Memaknai Hari Tani Nasional 2020

Beranjak dari bulan Maret, sudah tiga bulan terakhir sampai sekarang Indonesia mengalami wabah pandemi virus corona. Beberapa sektor melemah, khususnya sektor ekonomi.  Di tengah masa seperti ini, justru sektor pertanian masih terus berjalan dan menjadi satu-satunya sektor yang menyokong ekonomi Indonesia. Meski berbeda dari tahun sebelumnya, 24 September 2020 tetap menjadi momentum dalam memperingati Hari Tani Nasional (HTN) yang genap ke-60.

Ads

Kisah di Balik Hari Tani

Berdasarkan Kepres RI No. 169 tahun 1963, setiap tanggal 24 September diperingati Hari Tani Nasional yaitu harinya para petani. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tani adalah mata pencaharian dalam bentuk mengusahakan tanah dengan tanam-menanam dan petani sebagai pelaku. Ada kisah apa sebenarnya di balik Hari Tani Nasional? 

Gambar Petani Zaman Penjajahan
Petani di Zaman Penjajahan Belanda. Dokumentasi © kompasiana.com

Singkat cerita sejak terlepas dari belenggu penjajahan bangsa Belanda, Indonesia dinyatakan sebagai negara merdeka. Saat itu, Indonesia mulai membangun dan membenahi negaranya sendiri. Salah satu agenda pada saat itu ialah menggagas UU Agraria baru menggantikan UU Agraria buatan Belanda. Agraria sendiri erat kaitannya dengan segala urusan tentang tani. Jika melihat ke belakang, petani mengalami penderitaan yang miris. Jauh dari kata sejahtera, mereka diperlakukan seperti budak di lahan milik sendiri.

Sementara saat Indonesia telah merdeka, Belanda pun belum sepenuhnya rela melepas negara Indonesia dari genggaman tangannya. Hal ini mendorong Indonesia untuk bersikap tegas hingga tiba saatnya pada tahun 1960, pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan yang mengatur Dasar Pokok-Pokok Agraria atau lazim disebut Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) yang diprakarsai oleh Menteri Pertanian, Soenaryo. Rancangan kebijakan tersebut disetujui oleh Zainul Arifin sebagai pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) dan kemudian disahkan oleh Soekarno selaku Presiden RI menjadi UU Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960. Yang dimana hari itu ditetapkan sebagai Hari Tani Nasional, hari penting sekaligus tinta sejarah bagi Indonesia.

Kondisi Terkini dari Kalangan Petani

Lahirnya Hari Tani Nasional berawal pada hari Sabtu 24 September 1960. Hari tersebut menjadi ujung tombak dari semangat juang dari para petani dalam mencapai kesejahteraan. Namun, mengingat kini Indonesia berada dalam masa pandemi COVID-19 yang menyebabkan adanya pembatasan sosial berskala besar (lockdown) di beberapa titik wilayah Indonesia. Hal ini, berdampak pada sumber pencaharian petani karena akses yang terhalang sehingga kegiatan tanam-menanam tidak dapat berlanjut. Berikut beberapa contoh kejadian telah melanda di kalangan petani bibit.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com
  • Ada Mak Jah di Kota Demak

Gambar Petani Mak Jah
Perjuangan Mak Jah dalam Kegiatan Bertani. Dokumentasi © LindungiHutan

Pasijah atau akrab dipanggil Mak Jah adalah salah satu petani bibit di Dukuh Rejosari Senik, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Sekitar 20 tahun lamanya, Mak Jah bersama suami menjadi petani bibit mangrove di samping berprofesi sebagai nelayan. Bermodal perahu miliknya, suami Mak Jah menggantungkan mata pencahariannya dari hasil menjaring ikan.

Desa Bedono, tempat tinggal Mak Jah bersama keluarganya terkenal rawan terjadi bencana banjir rob yang mengakibatkan rumah Mak Jah tenggelam. Namun, hal itu tidak membuat Mak Jah kehilangan semangat hidup. Mak Jah tetap bertahan di Desa Bedono dan ia juga harus menghidupi ketiga putra, yang dimana dua diantaranya masih sekolah.

Mengingat pandemi COVID-19 masih berlangsung, berakibat bibit mangrove Mak Jah tak laku karena terkendala akses penjualan. Begitu pula, hasil dari menjaring ikan yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

  • Pak Riyanto di Kota Tegal

Gambar Petani Pak Riyanto
Sosok dari Pak Riyanto sang petani bibit yang usaha dalam bertaninya terpuruk. Dokumentasi © LindungiHutan

Sama halnya dengan Mak Jah, Pak Riyanto adalah petani bibit mangrove di Pantai Alam Indah, Tegal. Di sisi lain, ia juga bekerja serabutan membuat perahu wisata. Dimulai sejak tahun 1998, terhitung sudah lebih dari 20 tahun Pak Riyanto melakukan kegiatan bertani. Selain sebagai sumber pendapatan, semua ia lakukan demi menyelamatkan pesisir pantai kota Tegal dari bencana banjir rob. Sungguh amat mulia.

Melihat kondisi sekarang yang masih dalam masa pandemi COVID-19, Pak Riyanto pun ikut terkena dampaknya. Ia mengalami kerugian dalam usaha bertani. Kegiatan tanam-menanam terpaksa harus terhenti di kala masa-masa seperti ini.  Begitu pula dengan pekerjaan membuat perahu wisata yang tidak mungkin dilakukan, karena adanya penutupan wisata Pantai Alam Indah Tegal. Hingga kini, Pak Riyanto bertahan dengan menjual harta benda yang dapat ia lakukan demi mencukupi kebutuhan sehari-hari.

  • Sonhaji di Kabupaten Bekasi

Gambar Petani Pak Sonhaji
Sosok dari Sonhaji sang petani bibit yang aksi penanamannya terpaksa terhenti. Dokumentasi © LindungiHutan

Sonhaji adalah petani bibit mangrove di Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Salah satu sumber pendapatannya, seketika hilang. Terlebih karena kondisi wabah COVID-19 belum berakhir, Sonhaji tidak dapat melanjutkan kegiatan bertani di wilayahnya.

Selain sebagai petani bibit, Sonhaji juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai guru honorer di wilayah tempat tinggalnya. Terkait pencegahan wabah COVID-19 pemerintah Indonesia menghimbau segala kegiatan belajar-mengajar di pusat pendidikan seperti SD, SMP, SMA, hingga tingkat universitas dialihkan ke rumah dengan metode daring. Kegiatan pengalihan tersebut membuat Sonhaji kehilangan sumber pemasukannya.

Kini, Sonhaji hanya berdiam diri di rumah sampai menemukan pekerjaan tetap. Dengan begitu, berbekal hanya sisa uang tabungan yang ia punya untuk bertahan dan menghidupi keluarganya.

Refleksi 60 Tahun Hari Tani

Tepat hari ini, Kamis (24/09/2020) merupakan hari spesial yakni peringatan Hari Tani Nasional atau National Farmer’s Day. Tahun ke tahun, HTN menjadi kilas balik bagi para petani dalam hal kesejahteraan. Hari Tani bukan sekedar seremoni atau acara perayaan belaka, tapi ada makna lebih di dalamnya.

Peran petani sangatlah mulia, dengan kegiatan menanam mampu mempengaruhi berbagai aspek. Mulai dari memenuhi pangan tiap perorangan hingga mengatasi bencana banjir rob yang kerap terjadi di pesisir pantai. Karena itulah, petani adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang terlupakan.

Ada kalanya, bertani tidak sebatas menanam bahan pangan pokok seperti padi. Lebih dari itu, demi menghijaukan alam raya Indonesia di samping memiliki nilai tambah dalam mencegah berbagai bencana. Sifat sabar dan pantang menyerah dalam menanam menjadikan petani sebagai penyelamat dari malapetaka. Lantas, apa yang dapat kita berikan kepada petani di Hari Tani Nasional ke 60? Ini adalah waktu yang tepat untuk menaruh rasa simpati dan ulur tangan untuk para petani dalam mencapai kesejahteraan.

Selamat Hari Tani Nasional. Mari bergotong royong, bahu membahu, dan pergunakan kesempatan emas ini untuk membantu kesejahteraan petani Indonesia menjadi lebih baik!

Penulis : Tasyah Anjani

Referensi :

[1] Admin. 2020. Inisiatif Mandiri Bantu Mak Jah Pulih dari Pandemi. wanaswara.com. Tersedia dalam https://wanaswara.com/inisiatif-mandiri-bantu-mak-jah-pulih-dari-pandemi/. Diakses pada 15 September 2020.

[2] Anonymous. 2019. Melihat Sejarah Hari Tani Nasional yang Sesungguhnya. paktanidigital.com. Tersedia dalam  https://paktanidigital.com/artikel/melihat-sejarah-hari-tani-nasional-yang-sesungguhnya/#.X2Aw-mgzbIU. Diakses pada 14 September 2020.

[3] Widianti, Intan K P. 2020. Inisiatif Mandiri Bantu Pak Riyanto Pulih dari Pandemi. wanaswara.com. Tersedia dalam https://wanaswara.com/inisiatif-mandiri-bantu-pak-riyanto-pulih-dari-pandemi/. Diakses pada 15 September 2020.

[4] Widianti, Intan K P. 2020. Inisiatif Mandiri Bantu Sonhaji Pulih dari Pandemi. wanaswara.com. Tersedia dalam https://wanaswara.com/inisiatif-mandiri-bantu-sonhaji-pulih-dari-pandemi/. Diakses pada 15 September 2020.

[5] Widianti, Intan K P. 2020. PSBB Tegal Latarbelakangi Inisiatif Bantu Pak Riyanto. wanaswara.com. Tersedia dalam https://wanaswara.com/psbb-tegal-latarbelakangi-inisiatif-bantu-pak-riyanto/. Diakses pada 15 September 2020.

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak! 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!

Enable Notifications    Ok No thanks