Kromojati: Tradisi Pernikahan yang Menghijaukan Lingkungan

Gambar 1. Penanaman pohon
Gambar 1. Penanaman pohon

Hai, Sobat Alam! Yang masih jomblo sudah kepikiran buat nikah belum? Pernikahan merupakan salah satu hal yang sakral dan mungkin ditunggu oleh beberapa orang di hidup mereka. Karena dengan pernikahan mampu merubah hidup orang itu sendiri dan mereka akan melangkah ke kehidupan yang baru. Setiap daerah memiliki upacara, tradisi, budaya, atau adat mereka masing-masing dalam melaksanakan upacara pernikahan. Kali ini, kita akan membahas salah satu tradisi pernikahan unik yang ada di Indonesia Sobat Alam yaitu Kromojati. Yuk, kita baca tentang apa tradisi Kromojati tersebut.

Ads

Apa itu Tradisi Kromojati?

Kromojati merupakan salah satu tradisi pernikahan yang ada di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di Desa Bohol, Rongkop, di bagian tenggara Kabupaten Gunungkidul. Nama Kromojati sendiri merupakan gabungan dari 2 kata bahasa Jawa yaitu Kromo dan Jati. Kromo berarti pernikahan, sedangkan jati sendiri artinya adalah sejati dan pohon jati. Apabila kita menelaah lebih dalam, arti dari Kromojati sendiri ialah ikatan pernikahan yang sejati. Hal ini diwujudkan dengan aksi penanaman pohon jati itu sendiri, dimana harapannya pasangan tersebut memiliki kecukupan finansial dan pohon jati tersebut merupakan tabungan dari pasangan tersebut (Nurokhmah dkk, 2018). Pernikahan ini berlangsung dengan adanya syarat bahwa calon pengantin pria dan wanita harus menanam 10 benih pohon jati di tanah desa yang kritis.      

Asal-usul Kromojati

Gambar 2. Warga Desa Bohol
Gambar 2. Warga Desa Bohol

Tradisi Kromojati sendiri berasal dari tingginya tingkat kerusakan lingkungan di Indonesia. Sebuah penelitian di tahun 2010 oleh Universitas Adelaide menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat keempat dalam kategori tersebut (Nurokhmah dkk, 2018). Dari kejadian ini muncullah sebuah istilah lahan kritis, dimana daerah tersebut telah kehilangan penutupan vegetasi dan juga hilangnya beberapa fungsi daerah hijau seperti penahan air, pengendali erosi, dll. sehingga tanah di daerah tersebut bisa kita sebut rusak (Nurokhmah dkk, 2018). Data yang dimuat pada 2013 menunjukkan bahwa negara kita memiliki sekitar 24.196 hektar lahan kritis. Salah satu tindakan yang tepat dalam penanganan hal ini yaitu konservasi hutan.  

Di Desa Bohol tersebut terdiri dari 8 dusun dan 2 diantara dusun tersebut mengalami lahan kritis. Dua dusun tersebut ialah Dusun Wuru dan Gamping dengan total lahan kritis sekitar 123 hektar. Akhirnya datanglah sebuah ide dari Kepala Desa Bohol yang bernama Widodo untuk mengatasi lahan kritis yang ada di desa tersebut. Setelah berdiskusi dengan tokoh desa lainnya munculah ide Kromojati tersebut. Nurokhmah dkk (2018) menyebutkan bahwa Kromojati hadir sebagai kearifan lokal karena pada zaman sekarang masyarakat membutuhkan pendekatan yang mudah diterima dan dimengerti oleh masyarakat. Alasan mengapa dipilihnya pohon jati ialah karena kayu jati memiliki nilai ekonomi yang tinggi, selain itu lahan di Desa Bohol kering, sehingga sesuai bila menjadi media tanam pohon jati. Tradisi Kromojati sendiri telah berubah menjadi hukum adat. Hal ini berdampak kepada patuhnya masyarakat dalam tujuan konservasi daerah hutan untuk menyeimbangkan dengan perkembangan zaman modern yang menyalahgunakan SDA.  

Dampak Kromojati

Menurut Nurokhmah dkk (2018) ada beberapa manfaat Kromojati dalam beberapa aspek yaitu sebagai berikut:

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com
  • Lingkungan

Adanya tradisi ini bisa membuat warga lokal berpartisipasi dan menumbuhkan rasa peduli dengan lingkungan sekitar. Selama tahun 2005-2011, lahan kritis di Desa Bohol berkurang hingga 100 hektar. Hal ini juga tidak hanya disebabkan Kromojati namun juga beberapa pihak yang juga peduli tentang kondisi tersebut. Selain itu Desa Bohol juga banyak memenangkan penghargaan dari pemerintah dengan adanya penghijauan melalui tradisi Kromojati ini seperti: Juara 1 Lomba Kesehatan Lingkungan tingkat provinsi DIY pada 2006, Juara 1 Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam tingkat Kabupaten Gunungkidul, dll.

  • Sosial budaya

Menumbuhkan sifat teratur dan peduli terhadap lingkungan sekitar dan juga melekatnya tradisi Kromojati hingga saat ini.

  • Ekonomi dan pembangunan

Adanya hukum yang mengatur Kromojati ini bisa menjadikan tabungan bagi masyarakat Desa Bohol. Ditambah lagi, kayu hasil penanaman dari uang desa juga bisa digunakan untuk pembangunan fasilitas desa seperti pos ronda, balai desa, dll.

Prosedur pernikahan Kromojati

Gambar 3. Prosesi pernikahan adat Jawa
Gambar 3. Prosesi pernikahan adat Jawa

Prosedur pernikahan Kromojati sendiri hampir mirip dengan rangkaian upacara pernikahan pada umumnya. Layaknya upacara pernikahan adat Jawa, berikut langkah-langkah pernikahan Kromojati:

  1. Proses lamaran calon mempelai pria terhadap calon mempelai wanita. Di sini pihak wanita bisa menolak lamaran tersebut. Pada tahap ini akan dilakukan kesepakatan mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan pernikahan.
  2. Selanjutnya ada seserahan dari pihak pria kepada pihak wanita. Pada seserahan ini bisa berupa sandang maupun pangan. Akan tetapi di dalam tradisi Kromojati ini seserahannya berupa benih pohon jati.
  3. Ketiga, ada istilah ngetung dina atau mencari hari baik untuk menikah.
  4. Yang terakhir ada sinoman dimana adanya kegiatan gotong royong dalam persiapan pernikahan calon pengantin seperti memasak. 

Nah, gimana Sobat Alam? Sudah mengerti belum salah satu tradisi pernikahan yang unik ini? Apa kalian juga akan menerapkan hal yang sama di hari pernikahan kalian nanti? Dengan adanya tradisi Kromojati setidaknya ada langkah kecil untuk mengobati sekian banyak lahan kritis yang ada di Indonesia. Mari kita hijaukan lagi Indonesia dengan melakukan konservasi hutan terutama pada lahan kritis! 

 

Penulis: Muchammad Rivandi Fatchur Rachman

 

Referensi Literatur

Nurokhmah, Witir, D. W., & Larasati, T. I. (2018). Model Pelestarian Lingkungan Hidup Melalui Hukum Adat Kromojati. Jurnal Ilmiah Penalaran dan Penelitian Mahasiswa, 22-31.

Plaminan. (n.d.). Pernikahan Kromojati: Pernikahan Adat yang Cukup Unik. Retrieved Januari 25, 2021, from Plaminan: https://www.plaminan.com/blog/pernikahan-kromojati/. 

 

Referensi Gambar

  https://www.idntimes.com/science/discovery/nena-zakiah-1/alasan-kita-harus-menanam-lebih-banyak-pohon (Foto 1)

https://www.bohol-rongkop.desa.id/first/artikel/92 (Foto 2)

http://fashionoid.net/amp/begini-loh-prosesi-pernikahan-untuk-pengantin-adat-jawa/ (Foto 3)

 

LindungiHutan.com merupakan Platfrom Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk melakukan kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari kita sama-sama melestarikan lingkungan dan menjaganya. 

 

 Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!