Mengapa Orang Membuang Sampah Sembarangan?

Sampah Plastik yang Terbuang di Laut
Sampah Plastik yang Terbuang di Laut

Orang mempunyai banyak kata-kata. Tulisan ini memiliki banyak tanda tanya. Tentang mereka yang terbiasa membuang sampah sembarangan.

Ads

Permasalahan sampah masih menjadi lagu lama yang tak kunjung usai di negeri ini. Berbagai aturan telah diterbitkan, tetapi entah mengapa masih saja ada orang yang membuang sampah sembarangan, mulai dari di gunung hingga laut.

Baca Lainnya : Menghayati Peranan Mangrove Tuk Cegah Perubahan Iklim

Membuang sampah sembarangan sudah menjadi budaya, katanya…

Katanya, kebiasaan membuang sampah sembarangan ini sudah menjadi budaya. Menurut KBBI, budaya dapat diartikan sebagai kebiasaan yang sukar diubah. Ya, namanya juga kebiasaan! Padahal, membuang sampah sembarangan ini mengakibatkan dampak yang buruk bagi lingkungan, bukan hanya membuat lingkungan tidak cantik, namun juga sebagai pencemar yang mengakibatkan terganggunya kelangsungan hidup organisme baik tumbuhan, hewan, dan juga manusia.

Lawrence Green, seorang peneliti mengemukakan teori bahwa perilaku manusia itu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Green mengkategorikan akar-akar perilaku ke dalam 3 kelompok faktor, yaitu faktor predisposisi (predisposising factor), faktor pemungkin (enabling factor), dan faktor penguat (reinforcing factor).

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Faktor predisposisi berasal dari individu yang melakukan aksi atau tindakan, contohnya pengetahuan.
Faktor pemungkin berasal dari luar individu yang berupa fasilitas seperti sarana prasarana, contohnya
ketersediaan tempat sampah. Faktor penguat juga berasal dari luar individu, seperti dukungan orangtua,
masyarakat, tokoh masyarakat, dan sebagainya.

Apakah karena kurangnya pengetahuan?

Pada dasarnya, pengetahuan dapat membentuk perilaku seseorang. Orang yang memiliki pengetahuan
akan dampak negatif membuah sampah sembarangan mestinya tidak akan melempar sampah ke
jalanan, sungai, laut, atau ke ujung dunia mana pun. Sayang sekali jika pengetahuan tidak dibarengi
dengan tindakan. Namun pengetahuan pun ada tingkatan.

Membuang sampah sembarangan, apakah karena tidak tersedianya tempat sampah?

Keberadaan tempat pembuangan sampah, baik itu di rumah masing-masing berupa tong sampah, atau di ruang lingkup komunal berupa Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dapat mencegah masyarakat membuang sampah ke sungai.

Tetapi tempat sampah tidak akan ada pada sepanjang inci langkah kaki. Tempat sampah berada pada titik-titik tertentu, oleh karena itu rasa malas melangkah ke tempat sampah usahlah dipelihara agar tidak membuang sampah di tempat berdiri saat itu juga.

Apakah karena tidak adanya aturan?

Aturan tentang pengelolaan sampah biasanya diatur oleh daerah dan dituangkan di dalam Peraturan Daerah (Perda). Pertanyaannya adalah, apakah setiap daerah memiliki peraturan dalam pengelolaan sampah? Bagaimana sosialisasi dan pelaksanaan dari peraturan tersebut?

Menyoal sampah, memanglah ada banyak hal yang dapat dibicarakan.

Sampah, Karbon, dan Pemanasan Global

Sebuah penelitian menghitung bahwa dalam seluruh siklusnya, plastik menyumbang 3,8% dari emisi gas rumah kaca secara global. Plastik dibuat dari bahan kimia bernama petrokimia yang umumnya berasal dari minyak bumi dan gas alam. Produksi dan transportasi bahan-bahan plastik membutuhkan energi dan bahan bakar. Jika plastik dibakar, maka akan melepaskan karbon ke udara.

Sampah plastik yang memenuhi laut akibat kerusakan mangrove pun negatif untuk ekosistem laut. Plastik yang tidak didaur ulang akan terpecah menjadi kepingan kecil berukuran kurang dari lima milimeter, dan ini yang disebut dengan mikroplastik. Mikroplastik pun termakan oleh hewan-hewan laut.

Sampah organik yang terurai akan menghasilkan gas metana. Semakin banyak jumlah sampah organik yang terdekomposisi, maka akan semakin banyak pula gas metana yang dihasilkan. Gas metana merupakan salah satu gas rumah kaca. Jika lepas ke atmosfer, metana dapat berkontribusi lebih besar terhadap pemanasan global dibandingkan dengan CO2.

Sampah, satu kata beragam arti

Sebenarnya apa itu sampah? Kebanyakan mengartikan sampah sebagai sisa kegiatan makhluk hidup yang tidak berguna lagi. Tapi, yang disebut tidak berguna bagi sebagian orang, boleh jadi masih berguna bagi sebagian lain.

Beberapa orang membuang wadah plastik ke tong sampah, beberapa orang lain memungut wadah plastik dari tong sampah dan menggunakannya sebagai sumber rezeki. Kertas, logam, alat elektronik bekas pun juga dianggap sampah bagi sebahagian orang, namun dianggap berguna bagi sebahagian lainnya. Beberapa orang membuang sisa organik ke tempat pembuangan sampah, dan beberapa orang lain menjadikannya sebagai pakan ternak atau bahan membuat kompos.

Sampah, tidak seharusnya berserakan di atas tanah. Sampah, tidak seharusnya berada di laut. Sampah, sebaiknya dikelola dengan baik, sehingga dapat berdaya guna, dan mencegah kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan untuk lingkungan. Jika dikelola dengan baik, barangkali sampah tidak perlu menumpuk dan membusuk di TPA.

Pengelolaan sampah yang baik adalah sesuai dengan hirarki piramida terbalik di mana pengurangan sampah dari sumbernya (waste prevention) berada di paling atas, kemudian diikuti dengan penggunaan kembali (reuse), daur ulang (recycling), sampah menjadi energi (waste to energy), dan terakhir barulah ke TPA (landfill).

Tulisan ini ditutup dengan sebuah khayalan, membayangkan negeri yang lebih indah dan bersih, membayangkan gunung TPA berubah menjadi gunung hijau penuh tumbuhan. Jika orang-orang mencintai keindahan, mengapa masih ada orang yang membuang sampah sembarangan?

Penulis: Elrisa Thiwa Nadella

 

LindungiHutan merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Dalam rangka mendukung kegiatan penghijauan teman-teman di Indonesia, yuk dukung Kampanye Alam daerahmu dengan berkunjung pada situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam.

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!