Kepunahan Hiu Sang Predator Puncak Lautan

Gambar 1. Shark © Christel Sagniez
Gambar 1. Shark © Christel Sagniez

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, manusia tidak pernah lepas dari berbagai permasalahan terkait alam dan lingkungan. Salah satu permasalahan tersebut adalah kepunahan spesies hewan tertentu akibat kegiatan manusia seperti penebangan hutan, penangkapan ikan secara berlebihan, dan perburuan ilegal. Saat ini, ada begitu banyak spesies hewan―baik di darat maupun di laut―yang populasinya berstatus di ambang kepunahan (verge of extinction) atau terancam punah (critically endangered). Salah satu spesies hewan tersebut adalah hiu. Sebuah penelitian terbaru oleh Pacoureau et al. (2021) mengungkapkan penurunan pada populasi hiu sebesar 71 persen sejak tahun 1970 dan 2018 (Vaughan, 2021). Apa penyebab dari kepunahan populasi hiu secara besar-besaran ini? Sebelum masuk pada pembahasan tersebut, mari terlebih dahulu mengetahui tentang hiu secara lebih dalam. 

Ads

Deskripsi, Taksonomi, dan Morfologi Hiu

Gambar 2. Lemon Shark © Gerald Schömbs
Gambar 2. Lemon Shark © Gerald Schömbs

Hiu adalah kelompok ikan elasmobranch yang mempunyai kerangka tulang rawan, lima hingga tujuh celah insang pada sisi kepala, dan sirip dada yang tidak menyatu dengan kepala. Saat ini, hiu modern termasuk dalam superordo Selachimorpha dan merupakan saudara dari spesies ikan pari. Hiu telah ada sejak 420 juta tahun yang lalu dan senantiasa berevolusi serta berkembang biak. Saat ini, ada lebih dari 500 spesies hiu yang tercatat (Fathoming Geologic Time, n.d.). Ukuran hiu beragam mulai dari yang kecil seperti hiu lentera kerdil (Etmopterus perryi) dengan panjang yang hanya mencapai 17 sentimeter, hingga hiu paus (Rhincodon typus) dengan panjang yang mencapai sekitar 12 meter (Pimiento et al., 2019). Hiu dapat ditemukan di semua lautan dan rata-rata berada di kedalaman 2.000 meter. Laporan tentang hiu yang hidup paling dalam adalah hiu Portugis yang berada pada kedalaman 3.700 meter (Priede et al., 2006). Mereka umumnya tidak hidup di air tawar, meskipun ada beberapa spesies seperti hiu banteng dan hiu sungai yang dapat hidup baik di air laut maupun di air tawar (Allen, 1999).

Hampir semua spesies hiu merupakan karnivora atau pemakan daging (Building a Better Mouth Trap, n.d.). Beberapa spesies terkenal seperti hiu macan, hiu biru, hiu putih besar, hiu mako, hiu perontok, dan hiu martil adalah predator puncak atau organisme di puncak rantai makanan bawah air. Namun, ada beberapa spesies hiu yang berevolusi secara berbeda dan memakan plankton, seperti hiu penjemur, hiu paus, dan hiu mulut besar. Mereka telah mengembangkan berbagai strategi secara mandiri untuk menyaring plankton dan mempunyai penyapu insang, yaitu filamen panjang dan ramping yang membentuk saringan untuk menjebak plankton dalam filamen ini dan menelannya dalam suapan besar. 

Secara anatomi, hiu mempunyai enam bagian tubuh penting yaitu gigi, tulang, rahang, sirip, dermal denticles, dan ekor. Bagian tubuh yang paling unik adalah dermal denticles atau korset dermal kompleks yang terbuat dari serat kolagen fleksibel dan disusun sebagai jaringan heliks yang mengelilingi tubuh mereka (Kennedy, 2019). Dermal denticles bekerja sebagai kerangka luar yang mengikat otot renang hiu dan membantu mereka menghemat energi. Dermal denticles juga memberi mereka keuntungan hidrodinamik karena mengurangi turbulensi saat berenang.

Hiu memiliki indera penciuman tajam dan dapat mencium bau setetes darah di laut dari jarak jauh. Hidung mereka terletak di saluran pendek di antara pembukaan hidung anterior dan posterior. Hidung mereka juga digunakan sebagai navigasi, sehingga beberapa spesies hiu yang berada di laut dalam akan memiliki penciuman yang jauh lebih tajam (Gardiner & Atema, 2010). Selain penciuman, hiu juga mempunyai elektroreseptor untuk mendeteksi mangsa melalui medan elektrik. Elektroreseptor yang ada pada seekor hiu dapat berjumlah dari ratusan hingga ribuan. 

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Penyebab Kepunahan Hiu

Gambar 3. Shark Finning © Animal Welfare Institute
Gambar 3. Shark Finning © Animal Welfare Institute

Walaupun berperan sebagai predator puncak di lautan, hiu sangat rentan terhadap berbagai ancaman (Endangered Ocean: Sharks, n.d.). Mereka butuh bertahun-tahun untuk tumbuh dewasa, melahirkan sedikit anak dalam satu waktu, dam kerap kali berpindah tempat. Mayoritas spesies hiu mempunyai populasi yang berkelanjutan, namun populasi dari beberapa spesies tertentu menurun dengan cepat setiap tahun. 

Pada 27 Januari 2021, sebuah penelitian berjudul “Half a Century of Global Decline in Oceanic Sharks and Rays” oleh Pacoureau et al. terbit pada situs jurnal Nature. Menurut penelitian tersebut, populasi hiu di laut lepas telah turun sebesar 71 persen sejak tahun 1970 (Stokstad, 2021). Penyebab utama dari penurunan populasi ini adalah penangkapan ikan secara berlebihan. Kegiatan ini menempatkan tiga perempat seluruh spesies hiu pada risiko kepunahan. Penurunan populasi spesies hiu merak bulu (dusky shark) merupakan yang tertinggi dengan tingkat penurunan sebesar 72 persen dari total populasi. 

Selama berabad-abad, manusia telah memburu hiu untuk mengambil daging dan sirip mereka. Sirip hiu menjadi incaran para nelayan karena memiliki nilai moneter dan nilai budaya yang tinggi (Fairclough, 2013). Mereka digunakan sebagai bahan utama dari sup sirip hiu (shark fin soup) yang merupakan simbol dari status seseorang dalam budaya Tiongkok. Pada zaman dahulu, Kaisar Tiongkok kerap kali menghidangkan sup ini sebagai hidangan kehormatan karena dianggap bermanfaat bagi kesehatan dan menjadi simbol kemenangan. Popularitas hidangan ini tidak pudar dan justru berkembang seiring dengan pertumbuhan populasi Cina. Para nelayan yang berhasil memperoleh sirip hiu akan memperoleh insentif yang besar dari penjualan sirip hiu tersebut. Selain itu, dibandingkan dengan tahun 1970, kapal modern berukuran lebih besar dan mampu menangkap hiu dalam jumlah yang lebih banyak dengan peralatan seperti kail berumpan panjang. 

Hiu mempunyai peran yang sangat penting untuk kesehatan dan keberlangsungan ekosistem samudera, namun karena mereka tersembunyi di bawah permukaan laut, sulit bagi manusia untuk menilai dan memantau statusnya (Briggs, 2021). Berikut beberapa peran mereka (Johnson, 2017):

  1. Untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut. Hiu merupakan predator puncak yang membatasi kelimpahan mangsanya dan menjaga keseimbangan seluruh jaringan makanan. Karena hiu secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi semua tingkat jaring makanan, mereka membantu menjaga struktur ekosistem laut yang sehat. Hiu juga mempengaruhi perilaku dan distribusi spesies mangsanya melalui rasa takut. Pengendalian secara tidak langsung pada mangsa dapat mempengaruhi ekosistem yang lebih besar. Misalnya, hiu membantu melestarikan padang lamun dengan mengintimidasi mangsanyaㅡpenyuㅡyang memangsa lamun. Tanpa hiu, penyu akan secara lebih cepat menghancurkan padang lamun yang menjadi tempat tinggal dari berbagai ikan dan kerang. 
  2. Untuk menjaga atmosfer dari pencemaran udara akibat karbon. Karena keberadaan hiu mendukung keberadaan padang lamun yang sehat pula, hiu memainkan peran penting dalam siklus karbon di Bumi. Lamun menyerap karbon dalam jumlah besar dan menyimpan karbon tersebut di dalam tubuh mereka serta pada sedimen di mana mereka bertumbuh. Keberadaan lamun dapat mencegah gas rumah kaca yang menghangatkan atmosfer dan memicu pemanasan global. Hiu juga menyimpan banyak karbon di tubuhnya. Apabila populasi hewan besar di lautan seperti paus dan hiu menipis, maka kapasitas laut untuk menyimpan jutaan ton karbon akan berkurang. 
  3. Untuk meningkatkan perekonomian. Popularitas ekowisata hiu sedang meningkat akhir-akhir ini dan pengambilan sirip atau daging hiu tidak akan lebih menguntungkan dibandingkan membiarkan mereka hidup dan mengubah habitat mereka menjadi ekowisata. Pada tahun 2013, industri ekowisata hiu berhasil memperoleh $314 juta dan kemungkinan akan meningkat dua kali lipat menjadi $780 juta dalam 20 tahun ke depan. 

Upaya Pencegahan Kepunahan Hiu

Gambar 4. Hammerhead Shark © baechi
Gambar 4. Hammerhead Shark © baechi

Melihat kenyataan ini, manusia harus segera bertindak untuk mencegah penurunan populasi hiu dan mengupayakan berbagai tindakan untuk melindungi keberadaan mereka. Upaya-upaya tersebut seperti (Fisher, 2010):

  1. Menyuarakan peraturan mengenai perlindungan hiu dan mengapa manusia perlu melindungi hiu. Beberapa peraturan tersebut seperti Peraturan Menteri (Permen) KP nomor PER.12/MEN/2012 tentang Usaha Perikanan Tangkap Di Laut Lepas, Keputusan Menteri (Kepmen) KP nomor 18/KEPMEN-KP/2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus (Rhincodon typus), dan Permen KP nomor 59/PERMEN-KP/2014 tentang Larangan Pengeluaran Hiu Koboi (Carcharhinus longimanus) Dan Hiu Martil (Sphyrna spp.) (Hiu Pari Beserta Regulasi Yang Mengatur Pemanfaatannya, 2018). Fakta mengenai penurunan populasi hiu ini menjadi pengingat bagi pemerintah juga untuk segera mengeluarkan peraturan yang dapat menjaga keberadaan spesies hiu di Indonesia yang belum terlindungi.
  2. Tidak mengkonsumsi hiu dan mengkampanyekan larangan mengkonsumsi hiu. Mengkonsumsi daging hiu merupakan tindakan yang kurang bertanggung jawab secara ekologis dan dapat membahayakan keseimbangan ekosistem laut. Hiu juga mengandung senyawa merkuri yang tinggi dalam tubuh mereka, sehingga dagingnya kurang aman untuk jadi bahan konsumsi.  Masyarakat yang peduli pada keberadaan hiu juga dapat meminta pemerintah untuk mengeluarkan larangan terkait konsumsi daging atau produk hiu. 
  3. Mengamankan hiu dengan membangun ekowisata atau Taman Nasional Laut khusus hiu. Seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, hiu mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi saat mereka hidup. Pemerintah dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk mengamankan berbagai spesies hiu sekaligus memperoleh keuntungan dari para pengunjung yang ingin berenang bersama hiu. Masyarakat yang tertarik untuk meneliti hiu juga dapat memanfaatkan sarana ini untuk memahami spesies hiu secara lebih lanjut. 

 

Penulis: Fiona Evangeline Onggodjojo

 

Referensi Literatur

Allen, T. B. (1999). The Shark Almanac. NY: Lyons Press. https://archive.org/details/sharkalmanac0000alle.

Briggs, H. (2021, January 27). Extinction: ‘Time is running out’ to save sharks and rays. BBC. Retrieved February 10, 2021, 22:00 WIB from https://www.bbc.com/news/science-environment-55830732.

Building a Better Mouth Trap. (n.d.). Biology of Sharks and Rays. Retrieved February 10, 2021, 22:00 WIB from http://elasmo-research.org/education/topics/d_filter_feeding.htm.

Endangered Ocean: Sharks. (n.d.). Ocean Today. Retrieved February 10, 2021, 22:00 WIB from https://oceantoday.noaa.gov/endoceansharks/#:~:text=While%20the%20majority%20of%20shark,contributing%20factors%20in%20their%20decline.&text=A%20healthy%20ocean%20needs%20healthy,endangered%20sharks%20need%20our%20help.

Fairclough, C. (2013, August). Shark Finning: Sharks Turned Prey. Smithsonian. Retrieved February 10, 2021, 22:00 WIB from https://ocean.si.edu/ocean-life/sharks-rays/shark-finning-sharks-turned-prey#:~:text=Shark%20fins%20are%20tempting%20targets,of%20status%20in%20Chinese%20culture.&text=Today%20shark%20fin%20soup%20is,just%20emperors%20on%20special%20occasions.

Fathoming Geologic Time. (n.d.). Biology of Sharks and Rays. Retrieved February 9, 2021, 22:00 WIB from http://www.elasmo-research.org/education/evolution/geologic_time.htm.

Fisher, E. (2010, August 5). Five Ways to Help Protect Sharks. Oceana. Retrieved February 10, 2021, 22:00 WIB from https://usa.oceana.org/blog/five-ways-help-protect-sharks.

Gardiner, J. M., & Atema, J. (2010). The Function of Bilateral Odor Arrival Time Differences in Olfactory Orientation of Sharks. Current Biology, 20(13), 1187-1191. ScienceDirect. https://doi.org/10.1016/j.cub.2010.04.053.

Hiu Pari Beserta Regulasi Yang Mengatur Pemanfaatannya. (2018, July 17). Loka Pengelolaan SD Pesisir & Laut Sorong. Retrieved February 10, 2021, 22:00 WIB from https://kkp.go.id/djprl/lpsplsorong/artikel/5603-hiu-pari-beserta-regulasi-yang-mengatur-pemanfatannya.

Johnson, E. (2017, July 26). Why we need sharks for healthy oceans—and a healthy 

planet. Mystic Aquarium. Retrieved February 10, 2021, 22:00 WIB from https://www.mysticaquarium.org/2017/07/26/need-sharks-healthy-oceans-healthy-planet/#:~:text=Sharks%20keep%20ocean%20ecosystems%20in,on%20throughout%20the%20food%20web.

Kennedy, J. (2019, March 7). Why Sharks Aren’t Covered in Scales. ThoughtCo. Retrieved  February 10, 2021, 22:00 WIB from https://www.thoughtco.com/what-is-a-dermal-denticle-2291706#:~:text=Dermal%20denticles%20(placoid%20scales)%20are,are%20covered%20with%20hard%20enamel.

Pacoureau, N., Rigby, C. L., Kyne, P. M., Sherley, R. B., Winker, H., Carlson, J. K., Fordham, V., Barreto, R., Fernando, D., Francis, M. P., Jabado, R. W., Herman, K. B., Liu, K.-M., Marshall, A. D., Pollom, R. A., Romanov, E. V., Simpfendorfer, C. A., Yin, J. S., Kindsvater, H. K., & Dulvy, N. K. (2021, January 27). Half a century of global decline in oceanic sharks and rays. Nature, 589, 567–571. https://doi.org/10.1038/s41586-020-03173-9.

Pimiento, C., Cantalapiedra, J. L., Shimada, K., Field, D. J., & Smaers, J. B. (2019, March). 

Evolutionary pathways toward gigantism in sharks and rays. Evolution; international journal of organic evolution, 73(3), 588-599. 588-599. https://doi.org/10.1111/evo.13680.

Priede, I. G., Froese, R., Bailey, D. M., Bergstad, O. A., Collins, M. A., Dyb, J. E., Henriques, C., Jones, E. G., & King, N. (2006). The absence of sharks from abyssal regions of the world’s oceans. Proceedings: Biological Sciences, 273(1592), 1435-41. https://doi.org/10.1098/rspb.2005.3461.

Stokstad, E. (2021, January 27). Most high-seas shark species now threatened with extinction. Science. Retrieved February 10, 2021, 22:00 WIB from https://www.sciencemag.org/news/2021/01/most-high-seas-shark-species-now-threatened-extinction.

Vaughan, A. (2021, January 27). Sharks at unprecedented risk of extinction after 71 percent decline. NewScientist. Retrieved February 9, 2021, 22:00 WIB from https://www.newscientist.com/article/2265724-sharks-at-unprecedented-risk-of-extinction-after-71-per-cent-decline/.

 

Referensi Gambar

Shark. Retrieved from https://pixabay.com/images/id-3197585/.

Lemon Shark. Retrieved from https://unsplash.com/photos/BqySllTmBhk.

Shark Finning. Retrieved from https://awionline.org/content/shark-finning.

Hammerhead Shark. Retrieved from https://pixabay.com/images/id-5024671/.

 

Lindungihutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya yang dapat merugikan pihak. 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!