Mengapa Penggunaan DDT Berbahaya bagi Lingkungan?

Gambar Ilustrasi DDT
Ilustrasi DDT – time.com

Lingkungan adalah entitas penting bagi seluruh mahluk hidup, termasuk manusia.

Ads

Agar tetap terjaga, tentunya manusia harus turun tangan untuk merawatnya.

Akan tetapi, segala daya upaya yang telah manusia lakukan dalam rangka menjaga lingkungan terkadang kurang tepat.

Malah, tindakan yang dilakukan tidak jarang memperpendek umur lingkungan.

Salah satu perilaku menjaga lingkungan yang kurang tepat dilakukan adalah penggunaan DDT.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Waduh!

Padahal sejak dulu, kita mengenal DDT sebagai ‘zat yang baik’, terutama untuk sektor pertanian, di mana DDT ini seringkali digunakan untuk membunuh tikus-tikus nakal yang kerap menjadi hama bagi para petani.

Lantas, sebenarnya apa sih DDT itu dan kenapa dia berbahaya bagi lingkungan?

Baca Lainnya : Gaharu dan Berjuta Keajaiban dalam Satu Jenis Tumbuhan

Pengertian DDT

Senyawa DDT
Senyawa DDT – unenvironment.org

DDT adalah singkatan dari Dichoro Diphenyl Trichlorethane yang dikenal sebagai senyawa pembasmi serangga yang merusak tumbuhan dan penyebab penyakit malaria.

DDT disintesis oleh Othmar Zeidler pada tahun 1874, namun efek insektisidanya baru ditemukan oleh Paul Hermann Müller pada tahun 1939.

Senyawa ini mulai banyak digunakan pada Perang Dunia II sebagai perlawanan terhadap penyakit malaria, tifus, dan penyakit-penyakit lain yang disebabkan oleh mewabahnya nyamuk dan kutu.

Diperkirakan, DDT berhasil menyelamatkan kurang lebih 25 juta jiwa kala itu.

Penggunaan DDT sebagai Penyelamat Sektor Pertanian

Penggunaan DDT
Penggunaan DDT pada sektor pertanian. pixabay – wuzefe

Pada perkembangannya, DDT tidak hanya dapat digunakan pada serangga dan kutu saja, melainkan juga digunakan untuk memberantas tikus.

Pada tahun 1952, misalnya, di Surakarta dilakukan penyemprotan DDT di tempat-tempat persembunyian tikus untuk membasmi tikus yang pada saat itu menjadi salah satu penyebab penyakit pes.

Tikus dikenal sebagai reservoir beberapa patogen penyebab penyakit pada manusia dan gigitan pinjal yang ada pada tubuh tikus dapat mengakibatkan penyakit pes.

Insektisida ini selanjutnya menjadi primadona bagi sektor pertanian yang bermasalah dengan hama tanaman seperti walang sangit dan tikus.

Bahaya Penggunaan DDT

Pada 1960-an, ditemukan bukti bahwa penyemprotan DDT di lahan-lahan pertanian menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan.

Setidaknya terdapat dua sifat dari DDT yang berbahaya bagi lingkungan.

Pertama, DDT bersifat apolar, di mana zat ini tidak dapat larut dalam air tetapi sangat larut dalam lemak. Hal ini yang membuat DDT menjadi sangat mudah menembus kulit.

Kedua, DDT bersifat sangat stabil dan sulit terurai sehingga cenderung bertahan di lingkungan hidup, seperti tanah dan bahan organik lainnya, dalam jangka waktu yang sangat lama hingga mampu masuk ke dalam rantai makanan.

Jika DDT digunakan dalam sektor pertanian, maka zat DDT yang bersifat toksik dapat menempel pada tanaman dan jika tidak dibersihkan, dapat ikut terkonsumsi oleh manusia.

Tentunya, hal ini dapat menyebabkan berbagai penyakit, salah satunya kanker.

Penyemprotan DDT di area pertanian juga dapat membuat senyawa ini masuk ke dalam tanah dan sektor perairan, lalu bertahan di sana dalam waktu lama sehingga turut mencemari lingkungan dan berdampak buruk pada hewan-hewan dalam mata rantai makanan.

Proses mata rantai makanan dari satu hewan ke hewan lain yang telah mengkonsumsi zat DDT akan terus mengakumulasi senyawa itu dalam tubuh mereka dan berdampak buruk pada hewan tersebut maupun manusia yang mengkonsumsi hewan itu.

Berikut adalah ilustrasi dari akumulasi DDT dari tanah ke sektor perairan hingga ke hewan-hewan yang ada di lingkungan.

Siklus Pencemaran DDT
Siklus Pencemaran DDT – nzdl.org

Hal lain yang dapat terjadi adalah efek resistensi.

Resistensi merupakan suatu fenomena evolusi yang diakibatkan oleh seleksi pada hama yang diberi insektisida secara terus-menerus.

Populasi hama yang tetap hidup pada awal mula penggunaan DDT akan menambah proporsi individu yang tahan terhadap senyawa tersebut dan meneruskan sifat ini pada keturunan mereka.

Kondisi ini akan menyebabkan mutasi gen, di mana muncul hama baru yang tahan terhadap DDT.

Solusi Pengganti DDT

Daun Mimba
Gambar: Daun mimba. Sumber: Wikimedia/Kevinsooryan
Sifat DDT yang tidak ramah lingkungan membuat orang-orang kembali memutar otak mencari alternatif pengganti DDT yang lebih ramah lingkungan dan tidak toksik.

api, Sobat Alam tidak perlu khawatir karena dewasa ini, sudah ditemukan alternatif pengganti DDT, yaitu insektisida alami yang berasal dari tumbuhan atau bisa disebut insektisida nabati.

Dilansir dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, terdapat satu ramuan yang dapat mengendalikan hama pertanian secara umum.

Yuk, simak cara membuatnya!

Alat dan bahan:

  • Daun mimba                         8 kg
  • Lengkuas                               6 kg
  • Serai                                       6 kg
  • Deterjen                                 20 g
  • Air                                           80 liter

Cara membuat:

  1. Tumbuk daun mimba, lengkuas, dan serai hingga halus.
  2. Aduk seluruh bahan hingga merata dalam 20 liter air lalu direndam sehari semalam (24 jam).
  3. Keesokan harinya, saring ramuan menggunakan kain halus. Kemudian, encerkan Kembali larutan hasil penyaringan dalam 60 liter air. Larutan sebanyak itu dapat digunakan untuk lahan seluas 1 hektar.

Penggunaan:

Semprotkan larutan insektisida nabati yang telah dibuat tadi secara merata pada tanaman yang akan dilindungi dari serangan serangga atau hama.

Gimana? Mudah sekali kan, membuatnya?

Kelebihan dari insektisida nabati ini adalah mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan, juga relatif aman bagi manusia dan hewan karena residunya mudah hilang.

Di sisi lain, karena sifatnya yang mudah terurai, tentunya efektivitas dan daya kerjanya menjadi lebih lambat daripada DDT.

Insektisida nabati juga tidak dapat disimpan dalam waktu lama karena tidak memakai senyawa kimia untuk mengawetkannya dan pembuatannya memakan waktu tidak sedikit, apalagi jika dilakukan secara manual.

Meski begitu, tentunya ini adalah langkah awal untuk beralih dari DDT dan menghindarkan lingkungan dari pencemaran yang berkepanjangan.

Mari teruskan langkah ini dan selamatkan lingkungan untuk masa depan yang lebih baik!

Penulis : Almira Afini

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealamuntuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak!

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!