jepara masih diburu oleh masyarakat baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Tidak hanya untuk furniture, kayu juga bisa dimanfaatkan sebagai alat musik. Hampir seluruh alat musik baik modern maupun tradisional menggunakan kayu sebagai bahan dasar pembuatan alat musik. Mulai dari alat musik penciri suatu daerah seperti sasando hingga alat musik yang dikenal di berbagai belahan dunia seperti piano memanfaatkan kayu sebagai bahan dasar pembuatannya.

Kayu merupakan benda yang dapat menghantarkan banyak hal, tidak hanya panas, tetapi juga bunyi dan listrik. Apabila bagian-bagian kayu diolah dengan baik, diberi lubang pada bagian tertentu, atau ditempa sedemikian rupa, maka kayu akan menghasilkan bunyi yang merdu. Hal ini tentunya tidak bisa dilakukan secara sembarangan, kualitas kayu dan bagaimana keapikan kayu tersebut diolah menjadi alat musik juga dapat mempengaruhi kualitas bunyi dari alat musik tersebut.

Kekurangan dari Hasil Hutan Kayu

Dalam pemanfaatan kayu, kayu juga memiliki kekurangan yang dapat merugikan pemakaian alat-alat rumah rumah tangga dari bahan dasar kayu. Kekurangan ini sudah melekat pada sifat kayu sehingga sulit sekali dihilangkan meskipun sudah diberi perlakuan. Kekurangan tersebut adalah sifat kayu yang higroskopis dan biodegradable.

Secara singkat higroskopis dapat dijelaskan dengan sifat kayu yang dapat menyerap air dari lingkungan sekitar. Meskipun begitu, kayu juga bisa mengeluarkan air yang sudah diserap seperti semula mengikuti lingkungan sekitar. Tampak nyatanya dapat dilihat ketika musim hujan, alat-alat  yang terbuat dari kayu akan memuai dan ketika musim berganti kayu akan kembali seperti bentuk semula.

Sifat biodegradable pada kayu artinya kayu dapat rusak atau terdegradasi karena adanya makhluk organisme atau mikroorganisme. Kayu yang secara umum memiliki sifat yang kuat dan keras bisa menjadi rapuh dan lapuk akibat perlakuan dari makhluk hidup. Makhluk hidup yang bisa merusak kondisi kayu biasanya berupa rayap ataupun jamur.

Rayap merupakan serangga yang hidup berkoloni dan tinggal di dalam tanah. Serangga ini biasa akan keluar dari tanah bersama koloninya untuk mencari makan atau pada saat ingin kawin. Rayap nantinya akan keluar dari tanah dan mencari makan berupa zat selulosa yang ada di kayu.

Jenis kayu yang dimakan oleh rayap berbeda-beda tergantung spesies dari rayap itu sendiri. Ada rayap yang memakan selulosa dari batang pohon yang masih hidup, ada yang memakan selulosa kayu yang sudah basah akibat tetesan air, sampai rayap yang memakan kayu kering yang belum terkena air. Rayap nantinya akan memakan bagian dalam kayu dan hanya menyisakan kayu bagian luarnya saja sampai kayu tersebut mengalami pelapukan.

Selain rayap, jamur juga menjadi organisme yang dapat mengakibatkan kerusakan atau pelapukan pada kayu. Sifat kayu yang higroskopis atau dapat menyerap air dari daerah sekitarnya membuat kayu menjadi lembab. Ketika kayu sudah lembab, jamur akan lebih mudah untuk tumbuh, karena jamur biasa tumbuh di tempat yang lembab. Jamur yang sudah tumbuh di kayu akan membuat kayu lebih cepat mengalami pelapukan.

Tentunya, kadar higroskopisitas dan biodegradabilitas setiap kayu berbeda-beda. Semua itu tergantung dari keragaman tempat tumbuh, genetik, maupun bagian batang pohon yang digunakan. Pegiat kayu nantinya akan mempertimbangkan sifat kayu yang variatif ini ketika mengubah kayu menjadi bentuk produk.

Sebagai contoh, kayu dari Jawa barat tidak akan sama kadar higroskopisitasnya dengan kayu dari Jawa Timur meskipun dari spesies yang sama. Kayu jati tidak akan sama sifatnya dengan kayu mahoni meskipun ditanam di daerah yang sama. Begitu pula kayu pada bagian pangkal pohon, tidak akan sama kualitasnya dengan kayu pada bagian ujung pohon meskipun beras dari spesies yang sama.

Kayu si Dua Mata Pisau

Gambar 3: Pengolahan Kayu
Gambar 3: Pengolahan Kayu

Kekurangan-kekurangan yang dimiliki kayu tersebut sebetulnya tidak selalu berdampak buruk terhadap pemakaian kayu. Sifat kayu yang higroskopis membuat kayu menyimpan kadar air air di dalamnya. Kadar air yang tersimpan di dalam kayu yang masih dalam bentuk pohon atau kayu yang sudah ditempa menjadi sebuah produk membuat kayu memiliki sifat yang sulit terbakar.

Sementara pada sifat biodegradable kayu, sifat ini juga bermanfaat pada keberlanjutan lingkungan. Disetujui atau tidak, manusia sering merasa bosan dengan benda-benda yang sudah mereka miliki saat ini. Ketika manusia mulai merasa bosan, biasanya manusia akan membuang barang lama mereka dan menggantinya dengan yang baru.

Produk yang terbuat dari kayu lebih aman dibuang daripada produk dari plastik yang sulit terurai. Ketika produk dari kayu dibuang atau dibiarkan begitu saja, maka ia akan dengan sendirinya terurai di lingkungan karena perlakuan mikroorganisme. Sementara, sifat ini tidak terdapat pada produk lain selain kayu.

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, kayu merupakan benda yang unik dan istimewa. Sejauh ini, masih belum ditemukan benda lain yang dapat menandingi kayu. Keistimewaan kayu yang melekat pada jati diri kayu membuat banyak orang tergila-gila dengan kayu. 

 

Penulis: Fifi Melinda Setiawati

 

Referensi Literatur

Turimengkeng RC. 2001. Biologi dan perilaku rayap. Rudyct.com [internet]; diakses pada 3 Februari 2021. Tersedia pada: https://www.rudyct.com/biologi_dan_perilaku_rayap.htm.

 

Referensi Gambar

https://images.app.goo.gl/x4VcHCbUfGC2Gbzy5

https://images.app.goo.gl/juRHUfzwLZwj2GAo9

https://images.app.goo.gl/gLjEvBAf3CyjKDho8

https://www.builder.id/harga-kayu-sengon-per-kubik/

 

LindungiHutan.com adalah Platform Crwodfounding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealamuntuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dan bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak.

 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!