Lebah, Hutan, dan Hasil Hutan

HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu)

Gambar 1: HHBK
Gambar 1: HHBK

Hasil hutan bukan kayu sudah populer di banyak kalangan masyarakat saat ini. Pengolahannya yang tidak sulit dan sebentar membuat banyak perusahaan dan masyarakat lebih fokus terhadap hasil hutan bukan kayu ketimbang hasil hutan kayu. Meskipun terbilang baru di dunia kehutanan, teknologi pengolahan hasil hutan bukan kayu semakin banyak dikembangkan.

Ads

Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu tidak sesulit pemanfaatan hasil hutan kayu. Apabila untuk dapat memanfaatkan kayu dibutuhkan 7-8 tahun, hasil hutan bukan kayu bisa dimanfaatkan setiap tahunnya. Bahkan, beberapa kayu kuat dan awet membutuhkan waktu sekitar 30-40 tahun untuk dapat dinikmati hasil kayunya.

Beberapa perusahaan swasta bahkan lebih memanfaatkan pohon untuk dapat menghasilkan hasil bukan kayunya, meskipun pohon tersebut cocok untuk dijadikan sebagai kayu pertukangan. Gaharu merupakan salah satu pohon yang lebih diutamakan untuk dapat menghasilkan minyak meskipun kayu gaharu juga bisa dijadikan sebagai kayu pertukangan. Pohon yang dijuluki sebagai God of the woods ini getahnya dapat dimanfaatkan sebagai minyak yang mahal harganya di pasaran.

Pilihan seperti itu disebabkan karena meningkatnya kebutuhan ekonomi serta memanfaatkan peluang yang ada. Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu tidak hanya dapat diambil getahnya, melainkan juga untuk minyak, obat-obatan, bumbu makanan, sampai keperluan sandang. Hasil hutan yang dimanfaatkan bukan hanya flora yang ada di dalam hutan, melainkan juga faunanya.

Komponen ekosistem hutan yang tidak hanya terdiri dari flora melainkan juga fauna membuat hutan layak mendapat julukan sebagai surga dari sumber daya alam. Salah satu fauna yang sering dimanfaatkan untuk hasil hutan bukan kayu adalah lebah. Lebah merupakan serangga di dalam hutan yang sering melakukan penyerbukan terhadap bebungaan yang ada di dalam hutan sebagai bentuk interaksi mutualismenya dengan makhluk hidup lain yang ada di hutan.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Lebah di Hutan

Gambar 2: Lebah dalam sarang heksagonal
Gambar 2: Lebah dalam sarang heksagonal

Lebah, seperti yang selama ini dikenal baik sebagai serangga penghasil madu, merupakan salah satu hasil hutan yang diminati banyak masyarakat Indonesia. Rasanya yang manis dan khasiatnya yang tinggi membuat madu terkadang menjadi pilihan terbaik untuk menggantikan multivitamin. Tidak sedikit masyarakat sekitar hutan yang menjadikan lebah sebagai salah satu mata pencaharian mereka.

Lebah menggunakan penyerbukan bunga untuk dapat menghasilkan madunya. Seperti cara penyerbukan pada umumnya, lebah yang membawa serbuk sari ke putik bunga akan mendapatkan nektar dari ekstrak bunga. Nektar ini nantinya akan diberikan kepada seluruh penghuni sarang lebah dari lebah pekerja untuk dimakan.

Nektar yang banyak akan dapat meningkatkan produktivitas lebah dalam membuat sarang maupun menghasilkan madu. Lebah pekerja akan secara alamiah membentuk sarang heksagonal agar dapat menampung populasi serangga dan produksi madu yang lebih banyak. Dengan begitu, dapat disimpulkan jika keberadaan nektar maupun bentuk sarang lebah sangat memengaruhi produktivitas madu.

Pemanenan Madu dari Lebah

Gambar 3: Madu sebagai salah satu HHBK
Gambar 3: Madu sebagai salah satu HHBK

Madu yang baru dihasilkan dari nektar merupakan hasil madu yang paling baik. Sehingga, dalam pengambilan madu perlu juga diperhatikan waktu optimal lebah dalam menghasilkan madu. Waktu tersebut adalah ketika musim kemarau. 

Pada musim kemarau, madu yang dihasilkan lebah memiliki kualitas yang baik karena nektar yang baru saja menjadi madu memiliki kadar air yang tidak sebanyak saat musim hujan. Selain itu, pemanenan madu saat musim kemarau juga dianggap lebih aman dilakukan ketimbang saat musim hujan. Dalam pengambilan madu, terutama madu hutan, masyarakat biasa melakukannya dengan mengambil langsung dari sarangnya yang biasanya ada di pohon. Sehingga apabila pengambilan madu tetap dilakukan pada musim hujan, akan membahayakan keselamatan peternak lebah.

Masyarakat tentunya memiliki cara terbaik untuk mengambil madu dari sarang lebah. Sebagian masyarakat mengambil madu dengan cara melakukan pengasapan pada sarang lebah. Pengasapan ini dilakukan dengan cara memberi api kecil atau asap rokok pada sarang lebah untuk dapat melemahkan lebah.

Lebah yang tidak tahan dengan pengasapan akan pingsan, tetapi ada juga yang memilih keluar meninggalkan sarang. Setelah lebah dirasa tidak terlalu agresif, peternak lebah kemudian mengambil lilin berisi madu yang terdapat di dalam sarang lebah. 

Pengasapan tentunya bukan satu-satunya teknik yang dapat dilakukan untuk mengambil madu. Sebagian masyarakat memilih untuk tidak mengambil madu dengan cara pengasapan, melainkan diambil dengan cara biasa tetapi tetap mengutamakan keselamatan dengan cara menggunakan alat pelindung diri (APD). Pengambilan madu dengan menggunakan APD dinilai lebih aman ketimbang melakukannya dengan pengasapan.

Gambar 4: Proses Pemanenan Madu
Gambar 4: Proses Pemanenan Madu

Lilin madu yang sudah diambil dari sarangnya kemudian disayat menggunakan pisau untuk dipindahkan ke dalam wadah. Peternak lebah biasanya akan mengembalikan sedikit bagian lilin yang masih terdapat madu ke dalam sarang. Hal tersebut dilakukan agar larva yang masih ada di lilin tetap dapat hidup dan tidak mematikan populasi serangga yang ada di dalam sarang. Sayatan lilin yang ada di dalam ember kemudian diekstrak agar madu dan lilin dapat terpisah.

Pengekstrakan lilin tidak selalu dilakukan oleh peternak lebah. Sebagian peternak lebah memilih untuk mendiamkan madu mengalir begitu saja meninggalkan lilinnya. Hal tersebut dilakukan karena menurut mereka pengekstrakan madu dari lilinnya tidak akan mengurangi cita rasa madu yang manis.

Potensi dan Evaluasi dari Pemanenan Madu

Potensi madu dalam dunia HHBK pada saat ini tentunya tidak main-main. Beberapa peternak lebah mengaku, meskipun pemanenan madu dari lebah terbilang musiman, ekonomi mereka meningkat 75% dibanding memanfaatkan hasil hutan lainnya. Pemanenannya yang memerlukan keberanian serta permintaan pasar terhadap madu yang tinggi membuat harga madu lebih tinggi di pasaran daripada HHBK lainnya seperti resin maupun getah karet.

Kabar seperti ini tentunya merupakan kabar baik dari dunia kehutanan. Sumber daya hutan hadir untuk dapat memberikan kesejahteraan bagi umat manusia. Hal ini akan menimbulkan interaksi yang positif bagi masyarakat dan hutan. Namun, pemanfaatan madu yang dilakukan masyarakat masih memiliki kekurangan.

Keberadaan nektar yang dibutuhkan lebah untuk diolah menjadi madu mulai sulit ditemukan keberadaannya di dalam hutan. Padahal, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, keberlimpahan nektar dan sarang lebah merupakan paket lengkap untuk dapat menghasilkan madu yang banyak. Sehingga diperlukan bunga yang banyak agar ketersediaan nektar untuk lebah dapat tercukupi.

Ketidaktahuan lain dari masyarakat adalah biasanya masyarakat memanen seluruh lilin yang ada di dalam sarang lebah. Padahal di dalam sarang tersebut terdapat banyak larva yang nantinya dapat meneruskan populasi lebah lain yang sudah mati. Peternak sebaiknya menyisakan sedikit bagian lilin untuk dikembalikan di dalam sarang agar lebah tetap dapat melanjutkan perkembangbiakannya. 

Perlu dilakukan penyuluhan lebih lanjut kepada masyarakat agar produksi hasil hutan madu dapat terus berkembang. Penyuluhan ini bukan hanya menyoal bagaimana mendapatkan madu dari lebah dengan cara yang benar, melainkan pengolahan madu yang baik agar madu dapat diterima di pasaran. Masyarakat yang bergantung ekonominya terhadap kehutanan, secara tidak langsung akan menjaga ekosistem hutan.

 

Penulis: Fifi Melinda Setiawati

 

Referensi Artikel

Maulana R. 2017. Kontribusi usahatani madu sialang  terhadap pendapatan keluarga petani. JOM Fekom. 4 (1): 1073-1082.

Pribadi A dan Wiratmoko ME. 2019. Karakteristik madu lebah hutan (Apis dorsata Fabr.) dari berbagai bioregion di Riau. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. 37 (3): 185-200.

Saepudin R. 2015. Identifikasi masalah perlebahan sebagai dasar pengembangan usaha madu di Provinsi Bengkulu. Jurnal Ilmu-ilmu Peternakan. 17 (2): 43-50.

Situmorang ROP dan Hasanudin A. 2014. Panduan Manual Budidaya Lebah Madu. Indonesia (ID): Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli.

 

Referensi Gambar

https://foresteract.com/hasil-hutan-bukan-kayu-hhbk/

https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/hutan/contoh-hasil-hutan-bukan-kayu/attachment/madu

https://www.99.co/blog/indonesia/budidaya-lebah-madu-di-rumah/

https://www.papua.us/2017/03/pemprov-papua-tingkatkan-potensi.html

 

LindungiHutan.com adalah Platform Crwodfounding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealamuntuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dan bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak.

 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!