Krisis Keanekaragaman Hayati Akibat Meluasnya Pertanian

Gambar 1. Area Pertanian
Gambar 1. Area Pertanian © Geneticliteracyproject.org

Meluasnya Pertanian

Setiap tahun, luas area pertanian semakin bertambah seiring dengan bertambahnya populasi manusia. Rata-rata luas seluruh lahan pertanian subur di dunia mencapai sepertiga jumlah lahan yang ada di bumi. Meluasnya area pertanian juga ternyata berkaitan dengan berbagai permasalahan baru, khususnya hilangnya keanekaragaman hayati.

Ads

Tata guna lahan untuk pertanian dan pekerjaan manusia lainnya pada saat ini menjadi ancaman terbesar bagi keanekaragaman hayati bumi. Industri pertanian yang masif mempengaruhi habitat satwa sekaligus menaikkan daftar merah pada International Union for Conservation of Nature (IUCN). Perkembangan pertanian telah mengakibatkan dampak serius hingga mengakibatkan lebih dari 17.000 spesies di dunia kehilangan sebagian habitat.

Seiring dengan pertumbuhan populasi global, dan orang-orang menjadi lebih kaya dan mengkonsumsi lebih banyak, kebutuhan akan lahan pertanian baru akan terus meningkat. Diperkirakan, lahan pertanian baru akan bertambah setidaknya 2 juta km persegi pada tahun 2050, bahkan mungkin mencapai 10 juta km persegi.

Keanekaragaman hayati menurun di sebagian besar dunia. Rentang geografis spesies baru-baru ini ditemukan menyusut paling signifikan di daerah tropis, di mana misalnya hutan hujan telah dibuka untuk perkebunan kelapa sawit di Asia Tenggara dan untuk padang rumput di Amerika Selatan. Kemungkinan keadaan akan menjadi lebih buruk di masa depan, dengan gabungan masalah hilangnya habitat, perubahan iklim, dan eksploitasi berlebihan yang akan mendorong spesies dan habitat mendekati kepunahan.

 

Penelitian keanekaragaman hayati terkait perluasan pertanian

Para ilmuwan memperkirakan bahwa jika metode produksi pangan saat ini terus berlanjut, dunia kemungkinan akan membutuhkan antara 770.000 hingga 3,9 juta mil persegi lahan pertanian baru untuk memberi makan populasi planet yang tumbuh dan lebih kaya di masa depan. Perluasan pertanian dengan masif ini diperkirakan dapat menghancurkan habitat hampir 20.000 spesies mamalia, burung, dan amfibi pada tahun 2050.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Sekitar 88 persen dari spesies tersebut akan mengalami kehilangan habitat pada pertengahan abad jika sedikit yang dilakukan untuk mengekang perluasan sistem makanan. Bahkan, sekitar 1.200 spesies bisa kehilangan seperempat habitatnya.

Kehilangan habitat terbesar diprediksi terjadi di Sub-Sahara Afrika, khususnya di Lembah Celah dan khatulistiwa Afrika Barat, serta di Hutan Hujan Atlantik Brasil, di Argentina timur, dan di beberapa bagian Asia Selatan dan Tenggara.

Studi baru yang diterbitkan di Nature Sustainability berupaya menguji skema dampak pertanian terkait ancaman bagi spesies di masa depan. Penelitian itu juga menemukan bahwa perubahan sistem pangan dapat memberi peluang untuk mencegah hilangnya habitat spesies dan menjaga keanekaragaman hayati liar di seluruh belahan dunia. 

Para peneliti membagi hasil dalam beberapa skenario dari kemungkinan pertanian di masa depan. Di bawah skenario “bisnis seperti biasa” untuk pertanian dunia, yang akan melihat peningkatan populasi dan popularitas pola makan berbasis daging terus meningkat di masa depan, lahan pertanian global akan meningkat 26 persen dari 2010 hingga 2050. Peningkatan ini akan menyebabkan 19.859 spesies yang diteliti kehilangan rata-rata 7 persen dari habitatnya.

Apabila hanya sedikit yang dilakukan untuk menghentikan perluasan sistem makanan yang tidak terkendali, 1.280 spesies diperkirakan akan kehilangan lebih dari seperempat habitat mereka yang tersisa, 350 spesies dapat kehilangan lebih dari setengahnya, dan bahkan 33 spesies dapat kehilangan lebih dari 90 persen habitatnya.   

Berbeda dengan skenario pertama, skenario kedua yang dikembangkan oleh para peneliti mempelajari empat perubahan berbeda yang dilakukan pada sistem makanan dan pengaruhnya bagi habitat di masa depan. Perubahan ini mencakup peningkatan efisiensi pertanian global, transisi global ke pola makan yang lebih sehat dengan lebih sedikit produk hewani, pengurangan limbah makanan hingga separuhnya, dan perencanaan penggunaan lahan pertanian global untuk menghindari persaingan antara produksi pangan dan satwa liar.

Dalam skenario dengan empat perubahan ini, lahan pertanian global sebenarnya akan berkurang hampir 3,4 juta kilometer persegi dari tahun 2010 hingga 2050. Selain itu, laju rata-rata hilangnya habitat akan berkurang hingga 1 persen.

Peralihan global ke pertanian yang lebih efisien akan menghasilkan penghematan terbesar karena akan memungkinkan lahan dibebaskan di bagian dunia yang memiliki keanekaragaman hayati. Penghematan terbesar bisa datang dari efisiensi pertanian yang lebih besar di kawasan dunia berkembang, yang bisa membebaskan lahan dari alam, menurut penulis penelitian.

Gambar 2. Keanekaragaman Hayati
Gambar 2. Keanekaragaman Hayati © Insideclimatenews.org

Selain itu, peralihan global untuk mengonsumsi lebih sedikit produk hewani dapat membantu mencegah hilangnya habitat sekaligus membantu mengatasi krisis iklim. Hal ini lantaran produksi daging sangat mencemari karena hewan ternak seperti sapi dan domba mengeluarkan metana, gas rumah kaca yang kuat. Selain itu, produksi daging juga membutuhkan lahan yang luas untuk produksi pakan ternak dan menciptakan ruang penggembalaan peternakan. Pembukaan lahan ini menimbulkan deforestasi yang akan menyebabkan pelepasan CO2 ke atmosfer.

Yang mengkhawatirkan, ada banyak spesies yang diperkirakan akan kehilangan banyak habitat di masa depan, namun saat ini berada dalam status tidak terancam. Akibatnya, para pemerhati konservasi berkemungkinan tidak mengkhawatirkan mereka. Jenis spesies dan ramalan spesifik lokasi habitat satwa ialah hal penting agar kita semua bekerja secara proaktif untuk mencegah hilangnya keanekaragaman hayati.

Ancaman lain yang dihadapi alam liar, seperti perubahan iklim, polusi, perusakan habitat karena alasan lain semakin memperparah hilangnya keanekaragaman hayati secara besar-besaran. Menurut peneliti, konservasi konvensional sepertinya tidak dapat mengatasinya.

 

Menyelamatkan keanekaragaman hayati 

Pencegahan krisis kepunahan keanekaragaman hayati akibat meluasnya industri pertanian dan eksploitasi berlebihan perlu segera diatasi. Para ilmuwan telah memberi beberapa solusi untuk mengurangi kerusakan ini.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi hilangnya habitat. Salah satu langkah yang dapat diambil yaitu melakukan pemanenan yang berkelanjutan, termasuk meningkatkan hasil panen dari lahan subur yang ada untuk melindungi spesies dari kehilangan habitat. Perubahan keputusan penggunaan lahan untuk mengarahkan produksi pangan dari ekosistem yang kaya keanekaragaman hayati juga dapat membantu menahan hilangnya spesies.

Gambar 3. Hasil Pertanian
Gambar 3. Hasil Pertanian © Newindianexpress.com

Dari segi individu, orang-orang perlu beralih ke pola makan yang lebih sehat, termasuk mendorong orang untuk makan lebih sedikit kalori dan daging atau produk hewani, dan menstabilkan pertumbuhan populasi. Menurut Dr. Michael Clark, salah satu peneliti kelestarian lingkungan Oxford University, transisi global menuju pola makan yang lebih sehat juga dapat membantu mencegah hilangnya habitat. 

Begitu pula dengan mengurangi limbah makanan. Membuang lebih sedikit makanan akan meningkatkan keamanan pangan di seluruh dunia. Jika sebagian makanan di dunia yang selama ini terbuang dapat dicegah, jumlahnya akan cukup untuk memberi makan ratusan juta orang yang kelaparan di dunia. Dengan begitu, perluasan pertanian akan bisa ditekan di masa depan untuk memberi makan seluruh populasi manusia. 

Tindakan seperti kawasan lindung yang dikelola dengan baik, penegakan peraturan perburuan, dan pengelolaan sistem pertanian dengan cara yang memungkinkan spesies terancam bertahan di dalamnya, semuanya memiliki peran besar dalam mengurangi krisis keanekaragaman hayati. 

Menurut penelitian di Nature Sustainability tersebut, kombinasi dari tindakan di atas dapat menghindari sebagian besar hilangnya habitat yang terlihat dalam skema pertama. Namun, diperlukan upaya bersama dari pemerintah, perusahaan, LSM, dan masing-masing individu untuk melakukannya. Bila ini dilakukan, target konservasi keanekaragaman hayati yang ada juga akan mengalami kemajuan. 

 

Penulis: Destri Ananda 

Referensi Literatur

Independent.co.uk. 22 Desember 2020. More than 17,000 species worldwide to lose part of habitat if agriculture continues to expand. Dilansir pada 14 Januari 2021 dari laman https://www.independent.co.uk/environment/species-habitat-loss-agriculture-food-b1777097.html.

Theconservation.com. 21 Desember 2020. Almost 90% of the world’s animal species will lose some habitat to agriculture by 2050. Dilansir pada 14 Januari 2021 dari laman  https://theconversation.com/almost-90-of-the-worlds-animal-species-will-lose-some-habitat-to-agriculture-by-2050-152362

Theecologist.org. 9 November 2020. Habitat loss 18 percent since 1700s. Dilansir pada 14 Januari 2021 dari laman  https://theecologist.org/2020/nov/09/habitat-loss-18-percent-1700s

Theguardian.com. 10 Agustus 2016. Agriculture and overuse greater threats to wildlife than climate change – study. Dilansir pada 14 Januari 2021 dari laman  https://www.theguardian.com/environment/2016/aug/10/agriculture-and-overuse-greater-threats-to-wildlife-than-climate-change-study.

 

Referensi Gambar

https://www.newindianexpress.com/thesundaystandard/2020/apr/12/across-india-a-massive-agricultural-crisis-in-the-making-due-to-coronavirus-shutdown-2128892.html 

https://geneticliteracyproject.org/2017/12/08/big-ag-may-resonate-activists-really-mean/ 

https://insideclimatenews.org/news/04012017/agriculture-climate-change-paris-agreement-global-warming-drought/ 

 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk melakukan kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di daerahmu. Mari kita sama-sama melestarikan lingkungan dan menjaganya. 

Yuk bergabung bersama kami sebagai pioneer penghijauan!