Kondisi dan Hal yang Menarik dari Hutan di Pulau Sumatera

Sumatera merupakan pulau terbesar ketiga di Indonesia setelah Kalimantan dan Papua. Terletak pada 5° 39’ LU – 5° 54’ LS dan 95° BT – 106° BT dan terdapat pegunungan Bukit Barisan yang membujur dari utara sampai selatan. Menurut letak geografisnya, Sumatera terdiri dari dua bagian, yaitu pegunungan dan dataran rendah. Dataran tinggi tersebut terdiri dari lembah pegunungan yang merupakan bagian dari gugusan Bukit Barisan yang membelah Pulau Sumatera. Pulau ini dibagi menjadi beberapa provinsi seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Lampung.  Pulau yang berjuluk Suwarnadwipa ini memiliki berbagai potensi alam yang beberapa wilayahnya telah terdaftar sebagai kawasan konservasi. Salah satunya adalah Hutan. 

Ads

Hutan menjadi satu bagian yang tidak dapat terpisahkan dari nama Pulau Sumatera, karena sebagian lanskap Pulau ini masih tertutup oleh hutan, bahkan beberapa diantaranya dinobatkan sebagai kawasan Konservasi. Kawasan konservasi terdiri dari kawasan konservasi suaka alam dan kawasan pelestarian alam. Kawasan suaka alam dibagi menjadi kawasan cagar alam dan kawasan suaka margasatwa. Hutan tropis dan lanskap vegetasi lainnya, seperti padang rumput, sabana, dan tanaman berkayu lainnya, memainkan peran penting dalam penyerapan karbon global. Perlindungan dan perlindungan hutan menawarkan potensi besar untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan pemanasan global (Bununu, 2016).

Kondisi Hutan di Pulau Sumatera

Dewasa ini kondisi Hutan Sumatera kian memprihatinkan. Banyak pihak menilai alam di Sumatera Utara su­dah rusak, hutannya sudah hilang, flora dan faunanya su­dah musnah. Penilaian ba­nyak pihak itu didasarkan pada seringnya terjadi banjir, tanah long­sor ketika musim hujan dan ke­keringan ketika musim kemarau. Penyusutan luas hutan di Sumatera selama 16 tahun terakhir sangat tajam. Kondisi ini dipicu Deforestasi, kebakaran hutan di berbagai hutan di pulau Sumatera serta maraknya pembukaan perkebunan monokultur dan permukiman yang tidak terkendali.

Bahkan, data Forest Watch Indonesia menyebutkan, hutan alam Sumatera tersisa 11,4 juta hektar. Penyebabnya adalah alih fungsi hutan untuk tanaman industri, perkebunan, dan pertambangan. Jika tanpa upaya pemulihan dan perbaikan tata kelola hutan, diprediksi dalam 10 tahun ke depan hutan alam Sumatera hanya akan tersisa 16 persen dari total luas pulau itu. Sementara itu, data Citra Satelit yang diolah bagian Pemetaan Komunitas Konservasi Indonesia Warsi menyebutkan, pada tahun 2015 luas hutan tertutup tersisa 11,56 juta hektar. Padahal, tahun 2013 seluas 11,9 juta hektar. 

Indonesia adalah negara dengan hutan tropis terbesar ketiga serta penyumbang utama emisi gas rumah kaca global yang disebabkan oleh deforestasi, degradasi hutan dan lahan gambut (Margono et al., 2014). Indonesia merupakan negara dengan laju deforestasi tertinggi kedua di antara negara tropis setelah Brazil. Oleh karena itu, data hutan yang tepat waktu dan akurat diperlukan untuk mengurangi deforestasi dan degradasi hutan guna mendukung inisiatif kebijakan mitigasi perubahan iklim dan konservasi keanekaragaman hayati (FAO, 2010)

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Deforestasi terbesar di Indonesia terjadi di Kalimantan dan Sumatera, masing-masing sebesar 36,32% dan 24,49%, diikuti oleh Sulawesi dengan 11,00%, Jawa dengan 9,12%, Pulau Maluku dengan 8,30%, dan Bali-Nusa Den. Provinsi Kara 6, terhitung 62%. Papua merupakan wilayah dengan tingkat deforestasi paling sedikit, yaitu 4,15%. Hingga tahun 2009, deforestasi di Indonesia terutama berkonsentrasi di Kalimantan dan Sumatera (Sumargo et al., 2011)

Luas hutan di Pulau Sumatera pada tahun 2010 adalah 18,699 juta ha atau sekitar 42,79% dari luas Pulau Sumatera. Hutan di Pulau Sumatera terdiri dari hutan gambut seluas 3,112 juta ha (16,65%) dan hutan tanah mineral seluas 15,566 juta ha (83,35%). Berdasarkan tipe hutan, hutan di Pulau Sumatera terdiri atas hutan primer dan hutan sekunder. Luas hutan primer di Pulau tersebut pada tahun 2000 mencapai 30%, belum menghitung luas hutan sekunder. Dengan demikian luas hutan tersebut relatif sama. Lebih lanjut keberadaan hutan primer di Sumatera mempunyai kecenderungan terus berkurang. Pada tahun 1990 keberadaan hutan primer sebesar 47%, berkurang menjadi 33% pada tahun 2000 dan hanya menyisakan 30% pada tahun 2000. 

Pulau Sumatera mengalami pembukaan hutan secara intensif yang mengakibatkan konversi 70% kawasan hutan di pulau ini sampai 2010 (Margono et al., 2012). Penelitian yang dilakukan oleh Sumargo (2011), pada periode tahun 2000-2009, di Pulau Sumatera terjadi deforestasi sebesar 3,71 juta ha atau 23,92% dari deforestasi yang terjadi di Indonesia. Penyumbang deforestasi terbesar di Pulau Sumatera adalah Provinsi Riau sebesar 31,42%, sedangkan Provinsi Bengkulu merupakan wilayah yang deforestasinya paling kecil yaitu 3,53%. 

Pada periode 2005-2010 terjadi deforestasi di Pulau Sumatera sebesar 1,632 juta ha (8,77%), terdiri dari deforestasi pada hutan gambut seluas 0,824 juta (26,48%) dan deforestasi pada tanah mineral seluas 0,808 juta (5,82 %). Faktor utama penyebab terjadinya deforestasi adalah dampak kebijakan pemerintah dalam pengembangan areal pertanian, perkebunan sawit dan hutan tanaman industri. Pada tahun 2000 pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menambah luas areal pertanian (terutama perkebunan). Penyediaan lahan pertanian tersebut berasal dari areal hutan yang memicu terjadi deforestasi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Fuller et al. (2004) yang menyatakan kebijakan perluasan pertanian, ekstraksi kayu dan perluasan infrastruktur merupakan penyebab utama berkurangnya areal hutan. Sedangkan Nawir et al. (2007); Indonesia,W.W.F. (2008), mengemukakan penyebab utama hilangnya tutupan hutan di Sumatera terkait dengan perluasan pasar global untuk pulp, kayu dan kelapa sawit. Demikian juga dengan penelitian Margono et al. (2012) menegaskan bahwa pada periode tahun 20002010 penyebab terjadinya deforestasi adalah kegiatan perluasan areal pertanian, terutama perluasan areal perkebunan kelapa sawit, perluasan areal hutan tanaman industri (HTI) pulp dan kertas dan penebangan hutan tanaman industri.

Flora Endemik

     A. Padma Raksasa (Rafflesia arnoldii)

Sumber: seasia.co
Sumber: seasia.co

Padma raksasa yang memiliki nama latin Rafflesia arnoldii merupakan tumbuhan parasit obligat yang populer disebabkan karena mempunyai bunga yang memiliki ukuran sangat besar, bahkan dikategorikan sebagai bunga paling besar di dunia. Flora ini tumbuh di jaringan tumbuhan merambat yakni liana Tetrastigma serta tidak mempunyai daun sehingga tidak dapat melakukan proses fotosintesis untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi dirinya sendiri.

Tumbuhan ini endemik di Pulau Sumatera, khususnya bagian selatan seperti Bengkulu, Jambi dan juga Sumatera Selatan. Taman Nasional Kerinci Seblat adalah wilayah konservasi utama bagi spesies ini. Jenis ini, bersama dengan anggota genus Rafflesia lainnya, terancam statusnya karena penebangan hutan secara liar yang semakin tidak terkendali.

       B. Bunga Anggrek Tien Soeharto 

Anggrek Hartinah atau Anggrek Tien Soeharto (Cymbidium hartinahianum) merupakan salah satu jenis tumbuhan anggrek yang endemik (hanya tumbuh di daerah tertentu) Sumatera Utara, Indonesia. Jenis anggrek yang ditemukan pertama kali pada tahun 1976 ini bisa dijumpai di Desa Baniara Tele Kecamatan Harian Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Anggrek Tien Soeharto atau sering disebut juga sebagai Anggrek Hartinah (Cymbidium hartinahianum) merupakan anggrek tanah yang hidup merumpun. 

Sumber: kampoenganggrek.com
Sumber: kampoenganggrek.com

Anggrek Hartinah (Tien Soeharto) merupakan salah satu anggrek tanah dengan pertumbuhan merumpun. Spesies anggrek ini menyukai tempat terbuka di antara rerumputan serta tanaman lain seperti jenis paku-pakuan, kantong semar, dan lain-lain pada ketinggian 1.700 meter diatas permukaan laut.

Daunnya berbentuk pita berujung meruncing dengan panjang 50-60 cm. Bunganya berbentuk bintang bertekstur tebal. Daun kelopak dan daun mahkotanya hampir sama besar, permukaan atasnya berwarna kuning kehijauan dan permukaan bawahnya kecoklatan dengan warna kuning pada bagian tepinya

      C. Bunga Bangkai Raksasa (Amorphophallus titanium)

Sumber: @indoflashlight via Instagram
Sumber: @indoflashlight via Instagram

Kibut atau bunga bangkai raksasa yang memiliki nama latin Amorphophallus titanum Becc., adalah tumbuhan dari suku talas-talasan (Araceae) yang termasuk flora atau tumbuhan endemik dari Sumatra, Indonesia, yang terkenal sebagai tumbuhan dengan bunga (majemuk) paling besar di dunia.

Kibut yang terkenal dengan sebutan bunga bangkai karena bunganya yang mengeluarkan bau yang tidak sedap seperti halnya bau bangkai yang telah membusuk, yang sesungguhnya ditujukan guna mengundang kumbang dan juga lalat untuk menyerbuki bunganya. 

     D. Cemara Sumatera (Taxus sumatrana)

Cemara Sumatera sendiri merupakan salah satu dari sedikit sekali tumbuhan atau pohon yang dapat menghasilkan O2 atau oksigen tiada henti sepanjang 24 jam. Dan artinya satu pohon Cemara Sumatera selalu menghasilkan oksigen sepanjang dia masih hidup. 

Cemara sumatra adalah satu diantara jenis pohon berdaun jarum yang yang tumbuh dengan alamiah di Indonesia yakni di pulau Sumatera tentunya. Cemara sumatra sendiri tumbuh dengan alami di hutan sub tropis ataupun hutan hujan pegunungan di Pulau Sumatera yang berada pada ketinggian 1.400 hingga 2.300 meter dari permukaan laut. 

Tumbuhan ini dapat berbentuk semak, pohon rendah seperti halnya pernah ditemukan di Taman Resort Simalem, kabupaten Karo, Sumatera Utara dan juga ada yang berbentuk pohon tinggi ketinggiannya dapat mencapai 30 meter. 

      E. Tusam Sumatera (Pinus Merkusii)

Pohon Pinus Merkusii Jungh. et de Vriese adalah jenis pinus yang tumbuh asli di daerah Indonesia yang pertama kali ditemukan dengan nama Tusam di wilayah Sipirok, Tapanuli Selatan oleh seseorang pakar botani dari Jerman yang bernama Dr. F. R. Junghuhn. 

Tidak hanya termasuk ke dalam jenis tanaman cepat tumbuh atau fast growing species, jenis pinus ini adalah jenis pinus yang tidak membutuhkan kriteria tempat tumbuh yang khusus sehingga sangat gampang untuk dibudidayakan bahkan juga pada tempat yang kering tumbuhan ini juga dapat bertahan hidup. 

Bukan sekedar kayunya saja yang bisa digunakan, jenis pohon ini juga dimanfaatkan dari Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yakni getah yang dihasilkan dari pohon Pinus merkusii ini bisa juga diolah menjadi gondorukem dan juga terpentin. Kedua hasil atau bentuk olahan getah pinus ini sangatlah bermanfaat untuk dijadikan bahan baku pada berbagai industri. Oleh karenanya, Pinus merkusii benar-benar punya potensi yang sangat besar untuk diusahakan. 

Perlu kita ketahui bersama, Pinus merkusii adalah satu-satunya jenis pohon pinus yang tumbuh alami di Indonesia khususnya di daerah Aceh, Tapanuli, dan juga Kerinci. Akan tetapi diawali pada tahun 1970 an Pinus merkusii mulai ditanam dan dibudidayakan di Pulau Jawa yang dimanfaatkan untuk  bahan baku industri kertas dan juga untuk kegiatan reboisasi lahan-lahan dengan kondisi kritis.  

Fauna Endemik 

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat keanekaragaman satwa yang cukup tinggi. Bahkan mungkin bisa dikatakan bahwa indonesia adalah salah satu negara yang memiliki banyak sekali jenis satwa. Persebaran flora dan persebaran fauna di Indonesia sendiri sangat luas. Tak sedikit pula daerah –daerah yang memiliki hewan endemik atau hewan khas yang tak bisa kita temukan di daerah lain. Beberapa fauna khas Pulau Sumatera diantaranya;

       A. Harimau Sumatra

Sumber: sandiegozoo.org
Sumber: sandiegozoo.org

Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) adalah subspesies harimau yang hidup di Pulau Sumatra. Mereka adalah subspesies harimau terkecil di dunia, dengan panjang maksimal 2,4 meter dan bobot 118 kg. Karena ukurannya kecil, Harimau Sumatera lebih gesit saat menjelajah hutan rimba. Selain itu, National Geographic juga menyebut bahwa ciri Harimau Sumatra adalah warna oranye yang lebih gelap dibanding subspesies harimau lain. Harimau Sumatera ternyata juga punya janggut lebih lebat dibandingkan jenis harimau lainnya, terutama si jantan Nggak cuma itu, Harimau Sumatera juga punya selaput di sela jarinya sehingga mereka mampu berenang sangat cepat.

      B. Gajah Sumatera

Sumber: greeners.co
Sumber: greeners.co

Gajah Sumatera adalah mamalia terbesar di Indonesia, beratnya bisa mencapai 6 ton dan tumbuh setinggi 3,5 meter pada bahu. Dibandingkan mamalia darat lain, gajah merupakan herbivora yang cerdas dan memiliki otak lebih besar.  Sehingga di Lampung punya konservasi khusus gajah dan juga menjadi tempat sekolah para gajah tepatnya di Way Kambas. Ternyata di sini para gajah liar dilatih untuk menjadi gajah tunggang, sirkus, bahkan dilatih untuk bermain bola, lho. Sehingga pada setiap acara Festival Way Kambas yang diadakan tiap bulan Desember, kita akan bisa melihat pertandingan Sepak Bola Gajah.

       C. Orang Utan Sumatra

Ada dua sub-spesies orang utan asli Indonesia, yaitu Orang Utan Sumatera dan orang utan Kalimantan. Ciri-ciri orang utan Sumatera yaitu yang jantan mempunyai kantung pipi panjang, dengan panjang tubuh sekitar 1,25 meter sampai 1,5 meter dan berat 50-90 kg. Sedangkan orang utan dewasa betina memiliki berat sekitar 30-50 kg. Yang paling khas adalah, orang utan Sumatera memiliki bulu-bulu berwarna coklat kemerahan.

      D. Surili Sumatra

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Surili
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Surili

Masyarakat mungkin banyak yang masih belum familiar dengan fauna bernama Surili. Hewan ini berasal dari semenanjung Malaya di Sumatera, Surili adalah grup monyet Dunia Lama yang memiliki warna tubuh hitam atau coklat dan keabuan mulai dari kepala sampai punggung. Sedangkan warna kulit dan telinganya hitam pekat agak kemerahan. Uniknya, Surili yang baru lahir berwarna putih dengan garis hitam dari kepala hingga ekor.

      E. Badak Sumatra 

Sumber: National Geographic Indonesia
Sumber: National Geographic Indonesia

Di Sumatera juga hidup badak yang memiliki dua buah cula, satu-satunya di Asia. Yang membedakan dengan badak Ujung Kulon, badak Sumatera memiliki rambut lebih banyak dan kulit berwarna coklat keabuan atau kemerahan, serta telinga berukuran besar.

Badak Sumatera memiliki cula di bagian depan yang cukup panjang, antara 25-80 cm. Dan cula belakangnya lebih pendek yaitu tidak lebih dari 10 cm. Dan jangan menggoda badak ya, karena mereka punya berat badan yang bisa mencapai sekitar 600-950 kg.

Upaya Pelestarian dan Konservasi Hutan Sumatera

Ber­dasarkan data BPS dan Ke­menterian Kehutanan RI, secara garis besar Pulau Sumatera memiliki tiga sistem besar peles­tarian biodiversity yakni pelestarian biodiversitas se­cara in situ, ex situ dan pe­lestarian secara budidaya. Secara in situ yakni pe­les­tarian di dalam habitat ala­m­iahnya. Secara ex situ yakni pelestarian pada habitat buat­an dan pelestarian secara bu­didaya tanaman, ternak, ikan secara lintas generasi.

Pelestarian biodiversitas secara in situ dan ex situ di ka­wasan lindung dan kon­ser­vasi yakni cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman wisa­ta alam, hutan rak­yat, taman buru dan lain­nya. Pelestarian biodiversity se­cara pembudidayaan di kawasan budidaya yakni hu­tan produksi terbatas, hutan produksi, hutan produk­si dapat dikonversi, hutan ta­naman industri, perkebunan kelapa sawit, perkebunan ka­ret, perkebunan kelapa, per­kebunan kakao, perkebun­an kopi, perkebunan teh, perke­bunan tebu, pertanian tanam­an pangan, hortikultura, sa­yuran, buah-buahan, ta­nam­an hias, peternakan, per­ikan­an air tawar dan lainnya.

Penulis: Syahidatul Khofifah

 

Referensi:

FAO (Food and Agricultural Organization). (2010). Global Forest Resources Assessment 2010 Country Report Indonesia Forest Reso

Indonesia, W. W. F. (2008). Deforestation, forest degradation, biodiversity loss and CO2 emissions in Riau, Sumatra, Indonesia. One Indonesian Province’s Forest and Peat Soil Carbon loss over a Quarter Century and its Plans for the Future 

Margono, B. A., Turubanova, S., Zhuravleva, I., Potapov, P., Tyukavina, A., Baccini, A., … & Hansen, M. C. (2012). Mapping and monitoring deforestation and forest degradation in Sumatra (Indonesia) using Landsat time series data sets from 1990 to 2010. Environmental Research Letters, 7(3), 034010. 

Margono, B. A., Potapov, P. V., Turubanova, S., Stolle, F., & Hansen, M. C. (2014). Primary forest cover loss in Indonesia over 2000-2012. Nature Climate Change, 4(8), 730-735. 

Sumargo W, Nanggara SG, Nainggolan FA, Apriani I. (2011). Potret Keadaan Hutan Indonesia 2000-2009. Edisi I. Forest Watch Indonesia 2011 Tucker C J and Townshend J R G. (2000

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak! 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!

Enable Notifications    Ok No thanks