Melihat Tanda Perubahan Iklim dari Perilaku Hewan yang Berubah

Herd of Black-and-Brown Buffaloes © Dick Scholten
Herd of Black-and-Brown Buffaloes © Dick Scholten

Perubahan Iklim

Perubahan iklim (climate change) merupakan peristiwa alam yang telah terjadi sepanjang sejarah. Namun, peningkatan emisi karbondioksida (CO2) di atmosfer bumi saat ini terjadi dengan cepat, sehingga perubahan iklim terjadi secara tiba-tiba dan kehidupan yang ada di Bumi masih belum siap untuk menghadapinya. Ada hipotesis yang mengatakan bahwa pemaksaan gas rumah kaca antropogenik mempengaruhi iklim global secara signifikan sejak tahun 1950-an (Boroneant, 2009). 

Ads

Perubahan iklim terjadi ketika sistem iklim bumi menghasilkan pola cuaca baru yang bertahan selama beberapa dekade atau jutaan tahun. Sistem iklim terdiri atas lima bagian yang berinteraksi, yaitu atmosfer atau udara, air, es dan permafrost, makhluk hidup, serta bumi dan mantel atas. Sistem iklim menerima mayoritas energinya dari matahari. Apabila energi yang masuk lebih besar dari energi yang keluar, iklim bumi akan memanas. Apabila lebih banyak energi yang keluar, maka iklim bumi akan mengalami pendinginan.

Saat ini, Bumi menerima semakin banyak energi dari matahari. Namun, proses pengeluaran energi tersebut terhambat akibat efek rumah kaca. Efek rumah kaca akibat emisi karbondioksida secara berlebihan dapat memerangkap panas matahari dan meningkatkan suhu bumi secara drastis. Padahal, panas matahari seharusnya dipantulkan kembali ke luar atmosfer untuk menjaga keseimbangan suhu bumi. Apa saja penyebab dari efek rumah kaca? (Are human activities causing climate change?, n.d.). 

  1. Penebangan dan pembakaran hutan yang mengakibatkan berkurangnya pohon yang dapat mencegah efek rumah kaca dengan mengubah gas karbondioksida menjadi oksigen. 
  2. Penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batu bara secara berlebihan yang memperburuk kualitas udara dan menciptakan efek rumah kaca.
  3. Pencemaran laut oleh limbah industri dan sampah yang menyebabkan laut tidak dapat menyerap karbon dioksida lagi dan merusak ekosistem bawah laut. 
  4. Industri pertanian yang menggunakan pupuk buatan yang dapat melepas gas nitrous oxide (N2O) ke udara dan menciptakan efek rumah kaca. 

Perubahan iklim tidak hanya mempengaruhi kehidupan manusia, tetapi juga kehidupan hewan dan tumbuhan Ada bukti tak terbantahkan bahwa perubahan iklim mempengaruhi distribusi serta perilaku hewan dan tumbuhan (Climate Changeeffects on animals, birdlife and plants, n.d.). Jika emisi gas rumah kaca tidak berkurang secara drastis, perubahan iklim dapat menyebabkan kepunahan seperempat hewan darat dan berbagai spesies tumbuhan. Pada hewan, manusia dapat melihat tanda perubahan iklim melalui perubahan pada distribusi dan perilaku mereka. 

Respon dan Adaptasi Hewan Terhadap Perubahan Iklim

Wildebeest Migration © Kabir Patel
Wildebeest Migration © Kabir Patel

Perubahan iklim memaksa berbagai spesies hewan untuk beradaptasi secara cepat terhadap perubahan tersebut (Buchholz et al., 2019). Lambat laun, sebuah spesies akan mengalami kepunahan apabila mereka tidak dapat merespon dan beradaptasi dengan cepat. Berikut beberapa cara yang dilakukan oleh hewan untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Respon terhadap overheating

Beberapa respon hewan untuk mengurangi overheating adalah dengan melakukan penguapan (evaporation), mengalirkan panas tubuh mereka pada objek yang lebih dingin, membentuk sarang yang mengurangi panas, melokasikan sarang di tempat yang dingin, menghentikan aktivitas di siang hari, dan melakukan atau mengundur migrasi. Pada penguapan, hewan seperti kanguru merah (Macropus rufus), southern pied babbler (Turdoides bicolor), dan Wahlberg’s epauletted fruit bat (Epomophorus wahlbergi) akan terengah-engah dan menjilati tubuhnya agar panas pada tubuh mereka menguap. Beberapa jenis burung kecil di gurun pasir juga akan meminum lebih banyak air untuk mencegah tubuh mereka agar tidak terlalu panas. 

Sebagai pengganti penguapan untuk melepaskan panas yang berlebihan, beberapa hewan dapat mengalirkan panas tubuh mereka ke objek yang lebih dingin di habitat mereka. Koala (Phascolarctos cinereus) akan memeluk pohon untuk mengurangi kehilangan air dari tubuh mereka. Rusa (Alces alces) juga melakukan hal ini dengan beristirahat di atas tanah lembab saat siang hari. Ketika mereka beristirahat, panas tubuh tersebut akan berpindah pada tanah yang lembab, sehingga mereka dapat menjaga kadar air dalam tubuh mereka. 

Beberapa hewan memindahkan lokasi sarang mereka dan melakukan rekayasa pada sarang tersebut agar memberikan keteduhan dari panas matahari yang terik. Contohnya, burung Verdin (Auriparus flaviceps) akan mengarahkan pintu masuk sarangnya agar menghadap angin yang bertiup selama cuaca terpanas. Angin akan membantu menguapkan panas dari sarang, sehingga burung Verdin dan anak-anaknya dapat bertahan hidup dalam sarang tersebut. Untuk reptil yang penentuan jenis kelaminnya bergantung pada suhu, perubahan kecil dalam suhu inkubasi dapat mengubah rasio jenis kelamin atau mengubah fenotipe keturunan dalam suatu jenis kelamin, termasuk tingkat pertumbuhan, ukuran tubuh, tingkat metabolisme dan respons termal, perilaku anti-predator dan kemampuan lokomotor. Contohnya, eastern three-lined skinks (Bassiana duperreyi) menyesuaikan kedalaman sarang dan waktu oviposisi mereka untuk menahan efek peningkatan suhu pada keturunannya.

Spesies juga dapat melakukan perlindungan sementara dari overheating dengan menghentikan aktivitas mereka pada siang hari. Anjing laut bulu Juan Fernández (Arctocephalus philippii) akan berhenti menyusui anak-anaknya untuk pergi ke laut yang sejuk saat cuaca sedang sangat panas. Diurnal degu (Octodon degus) akan menjadi nokturnal secara eksklusif pada cuaca terpanas saat musim kemarau. Selain itu, hewan dapat melakukan atau mengundur migrasi mereka untuk mencegah overheating. Contohnya, pika (Ochotona dauurica)―mamalia kecil endemik Amerika Utara―semakin banyak berpindah dari area pegunungan tinggi ke hutan-hutan terdekat (Chan, 2020). Habitat mereka yang sebelumnya sejuk, lembab, dan berbatu menjadi semakin panas, kering, dan bersalju dalam jumlah sedikit. Apabila pika perlu melakukan migrasi untuk mencegah overheating, maka migrasi kupu-kupu raja atau monarch butterflies (Danaus plexippus) justru terundur selama enam bulan Suhu yang terlalu panas akan secara cepat membakar lemak yang perlu disimpan oleh kupu-kupu ini saat musim dingin (Temperature and Survival, n.d.). 

Respon terhadap kekeringan

Beberapa respon hewan untuk mengantisipasi musim kemarau adalah melakukan migrasi, merubah diet atau makanan, serta melakukan berbagai adaptasi agar dapat mendeteksi dan bertahan dari kebakaran hutan. Beberapa spesies hewan akan mencoba menunggu musim kemarau selesai dengan mengurangi aktivitas mereka atau pergi mencari area subur lain yang dapat menyediakan makanan bagi mereka. Contohnya, kerang air tawar jenis Lampsilis straminea dan Pyganodon grandis akan bergerak ke arah air yang sedang surut untuk menghindari kekeringan, sedangkan jenis Uniomerus tetralasmus akan menggali ke dalam substrat lumpur muara sungai saat permukaan air menurun untuk menghindari kekeringan. 

Selama musim kemarau, kura-kura gurun (Gopherus agassizii) melakukan perjalanan dalam jarak yang lebih pendek, menempati lebih sedikit liang dan mengurangi aktivitasnya di permukaan untuk menghemat penggunaan energi dan mengurangi dehidrasi. Sebaliknya, beberapa kura-kura pond slider (Trachemys scripta) akan bermigrasi, sementara yang lain mengubur diri mereka sendiri di dalam kolam lumpur di habitat mereka saat musim kemarau. Musim kering yang panas juga dapat mendorong spesies kura-kura seperti penyu belimbing (Dermochelys coriacea) untuk melakukan perjalanan yang dua kali lipat lebih jauh dari tempat mereka bersarang ke tempat mereka makan (Chan, 2020). Penyu belimbing perlu berada di area dengan suhu yang lebih dingin saat makan, sehingga area perairan yang tidak terlalu panas saat musim kemarau akan menjadi lebih ideal. 

Strategi hewan dalam mencari makan di habitat yang dilanda kekeringan perlu berubah untuk menghindari kondisi yang keras dan persaingan dengan hewan lain untuk mendapatkan sumber daya yang semakin langka. Sebagai contoh, lemur coklat (Eulemur flavus) secara intensif mencari makan berupa dedaunan agar tetap terhidrasi pada siang hari saat musim kemarau. Pada malam hari, mereka akan mengkonsumsi lebih banyak buah untuk memperoleh nutrisi yang tidak terdapat pada daun. Burung puffin (Fratercula) di Teluk Maine biasanya memakan ikan hake putih dan ikan haring, tetapi lautan yang hangat saat musim kemarau menyebabkan ikan-ikan ini pindah ke utara. Oleh karena itu, mayoritas burung puffin saat ini mengubah diet mereka ke ikan gindara. Sayangnya, mereka tidak dapat menelan ikan gindara dengan baik sehingga banyak dari spesies burung ini yang akhirnya mati. 

Walau begitu, strategi mengganti diet akan menjadi tantangan bagi hewan yang memiliki diet khusus seperti beruang kutub (Ursus maritimus). 70 persen diet beruang kutub terdiri atas plankton dan mereka memperoleh plankton tersebut melalui memakan anjing laut. Diet anjing laut umumnya terdiri atas ikan dan udang yang sebelumnya memakan alga yang kaya akan plankton. Pada musim semi yang hangat di Kutub Utara, alga akan tenggelam ke dalam perairan sehingga ikan, udang, dan anjing laut akan menyelam untuk mencari makan dan jarang muncul ke permukaan. Apabila pada musim semi tersebut beruang kutub tidak memperoleh lemak yang cukup dari memakan anjing laut, mereka rentan terhadap kematian saat musim dingin melanda. 

Pada musim kemarau, kawasan hutan menjadi rentan terhadap kebakaran hutan, sehingga mayoritas spesies hewan yang memiliki habitat di hutan perlu beradaptasi agar dapat mengantisipasi kebakaran hutan. Adaptasi perilaku yang memungkinkan kelangsungan hidup di habitat rawan kebakaran ini seperti kemampuan untuk deteksi kebakaran menggunakan suara, penglihatan, asap dan isyarat radiasi inframerah, membuat lubang, liang atau tempat berlindung, memelihara area tanah kosong untuk mencegah akumulasi bahan bakar, komunikasi sosial, dan koordinasi untuk menjauh dari area yang terbakar. Sayangnya, beberapa spesies hewan masih belum mampu beradaptasi dengan kebakaran yang terjadi secara tiba-tiba, sehingga banyak dari mereka yang akhirnya terbunuh. 

Respon terhadap badai dan banjir

Pada awal tahun 2000-an, sebuah bidang baru dalam ilmu iklim mulai meneliti hubungan antara jejak manusia (human footprint) dengan kemunculan cuaca ekstrim, seperti banjir, gelombang panas, kekeringan, dan badai (Pidcock, Pearce, & McSweeney, 2020). Penelitian ini mengungkapkan bahwa ada hubungan antara perubahan iklim akibat aktivitas manusia dengan kemunculan cuaca-cuaca ekstrim tersebut. Frekuensi cuaca ekstrim seperti hujan lebat kemungkinan besar akan meningkat pada awal abad ke-21, dan sangat mungkin meningkat di sebagian besar wilayah lintang tengah dan tengah tropis. 

Akibat suhu yang terus meningkat, daerah perairan seperti laut, danau, dan sungai akan memanas dan mempercepat proses evaporasi yang menyebabkan hujan lebat. Peningkatan suhu bumi juga menyebabkan es di Kutub Utara meleleh dan meningkatkan permukaan air laut. Saat permukaan laut naik, banjir pesisir akibat badai akan menembus lebih jauh ke daratan, dan air tanah akan lebih dekat dengan permukaan tanah. Tergantung durasi dan intensitasnya, badai dapat secara singkat mengganggu aktivitas hewan tanpa membahayakan mereka, menyebabkan mereka menjauh untuk mencari perlindungan sementara di tempat lain, atau malah membunuh mereka.

Pada saat badai, hewan-hewan umumnya sudah mempersiapkan tempat bagi mereka untuk berteduh dengan aman hingga badai selesai. Ketika banjir, hewan-hewan umumnya akan menghentikan aktivitas mereka untuk berpindah ke dataran tinggi yang tidak terdampak banjir. Beberapa hewan seperti beruang hitam (Ursus americanus) selalu memilih untuk membuat sarang di tempat dengan topografi yang lebih tinggi untuk mengantisipasi banjir. Sayangnya, masih ada beberapa hewan seperti burung perandai (Haematopus ostralegus) yang belum mampu beradaptasi untuk membuat sarang di tempat yang lebih tinggi. Padahal, sarang burung perandai sangat rentan terhadap bencana banjir selama 20 tahun terakhir. 

 

Respon Manusia Terhadap Tanda-tanda Tersebut

Polar Bear in the Arctic © Margo Tanenbaum
Polar Bear in the Arctic © Margo Tanenbaum

 

Dalam beberapa dekade mendatang, perubahan iklim kemungkinan besar akan menyebabkan atau berkontribusi pada kepunahan banyak spesies. Berbagai perubahan pada perilaku hewan seharusnya sudah menjadi tanda bahwa manusia perlu upaya lebih lagi untuk memperlambat perubahan iklim. Lantas, apa saja yang dapat dilakukan manusia untuk memperlambat perubahan iklim dan menjaga kelestarian hewan di Bumi?

  1. Ahli perilaku hewan dapat meneliti secara lebih lanjut bagaimana spesies hewan tertentu beradaptasi dengan cuaca ekstrim yang muncul akibat perubahan iklim. Melalui penelitian, para ahli dapat mengidentifikasi sistem pengelolaan yang memungkinkan populasi tersebut tetap hidup dan bertahan cukup lama untuk memiliki kesempatan beradaptasi dengan lingkungan yang senantiasa berubah dalam jangka panjang. 
  2. Menjaga kelestarian alam, terutama hutan. Kita tahu bahwa banyak pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang menebang dan membakar hutan secara ilegal demi kepentingan industri mereka. Apabila tutupan hutan secara terus-menerus hilang akibat pembukaan lahan, maka tidak akan ada pohon yang tersisa untuk mengubah gas karbondioksida di atmosfer menjadi oksigen dan hewan-hewan akan kehilangan habitat mereka. Gas karbondioksida akan terperangkap di atmosfer dan menciptakan efek rumah kaca yang mempercepat perubahan iklim bumi. Apabila suhu di Bumi terus meningkat, maka es di kutub akan mencair, banyak hewan di kutub akan kehilangan habitat mereka, dan permukaan laut akan naik. Manusia tidak hanya akan terancam oleh daratan yang tenggelam, tetapi juga terancam oleh kemunculan pandemi akibat virus-virus kuno yang sebelumnya terperangkap dalam es. 
  3. Menjaga kelestarian berbagai spesies hewan yang memiliki peran penting bagi ekosistem agar tidak punah. Sebagai contoh, hiu (Selachimorpha) adalah predator puncak yang membantu menjaga keseimbangan ekosistem laut dengan memastikan keanekaragaman spesies (Herzl, 2019). Keberadaan hiu dalam ekosistem memungkinkan kehadiran alga, plankton, dan rumput laut yang menghasilkan sebagian besar oksigen bumi dan menyerap karbon dioksida penyebab perubahan iklim. 
  4. Mengurangi penggunaan berbagai energi yang dapat meningkatkan emisi gas penyebab efek rumah kaca (Schweig, 2016). Sebagai contoh, mematikan alat-alat elektronik yang membutuhkan aliran listrik saat tidak sedang memakainya dan menggunakan bola lampu yang ramah lingkungan. Bola lampu yang ramah lingkungan dapat membantu kita menghemat tagihan listrik dan bertahan 10-50 tahun lebih lama dibandingkan bola lampu biasa. 
  5. Mengurangi konsumsi daging merah. Industri pertanian besar, seperti produksi daging dan produk susu, mengeluarkan lebih banyak gas rumah kaca dibandingkan gabungan dari semua transportasi dunia. Memproduksi daging sapi, domba, dan keju menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah tertinggi, sehingga mengurangi konsumsi daging merah akan memperlambat perubahan iklim.  
  6. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan mendaur ulang. Plastik sekali pakai yang sulit terurai dapat mencemari ekosistem daratan dan lautan. Perubahan iklim dan pencemaran lingkungan akan mempercepat kepunahan berbagai spesies yang ada di daratan maupun lautan. Oleh karena itu, kita perlu mendaur ulang plastik sekali pakai dan lebih banyak menggunakan bioplastik atau benda yang dapat dipakai kembali (reusable). 

 

Penulis: Fiona Evangeline Onggodjojo

 

Referensi Literatur

Are human activities causing climate change? (n.d.). Australian Academy of Science. 

Retrieved January 22, 2021, from https://www.science.org.au/learning/general-audience/science-climate-change/3-are-human-activities-causing-climate-change.

Boroneant, C. E. (2009). Anthropogenic Climate Influences. In A. Yotova (Ed.), Climate 

Change, Human Systems and Policy – Volume I (pp. 89-116). UAE: EOLSS Publications.

Buchholz, R., Banusiewicz, J. D., Burgess, S., Crocker-Buta, S., Eveland, L., & Fuller, L. 

(2019). Behavioural research priorities for the study of animal response to climate change. Animal Behaviour, 150(1), 127–137. doi: 10.1016/j.anbehav.2019.02.005. 

Chan, J. (2020, January 19). The five: changes in animal behaviour due to global heating. 

The Guardian. Retrieved January 22, 2021, from https://www.theguardian.com/science/2020/jan/19/the-five-changes-in-animal-behaviour-due-to-global-heating.

Climate Change — effects on animals, birdlife and plants. (n.d.). Climate & Weather. 

Retrieved January 21, 2021, from https://www.climateandweather.net/global-warming/climate-change-and-animals/#:~:text=There%20is%20already%20undeniable%20evidence,and%20plants%20to%20become%20extinct.

Herzl, R. (2019, September 20). Protecting Wildlife: The Untapped Solution To The 

Climate Crisis. Wildlife Conservation Network. Retrieved January 22, 2021, from https://wildnet.org/protecting-wildlife-the-untapped-solution-to-the-climate-crisis/.

Pidcock, R., Pearce, R., McSweeney, R. (2020, April 15). Mapped: How climate change 

affects extreme weather around the world. Carbon Brief. Retrieved January 22, 2021, from https://www.carbonbrief.org/mapped-how-climate-change-affects-extreme-weather-around-the-world.

Schweig, S. V. (2016). Here Are Some Easy Ways To Protect Animals From Climate 

Change. The Dodo. Retrieved January 22, 2021, from https://www.thedodo.com/5-things-fight-climate-change-2103743992.html.

Temperature and Survival: A Delicate Balance Between Warm and Cold. (n.d.). Journey 

North. Retrieved January 22, 2021, from https://journeynorth.org/tm/monarch/sl/2/Text.html#:~:text=Warm%20Temperatures%20are%20Dangerous%20Too,store%20lipids%20in%20their%20abdomen.

 

Referensi Gambar

Herd of Black-and-Brown Buffaloes. Retrieved from https://www.pexels.com/photo/shallow-focus-photo-of-herd-of-black-and-brown-buffaloes-1096789/

Wildebeest Migration. Retrieved from https://pixabay.com/images/id-3995945/.

Polar Bear in the Arctic. Retrieved from https://pixabay.com/images/id-3775941/.

 

Lindungihutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya yang dapat merugikan pihak. 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!