Lahan Basah (Wetland) Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan. Letak Indonesia terbentang di antara dua benua yaitu Benua Asia dan Australia serta di antara Samudra Pasifik dan Hindia. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum, Indonesia tercatat memiliki 17 ribu pulau.  Dari jumlah itu yang telah memiliki nama baku di PBB sejumlah 16 ribu pulau dan 11 ribu pulau di antaranya telah berpenghuni.

Ads

Indonesia juga memiliki wilayah sangat luas mencapai 5 juta kilometer persegi yang terdiri dari lautan dan daratan.  Luas daratan Indonesia mencakup sepertiga dari total luas wilayah Indonesia dengan angka kisaran 1 juta kilometer persegi, sedangkan luas perairannya mencapai 3 juta kilometer persegi dengan garis pantai sepanjang 99 ribu kilometer. Berdasarkan letak astronomis, Indonesia terletak di antara 6° LU-11°LS dan 95°BT-141°BT. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara beriklim tropis.

Kondisi itulah yang menyebabkan Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi baik flora dan fauna. Dari situ, Indonesia dijuluki sebagai negara Mega Biodiversity. Daerah Indonesia yang mempunyai keanekaragaman yang sangat tinggi yaitu terdapat di kawasan hutan. Namun nyatanya, pada lahan basah juga memiliki keragaman flora dan fauna yang berlimpah dan unik. Apa sebenarnya lahan basah itu?

Pengertian Lahan Basah

Ada begitu banyak arti lahan yang muncul dari berbagai persepsi, sehingga untuk mendefinisikan pengertian lahan sangatlah sulit. Bagi seorang petani lahan diartikan sebagai sebidang tanah yang dapat digarap untuk berkebun maupun sawah, namun bagi seorang pengembang lahan (developer) mengartikan bahwa lahan adalah daerah tempat membangun perumahan, industri dan bagunan lainnya.

Pengertian tentang lahan seringkali disama artikan dengan pengertian tanah, karena adanya dua persepsi dalam melihat lahan. Persepsi pertama yaitu lahan sebagai lahan (land) dan persepsi kedua yaitu lahan sebagai tanah (soil).

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Dari dua persepsi di atas, dapat dipahami bahwa pengertian lahan setidaknya mengandung dua arti yaitu yang sepadan dengan lahan dan tanah yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Lahan juga dapat  diartikan sebagai suatu wilayah (regional), yang menjadi lingkungan hunian manusia dan ragam hayati yang lain.

Lahan Basah
Gambaran dari lahan basah © Dokumentasi pixabay.com

Di Indonesia terdapat dua jenis lahan secara umum yaitu lahan kering dan lahan basah. Dari kedua lahan tersebut, lahan basah yang memiliki keanekaragaman hayati lebih tinggi dibanding lahan kering. Hal ini, karena adanya perpaduan antara ekosistem perairan dan daratan pada lahan basah.

Dalam bahasa Inggris lahan basah disebut wetland. Yang dimana wet artinya basah dan land artinya tanah atau lahan. Namun dalam bahasa Perancis para pakar menggunakan istilah Zone Humides. Lahan basah memiliki banyak sebutan yang berbeda-beda dari berbagai sudut negara tapi tetap memiliki arti yang sama. Lahan basah merupakan  suatu wilayah yang tanahnya tergenang air karena keadaan tanah yang jenuh terhadap air baik secara permanen maupun musiman. Genangan air tersebut biasanya dapat berupa air mengalir ataupun diam.

Umumnya lahan basah yang ditemukan di Indonesia yaitu seperti endapan tanah rendah sesudah air pasang surut, genangan air, mangrove (hutan bakau) yang banyak terdapat di  Pulau Sumatera, Kalimantan dan Irian Jaya.

Menurut Hardjasoemantri (1991) lahan basah dianggap masyarakat sebagai wilayah yang tidak menarik bahkan dianggap berbahaya. Pada kenyataannya  lahan basah di samping menyimpan berjuta flora dan fauna yang unik juga memiliki kandungan air yang cukup tinggi. Di beberapa masyarakat belahan dunia sangat bergantung pada lahan ini. Contohnya masyarakat Asia yang makanan pokoknya tergantung pada beras yang ditanam di lahan basah.

Lahan kering pada umumnya berupa hanya lahan atasan, ciri khusus yang membedakan lahan kering dengan lahan basah ada pada sumber air. Sumber air bagi lahan kering adalah air hujan, sedangkan bagi lahan basah di samping air hujan juga dari sumber air irigasi. Berdasarkan pembentukannya lahan basah terbagi menjadi dua yaitu dalam bentuk alami dan bentuk buatan. Baik lahan basah alami maupun buatan ternyata keberadaannya sangat penting bagi ekosistem dunia.

Jenis-Jenis Lahan Basah

Secara umum, lahan basah berbeda dengan perairan. Hal ini karena lahan basah memiliki ciri tinggi muka air yang dangkal, dekat dengan permukaan tanah, dan memiliki jenis tumbuhan yang khas. Berdasarkan sifat dan ciri tersebut lahan basah kerap disebut sebagai wilayah peralihan antara daratan dan perairan. Menurut Konvensi Ramsar, pengertian lahan basah adalah:

“Area rawa, lahan gambut atau air, baik alami atau buatan, permanen atau sementara, dengan air yang statis atau mengalir, segar, payau atau asin, termasuk area air laut dengan kedalaman saat surut tidak melebihi enam meter.”

Konvensi Ramsar membagi lahan basah berdasarkan ciri fisik dan biologi menjadi 10 kategori buatan dan 32 kategori alami. Lahan basah alami meliputi rawa-rawa, paya-paya, lahan gambut, dan riparian (tepian sungai). Sedangkan lahan basah buatan meliputi waduk, sawah, saluran irigasi, dan kolam. Berikut penjelasan dari macam-macam jenis lahan basah alami.

1.  Rawa-Rawa

Rawa adalah daerah yang hampir selalu tergenang air sepanjang tahun, atau selama waktu yang panjang dalam setahun, selalu jenuh air atau tergenang air dangkal. lahan rawa memiliki banyak sebutan umum yaitu swamp,marsh,bog,dan fen, yang berbeda satu sama lain. Istilah umum untuk rawa adalah swamp, yaitu wilayah yang tergenang oleh air yang diam dan ditumbuhi berbagai vegetasi dari semak-semak hingga pohon-pohonan.

Istilah marsh yang kerap disebut sebagai lahan basah mineral merupakan suatu wilayah yang tergenang oleh air yang berasal dari air laut atau banjir dari sungai dan sifatnya hanya sementara.

Istilah bog atau lahan basah organik adalah rawa yang tergenang air dangkal, permukaan tanahnya tertutup oleh vegetasi yang melapuk yang didominasi oleh lumut sphagnum,  yang menghasilkan lapisan gambut yang sifatnya masam.

Lumut
Lumut sphagnum yang terdapat di lahan basah © Dokumentasi planetahuerto.es

Fen adalah rawa yang tanahnya jenuh air, permukaan tanahnya ditumbuhi rumputan rawa, air tanahnya bersifat alkalis yang biasanya mengandung kapur atau netral.

Di Indonesia rawa biasanya berupa hutan rawa air tawar, hutan rawa gambut, dan  hutan bakau. Hutan rawa air tawar atau banjir hutan adalah hutan yang tergenang oleh air tawar, baik secara permanen maupun musiman yang  biasanya terjadi di sepanjang hilir sungai dan sekitar danau air tawar. Hutan rawa gambut atau rawa hutan adalah hutan yang tanahnya tergenang air dan permukaanya  ditutupi oleh vegetasi yang melapuk, yang dari waktu ke waktu menciptakan lapisan tebal gambut bersifat asam.

Mangrove
Gambaran Hutan Bakau atau Mangrove © Dokumentasi samudranesia.id

Hutan bakau atau hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Keberadaan hutan ini yaitu pada tempat-tempat yang terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik.

2.  Paya-Paya

Lahan basah paya
Gambaran Lahan Basah Jenis Paya © Dokumentasi acehviral.com

Paya merupakan  hamparan lahan yang luas seperti lapangan dan tergenang air sepanjang waktu. Banyak orang yang menyebut paya ini sebagai rawa dangkal karena genangan airnya dangkal dan dapat dilalui . Umumnya genangan air di paya berupa air tawar, payau maupun air asin.

3.  Lahan Gambut

Lahan basah gambut
Gambaran Lahan Basah Jenis Gambut © Dokumentasi mongabay.co.id

Lahan gambut merupakan lahan yang tanahnya terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan dengan kondisi setengah membusuk. Karena itu, lahan gambut memiliki kandungan organik yang cukup tinggi, sehingga karakter tanahnya subur. Karakter tanah tersebut membuat lahan gambut semakin berkurang karena adanya perubahan fungsi lahan menjadi lahan perkebunan.

4.  Riparian

Lahan basah riparian
Gambaran Lahan Basah Jenis Riparian © Dokumetasi id.wikipedia.org

Riparian adalah wilayah peralihan antara daratan dengan sungai. Riparian memiliki  karakteristik yang khas karena berupa paduan antara daratan dan perairan. Wilayah riparian mempunyai peranan penting dari segi ekologi, pengelolaan lingkungan dan rekayasa sipil.

Disamping lahan basah terbentuk secara alami, terdapat lahan basah buatan yang merupakan  wilayah hasil rancangan manusia yang tersusun atas air, tanaman, dan hewan. Umumnya dirancang untuk pemurnian air tercemar dengan mengoptimalkan proses, biologi, fisika dan kimia yang saling terintegrasi. Lahan ini juga untuk dimanfaatkan oleh manusia.

Sistem Ekosistem Lahan Basah

Secara Tipologi ekosistem lahan basah dapat terdiri dari ekosistem air tawar dan ekosistem estuari. Ekosistem air tawar terdiri dari air yang tenang seperti: empang, rawa, kolam dan air mengalir seperti: sungai, sumber air. Sedangkan ekosistem estuari terpengaruh adanya pasang surut air laut, seperti payau, mangrove, rumput laut, dan laguna.

Menurut William E. Nearing dan para pakar lingkungan telah mengelompokkan lahan basah menjadi 5 sistem sebagai berikut:

  • Marine
  • Estuarine
  • Lacustrine
  • Riverine
  • Palustrine

Lahan basah pada ekosistem marine dan estuarine contohnya ada lahan basah pantai seperti rawa pasang surut, mangrove (hutan bakau), sedangkan ekosistem lacustrine, riverine, dan palustrine merupakan ekosistem air tawar. Contoh dari lacustrine yaitu perairan danau. Contoh dari riverine yaitu kali, sungai kecil. Contoh dari palustrine yaitu rawa-rawa, payau, tanah berlumpur atau daerah yang sejenis lainnya.

Fungsi Lahan Basah

Lahan basah memiliki peran dalam aspek kehidupan makhluk hidup. Lahan basah berfungsi melindungi tepi laut dari gelombang laut, mengurangi dampak banjir, menyerap polutan atau pencemar, dan meningkatkan kualitas air. Tanpa lahan basah, bagai bumi tanpa air dan kekeringan. Lahan basah juga menjadi habitat hewan dan tumbuhan yang tidak dapat ditemukan di tempat lain.

  • Kesejahteraan Masyarakat Lokal

Lahan basah mempunyai potensi sebagai penyokong ekonomi lokal. Dengan menggunakan lahan basah secara bijaksana dengan memanfaatkan lahan basah sebagai sumber mata pencaharian seperti bernelayan dan bertani . Hal ini dapat mensejahterakan masyarakat lokal sekaligus mengurangi kemiskinan.

  • Sumber Air

Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi berimbah pada pemenuhan kebutuhan air yang semakin meningkat. Adanya lahan basah membantu pengadaan air bersih bagi masyarakat sekitar. Sebab, lahan basah berfungsi sebagai tempat  penampung air hujan yang sewaktu-waktu dapat digunakan ketika musim kemarau panjang.

Keberadaan lahan basah dapat  menyerap limbah yang berbahaya dan membantu proses penyaringan alami. Sehingga hasil akhir yang didapat adalah  air tanah yang layak untuk dikonsumsi.

Lahan basah juga berperan sebagai penyeimbang dalam berbagai siklus kehidupan dan komponen lainnya, terutama menjadi penyediaan air yang sangat krusial bagi kebutuhan makhluk hidup.

  • Meredam Risiko Bencana

Lahan basah berfungsi melindungi masyarakat lokal dari berbagai bencana yang kerap terjadi, seperti banjir maupun abrasi. Hal ini terjadi karena lahan basah mampu mengelola dan menyerap air hujan secara maksimal.

  • Penyimpan Karbon

Lahan basah mampu menyerap karbon dan menjadi salah satu penyimpan karbon permukaan (top carbon) bumi. Adanya pelestarian dan pemulihan lahan basah sehingga dapat mengurangi emisi karbon dan meningkatkan kemampuan makhluk hidup untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim.

  • Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati yang berlimpah sehingga bermanfaat untuk menjaga kelestarian ekosistem yang ada di dalamnya. Selain melimpah tapi juga unik, karena adanya perpaduan antara ekosistem perairan dan daratan.  Yang menjadi tempat hidup untuk flora dan fauna yang tidak dapat ditemukan ditempat lain.

Flora di lahan basah meliput Kayu Galam (Melaleuca cajuputi). Pohon ini umumnya tumbuh di daerah rawa serta memiliki daya tahan terhadap keasaman yang tinggi. Pada daerah paya umumnya ditumbuhi oleh gelagah, mending, wlingi, serta jenis terna meliputi bakung, teratai dan sebagainya. Di daerah paya jarang ditumbuhi tanaman berkayu.

Pada lahan gambut biasanya menjadi habitat jamur, paku-pakuan, pohon sagu, sassafras sampai jenis ginseng. Lahan gambut juga menjadi lokasi perkebunan buah-buahan. Hal ini karena lahan gambut memiliki karakteristik tanah yang subur sehingga didominasi oleh berbagai jenis tanaman.

Kekayaan fauna sebanding dengan keragaman jenis tumbuhan di lahan basah. Berbagai macam reptil seperti biawak, buaya, ular, kura-kura, serta kodok merupakan penghuni wilayah ini. Berbagai jenis ikan juga penghuni wilayah perairan dan harimau, gajah, serta berbagai jenis mamalia dan burung menjadi penghuni daratan.

Ada sekitar 35 spesies mamalia, 150 spesies burung dan 34 spesies ikan yang dapat ditemukan pada lahan gambut. Selain itu, ada hewan endemik yang dilindungi  diantaranya orang utan, buaya senyulong, beruang madu, langur dan harimau.

Lahan Basah di Indonesia

Indonesia memiliki setidaknya 30 juta hektar lahan basah yang tersebar di berbagai pulau.

Tahun ke tahun, lahan basah semakin berkurang. Lahan basah sudah banyak yang dikonversi menjadi daerah perkotaan, pemukiman, pertanian, dan eksploitasi lainnya. Bahkan Ibukota Indonesia pun dulunya adalah sebuah rawa yang berarti termasuk sebagai lahan basah.

Lahan gambut dan  hutan bakau atau mangrove, menjadi dua jenis lahan basah yang mengalami kerusakan serius di berbagai wilayah Indonesia. Pasalnya, lahan gambut di Kalimantan dan Sumatra sudah berubah menjadi lahan perkebunan. Ribuan hektar hutan bakau atau mangrove juga telah hilang karena adanya perubahan fungsi lahan untuk kegiatan budidaya perairan. Satwa dan tumbuhan yang hidupnya bergantung pada lahan basah juga terancam.

Mengingat bahwa lahan basah sangat vital sebagai penjaga keseimbangan ekosistem daratan dan perairan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan flora dan fauna. Disisi lain juga menjadi sumber mata pencaharian dan kebutuhan manusia. Maka dari itu, perlu upaya pelestarian dan pemulihan lahan basah khususnya lahan gambut dan hutan bakau atau mangrove yang sudah mulai musnah di beberapa wilayah Indonesia saat ini.

Penulis : Tasyah Anjani

Referensi :aa

[1]Badan Litbang Pertanian. 2018. Membangun Kemampuan Pengelolaan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. litbang.pertanian.go.id. Tersedia dalam http://www.litbang.pertanian.go.id/buku/membangun-kemampuan-pengelolaa/BAB-III-2.pdf. Diakses 7 Oktober 2020.

[2]Deliyanto, Bambang. 2014. Pengenalan Lahan. Universitas Terbuka Repository. Tersedia dalam http://repository.ut.ac.id/4348/1/LING1002-M1.pdf. Diakses 6 Oktober 2020.

[3]Fatmawati, Annisa. 2020. Lahan Basah: Pengertian, Sebaran, dan Jenis. foresteract.com.Tersedia dalam https://foresteract.com/lahan-basah/. Diakses 7 Oktober 2020.

[4]Hamdi, Lenny. 2018. Lahan Basah (wetland) Lanjutan. Jurnalpublik.com.  Tersedia dalam https://www.jurnalpublik.com/2018/02/01/lahan-basah-wetland-lanjutan/. Diakses 7 Oktober 2020

[5]Iqbal,Muhammad. 2019. Sebagai Negara Pulau Terbesar, Ini Jumlah Pulau di Indonesia. 99.co. Tersedia dalam https://www.99.co/blog/indonesia/jumlah-pulau-di-indonesia/#:~:text=Berdasarkan%20data%20dari%20Direktorat%20Jenderal,Riau%20dengan%20pulau%20sebanyak%202.408. Diakses 6 Oktober 2020.

[6]P, Sugeng Harianto dan Bainah Sari Dewi. 2017. Biodiversitas Fauna di Kawasan Budidaya Lahan Basah. LPPM Unila. Tersedia dalam http://repository.lppm.unila.ac.id/4352/1/biologi%20konservasi%20gabung.pdf. Diakses  7 Oktober 2020.

[7]Pramudianto, Andreas. 1994. Kawasan Lahan Basah dalam Konsep Hukum Global dan Keberadaanya di Indonesia. Jurnal Lingkungan dan Pembangunan. Tersedia dalam https://staff.blog.ui.ac.id/andreas.pramudianto/page/2/. Diakses 7 Oktober 2020.

 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak!

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!