Masyarakat Garda Terakhir Pencegah Perubahan Iklim

Hutan dengan segala fungsi yang dimilikinya
Hutan dengan segala fungsi yang dimilikinya (Sumber : Google Image)

Perubahan iklim telah menjadi masalah yang selalu dibahas pada setiap pertemuan internasional. Dampak yang bersifat global membuat banyak negara berpartisipasi dalam setiap konferensi yang diselenggarakan. Hutan menjadi salah satu dari banyak bidang yang disebut ketika membahas mengenai mitigasi perubahan iklim. Kemampuan hutan di dalam menyerap dan menyimpan karbon membuat banyak kebijakan dibuat untuk mengembalikan hutan yang telah rusak. Banyak pihak berpartisipasi, mulai dari pemerintah, relawan, hingga masyarakat, tak terkecuali masyarakat sekitar hutan. Mereka saling memberikan andil sesuai dengan fungsi yang bisa mereka kerjakan

Fungsi Hutan Sebagai Mitigasi Perubahan Iklim

Hutan adalah asosiasi vegetasi yang tumbuh pada suatu lahan dan membentuk iklim mikro. Banyak pakar memberikan pengertiannya masing-masing mengenai hutan. Namun tetap saja, fungsi hutan akan selalu sama bagi setiap makhluk hidup di muka bumi. Baik hewan, maupun manusia yang tinggal di dalam, di sekitar, maupun jauh dari kawasan hutan, sama-sama mendapatkan manfaat dari keberadaan hutan. Manfaat tersebut dapat berupa manfaat ekonomis, maupun manfaat ekologis.

Baca Lainnya : Tips Menanam Mangrove Agar Tumbuh Optimal

Perubahan iklim bukanlah fenomena yang terjadi secara alami. Perubahan iklim disebabkan oleh emisi gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrous oksida (N2O) yang banyak menumpuk di atmosfer. Gas-gas tersebut timbul akibat adanya aktivitas manusia seperti kegiatan industri, penggunaan kendaraan bermotor, hingga pembakaran hutan untuk pembukaan lahan. Gas-gas tersebut menyebabkan kondisi iklim di bumi menjadi tidak stabil. Rentang musim yang bergeser hingga meningkatnya suhu rata-rata di bumi merupakan bentuk nyata dari adanya perubahan iklim. Dampak tersebut tidak hanya berlaku pada manusia atau organisme tertentu saja, tetapi juga semua makhluk hidup beserta dengan ekosistem yang menaunginya.

Secara ekologis, hutan memiliki peran yang penting di dalam menjaga siklus karbon di alam. Tumbuhan yang menjadi komponen utama penyusun hutan membutuhkan karbon dalam bentuk karbon dioksida (CO2) sebagai bahan utama di dalam melakukan fotosintesis. Dengan bantuan cahaya dan klorofil, karbon dioksida (CO2) dan air diubah menjadi oksigen (O2) dan glukosa (C6H12O6) yang dapat dimanfaatkan oleh setiap makhluk di muka bumi.

Kebutuhan tumbuhan akan karbon tersebut yang membuat hutan memiliki peranan yang penting di dalam mitigasi perubahan iklim. Karbon yang menjadi penyebab dari perubahan iklim dapat diserap, disimpan, dan diubah menjadi senyawa yang lebih berguna. Hutan memiliki peran di dalam menyaring gas-gas perusak tersebut dan menggantinya dengan oksigen yang banyak digunakan makhluk hidup untuk bernafas. Tak heran kalau banyak yang menyebut hutan sebagai paru-paru dunia. Dan tak heran pula jika hutan wajib dipertahankan keberadaannya oleh setiap makhluk yang memanfaatkannya.

Hutan yang Mulai Rusak

Banyaknya slogan “Hutan sebagai Paru-Paru Dunia”, yang dipasang di berbagai tempat mulai dari sekolah, tempat umum, hingga kantor pemerintahan, rupanya tidak sejalan dengan semangat masyarakat untuk melestarikan hutan. Malah justru sebaliknya, slogan tersebut muncul sebagai dampak dari hilangnya kesadaran masyarakat untuk mencintai alam. Banyak hutan yang ditebang, dimanfaatkan kayunya, atau dialihfungsikan untuk keperluan lain dengan tidak bijaksana. Manusia memiliki peran yang paling besar di dalam terjadinya kegiatan eksploitasi tersebut. Ketamakan dan kebutuhan manusia yang semakin meningkat menjadi dasar bagi mereka untuk menebang hutan. Manfaat ekonomis dari hutan sepertinya lebih dijadikan pertimbangan oleh manusia dibandingkan dengan manfaat ekologisnya. Akibatnya hutan menjadi rusak, bencana mulai muncul, dan lebih parahnya lagi pemanasan global dan perubahan iklim mulai terjadi.

Selain negara-negara dengan industri maju, negara-negara dengan luasan hutan terbesar juga selalu masuk dalam daftar merah negara yang menyebabkan perubahan iklim. Brazil, Kongo, dan Indonesia selalu diklaim memiliki rapor merah oleh negara lain karena ketidakbecusannya di dalam mengelola hutan hingga menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Banyak dari hutan di ketiga negara tersebut yang hilang karena ditebang, dibakar, dan dialih fungsikan. Berdasarkan data dari Kementerian Kehutanan pada tahun 2019, luasan hutan di Indonesia yang tersisa hanya tinggal 94,1 juta hektar saja atau 50,1% dari total daratan yang ada. Itu pun masih selalu berkurang setiap tahunnya akibat pembalakan liar, pembukaan perkebunan sawit, kebakaran hutan, alih fungsi lahan, dan kegiatan perusakan yang lain.

Bisa dibayangkan, jika hutan terus berkurang, pohon yang berfungsi untuk menyerap karbon pun juga ikut berkurang. Sedangkan, mesin-mesin penghasil gas rumah kaca terus dikembangkan untuk kegiatan industri atau kegiatan penunjang kehidupan yang lain. Jika gas-gas tersebut terus dihasilkan tanpa diimbangi dengan adanya mesin penyerap, maka gas-gas tersebut akan semakin menumpuk di atmosfer dan terus memperparah pemanasan global yang terjadi. Banyaknya industri komersial yang mengeksploitasi hasil hutan dengan tidak bijaksana, ditambah dengan kurang tegasnya penegakan hukum yang dilakukan oleh pemerintah membuat deforestasi dan degradasi lahan terus terjadi setiap tahunnya di Indonesia.

Peran Masyarakat Sekitar Hutan

Permasalahan hutan merupakan permasalahan bersama. Baik pemerintah, maupun masyarakat, memiliki tanggung jawab yang sama di dalam menjaga hutan. Urusan pembuatan kebijakan, regulasi, dan penegakan hukum terhadap segala tindakan perusakan hutan merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah. Sedangkan menjaga, menaati, mematuhi, dan mengawasi regulasi yang ada merupakan bagian dari tanggung jawab masyarakat. Semua masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama, tanpa terkecuali, termasuk masyarakat sekitar hutan.

Masyarakat sekitar hutan merupakan masyarakat yang tinggal di dalam atau di sekitar kawasan hutan. Kehidupan sehari-hari mereka banyak yang bersentuhan langsung dengan hutan. Mereka mencari makan, mengambil air, mendirikan rumah, dan bekerja di lahan-lahan yang berada di dalam atau di sekitar kawasan hutan. Sehingga bisa dikatakan bahwa mereka juga memiliki potensi untuk mengubah kondisi hutan akibat kegiatan sehari-hari yang mereka lakukan. Apabila kegiatan pemanfaatan tidak dilakukan dengan bijaksana, maka tidak ada bedanya masyarakat sekitar hutan dengan perusahaan yang memanfaatkan produk hasil hutan dengan tidak bijaksana pula.

Meskipun demikian, dampak yang ditimbulkan akibat aktivitas masyarakat sekitar hutan lebih mudah dikendalikan dibandingkan dengan dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas komersial. Masyarakat sekitar hutan lebih bisa memanfaatkan hutan secara bijaksana. Sehingga hutan tetap bisa terjaga meskipun kegiatan sehari-hari mereka banyak dihabiskan di dalam dan di sekitar kawasan hutan. Sikap bijaksana tersebut tidak disebabkan oleh penegak hukum yang tegas, tidak pula disebabkan oleh ketakutan mereka terhadap hukum yang berlaku, tetapi karena peraturan yang mereka buat dan mereka patuhi secara tersendiri. Peraturan tersebut bukan peraturan yang tertulis, tidak jelas diciptakan oleh siapa, tidak memiliki konsekuensi hukum yang jelas, dan dipercaya oleh masyarakat sekitar hutan secara turun temurun. Peraturan tersebut yang sering kita sebut dengan mitos.

Mitos merupakan cerita rakyat yang dipercaya kebenarannya oleh masyarakat, termasuk oleh masyarakat sekitar hutan. Mitos yang banyak berkembang di kalangan masyarakat sekitar hutan banyak bercerita tentang kesucian dan kesakralan yang dimiliki oleh suatu tempat di dalam hutan. Sehingga menjadi hal yang wajib bagi mereka untuk menjaganya. Tempat-tempat yang disakralkan tersebut hanya dikunjungi ketika hari-hari besar untuk menyelenggarakan upacara adat atau dikunjungi sehari-hari untuk melakukan sesembahan. Bentuk cerita yang lain juga dapat berupa sosok yang dipercaya oleh masyarakat sebagai leluhur yang dianggap sakral dan meninggali suatu tempat di hutan. Karena kesakralannya tersebut, banyak dari masyarakat yang melakukan ritual untuk sekadar mendoakan atau meminta restu dari arwah leluhur tersebut.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Manuaba et al (2012), masyarakat sekitar hutan yang mempercayai mitos cenderung lebih dapat menjaga hutan yang ditinggalinya tersebut. Status sakral yang diberikan oleh masyarakat terhadap hutan atau suatu lokasi yang terdapat di dalam hutan membuat masyarakat menjadi berhati-hati di dalam memanfaatkan segala sesuatu yang ada di dalam hutan. Perilaku serakah yang dapat merusak hutan dipercaya dapat mengundang amarah sosok “penunggu” yang meninggali tempat tersebut. Sedangkan sebaliknya, perilaku menjaga dan melestarikan membuat masyarakat desa mendapatkan berkah akibat kebaikan yang diberikan oleh sosok “penunggu” tersebut.

Salah satu mitos tentang hutan yang berkembang di kalangan masyarakat sekitar hutan adalah cerita tentang Mbah Cungking yang dipercaya oleh masyarakat di sekitar Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur sebagai sesepuh adat yang banyak memberikan pelajaran hidup, terutama di dalam melestarikan alam. Mbah Cungking merupakan pengembara yang sakti dan terkenal suka berjelajah hingga akhirnya berhenti di suatu hutan yang lebat, yang sekarang banyak dikenal dengan hutan Baluran. Tidak ada yang mengetahui dimana Mbah Cungking berada pada akhir hayatnya. Banyak yang mempercayai bahwa Mbah Cungking tidak pernah mati, tetapi musna (hilang tanpa meninggalkan jejak). Mitos tentang Mbah Cungking banyak dipercaya oleh masyarakat desa di sekitar Taman Nasional Baluran, terutama oleh masyarakat Desa Cungking, Banyuwangi, yang lokasinya berada jauh 35 km dari taman nasional. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Mbah Cungking, masyarakat Desa Cungking dan masyarakat yang masih mempercayai mitos tersebut selalu melaksanakan ritual tahunan setiap tanggal 1 Suro untuk menghormati arwah Mbah Cungking.

Taman Nasional Baluran
Taman Nasional Baluran, keindahan dengan mitos yang tersembunyi (Sumber : Google Image)

Mitos lain juga berkembang di kalangan masyarakat di sekitar hutan lindung Gilimanuk, Bali. Salah satunya adalah mitos tentang Jayaprana. Jayaprana merupakan anak angkat dari Raja Kalianget Buleleng yang dibunuh oleh ayahnya melalui perantara Sawunggaling. Sang ayah membunuh Jayaprana karena ingin merebut Layonsari, istri Jayaprana yang terkenal cantik. Jayaprana diutus oleh sang ayah untuk pergi ke Teluk Terima dengan dalih untuk menghadapi musuh yang hendak menyerang. Kerajaan. Berkat kepatuhannya terhadap sang ayah, Jayaprana pun berangkat dan menemui nasib nahasnya di Teluk Terima. Karena sikap patuhnya tersebut, banyak masyarakat yang mensakralkan makam Jayaprana di Teluk Terima untuk memuja keluhuran budinya. Masyarakat sekitar percaya bahwa siapapun yang berbuat kerusakan terhadap hutan akan mengalami nasib buruk sebagai dampak dari perbuatannya.

Jayaprana dan Layonsari
Jayaprana dan Layonsari, mitos yang masih dipercaya masyarakat sekitar hutan Gilimanuk (Sumber : Google Image)

Terlepas dari benar salahnya cerita yang berkembang di masyarakat, mitos tentang kesakralan suatu hutan terbukti membuat masyarakat menjadi lebih menghormati dan menjaga hutan dari segala bentuk kerusakan. Masyarakat sekitar hutan yang hidup tanpa mempercayai mitos akan menganggap bahwa perbuatannya terhadap hutan tidak akan berdampak apa-apa. Sehingga banyak dari mereka yang berbuat serakah, memanfaatkan segala hal yang ada di hutan, dan menimbulkan kerusakan pada hutan tanpa disadari. Kepercayaan yang bersifat adialami tersebut terkadang malah justru lebih efektif di dalam mengendalikan perilaku serakah manusia dan menumbuhkan sifat cinta terhadap hutan yang mereka tinggali, dibandingkan dengan hukum-hukum formal dengan konsekuensi hukum yang nyata. Mitos-mitos yang dipercayai oleh masyarakat sekitar hutan membuat mereka dapat tetap “menggunakan” hutan tanpa menimbulkan dampak kerusakan yang berarti. Ini merupakan bukti bahwa mereka turut andil di dalam menjaga hutan, menjaga setiap jengkal yang tersisa, dan turut serta di dalam mencegah terjadinya perubahan iklim yang semakin parah.

Penulis : Tatag Suryo Pambudi

Referensi Tulisan

Manuaba, I.B.P., Dewi, T.K.S., dan Kinasih, S.E. 2012. Mitos, Masyarakat Adat, dan Pelestarian Hutan. Atavisme. 15(2) : 235-245.

http://ppid.menlhk.go.id/siaran_pers/browse/2435

 

LindungiHutan merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Dalam rangka mendukung kegiatan penghijauan teman-teman di Indonesia, yuk dukung Kampanye Alam daerahmu dengan berkunjung pada situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam.

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!

Enable Notifications.    Ok No thanks