Konversi Hutan Rawa Gambut

Hutan Rawa Gambut 

Gambar 1 Hutan Rawa Gambut
Gambar 1 Hutan Rawa Gambut

Hutan rawa gambut merupakan salah satu bentuk hutan di Indonesia yang umumnya tersusun dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan dan lapukan jaringan tumbuhan yang tergenang air dalam jangka waktu yang cukup lama. Indonesia memiliki luasan lahan rawa gambut keempat di dunia setelah Kanada, Rusia, dan Amerika Serikat. Luasan tersebut ada sekitar 20,6 juta hektar atau 10,8% luas daratan di Indonesia. 

Ads

Sumatra, Kalimantan, dan Papua merupakan tiga daerah di Indonesia yang memiliki hutan rawa gambut paling banyak di Indonesia. Sayangnya, hutan ini tidak terlalu banyak ditemukan di Pulau Jawa. Hal ini dikarenakan proses pertumbuhan dari hutan rawa gambut itu sendiri.

Hutan rawa gambut terbentuk selama ratusan bahkan jutaan tahun dari dua sungai yang saling menyatu akibat peristiwa alam. Sementara, keberadaan sungai di Pulau Jawa tidak sebanyak sungai pada daerah Kalimantan maupun Sumatra. Hutan rawa gambut yang terbentuk akibat menyatunya dua sungai membuat tanah di hutan rawa gambut memiliki kadar air yang tinggi dan pH yang rendah.

Kriteria lain yang membuat tanah hutan rawa gambut berbeda dengan tanah hutan pada umumnya adalah tanah pada hutan rawa gambut menyimpan banyak karbon di dalamnya. Kapasitas tukar kation dari tanah ini pun jauh lebih rendah daripada tanah di hutan lainnya. Hal ini membuat tanah yang ada pada hutan rawa gambut tidak sesubur hutan yang ada pada umumnya. Tumbuhan yang hidup di tanah hutan rawa gambut pun akhirnya mengalami kesulitan untuk mengambil hara yang terdapat di tanah.

Tumbuhan yang ada pada hutan rawa gambut biasanya tidak mengambil nutrisi dari hara tanah, melainkan organisme lain yang ada  di hutan rawa gambut. Karena perbedaan sifat tanah hutan rawan gambut dan hutan pada umumnya, tidak semua tumbuhan dapat hidup di dalam ekosistem hutan rawa gambut. Kantung semar merupakan salah satu tumbuhan hidup di hutan rawa gambut yang memanfaatkan serangga sebagai pemenuh nutrisinya. 

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Alasan Pengkonversian Hutan Rawa Gambut

Gambar 2 Drainase pada Hutan Rawa Gambut
Gambar 2 Drainase pada Hutan Rawa Gambut

Ekosistem lahan gambut yang sulit ditanami tumbuh-tumbuhan ini membuat manusia berpikir jika keberadaan lahan gambut kurang menguntungkan bagi mereka. Jika dibandingkan dengan hutan tanaman atau perkebunan dengan luasan yang sama, tentunya hasil yang didapatkan dari hutan tanaman atau perkebunan dapat lebih memberikan kesejahteraan bagi manusia daripada yang didapatkan dari hutan rawa gambut. Sehingga banyak manusia yang saat ini beramai-ramai melakukan konversi lahan hutan gambut menjadi hutan tanaman dan juga perkebunan.

Saat ini, sudah jarang ditemukan adanya hutan rawa gambut yang masih perawan. Umumnya lahan gambut yang sudah menjadi hutan campuran, hutan sekunder bekas tebangan, semak belukar, dan padang rumput rawa. Tumbuhan yang ditanam pada bekas lahan gambut biasanya berupa sawit atau tumbuhan lain seperti pinus yang dapat dimanfaatkan getahnya. 

Pengkonversian lahan gambut biasanya dilakukan dengan cara drainase atau mengaliri air yang ada pada tanah hutan rawa gambut ke kanal yang dibuat di dekat hutan rawa gambut. Pengaliran air ini membuat kadar air pada hutan rawa gambut menjadi berkurang sehingga tanah hutan rawa gambut menjadi kering. Setelah kadar air pada tanah sudah berkurang, tanah bekas hutan rawa gambut kemudian disesuaikan dengan tanah pada hutannya untuk dapat ditanami tumbuhan sesuai dengan tujuannya.

Dampak Deforestasi Hutan Rawa Gambut

Gambar 3 Kebakaran pada Hutan Rawa Gambut
Gambar 3 Kebakaran pada Hutan Rawa Gambut

Kegiatan drainase pada hutan rawa gambut tidak selalu berdampak baik bagi lingkungan. Lahan gambut yang dibersihkan dan pembuatan drainase akan merusak tata air yang ada di hutan rawa gambut. Pada akhirnya kegiatan drainase pada hutan rawa gambut akan merembet pada kerusakan ekosistem dan rantai makanan pada hutan rawa gambut karena rusaknya tata kelola pada hutan tersebut.

Pengkonversian lahan gambut juga berdampak pada lingkungan dan iklim. Sebagai contoh, tanah hutan rawa gambut juga memiliki kemampuan hidrofilik atau dapat menyerap air dengan baik. ketika musim hujan, tanah ini akan menyerap air hujan dan mengurangi risiko banjir. Kemudian, ketika musim kemarau tanah hutan rawa gambut akan melepaskan air yang sebelumnya diserap. Air ini bermanfaat baik untuk pertanian maupun transportasi dan kebutuhan ikan terhadap air di ekosistemnya. 

Apabila kadar air tanah hutan rawa gambut mengalami penurunan yang drastis, maka tanah gambut akan kehilangan sifat hidrofiliknya dan berganti menjadi hidrofobik. Jika suatu tanah bersifat hidrofobik, maka ia akan kesulitan untuk menyerap air yang ada di atasnya. Hasilnya, hutan rawa gambut tidak akan mampu menangkal banjir jika terjadi hujan deras.

Rusaknya hutan rawa gambut dapat memengaruhi iklim karena tanah pada hutan rawa gambut memiliki karbon yang sangat banyak. Kegiatan drainase pada hutan rawa gambut akan membuat karbon yang ada pada tanah hutan rawa gambut lepas ke atmosfer, sehingga menimbulkan dampak-dampak buruk seperti gas rumah kaca dan peningkatan polusi udara. Dampak seperti ini tentunya sangat tidak diharapkan mengingat hutan rawa gambut diandalkan sebagai salah satu ekosistem yang dapat menyerap karbon di udara dengan baik.

Hutan rawa gambut yang sudah mengalami deforestasi akan lebih rawan mengalami kebakaran. Menurunnya kadar air dan berkurangnya vegetasi yang disebabkan deforestasi membuat hutan ini menjadi lebih mudah terbakar. Kasus kebakaran hutan yang terjadi pada hutan rawa gambut biasanya adalah kebakaran bawah.

Kebakaran bawah merupakan kebakaran hutan yang terjadi dari tanah hutan tersebut. Kebakaran ini biasa terjadi pada musim kemarau panjang ditambah banyaknya sumber bahan bakar yang terdiri dari lapukan jaringan tumbuhan yang ada di dalam hutan rawa gambut. Hutan yang sudah mengalami kebakaran bawah akan sulit dipadamkan apinya dan karena tanah hutan rawa gambut menyimpan banyak karbon di dalamnya, maka karbon yang tersimpan di dalam tanah akan lepas begitu saja. Dengan begitu, dapat disimpulkan jika pengkonversian lahan hutan gambut tidak hanya dapat mengubah ekosistem dan rantai makanan, tetapi juga iklim. 

Pengkonversian lahan gambut tidak hanya berdampak pada ekosistem, lingkungan, dan iklim, melainkan juga lapisan masyarakat yang ada di sekitar hutan. Saat masih berupa hutan rawa gambut perawan, masyarakat memanfaatkan hasil yang ada di hutan rawa gambut seperti rotan, resin, dan madu. Namun, ketika hutan ini mengalami kerusakan akibat deforestasi ataupun drainase, masyarakat sudah tidak lagi bisa memanfaatkan hasil hutan itu lagi.

Kasus mengenai bersilangnya kebutuhan manusia serta kelestarian lingkungan bukan satu-dua kali terjadi. Selama manusia masih tinggal di bumi, maka kasus ini akan terus terjadi. Namun bukan berarti keduanya tidak bisa berjalan secara beriringan.

Dalam kasus deforestasi hutan gambut, manusia tetap bisa melakukan drainase dan melakukan penanaman pada hutan gambut, tetapi jangan sampai kadar air tanah pada hutan tersebut berkurang secara drastis dari sebelumnya. Teori ini sudah banyak diketahui oleh masyarakat, tetapi pelaksanaannya belum maksimal. Selain itu, pengawasan terhadap hutan rawa gambut yang tertalu kendur juga membuat kesehatan hutan rawa gambut tidak terjaga dengan baik.

 

Penulis: Fifi Melinda Setiawati

 

Referensi Artikel:

Irma W. 2018. Pengaruh konversi lahan gambut terhadap ketahanan lingkungan di DAS Kampar Provinsi Riau Sumatra Utara. Jurnal Ketahanan Nasional. 24 (2): 170-191.

Rochmayanto Y, Darusman D, Rusolono T. 2013. Hutan Rawa Gambut dan HTI Pulp dalam Bingkai REDD+. Indonesia (ID): FORDAPress.

Sabiham S. 2000. Kadar air kritis gambut Kalimantan Tengah dalam kaitannya kejadian kering tidak balik. J. Tanah Tropika. 11: 21-30.

Wibowo A. 2010. Konversi hutan menjadi tanaman kelapa sawit pada lahan gambut: Implikasi perubahan iklim dan kebijakan. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan. 7 (4): 251-260.

 

Referensi Gambar:

https://alamendah.org/2015/01/17/manfaat-lahan-basah-bagi-masa-depan-manusia/hutan-rawa-gambut/

https://www.mongabay.co.id/2014/06/20/gambut-for-beginners-tujuh-jawaban-penting-untuk-pemula/

https://www.mongabay.co.id/tag/kebakaran-gambut/

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk melakukan kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di berbagai daerah. Mari kita sama-sama melestarikan lingkungan dan menjaganya. 

Yuk bergabung bersama kami sebagai pioneer penghijauan!