Lahirnya Hutan Hantu Akibat Perubahan Iklim

Gambar 1 Keadaan Hutan yang Memburuk
Gambar 1 Keadaan Hutan yang Memburuk

Perubahan iklim semakin nyata kita rasakan saat ini. Banyak tatanan kehidupan yang sekarang agak atau bahkan kacau karena perubahan iklim. Dewasa ini banyak sekali yang menyebabkan perubahan iklim menjadi lebih cepat. Bisa jadi dari manusia atau alam itu sendiri.  

Ads

Hutan adalah salah satu yang paling merasakan perubahan iklim. Mulai dari kebakaran hutan hingga peningkatan kadar garam di dalam tanahnya. Karena perubahan iklim tersebutlah banyak hutan yang saat ini mengalami degradasi, bukan hanya pepohonan yang dirugikan, tapi seluruh keanekaragaman hayati yang ada di dalam hutan. 

Kasus kenaikan kadar garam di hutan sekiranya saat ini terjadi di hutan lindung yang ada di Carolina Utara. Hutan lindung di sana mengalami kerusakan yang cukup parah. Untuk tau lebih banyak lagi, Silakan baca di bawah ini, ya guys.

Kadar Garam Memberi Dampak Negatif

Perubahan iklim banyak membawa dampak negatif. Salah satu contohnya adalah kerusakan hutan yang diakibatkan dari kenaikan air laut. Karena kenaikan air laut tersebut, lahan hutan sekitarnya mengalami kenaikan kadar garam juga. Kadar garam yang terlalu tinggi tidak baik untuk benih dan tanah. Karena dapat mempengaruhi kelembaban dari benih dan tanah. Sehingga terjadilah krisis di lahan yang mengalami kenaikan kadar garam.

Perubahan iklim tak serta merta datang dengan sendirinya. Kegiatan manusia menjadi salah satu faktor yang menyebabkan perubahan iklim terjadi sangat cepat. Alam juga menjadi faktor lainnya. Jadi, terkadang manusia dan alam bekerja sama dengan baik satu sama lain.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Lahan hutan yang paling tampak nyata terkena dampak kenaikan kadar garam di dalam tanahnya adalah Hutan Lindung Carolina Utara. Pepohonan di dalam hutan tersebut mengalami kematian secara massal. Hal tersebut membuat Suaka Margasatwa Sungai Alligator, Carolina disebut hutan hantu oleh para peneliti karena kurangnya kehidupan di dalam hutan tersebut. Pohon di hutan tersebut hanya batang tanpa daun dan dahan. 

Air laut meningkatkan kadar garam di sepanjang pesisir pantai Atlantik, Maine hingga Florida. Kenaikan air laut tak hanya berdampak buruk pada hutan saja. Seluruh ekosistem yang ada di dalam hutan ikut merasakan dampak yang diakibatkan dari kenaikan air tanah. Tidak hanya hutan yang terancam, bisnis kehutanan yang dibuat manusia juga akan merasakan dampak buruk karena hutan yang rusak.

Kenaikan air laut memberi dampak negatif terhadap lahan basah. Karena kenaikan air laut terus bertambah, lahan basah akan semakin basah dan kadar garam secara otomatis akan bertambah pula. Maka pepohon tak dapat bertahan hidup di daerah yang kandungan garamnya cukup tinggi. Lahan basah yang menyerap banyak kadar garam akan menyimpan karbon dalam jumlah besar. Tentu ini juga akan berdampak buruk pada satwa liar lainnya. Serigala merah dan burung pelatuk bersayap merah adalah satwa yang menjadi korban utama kerusakan hutan. Hal tersebut dikarenakan mereka kekurangan makanan dan habitat mereka semakin tergerus karena hutan sebagai habitat alami mereka mengalami kerusakan.

Selama masa kekeringan yang cukup lama, air laut naik dan menyebar melalui parit dan kanal menuju ke dalam hutan. Hutan yang kekeringan menyerap air laut dengan bantuan angin dan air pasang. Pepohonan mati dengan batang pucat, tanpa daun, dan tanpa dahan. Ini menjadi pertanda tingginya kadar garam di dalam tanah. Jika ini terus berlangsung, maka hutan tidak akan dapat bertahan.

Hutan Hantu yang Terlihat dari Angkasa.

Gambar 2 Perbedaan Hutan Hantu dan Hutan Alami
Gambar 2 Perbedaan Hutan Hantu dan Hutan Alami

Tak seperti namanya ‘hutan hantu’. Nyatanya hutan ini dapat dilihat terlebih lagi dari angkasa. Yap, dari angkasa kita bisa melihat hutan hantu. Tapi tentu saja dengan bantuan satelit. Sejauh ini tidak ada manusia yang bisa terbang  ke angkasa dan melihat bumi tanpa alat bantu, bukan? Jadi kita masih butuh alat bantu yakin dengan bantuan satelit untuk melihat keluar angkasa atau melihat bumi dari luar angkasa. Untungnya dengan kemajuan teknologi yang pesat, para peneliti dapat melihat hutan dari angkasa dan membandingkan dengan hutan lainnya secara nyata.

Emily Ury dan rekan-rekannya dari Duke University, melakukan penelitian terhadap keadaan hutan yang berada di Carolina Utara. Tapi tentu saja mereka membutuhkan perspektif yang lebih luas lagi untuk melihat perubahan yang telah terjadi selama ini di Suaka Margasatwa Sungai Alligator, Carolina Utara, Amerika serikat, agar para peneliti memiliki banyak bahan analisa dan dapat memperkuat penelitian yang mereka lakukan.

Gambar 3 Hutan Hantu terlihat dari angkasa
Gambar 3 Hutan Hantu terlihat dari angkasa

Maka mereka menggunakan alat bantu, yakni satelit landsat. Satelit landsat telah diluncurkan sejak tahun 1972 untuk melihat perubahan yang terjadi. Satelit landsat dioperasikan bersama oleh NASA dan Survei Geologi AS. Bantuan citra landsat terlihat penampakan perubahan hutan yang disebabkan oleh manusia dan alam sendiri. Pada tahun 1984 para peneliti menggunakan citra landsat para peneliti dari Duke University melihat perubahan vegetasi di hutan hantu menggunakan bantuan Google Earth dengan resolusi tinggi. Setelah itu para peneliti menganalisis dengan komputer yang mengidentifikasi bidang yang berwarna abu-abu ternyata adalah pohon yang mati, sejak saat itu hutan hantu telah teridentifikasi.

Telah ditemukan sebanyak 10% kerusakan Suaka Margasatwa Sungai Alligator, Carolina Utara selama 35 tahun terakhir. Padahal itu adalah daerah yang dilindungi oleh pemerintah federasi. Tentu saja segala kegiatan yang berbau merusak hutan dilarang keras oleh pemerintah. Tak ada pula masyarakat yang melakukan kegiatan di dalam hutan tersebut. Ini terjadi karena perubahan iklim yang merusak hutan. 

Selama 35 tahun pula para peneliti menghitung sudah 8500 hektar pohon yang mati karena meningkatnya kadar garam yang ada di hutan sekitar pesisir pantai. Luas sekali lahan yang sudah rusak. Sedangkan jarak hutan dan pantai hanya 1 kilometer. 

Kerusakan hutan bertambah parah karena hutan tak dapat cepat beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah. Saat air laut naik, hutan akan lebih basah dan lebih asin lagi. Diperparah lagi dengan perubahan iklim yang menyebabkan kekeringan, badai biasa, dan badai besar. Keadaan hutan yang semakin parah ini seperti menunggu kematian yang sesungguhnya. Hutan yang sulit beradaptasi dan perubahan iklim semakin memperburuk keadaan. 

Pada tahun 2012, agaknya mendengar tahun 2012 akan teringat ramalan suku maya, bahwa kiamat akan datang saat itu. Rasanya ramalan suku maya tak salah amat. Karena kiamat kecil terjadi, daerah tutupan hutan hilang. Setelah kekeringan ekstrim yang terjadi di daerah tersebut, kebakaran hutan dan gelombang badai dari badai irene, pada tahun 2011. Dalam beberapa tahun tiga bencana alam merusak keadaan hutan yang sudah rusak. 

Keadaan hutan sudah diujung tanduk. Keadaan pepohonan sudah tak ada harapan untuk kembali hidup lagi. Pepohonan berdiri tidak lagi menunjukan kemegahan mereka. Mereka malah terlihat seperti nisan kayu untuk mereka sendiri. Ini menambah panjang kasus kerusakan hutan saat ini. Tentu saja banyak orang yang sudah sadar akan hal ini. Tapi banyak juga yang belum sadar kerusakan hutan bisa merusak tatanan kehidupan.

Dilema, Transisi Hutan, atau Mempertahankan Hutan Seperti Sedia Kala

Meningkatnya air laut global, hutan pesisir teluk Meksiko hingga teluk Chesapeake mengalami kerugian yang cukup parah. Hutan pesisir mereka semakin tinggi kadar garam di dalam tanah. Hal ini tentu mengancam keberlangsungan hidup flora dan fauna di dalam hutan pesisir. Keadaan yang semakin memburuk membuat para penggiat konservasi memikirkan kembali bagaimana mengelola lahan dan mengeksplorasi, agar hutan tidak menjadi rawa garam. 

Tapi tentunya tak mudah untuk melakukan kegiatan pengelolaan dan mengeksplorasi. Keadaan hutan yang sudah terlanjur tinggi akan kadar garam, sulit untuk mengembalikan seperti keadaan awal. Maka harus menggunakan pendekatan yang lainnya, seperti hutan adaptif yang dikenalkan dengan tanaman ramah kadar garam. 

Contoh dari The Nature Conservancy, organisasi sosial lingkungan US melakukan pengelolaan hutan yang lebih adaptif, seperti membuat  garis pantai yang hidup. Hutan tersebut terdiri dari tumbuhan, batuan, dan pasir yang tahan akan kadar garam yang tinggi. Maka akan menjadi hutan lanskap pesisir.

Tapi, pendekatan tersebut cukup radikal dan kontroversial. Karena hutan diperkenalkan dengan tanaman yang ramah kadar garam. Maka keadaan di dalam hutan akan jauh berbeda dengan keadaan hutan sebelumnya.  Tentu ini bertentangan dengan keinginan untuk melestarikan hutan dengan keadaan yang seperti sedia kala.

Tak hanya itu, hutan yang telah berubah akan mengakibatkan kerugian yang lain. Flora yang ada di dalam hutan sebelumnya akan tergantikan, mungkin sepenuhnya dengan tanaman yang lebih kuat hidup di lahan yang tinggi kadar garamnya. Fauna yang ada di dalam hutan juga tidak dapat terbantu. Karena makanan yang biasa mereka konsumsi tidak bisa mereka temukan lagi. 

Jika dilihat lagi keadaan hutan yang sekarat, maka tak ada salahnya hutan diubah menjadikan hutan rawa asin agar lebih baik. Dibandingkan hutan yang dibiarkan mereduksi menjadi lahan perairan terbuka. Memang lahan perairan terbuka secara inheren tidak buruk amat. Tapi tak banyak manfaat yang diberikan oleh lahan perairan terbuka. Pengelolaan jangka panjang terhadap hutan rawa asin akan jauh lebih baik tentunya. Karena lahan rawa asin dapat menyimpan karbon, meningkatkan kualitas air, menyedikan habitat, dan menjadi hutan yang produktif di pesisir pantai. 

Agaknya kita cukup jauh dengan isu kerusakan hutan akibat kenaikan air laut. Kita juga kurang familiar sekali. Tapi tentu isu ini tak jauh dari kehidupan kita, kerusakan hutan yang diakibatkan oleh hal lainnya dan kerusakan hutan akibat perubahan iklim ini menjadi salah pertanda untuk kita semua bahwa saat ini bumi benar tidak baik-baik saja. Kerusakan di mana-mana. Bukan hanya satu dua kasus tentang kerusakan hutan, banyak diberitakan tentang kerusakan hutan dengan berbagai sebab. 

Perubahan iklim ditimbulkan akibat kegiatan manusia dan alam sendiri. Sehingga dalam menjalankan gaya hidup kita harus lebih berhati-hati lagi dalam mengikuti gaya hidup yang sedang tren. Karena hanya alam yang boleh bertindak sesuka hati. 

Kita harus lebih sadar lagi akan isu lingkungan. Walaupun kerusakan hutan itu jauh dari tempat kita tinggal atau daerah kita tinggal, tapi kerusakan tersebut juga dapat berdampak lebih luas lagi. Maka kesadaran akan menjaga lingkungan sangat patut kita semua miliki saat ini. Agar anak cucu kelak dapat merasakan hutan yang sesungguhnya.

 

Penulis: Putri Handayani

 

Referensi literatur

Ury, Emily. 2021. Sea level rise is killing trees along the atlantic coast creating ghost forest that are visible from space.

https://theconversation.com/sea-level-rise-is-killing-trees-along-the-atlantic-coast-creating-ghost-forests-that-are-visible-from-space-147971 (Diakses pada tanggal 16 April 2021)

 

Referensi gambar

https://theconversation.com/sea-level-rise-is-killing-trees-along-the-atlantic-coast-creating-ghost-forests-that-are-visible-from-space-147971

 

LindungiHutan.com adalah Platform Crowdfunding Penggalangan Dana untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung penghijauan yang ada di seluruh Indonesia. mari bersama menjaga dan melestarikan hutan seluruh Indonesia.

Yuk jadi pioneer penghijauan untuk hutan Indonesia yang lebih baik.