Krisis Air bersih di Tengah Pandemi yang harus diwaspadai

Efek Musim Kemarau
Ilustrasi Musim Kemarau © pixabay.com

Musim kemarau di Indonesia yang dimulai sejak April lalu, kini telah melanda 51,2% wilayah di Indonesia. Bahkan, BMKG telah memprediksi puncak musim kemarau tahun ini akan melanda sekitar 64,9 persen wilayah Indonesia pada bulan Agustus mendatang. Meski musim kemarau tahun ini terbilang lebih basah, namun ada kondisi yang berbeda dengan musim kemarau tahun lalu. Pasalnya, Indonesia dan seluruh dunia sedang dilanda pandemi COVID-19 yang membuat hampir semua aspek kehidupan masyarakat berubah. Adanya pandemi di tengah musim kemarau ini menjadi semacam bencana tambahan karena sebelum pandemi terjadi ada beberapa bencana yang terjadi di musim kemarau salah satunya adalah krisis air bersih. Sejumlah wilayah di Indonesia yang diprediksi akan mengalami musim kemarau lebih kering dari biasanya sangat rawan terjadi krisis air bersih.

Ads

Air Bersih Sebagai Ujung Tombak Gaya Hidup Sehat

Ilustrasi Cuci Tangan
Cuci Tangan © pixabay.com

Himbauan WHO pada masyarakat untuk mengubah pola hidup menjadi higienis di tengah pandemi nampaknya akan cukup sulit dilakukan di beberapa wilayah yang mengalami krisis air. Sebagai contoh di wilayah Sulawesi Barat, warga kesulitan mendapatkan akses air bersih. Musim kemarau yang melanda menyebabkan hujan semakin jarang terjadi, padahal warga biasanya memanfaatkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Air sumur yang mulai terdampak intrusi air laut juga menambah daftar panjang penyebab terjadinya krisis air. Sebagai gantinya, warga terpaksa harus membeli air galon yang harganya cukup mahal.

Lain kisah terjadi di Jakarta, krisis air yang terjadi lebih disebabkan swastanisasi air bersih yang dilakukan oleh Pemprov DKI. Biaya berlangganan air PAM (Perusahaan Air Minum) termasuk cukup mahal terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Sumber air seperti sumur dan kali yang sudah mulai tercemar membuat warga Jakarta tidak bisa mengandalkannya lagi. Memasuki musim kemarau ini warga semakin kesulitan mendapatkan air bersih, karenanya himbauan pemerintah untuk menjaga jarak, rajin mencuci tangan dan anjuran pola hidup sehat lain di masa pandemi ini nampaknya tidak sejalan dengan ketersediaan air bersih di DKI Jakarta.

Seperti yang kita ketahui, selama pandemi ini kita dihimbau untuk selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar. Kita dianjurkan untuk selalu mencuci tangan dan menyemprotkan cairan desinfektan ke benda-benda yang selalu dipegang. Selain itu, kita juga dihimbau untuk selalu menjaga kesehatan tubuh dengan cara minum air putih sebanyak 8 gelas setiap harinya. Pola hidup baru yang sehat ini tentu membutuhkan lebih banyak air bersih dibanding biasanya.

Peningkatan Kebutuhan Air Bersih Selama Pandemi

Gambar Krisis Air
Ilustrasi Krisis Air © pixabay.com

Sebelum wabah COVID-19 melanda, kebutuhan air setiap orang adalah 150 liter/jiwa/hari menurut SNI 19-6728.1-2002 tentang Penyusunan Neraca Sumber Daya dan Departemen Kesehatan. Kegiatan umum yang melibatkan penggunaan air bersih meliputi sikat gigi, cuci pakaian (manual atau mesin), cuci piring, mandi, kakus, bersih-bersih rumah, siram tanaman, cuci kendaraan dan tentunya untuk air minum. Perhitungan jumlah kebutuhan air digunakan sebagai indikator konsumsi air dalam skala rumah tangga serta sebagai bahan evaluasi penyediaan sumber daya air.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Seiring merebaknya pandemi, kebutuhan masyarakat akan air bersih semakin meningkat dibanding biasanya. Hal ini dapat dilihat dari bertambahnya jumlah pemakaian air yang tercatat di perusahaan-perusahaan air minum yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Anjuran mencuci tangan selama 20 detik untuk mencegah penularan virus corona menjadi salah satu faktor meningkatnya penggunaan air, setidaknya 1.5 liter air terbuang dengan percuma untuk satu orang per hari. Jika satu keluarga memiliki 5 orang anggota keluarga, maka paling sedikit 100 liter air telah terbuang per hari hanya untuk urusan cuci tangan saja belum lagi penggunaan air untuk kebutuhan lainnya. Meskipun menurut laporan Water Environment Partnership in Asia (WEPA) Indonesia menyimpan 6 persen potensi air dunia, dengan adanya pandemi ini Indonesia  masih tetap beresiko mengalami kekurangan air.

Bijak Menggunakan Air

Ketersediaan air di masa pandemi ini harus menjadi salah satu faktor utama yang diutamakan oleh pemerintah. Edukasi secara menyeluruh perlu dilakukan agar masyarakat dapat bijak dalam menggunakan air terutama untuk kebutuhan pola hidup sehat di masa pandemi. KAWALI (Kawal Lingkungan Hidup Indonesia) sebagai organisasi pemerhati lingkungan menyarankan pemerintah untuk melakukan langkah-langkah penguatan kesiapsiagaan menghadapi kemarau yang berdampak pada ancaman kekeringan. Logistik dan peralatan, seperti tangki air bersih, penyediaan pompa air perlu diprioritaskan pada wilayah terdampak kekeringan. Kampanye hemat air dengan memanen air hujan dan memanfaatkan air limbah rumah tangga yang relatif bersih untuk dapat digunakan kembali juga dapat dilakukan sebagai alternatif lain untuk mengatasi krisis air.

Penyakit yang disebabkan oleh COVID-19 ini menjadi obat kesadaran diri agar lebih aware terhadap kebersihan dan kesehatan. Sayangnya dalam menjalankan aksi kepedulian terhadap kebersihan memerlukan modal yang besar. Modal berupa peningkatan penggunaan air bersih. Wajib hukumnya seluruh lapisan masyarakat untuk bijak dalam pemakaian air. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi penggunaan air bersih di masa pandemi ini. Untuk mengimbanginya bisa dengan cara-cara kecil seperti menampung air hujan, mencuci banyak pakaian sekaligus dan menggunakan bekas air wudhu untuk menyiram tanaman. Sekali lagi perlu ditekankan bahwa ini adalah tugas bersama.

Penulis: Reza Firnanto / Qorry Shofia Nurullail / Melynda Dwi Puspita

Dikurasi Oleh: Daning Krisdianti

 

 

Referensi:

https://www.bmkg.go.id/press-release/?p=perkembangan-musim-kemarau-tahun-2020&tag=&lang=ID

https://nasional.kompas.com/read/2020/06/30/16570451/bmkg-sebut-puncak-musim-kemarau-akan-terjadi-pada-agustus

Suoth, A. E., S. U. Purwati dan Y. Andiri. 2018. Pola konsumsi air pada perumahan teratur: studi kasus konsumsi air di Perumahan Griya Serpong Tangerang Selatan. Ecolab. 12 (2): 53-102.

Ambari, R. 2020. Kebutuhan Air Bersih di Tengah Pandemi Covid-19. Tersedia daring di: https://www.mongabay.co.id/2020/03/23/kebutuhan-air-bersih-di-tengah-pandemi-covid-19/. Diakses tanggal 5 Juli 2020 pukul 23:12 WIB.

Mawan, Agus. 2020. Air Bersih dan Akses Pangan Warga Sulbar di Masa Corona. Tersedia daring di: https://www.mongabay.co.id/2020/04/27/air-bersih-dan-akses-pangan-warga-sulbar-di-masa-corona/. Diakses tanggal 5 Juli 2020 pukul 23:35 WIB.

Idhom, Addi M. 2020. BMKG Prediksi Awal Kemarau Mulai April 2020, Puncak Musim Agustus. Tersedia daring di: https://tirto.id/bmkg-prediksi-awal-kemarau-mulai-april-2020-puncak-musim-agustus-eG9p. Diakses tanggal 5 Juli 2020 pukul 23:47 WIB.

https://www.mediagaruda.co.id/2020/04/13/jakarta-krisis-air-bersih-ditengah-andemic-covid-19/

https://wartakota.tribunnews.com/2020/06/02/waspadai-musim-kemarau-di-saat-masyarakat-hadapi-pandemi.

 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak!

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!