Kenali Bekantan, Si Hidung Panjang dari Kalimantan

Bekantan
Bekantan 1 © Charge The Globe Unsplash.com

Halo, Sobat Alam! Sebagai negara besar yang dikenal dengan hutan tropisnya, Indonesia juga menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna. Dari penghujung Sabang sampai Merauke dapat ditemui ratusan bahkan ribuan spesies sebagai bagian dari keanekaragaman hayati atau biodiversitas yang tinggi. Apabila kalian pernah berjalan-jalan ke kebun binatang, itu hanya menampakkan sebagian kecil di antaranya. Sekali-kali coba datangi kawasan konservasi untuk mengetahui lebih dekat hewan dan tumbuhan dilindungi langsung dari habitatnya. Oh ya, rasanya sudah jadi rahasia umum bahwa salah satu hewan yang menjadi ciri khas yaitu persebaran primata yang ada di negeri ini, termasuk Bekantan yang menjadi satwa endemik Pulau Borneo, Kalimantan.

Ads

Baca Lainnya : Hubungan antara Pencemaran Udara dengan Daur Air

Apa Sih yang Membuat Bekantan Spesial dan Berbeda?

Bekantan
Bekantan 2 © Charge The Globe Unsplash.com

Bekantan (Nasalis Larvatus) memiliki sapaan akrab lain bagi masyarakat di daerah Kalimantan, mulai dari Kera Belanda, Bahara Bentangan, Kahau, Pika, dan Raseng. Meskipun tinggal di hutan, Bekantan akan akan lebih nyaman dengan daerah lahan basah seperti hutan mangrove dan hutan rawa. Salah satu tempat yang bisa dikunjungi untuk melihat primata yang satu ini yakni  Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan yang ada di Tarakan, Kalimantan Utara.

Apabila mendengar kata “Bekantan”, sebagian orang akan teringat dengan bentuk hidungnya yang uni dibanding primata lainnya. Bekantan memiliki ukuran hidung yang lebih besar dan panjang dan menggantung bebas di atas mulut. Nah hidung ini bukan tanpa fungsi yaa, karena Bekantan akan menunjukkan ekspresinya melalui perubahan warna dan bentuk pada hidungnya ini. Misalnya pada saat Bekantan merasa dalam keadaan bahaya, hidungnya akan menonjol lurus, sementara pada saat Bekantan marah dan gembira, hidungnya akan tampak membengkak dan memerah.

Selain itu, Bekantan primata unik dari Kalimantan ini juga memiliki keunikan lain yakni perutnya yang tidak rata alias buncit. Perut yang seperti ini berasal dari pola konsumsi makan yang tidak berimbang. Padahal, makanan hewan endemik yang satu ini hanya berputar pada dedaunan, biji, dan buah-buahan.  Tapi jangan salah sangka, karena dalam perut yang beratnya mencapai seperempat dari seluruh tubuhnya ini juga mengandung berbagai bakteri baik yang membantu pencernaan Bekantan dan menetralisir racun tertentu.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Dilansir dari laman Pemerintah Indonesia, primata yang tingginya bisa mencapai 53-72 cm ini pada umumnya memiliki warna bulu yang berbeda-beda di sekujur tubuhnya. Di bagian kepala, akan ada bulu bewarna merah gelap yang tampak di atasnya. Sementara bagian tubuh lainnya didominasi dengan dua warna lain, yaitu coklat kemerahan pada aera sekitar punggung dan bahu serta krem pada leher, pinggang, hingga pantat dan ekornya. Tidak hanya itu, Bekantan memiliki warna kulit kaki dan tangan abu-abu.

Bagaimana Bekantan Hidup dan Berkembang Biak?

Bekantan 3
Bekantan 3 © Pixabay Pexels.com

Bekantan hidup dari satu pohon ke pohon lainnya. Dengan kata lain pergerakannya mengayun pada satu dahan ke dahan lain dengan menggunakan anggota tubuh yang dimiliki. Namun, Bekantan juga memiliki selaput kulit pada tangan dan kakinya untuk memudahkan berenang sewaktu-waktu. Aktivitasnya pun selayaknya para manusia, yang bergerak dan mencari makan dari pagi sampai sore hari dan terlelap pada malam hari. Bekantan juga lebih suka hidup berkelompok.

Dalam satu musim, sebagai mamalia Bekantan dapat melahirkan satu bayi dengan lama waktu kehamilan mencapai 166 hari. Hewan yang juga menjadi maskot pada Taman Hiburan Dunia Fantai ini juga kan tampak sangat berbeda ketika baru dilahirkan karena memiliki warna yang berbeda dan cenderung agak gelap dengan wajah biru dan bulu hitam yang keberadaannya mash jarnag-jarang. Namun, perubahan akan terjadi seiring dengan pertambahan usia mereka.

Benarkah Bekantan, Primata Asal Kalimantan Satu Ini Juga Terancam Punah?

Bekantan
Bekantan 4 © Pixabay.com

Sayangnya, sedari dulu Bekantan telah berada pada daftar nama fauna Indonesia yang sangat terbatas populasinya dan benar-benar dilindungi keberadaannya. Hal ini merujuk pada keputusan International Union for Conservation of Nature (IUCN) yang pada tahun 2000, merubah statusnya dari rentan menjadi terancam punah (endangered). Selain itu, primata ini juga tergabung dalam daftar CITES Apendix I yang berarti haram hukumnya diperdagangkan baik tingkat nasional maupun internasional. Pada tahun 2019 saja, populasi Bekantan hanya mencapai sekitar 25.000 ekor saja.

Namun, hal ini tidak bisa menjadikan masyarakat dan pemerintah lepas tangan begitu saja. Justru karena dalam kondisi terancam punah, keberadaan dan kehidupan Bekantan perlu diperhatikan lebih lanjut. Upaya untuk melindunginya baik dari pemburuan ilegal dan menjaga habitat aslinya menjadi sangat diperlukan. Bukan tidak mungkin, apabila hal tersebut secara masif dilakukan dapat menyelamatkan dan meneruskan rantai kehidupan primata unik yang satu ini. Hal ini berkaca pada kabar yang dibawa dari didirikannya konservasi di Tarakan pada tahun 2001 misalnya, jumlah Bekantan yang semula hanya enam ekor di area tersebut kini mencapai 42 ekor.

Jadi Sobat Alam, meskipun kalian berada pada konsisi yang tidak dapat berkontribusi langsung untuk menjaga kelestarian Bekantan ini, bukan menjadi masalah besar. Karena kalian dapat berkontribusi dengan niatan baik untuk menjaga habitat dan ekosistemnya. Berbuat baiklah demi lingkungan dan hutan, lalu berbahagialah demi makhluk hidup lainnya. Salam lestari!

Penulis : Sintya Chalifia Azizah

Referensi :

Syanti Mustika. 2019. Main-main ke Rumah Bekantan, si Hidung Besar dari Kalimantan. DetikTravel. https://travel.detik.com/domestic-destination/d-4769753/main-main-ke-rumah-bekantan-si-hidung-besar-dari-kalimantan diakses pada 2 Agustus 2020.

Portal Informasi Indonesia. 2019. Bekantan, Si Hidung Besar Nan Mempesona. Indonesia.go.id. https://indonesia.go.id/ragam/keanekaragaman-hayati/sosial/bekantan-si-hidung-besar-nan-mempesona diakses pada 2 Agustus 2020.

Karlina Sintia Dewi. 2019. Populasi Bekantan Turun, Pemkot Tarakan Dirikan Konservasi Seluas 22 Hektare. Liputan6. https://www.liputan6.com/news/read/3890362/populasi-bekantan-turun-pemkot-tarakan-dirikan-konservasi-seluas-22-hektare diakses pada 2 Agustus 2020.

 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak!

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!