Memaknai Alam Indonesia

 

Indonesia, sebuah negara yang diberkahi Tuhan dengan kekayaan alam yang luar biasa. Negara kita menyimpan banyak sekali sumber daya alam, baik yang ada di darat, air, udara, maupun yang ada di dalam bumi. 

Ads

Namun sadarkah kita, belakangan ini kita banyak sekali menerima berita yang menampilkan kabar buruk seperti kerusakan lingkungan, bencana alam, hingga peraturan pemerintah yang dinilai memberatkan usaha konservasi lingkungan. Kita sebut saja yang sedang hangat belakangan ini yaitu RUU Omnibus Law yang mendapat banyak sekali kritik dan kecaman dari ahli dan aktivis lingkungan. Kita juga masih lekat sekali dengan fenomena Covid-19 yang mewabah, banjir di Masamba, atau banjir yang terjadi di daerah Jabodetabek pada Januari silam. Atau kita tarik mundur lagi, ketika hutan kita terbakar habis-habisan di akhir tahun 2019. Rasa-rasanya, ini semua terjadi untuk menciptakan ironi di negara kita yang indah ini.

Mungkin banyak dari kita yang tetap optimis melihat konservasi alam Indonesia di kemudian hari, namun mungkin ada juga sebagian dari kita yang mulai pesimis atas hal ini. Tidak sedikit dari kita yang menggerutu dan kesal sendiri atas apa yang terjadi. Banyak juga yang mengutuk rezim, hingga menimbulkan perpecahan seperti yang terlihat di media sosial kita saat ini. 

Akan tetapi tulisan ini tidak akan jauh membahas terkait pro kontra atas segala hal buruk yang diberitakan belakangan ini. Justru tulisan ini akan menunjukkan pada pembaca bahwa kelestarian alam, konservasi alam Indonesia di negara kita sangat layak untuk diperjuangkan. Tulisan ini akan membawakan beberapa kisah orang-orang, baik individu maupun kelompok, yang tetap optimis dan terus berjuang demi konservasi alam Indonesia.

Kisah pertama merupakan perjuangan sebuah kelompok suku adat yang mempertahankan hutan mereka dari eksploitasi industri perkebunan selama puluhan tahun. Mereka adalah masyarakat Dayak Iban yang berada di Sungai Utik, Kalimantan Barat. Eksistensi mereka dalam melestarikan hutan kerap dihantui oleh para penebang pohon selama lebih dari 40 tahun. 

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Ancaman awal bermula pada sekitar tahun 1979, ketika hutan di Kalimantan sedang marak-maraknya ditebangi untuk kebutuhan industri. Saat itu datang sebuah perusahaan yang mendapat izin untuk menebang pohon dari kawasan hutan adat Suku Iban. Namun masyarakat terus melakukan perlawanan hingga akhirnya perusahaan itu pergi. 

Kesempatan untuk mengeksploitasi hutan adat terus berdatangan, namun tetap saja Suku Iban melakukan perlawanan meskipun ditawar oleh uang sekalipun. Bagi mereka, hutan merupakan segalanya dan menyediakan segala kebutuhan hidup. Hutan diibaratkan sebagai ibu, yang menjaga kehidupan mereka selaku anaknya. Suku Iban menjaga dan melestarikan hutan dengan adat kebudayaan yang terus dipertahankan hingga saat ini. 

Perjuangan Suku Iban dan kisah perlawanan mendapat perhatian publik. Sejumlah aktivis mendukung perlawanan Suku Iban dan terus mengkampanyekan konservasi hutan Kalimantan. Kemudian perjuangan Suku Iban memperoleh berbagai macam penghargaan baik nasional maupun internasional. 

Apai Janggut mewakiili masyarakat Dayak Iban menerima Equatorial Prize dari UNDP di New York pada September 2019 (foto oleh: Yani Saloh) https://katadata.co.id/padjar/berita/5f223faa519b6/40-tahun-menanti-pengakuan-hutan-adat-sungai-utik
Apai Janggut mewakiili masyarakat Dayak Iban menerima Equatorial Prize dari UNDP di New York pada September 2019 (foto oleh: Yani Saloh) https://katadata.co.id/padjar/berita/5f223faa519b6/40-tahun-menanti-pengakuan-hutan-adat-sungai-utik

Suku Iban menerima penghargaan Equator Prize 2019 UNDP (PBB) di New York, Amerika Serikat, atas konsistensi mereka dalam mempertahankan hutan adat. Pemerintah Indonesia juga mengakui perjuangan Suku Iban dan memberikan mereka penghargaan Kalpataru di tahun yang sama.

Hingga akhirnya, pada 20 Mei 2020, Pemerintah Indonesia mengakui kawasan hutan adat Suku Iban melalui SK Nomor: 3238/MENLHK-PSKL/PKTHA/PSL. Pengakuan ini merupakan sebuah berkah bagi Suku Iban, karena dengan hal tersebut, kawasan hutan adat mereka tidak dapat diperjualbelikan apalagi dimanfaatkan oleh perusahaan untuk kebutuhan industri. 

Bayangkan setelah 40 tahun lamanya, mereka mendapat ancaman dan godaan yang besar dari berbagai perusahaan yang mencoba merebut hutan mereka. Akhirnya Suku Iban mendapat pengakuan dan secara mandiri melestarikan hutan sesuai dengan adat kebudayaan mereka.

Selanjutnya adalah kisah seorang petualang yang rela meninggalkan kehidupannya di kota, yaitu Saur Marlina Manurung atau biasa dikenal dengan Butet Manurung. Usaha Butet dalam menjaga konservasi lingkungan adalah dengan memberi pendidikan bagi anak-anak Suku Anak Dalam atau Orang Rimba di Jambi. Butet mengajarkan baca tulis dan memberikan pemahaman terkait dunia di luar suku mereka.

Butet Manurung sedang bermain bersama seorang anak di hutan adat Orang Rimba. Sumber foto: Instagram pribadi Butet, @butet_manurung https://www.instagram.com/p/B5sULJ7A9c8/?utm_source=ig_web_copy_link
Butet Manurung sedang bermain bersama seorang anak di hutan adat Orang Rimba. Sumber foto: Instagram pribadi Butet, @butet_manurung
https://www.instagram.com/p/B5sULJ7A9c8/?utm_source=ig_web_copy_link

Pada awalnya Butet bekerja sebagai fasilitator pendidikan bagi Orang Rimba yang diwadahi oleh KKI WARSI pada tahun 1999. Tugas Butet di sana adalah memberikan pengajaran baca tulis kepada anak-anak. Karena selama ini masyarakat adat seringkali dibodoh-bodohi oleh oknum yang memanfaatkan ketidakmampuan Orang Rimba dalam baca tulis untuk menyepakati surat persetujuan pemanfaatan hutan adat. 

Tentu usaha Butet tidaklah mudah. Bagi Orang Rimba, pendidikan merupakan hal yang tabu dan melanggar adat mereka. Akan tetapi ia terus berusaha, sampai akhirnya diterima oleh mereka dan bahkan kemampuan baca tulis menjadi tren tersendiri di kalangan Orang Rimba. Atas usahanya tersebut, Orang Rimba kini tidak lagi dibodoh-bodohi karena sudah pandai baca tulis dan berhitung sehingga mereka dapat melestarikan alam dengan adat budaya yang selama ini mereka lakukan.

Perjuangan Butet dalam mengadakan pendidikan bagi Orang Rimba mendapat pengakuan dan penghargaan dari berbagai pihak. Penghargaan seperti “Man and Biosphere” dari Unesco dan LIPI pada 2001. Butet dinobatkan sebagai pahlawan versi majalah Time pada 2004. Hingga ia meraih penghargaan Magsaysay yang kerap disebut sebagai Hadiah Nobel-nya Asia. 

Banyaknya penghargaan tidak menghentikan langkah Butet untuk terus berkontribusi dalam dunia pendidikan Indonesia. Ia membangun Sokola Institute, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang mengadakan pendidikan alternatif di beberapa kawasan masyarakat adat di Indonesia, termasuk Sokola Rimba yang dibangun untuk Orang Rimba Jambi.

Ketiga, adalah sekelompok anak muda yang membentuk sebuah platform galang dana untuk dimanfaatkan sebagai usaha konservasi alam Indonesia, yaitu Lindungi Hutan. Miftachur Robani atau akrab disapa Mas Ben, merupakan CEO sekaligus Co Founder dari Lindungi Hutan. 

Perjalanan bermula saat Mas Ben dan beberapa temannya berinteraksi dengan petani lokal di utara Semarang pada September 2016 silam. Saat itu kondisi pertanian di utara Semarang cukup memprihatinkan karena banjir rob yang telah terjadi selama bertahun-tahun. Kondisi tersebut menyebabkan para petani mengalami krisis dan juga pantai yang mengalami abrasi.

Mas Ben bersama temannya, memiliki inisiatif untuk membantu para petani melakukan konservasi pantai mereka dengan membuat platform penggalangan dana. Dana yang terkumpul diberikan kepada petani agar dapat dimanfaatkan dalam penanaman pohon. Selain itu, Mas Ben juga mendukung penjualan bibit oleh petani agar penanaman pohon dapat dilakukan oleh orang lain di sekitaran pantai.

Saat ini, Lindungi Hutan telah berjalan selama kurang lebih 3 tahun dan memiliki berbagai macam fitur untuk berdonasi. Lindungi Hutan menyediakan fitur bernama “Colabolatree” yang ditujukan bagi siapa saja yang ingin membuka donasi bagi keberlangsungan konservasi. Jadi selain memberikan dana untuk penggunaan konservasi lingkungan, Lindungi Hutan juga mendorong siapapun untuk terlibat aktif sebagai penggalang dalam melaksanakan galang dana.

Lindungi Hutan telah melakukan kegiatan galang dana sebanyak 356 kali, dan telah menanam sekitar 93 ribu pohon di berbagai daerah. Mereka juga telah bermitra dengan lebih dari 16 ribu orang untuk mengupayakan usaha Lindungi Hutan dalam melakukan konservasi lingkungan. Usaha Mas Ben dan tim Lindungi Hutan memberikan bukti bahwa perubahan tidak hanya terjadi dengan menuntut berbagai pihak, tetapi juga dengan keterlibatan kita sendiri di dalam perubahan itu.

Sebenarnya masih banyak sekali orang-orang, baik individu maupun kelompok, yang terus mengusahakan konservasi lingkungan lewat caranya masing-masing. Pemerintah Indonesia setiap tahun memberikan penghargaan Kalpataru bagi mereka yang berjasa dalam konservasi lingkungan. Kita juga memiliki para aktivis yang selalu mengawal kebijakan pemerintah, selalu keras dalam menyuarakan konservasi dan keadilan sosial. 

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga konservasi lingkungan Indonesia, tinggal dari diri kita sendiri yang mau mengambil langkah itu atau tidak. Sebenarnya usaha itu bukan tentang kita siapa, tapi tentang usaha yang dimaksimalkan di posisi kita saat ini. Seperti yang dikatakan oleh John F. Kennedy, “Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu”.

Kita memang menghadapi banyak sekali rintangan dan juga masalah, tapi percayalah, Indonesia patut untuk diperjuangkan. 

Referensi

KataData. (2020, July 30). 40 Tahun Menanti Pengakuan Hutan Adat Sungai Utik. Retrieved from katadata.co.id: https://katadata.co.id/padjar/berita/5f223faa519b6/40-tahun-menanti-pengakuan-hutan-adat-sungai-utik

Lindungi Hutan. (2018). Profil. Retrieved from Lindungi Hutan: https://www.lindungihutan.com/profil

Sirait, J. (2013, November 23). Sokola Rimba, Sebuah Potret Kekuatan Perempuan Bangkitkan Anak Rimba. Retrieved from Mongabay: https://www.mongabay.co.id/2013/11/23/sokola-rimba-sebuah-potret-kekuatan-perempuan-bangkitkan-anak-rimba/

Penulis: Andhika Miftakhul Huda

Medium: @augustcomte27

Twitter: @augustcomte27

Instagram: @andika.mh

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak!

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!