Kiamat Serangga: Malapetaka di Balik Hilangnya Serangga di Bumi

Monarch Butterfly Perched on Marigold Flower © Katie Burandt
Monarch Butterfly Perched on Marigold Flower © Katie Burandt

Catatan fosil mengenai keberadaan serangga telah ada dari ratusan juta tahun yang lalu. Catatan tersebut tidak hanya mencatat evolusi serangga, tetapi juga mencatat kepunahan massal serangga akibat fenomena alam seperti gunung berapi atau tumbukan meteor.  Kiamat serangga dapat terjadi seperti pada peristiwa kepunahan Perm-Trias (P-Tr) dan Kapur-Paleogen (K-Pg) menunjukkan tingkat kepunahan serangga terbesar. Setelah kepunahan massal tersebut, keanekaragaman serangga perlahan-lahan pulih walaupun memakan waktu jutaan tahun (Labandeira, 2005). Sayangnya, saat ini serangga kembali mengalami ancaman kepunahan secara massal. 

Ads

Kekhawatiran tentang Kepunahan Holosen yang disebabkan oleh manusia telah meningkat sejak akhir abad ke-20, meskipun mayoritas perhatian awal dari Kepunahan Holosen tidak terfokus pada serangga. Dalam laporan tentang invertebrata dunia, Zoological Society of London mengungkapkan bahwa populasi serangga menurun secara global, mempengaruhi penyerbukan dan persediaan makanan untuk hewan lain (Collen et al., 2012). Diperkirakan bahwa sekitar 20 persen dari semua spesies invertebrata terancam punah, dan spesies yang paling beresiko adalah serangga dengan mobilitas rendah dan wilayah jelajah yang kecil. 

Beberapa studi menemukan bahwa penurunan serangga telah berlangsung selama beberapa dekade dari tahun 1840 hingga 2013. Namun, permasalahan ini baru memperoleh perhatian luas media saat sebuah publikasi ulang dari studi cagar alam Jerman pada tahun 2017 kembali menekankan mengenai potensi kepunahan serangga (Hallmann et al., 2017). Media dan masyarakat pun akhirnya menyebut fenomena ini sebagai “Kiamat Serangga”. Bagi sebagian orang yang berusaha menghindari keberadaan serangga di dalam rumah mereka, “Kiamat Serangga” terdengar seperti sesuatu yang cukup baik. Padahal, ada berbagai malapetaka yang dapat muncul akibat hilangnya serangga dari muka bumi. Sebelum masuk pada pembahasan tersebut, kita perlu mengetahui terlebih dahulu mengenai fenomena ini secara mendalam.  

Kiamat Serangga : Fakta dan Bukti

Frog and Butterfly in a Pond © Frank Winkler
Frog and Butterfly in a Pond © Frank Winkler

Mayoritas upaya konservasi dan perhatian publik difokuskan pada mamalia dan burung yang karismatik seperti harimau, panda, dan penguin (Goulson, 2019). Padahal, kehidupan hewan─baik diukur dengan biomassa, kelimpahan numerik atau angka spesies─juga terdiri atas invertebrata seperti serangga. Tak terhitung jumlah makhluk kecil yang memiliki peran penting untuk fungsi ekosistem layaknya kerabat mereka yang bertubuh besar dan berbulu. Namun, hingga saat ini para peneliti hanya memiliki sedikit data jangka panjang terkait tren populasi serangga.

Fenomena “Kiamat Serangga” mulai bermunculan saat beberapa penelitian melaporkan penurunan populasi serangga berskala global dalam jumlah yang substansial. Studi terbaru dari Jerman dan Puerto Rico mengungkapkan bahwa serangga benar-benar terancam hilang dari muka bumi. Data dari Jerman memperkirakan penurunan sebanyak 76% dalam 26 tahun, sedangkan penelitian dari Puerto Rico memperkirakan penurunan antara 75% dan 98% dalam 35 tahun. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pun mengakui adanya fenomena ini. Menurut lembaga tersebut, dari 5,5 juta serangga yang ada di Indonesia baru 20 persen yang teridentifikasi. Sedangkan, 80 persen dari populasi serangga tersebut masih belum diketahui dan jumlahnya terus berkurang. Penurunan ini juga terjadi pada serangga yang berada di kawasan cagar alam yang belum terjamah. Sejauh ini, spesies serangga yang mengalami jumlah penurunan terbesar adalah lebah, kupu-kupu, ngengat, kumbang, capung, dan capung jarum. 

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Fakta dan bukti terkait kepunahan serangga ini tidak berasal dari Jerman, Puerto Rico, dan Indonesia saja. Berikut beberapa penelitian yang telah dilaksanakan untuk membuktikan kepunahan serangga.

  • Penelitian Rothamsted Insect Survey dari Inggris

Pada tahun 1964, peneliti dari Rothamsted Research mulai melakukan pemantauan (monitoring) terhadap perangkap serangga di Britania Raya (About the Insect Survey, n.d.). Antara tahun 1970 hingga 2002, biomassa serangga yang tertangkap oleh perangkap tersebut menurun lebih dari dua pertiga di Skotlandia selatan, sedangkan biomassa serangga yang tertangkap di Inggris tetap stabil. Para peneliti berspekulasi bahwa kelimpahan serangga telah hilang di Inggris pada tahun 1970, atau bahwa jumlah kutu daun dan hama lainnya meningkat seiring dengan kepunahan serangga predator. 

  • Penelitian Dirzo et al. 

Sebuah ulasan oleh Dirzo et al. (2014) pada jurnal Science mengungkapkan bahwa dari 203 spesies serangga yang terdokumentasi oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), 33 persen mengalami penurunan sementara perkembangan 67 persen spesies lain cenderung sangat fluktuatif. Serangga penyerbuk yang bertanggung jawab atas perkembangan tanaman pangan di seluruh dunia mengalami penurunan sebanyak 75 persen. Studi ini merujuk pada hilangnya vertebrata dan invertebrata yang disebabkan oleh manusia sebagai “defaunasi antroposen”.

  • Penelitian di Belanda dan Swiss

Pada tahun 2019, sebuah studi oleh Badan Statistik Belanda dan Konservasi Kupu-Kupu Belanda melaporkan bahwa jumlah kupu-kupu di Belanda dari tahun 1890 hingga 2017 mengalami penurunan sebesar 84 persen (Barkham, 2019). Penurunan tersebut disebabkan oleh perubahan tata guna lahan akibat cara bercocok tanam efisien yang menyebabkan penurunan gulma. Selain itu, sebuah penelitian oleh Swiss Academy of Natural Science di tahun yang sama melaporkan bahwa 60 persen serangga yang telah diteliti di Swiss beresiko mengalami kepunahan (Swiss scientists call for action on disappearing insects, 2019). Sebagian besar serangga tersebut berada di daerah pertanian dan perairan dan perlu tindakan segera untuk mengatasi penyebabnya.

  • Penelitian Sánchez-Bayo dan Wyckhuys pada tahun 2019

Pada tahun 2019, Francisco Sánchez-Bayo dan Kris A. G. Wyckhuys menganalisis 73 survei serangga dalam jangka panjang yang menunjukkan penurunan jumlah serangga dalam jurnal “Biological Conservation”. Sebagian besar penurunan jumlah serangga tersebut terjadi di Amerika Serikat dan Eropa Barat. Ulasan mereka dalam jurnal tersebut mengungkapkan tingkat penurunan drastis yang dapat menyebabkan kepunahan 40 persen spesies serangga di dunia dalam beberapa dekade mendatang. Walaupun begitu, metodologi dari penelitian dari Sánchez-Bayo dan Wyckhuys masih dipertanyakan sehingga hasil penelitian mereka dinilai kurang akurat. 

  • Penelitian van Klink et al. pada tahun 2020

Sebuah meta-analisis pada tahun 2020 oleh van Klink et al. yang diterbitkan dalam jurnal “Science” menemukan bahwa secara global, sejak 1990, jumlah serangga darat tampaknya menurun dengan kecepatan sekitar 9% per dekade, sementara kelimpahan serangga air tawar meningkat sebesar 12%. Peningkatan serangga air tawar kemungkinan besar terjadi karena upaya untuk membersihkan danau dan sungai, serta berhubungan dengan pemanasan global dan peningkatan produktivitas primer yang didorong oleh peningkatan masukan nutrisi. Penelitian ini juga menemukan bahwa jumlah dan kecepatan penurunan serangga tergantung pada lokasi dimana serangga tersebut ada. Sehingga pembangunan kawasan konservasi bagi serangga di setiap lokasi dapat membantu mencegah kepunahan serangga. 

  • Bukti-bukti Anekdot

Bukti anekdotal terkait penurunan serangga telah ditawarkan oleh mereka yang mengingat kelimpahan serangga yang tampaknya lebih besar di abad ke-20 dibandingkan di abad ke-21. Menurut ahli ilmu serangga Simon Leather dan pecinta lingkungan Michael McCarthy, jumlah ngengat di Inggris menurun secara drastis sejak tahun 1970-an. Selain itu, sebagian besar fenomena kaca depan (windshield phenomenon) di Eropa dan Amerika Utara telah menghilang. Fenomena kaca depan terjadi saat kaca depan sebuah kendaraan tertutup serangga mati bahkan setelah perjalanan singkat melalui daerah pedesaan di Eropa dan Amerika Utara. 

Penyebab Kiamat Serangga

Worker Bee Perched on Flower During Daytime © Krzysztof Niewolny
Worker Bee Perched on Flower During Daytime © Krzysztof Niewolny

Apa yang menjadi penyebab dari “Kiamat Serangga”? Penyebab penurunan jumlah lebah liar─salah satu serangga terancam punah yang lebih dibahas dibandingkan serangga lain─dipercayai sebagai hasil dari kombinasi faktor antropogenik, seperti hilangnya habitat, paparan kronis terhadap campuran pestisida kompleks, penyebaran penyakit serangga asing, dan sarang lebah komersial (Goulson, 2019). Bagi serangga lain, penyebab kepunahan ini secara umum adalah habitat alami yang telah dibersihkan untuk memberi jalan bagi pertanian, jalan raya, perumahan, pabrik, lapangan golf, dan berbagai upaya pembangunan lainnya. 

Populasi serangga dalam jumlah kecil─seperti serangga dengan habitat di pulau-pulau yang sangat terfragmentasi dan terisolasi─juga terancam kepunahan apabila habitat mereka terjamah manusia. Mereka juga cenderung perlahan-lahan punah akibat berbagai perubahan dalam biogeografi pulau tersebut. Selain itu, sebuah spesies serangga dapat punah di pulau habitat beberapa dekade setelah pulau-pulau itu diciptakan karena populasi yang tersisa terlalu kecil dan terisolasi untuk dapat bertahan dalam jangka panjang. Proses ini akan dipercepat jika pulau-pulau tercemar oleh bahan kimia pertanian atau polutan lain dari penggunaan lahan di sekitarnya, atau dengan cara lain terdegradasi. 

Pertanian sendiri telah berubah drastis dalam 80 tahun terakhir. Secara historis, praktik pertanian yang kurang intensif menghasilkan ekosistem pertanian yang menguntungkan bagi lebah dan serangga lainnya, seperti padang rumput jerami yang kaya bunga dan kapur di dataran rendah, ladang bera yang kaya gulma, dan pagar tanaman berbunga yang memisahkan ladang kecil. Pertanian modern di negara maju dicirikan oleh ladang besar yang dipelihara sebagai pertanian monokultur dengan penggunaan pestisida dan pupuk yang tinggi, menciptakan ekosistem pertanian yang sebagian besar tidak ramah bagi serangga. Baru-baru ini, peneliti juga menemukan bahwa paparan pestisida dalam dosis kecil sekalipun dapat memiliki dampak berbahaya yang kompleks dan tak terduga pada perilaku serangga, serta terdapat hubungan antara paparan terhadap pestisida dengan pemicu stres lain seperti penyakit.

Penggunaan pupuk juga cenderung berdampak pada serangga. Penggunaan pupuk sintetis memang menyuburkan tanah, namun pupuk sintetis dapat menyebabkan dominasi lahan pertanian oleh sejumlah kecil spesies gulma yang menyukai nutrisi, sehingga mengurangi keanekaragaman botani yang bermanfaat bagi serangga. Habitat air tawar yang memperoleh air dari lahan pertanian pun ikut tercemar, dan eutrofikasi ini sangat merusak kehidupan di air tawar yang mencakup beragam komunitas serangga. Meskipun pertanian cenderung menjadi kegiatan penggunaan lahan yang paling banyak dan jelas berdampak pada kelimpahan serangga, kemungkinan ada banyak faktor penyebab lainnya, seperti polusi dan pemanasan global.

Dampak Kiamat Serangga dan Cara Mencegahnya

Brown Grasshopper Perched on Leaf During Day © Bart Sokol
Brown Grasshopper Perched on Leaf During Day © Bart Sokol

Bagi banyak orang, fakta terkait penurunan jumlah serangga tampak menyenangkan, karena serangga sering dikaitkan dengan gangguan, gigitan, sengatan, dan penyebaran penyakit (Goulson, 2019). Ahli ekologi dan ahli entomologi seharusnya prihatin dengan kenyataan bahwa mereka belum berhasil menjelaskan pentingnya keberadaan serangga di muka bumi kepada masyarakat umum. Apa saja malapetaka yang dapat muncul akibat hilangnya serangga di Bumi?

  1. Serangga merupakan sebagian besar spesies yang diketahui di Bumi. Mereka juga secara erat terlibat dalam semua rantai makanan di darat dan air tawar. Tanpa serangga, banyak burung, kelelawar, reptil, amfibi, mamalia kecil, dan ikan akan lenyap
  2. 87% dari semua spesies tumbuhan membutuhkan penyerbukan hewan, dan sebagian besar penyerbukan tersebut dilakukan oleh serangga. Sekitar 75% dari jenis tanaman yang ditanam oleh manusia membutuhkan penyerbukan oleh serangga. Tanpa serangga, manusia perlu melakukan penyerbukan menggunakan teknologi yang menghabiskan banyak biaya. Selain aspek keuangan, produsen tidak dapat memberi makan manusia dengan populasi yang bertumbuh secara global tanpa serangga yang berfungsi sebagai penyerbuk, karena milyaran orang akan mengalami kelaparan. Keberadaan serangga terhadap ekosistem yang mendukung kehidupan manusia dapat dianggap sebagai nilai uang (monetary value). 
  3. Selain penyerbukan, serangga merupakan agen biokontrol yang penting. Tanpa bantuan serangga, manusia akan kesulitan mengendalikan hama serangga lainnya. Manusia juga perlu secara satu per satu menguraikan dan mendaur ulang bahan organik seperti daun, kayu, kotoran, dan bangkai. Selain itu, manusia akan membutuhkan teknologi berbiaya mahal untuk mengeringkan tanah, menyebar benih, serta menyediakan produk seperti sutra dan madu. 

 

Lantas, apa yang perlu kita lakukan untuk mencegah malapetaka tersebut? 

  1. Membantu badan seperti LIPI untuk melakukan pendataan serangga. Masyarakat dapat mengirimkan koleksi dalam bentuk foto spesies dengan melengkapi data tempat dan waktu ditemukan. Koleksi tersebut dapat menjadi data observasi, salah satunya dalam Indonesia Biodiversity Information Facility (InaBIF) (Pranita, 2020). Data ini akan menjadi salah satu dasar untuk menyatakan status kepunahan. Negara maju sudah memiliki perbandingan data serangga dari tahun ke tahun. Sedangkan di Indonesia baru sebatas memiliki koleksi spesimen.
  2. Petani dapat perlahan-lahan meninggalkan sistem pertanian monokultur dan mulai menerapkan sistem pertanian polikultur atau permakultur. Dengan sistem pertanian polikultur atau permakultur, petani dapat menanam lebih banyak jenis tanaman yang bervariasi dan mencegah organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dan membantu berbagai serangga untuk melakukan penyerbukan pada jenis tumbuhan yang berbeda. Menanam tumbuhan dengan berbagai varietas juga akan menciptakan habitat yang lebih alami bagi serangga untuk hidup dan membantu menjaga keseimbangan ekosistem.
  3. Menghentikan penggunaan pestisida dan pupuk sintetis secara berlebihan. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, paparan pestisida terhadap serangga dalam dosis kecil saja dapat menyebabkan perubahan perilaku pada serangga. Selain itu, penggunaan pupuk sintetis dapat meracuni tanah dan menyebabkan pertumbuhan gulma yang menyerap banyak nutrisi dari tanah. Tanah beracun yang kekurangan nutrisi dapat membunuh habitat serangga yang bergantung pada ekosistem di tempat tersebut. 
  4. Menjaga alam dan lingkungan kita agar habitat alami serangga terjaga. Menurut data yang dikumpulkan oleh Sánchez-Bayo dan Wyckhuys, faktor pendorong kepunahan serangga yang lain adalah deforestasi, pencemaran lingkungan, dan pemanasan global. Isu-isu lingkungan ini sedang ditangani dan harapannya dapat teratasi agar tidak mendorong berbagai fauna, termasuk serangga, pada kepunahan.

 

Penulis: Fiona Evangeline Onggodjojo

 

Referensi Literatur

About the Insect Survey. (n.d.). Rothamsted Research. Retrieved January 18, 2021, from 

https://insectsurvey.com/about.

Barkham, P. (2019, April 1). Butterfly numbers fall by 84% in Netherlands over 130 years 

– study. The Guardian. Retrieved from https://www.theguardian.com/environment/2019/apr/01/butterfly-numbers-fall-by-84-in-netherlands-over-130-years-study.

Collen, B., Böhm, M., Kemp, R., Kemp, B., & Jonathan, E. M. (2012). Spineless – Status 

and trends of the world’s invertebrates. Retrieved from https://www.zsl.org/sites/default/files/document/2014-02/spineless-lr-2039.pdf.

Dirzo, R., Young, H., Galetti, M., Ceballos, G., Isaac, N., & Collen, B. (2014). Defaunation 

in the Anthropocene. Science, 345(6195), 401–406. doi: 10.1126/science.1251817.

Goulson, D. (2019). The insect apocalypse, and why it matters. Current Biology, 29(19), 

967–971. doi: https://doi.org/10.1016/j.cub.2019.06.069.

Hallmann, C. A., Sorg, M., Jongejans, E., Siepel, H., Hofland, N., Schwan, H., Stenmans, 

W., Müller, A., Sumser, H., Hörren, T., Goulson, D., & de Kroon, H. (2017). More than 75 percent decline over 27 years in total flying insect biomass in protected areas. Plos One, 12(10), 14–13. doi: 10.1371/journal.pone.0185809.

Labandeira, C. (2005). The fossil record of insect extinction: new approaches and future 

directions. American Entomologist, 51(1), 14–29. doi: 10.1093/ae/51.1.14.

Pranita, E. (2020, June 6). Khawatirkan Kiamat Serangga, Ini Langkah Ahli untuk 

Selamatkan Populasi. Kompas.com. Retrieved from https://www.kompas.com/sains/read/2020/06/06/200200023/khawatirkan-kiamat-serangga-ini-langkah-ahli-untuk-selamatkan-populasi?page=all.

Sánchez-Bayo, F. & Wyckhuys, K. A. G. (2019). Worldwide decline of the entomofauna: A 

review of its drivers”. Biological Conservation, 232(1), 8–27. doi: 10.1016/j.biocon.2019.01.020.

Swiss scientists call for action on disappearing insects. (2019, April 13). Swissinfo.ch

Retrieved from https://www.swissinfo.ch/eng/biodiversity_swiss-scientists-call-for-action-on-disappearing-insects/44895310.

van Klink, R., Bowler, D. E., Gongalsky, K. B., Swengel, A. B., Gentile, A., & Chase, J. M. 

(2020). Meta-analysis reveals declines in terrestrial but increases in freshwater insect abundances. Science, 368(6489), 417–420. doi: 10.1126/science.aax9931.

 

Referensi Gambar

[1] Monarch Butterfly Perched on Marigold Flower. Retrieved from https://www.pexels.com/photo/selective-focus-photography-of-monarch-butterfly-perched-on-marigold-flower-1212693/.

[2] Frog and Butterfly in a Pond. Retrieved from https://pixabay.com/images/id-540812/.

[3] Worker Bee Perched on Flower During Daytime. Retrieved from https://unsplash.com/photos/iH1OJ6nad0Y.

[4] Brown Grasshopper Perched on Leaf During Day. Retrieved from https://unsplash.com/photos/BY4Py-EKrew.

 

Lindungihutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya yang dapat merugikan pihak. 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!