Mangrove dan Perannya bagi Biota Laut

Gambar 1. Ekosistem Mangrove (Sumber Kompas.com)
Gambar 1. Ekosistem Mangrove (Sumber Kompas.com)

Tanaman mangrove tidak hanya berperan sebagai pelindung daratan dari fluktuasi gelombang laut, tapi juga memiliki banyak manfaat bagi organisme di sekitarnya dan membentuk ekosistem yang produktif. Lalu apa saja sih peran tanaman ini bagi biota laut?

Ads

Menurut data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2015, Indonesia memiliki ekosistem mangrove yang luas sebesar 3,5 ha yang terbentang di sepanjang garis pantai sebesar 95,181 km2. Luas ekosistem ini terdiri dari 1,7 ha dan diketahui dalam kondisi baik, meskipun sisanya masih dalam kondisi rusak. Jumlah ini bisa dibilang sangat besar dibandingkan dengan luas ekosistemnya di dunia yang totalnya mencapai 16,5 ha.

Mangrove adalah kelompok tumbuhan yang hidup di antara darat dan laut. Walaupun banyak yang menyamakannya dengan bakau, ekosistem ini lebih mengacu pada kelompok tumbuhan yang bersifat halophytic atau toleran terhadap garam yang tumbuh di sepanjang pantai dan muara sungai. Lebih jelasnya lagi, Soerianegara (1987) mendefinisikan hutan mangrove sebagai hutan yang tumbuh di tanah berlumpur di daerah pantai dan muara sungai yang keadannya dipengaruhi pasang surut air laut.

Mangrove adalah tanaman yang unik karena sanggup bertahan di lingkungan yang ekstrim seperti tanah tergenang, tanah dengan kadar garam tinggi, serta kondisi tanah yang tidak stabil. Kondisi yang seperti ini membuktikan pertumbuhan tanaman ini berkaitan erat dengan kondisi tanah (pasir, lumpur, gambut), keterbukaan terhadap fluktuasi gelombang, kadar garam dalam tanah, dan pengaruh pasang surut air laut. Jadi, semakin baik kondisi ekosistemnya, semakin beragam pula biota laut yang hidup di dalamnya. 

Dalam buku Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia dijelaskan bahwa menurut Kint (1934), jenis tumbuhannya yang hidup di tanah berlumpur lebih banyak ditemui karena tanah yang lunak dapat menopang batang tumbuhan seperti pada jenis Rhizophora mucronata dan Avicennia marina. Sedangkan menurut Ding Hou (1958), jenis tumbuhan tanaman ini seperti Rhizophora stylosa biasanya tumbuh di tanah berpasir. Jenis lain dapat tumbuh di tanah bergambut seperti mangrove yang ditemukan di utara Teluk Bone dan di sepanjang Larian-Kamu, Sulawesi Selatan.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Hutan mangrove memiliki peran penting bagi organisme yang hidup di sekitarnya. Tanaman ini tumbuh di sepanjang pantai sebagai pelindung areal daratan dari gelombang laut. Arus air membawa berbagai jenis sampah organik dan lumpur yang dapat menghasilkan nutrien berupa zat organik dan anorganik sebagai penyubur perairan laut. 

 

Mangrove memiliki tingkat produktivitas yang tinggi

Ekosistem mangrove memiliki tingkat produktivitas yang tinggi dibandingkan dengan ekosistem lain. Hal ini terjadi karena suplai makanan bagi biota laut tersedia berlimpah. Endapan sampah organik, lumpur dan serasah adalah bahan utama dalam pembentukan makanan di ekosistem yang melibatkan beberapa organisme dalam prosesnya.

Banyaknya jumlah biota laut dalam suatu ekosistem mangrove akan bergantung pada produksi serasah yang dihasilkan dari tumbuhan tersebut. Serasah adalah material yang dihasilkan oleh tanaman tersebut berupa daun, buah, ranting dan batang yang jatuh ke tanah. Lalu moluska akan berperan sebagai penghancur material tersebut menjadi bagian-bagian kecil. Bakteri pengurai dan jamur akan mengambil alih dalam proses dekomposisi, sehingga menghasilkan bahan organik sederhana sebagai sumber makanan bagi hewan kecil. Kemudian, hewan-hewan kecil inilah yang menjadi sumber makanan bagi hewan yang lebih besar sehingga rantai makanan terus terbentuk dengan alami. Rantai makanan inilah yang membuat ekosistem ini menjadi habitat yang ideal bagi organisme akuatik dan tumbuhan mangrove itu sendiri.

 

Sebagai tempat perlindungan dan pemijahan

Gambar 2. Sonneratia sp. (Sumber Mangrovemagz.com)
Gambar 2. Sonneratia sp. (Sumber Mangrovemagz.com)

Selain mampu memproduksi sumber makanan sendiri, mangrove juga menjadi tempat perlindungan bagi fauna seperti ikan, udang, kepiting, dan kerang-kerangan, moluska, dan lain-lain. Akar pada tumbuhan mangrove membentuk pagar sebagai pelindung dari ikan pemangsa, seperti akar tidak teratur pada Rhizopus sp., dan akar vertikal pada Sonneratia sp. Kondisi ini memungkinkan organisme kecil terlindungi selama pertumbuhannya sebelum kembali ke laut saat mencapai ukuran dewasa.

Mangrove umumnya tumbuh di tanah lunak seperti tanah berlumpur, berpasir dan bergambut. Tanah lunak biasanya dimanfaatkan beberapa organisme untuk menyimpan telur-telurnya. Misalnya, kepiting yang hidup di sekitar ekosistem ini memiliki peran penting dalam penyebaran biji dengan membawa propagule ke dalam lubang persembunyiannya. 

Jenis Biota laut yang hidup di ekosistem mangrove sangat beragam. Ada organisme yang hidup menempel pada tumbuhannya seperti Littorina scabra, Nerita albicilla, Monetaria annulus, dan Melongena galeodes. Hewan-hewan ini hidup melekat pada akar, batang, dan cabang tumbuhan ini. Ada juga yang hidup di lubang dalam tanah (infauna) dan di atas tanah (epifauna). Penyebaran organisme penghuninya bersifat variatif karena berkaitan dengan lingkungan abiotiknya. Bahkan beberapa habitat di ekosistem ini memiliki biota laut endemiknya sendiri. 

Fungsi mangrove sebagai pelindung biota laut bisa dilihat pada kemampuannya membentuk rantai makanan sendiri dan bentuk fisiknya yang memungkinkan hewan laut merasa terlindungi dari predator dan menjadi tempat yang ideal untuk menyimpan telur di dalam tanah yang lunak. Penanaman tumbuhan ini harus dalam kondisi yang sesuai dengan habitat alaminya sangat penting dilakukan agar pemulihan dan pelestariannya tetap terjaga. Tumbuhan ini menjadi tempat dengan suasana kondusif terhadap kelangsungan siklus biologi di suatu habitat perairan.

 

Pelestarian

Penurunan luas area hutan mangrove menyebabkan terganggunya ekosistem perairan dan tergerusnya kawasan pantai akibat terjangan ombak. Hutan mangrove juga dapat mengalami kerusakan akibat perairan yang tercemar logam berat dan minyak. Biota laut yang hidup di dalamnya juga akan mengalami dampak penurunan jumlah yang signifikan. Habitat dari hutan ini mampu menghidupkan dirinya sendiri karena ada rantai makanan yang terjadi secara alami. Jadi, bila salah satu komponennya mengalami gangguan, komponen lainnya akan ikut rusak dan hilang.

Hal penting yang perlu diperhatikan dalam pelestarian mangrove adalah kerjasama antara masyarakat yang tinggal di kawasan ekosistem ini dan pemerintah. Pemerintah harus dapat mensosialisasikan aspek konservasi lingkungan, menentukan kebijakan yang tepat sasaran serta mampu menyatukan persepsi yang sama dengan masyarakat agar dalam melihat permasalahan yang terjadi di kawasan mangrove. 

 

Penulis: Mutiara Misksalma

 

Referensi literatur:

Karimah. 2017. Peran Ekosistem Hutan Mangrove sebagai Habitat untuk Organisme Laut. Jurnal Biologi Tropis, 17(2). 

Ridwan, M., et al. 2018. Studi Kandungan Nutrien pada Ekosistem Mangrove Perairan Muara Sungai Kawasan Pesisir Semarang. Journal of Marine Research, 17(4): 283-292.

Rusila Noor, Y., et al. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PHKA/WI-IP, Bogor.

Referensi Foto:

Gunawan, A.P. 2017. Tujuh Tipe Akar Mangrove yang Wajib Anda Ketahui. Mangrove Magz. https://mangrovemagz.com/2017/03/03/tujuh-tipe-akar-mangrove-yang-wajib-anda-ketahui/.

Pranita, Ellyvon. 2020. Mangrove Indonesia Bisa Serap dan Simpan Karbon Dioksida Global. Kompas. https://www.kompas.com/sains/read/2020/04/27/180300623/mangrove-indonesia-bisa-serap-dan-simpan-karbon-dioksida-global?page=all.

 

Lindungihutan.com merupakan Platfrom Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya yang dapat merugikan pihak!

 

 Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!