Plastik Degradable Masih Berpotensi Cemari Lingkungan

Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1869 oleh John Wesley Hyatt, plastik menjadi primadona dalam berbagai hal, terutama di sektor industri. Alasan keamanan dan kehigienisan membuat plastik banyak digunakan sebagai pembungkus produk, baik pangan maupun non-pangan. Bentuknya yang ringkas dan tahan lama menjadi alasan lain mengapa plastik kerap ditemukan dimana-mana. Sayangnya, penemuan yang semula menjadi terobosan baru ini mulai mengancam bumi. Bagaimana tidak, plastik yang terbuat dari polimer ini ternyata sangat sulit terurai. Fakta menyebutkan plastik baru dapat terurai sepenuhnya dalam tanah paling lama mencapai 1000 tahun! Meskipun demikian, nyatanya plastik masih banyak digunakan manusia. Saking banyaknya, plastik menjadi limbah dengan persentase terbesar di bumi.

Ads
Limbah Plastik di Lautan
Limbah Plastik di Lautan © greenmatters.com

Yang lebih menohok, Indonesia tercatat sebagai negara terbesar kedua yang menghasilkan limbah plastik terbanyak ke laut. Sama sekali bukan suatu prestasi yang patut dibanggakan. Ancaman plastik yang mengglobal membuat semua pihak memutar otak mencari cara untuk mengatasi peredaran plastik yang sudah tak dapat dibendung ini. Salah satu yang tercetus adalah alternatif plastik yang terbuat dari bahan mudah terurai atau degradable. Bila plastik pada umumnya terbuat dari polimer yang berbahan baku minyak bumi, plastik degradable terbuat dari bahan campuran organik yang diklaim dapat terurai lebih cepat, hanya membutuhkan waktu beberapa bulan. Penemuan plastik degradable ini sekilas memang tampak seperti solusi penyelesaian atas permasalahan plastik selama ini. Namun benarkah begitu?

Plastik Degradable
Plastic Degradable © indiamart.com

Plastik degradable memiliki bermacam-macam jenis, ada yang disebut plastik kompos, plastik biodegradable, oxo-biodegradable, plastik polietilena (PE) dan lainnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Imogen Napper dan Richard Thompson di University of Plymouth, Inggris, plastik degradable dan plastik biodegradable tersebut telah diberi berbagai macam perlakuan, namun tetap tak dapat terurai sepenuhnya. Dikubur di dalam tanah, dibiarkan di udara terbuka dan ditenggelamkan di air laut, hasilnya nihil, setelah tiga tahun platik-plastik itu masih utuh. Bahkan plastik oxo-biodegradable yang disebut-sebut dapat hancur saat terpapar oksigen, nyatanya tetap menyisakan serpihan-serpihan plastik yang lebih dikenal sebagai mikroplastik. Mikroplastik ini menjadi ancaman baru bila tersebar di sumber-sumber air, makanan dan minuman bisa terpapar dan membahayakan kesehatan makhluk hidup yang mengonsumsinya. Ternyata, klaim plastik degradable yang dapat terurai dengan mudah ini patut dipertanyakan.

Plastik degradable kebanyakan terbuat dari selulosa, kolagen, protein dan bahan-bahan organik lainnya. Meskipun organik, plastik-plastik ini hanya dapat terurai pada kondisi tertentu. Misalnya plastik biodegradable hanya dapat terurai setelah dikenai perlakuan suhu di atas 50 derajat Celsius. Bagaimana bila plastik tersebut terbawa ke lautan? Suhu laut yang dingin dan kurangnya sinar matahari tak akan mampu mengurainya. Dengan kata lain, plastik-plastik degradable ini hanya akan terurai dengan perlakuan khusus, contohnya dalam komposter yang hanya dapat ditemui di industri-industri besar, jelas tidak akan terurai bila hanya dibuang dan dibiarkan pada lingkungan terbuka.

Kita sebagai konsumen sebaiknya berhati-hati terhadap produk-produk plastik yang diklaim ramah lingkungan. Bila pada akhirnya plastik-plastik tersebut tak dapat terurai, tak ada bedanya dengan plastik sekali pakai yang selalu digunakan selama ini, tetap akan menjadi limbah destruktif yang sangat berbahaya bagi lingkungan. Sampai benar-benar ditemukan bahan plastik yang dapat terurai, satu-satunya cara yang dapat kita lakukan untuk mengurangi limbah plastik di bumi adalah dengan cara mengurangi pemakaiannya. Hindari penggunaan plastik sekali pakai, gunakan tas kain untuk berbelanja, biasakan membawa bekal dari rumah agar tak perlu membeli makanan atau minuman yang dibungkus. Bila terpaksa menggunakan plastik, sebisa mungkin limbah plastik tersebut jangan sampai terbuang ke alam, tapi cobalah daur ulang menjadi barang lain yang bermanfaat.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

 

 

Penulis : Qorry Shofia Nurullail

Dikurasi Oleh: Daning Krisdianti

Referensi :

Isabel Thomlison. 2019. Tak Terurai Sepenuhnya, Plastik ‘Biodegradable’ Masih Menyimpan Bahaya Bagi Lautan. National Geographic Indonesia. https://nationalgeographic.grid.id/read/131729228/tak-terurai-sepenuhnya-plastik-biodegradable-masih-menyimpan-bahaya-bagi-lautan?page=all diakses pada 18 Juli 2020.

Kumparan. 2018. Menelusuri Sejarah Penciptaan Plastik. https://kumparan.com/potongan-nostalgia/perjalanan-penciptaan-plastik-yang-mampu-memenuhi-keperluan-industri-dunia-1539853028743146455/full diakses pada 18 Juli 2020.

Medina Basaib. 2019. Kenapa Kantong Plastik ‘Biodegradable’ Bukan Solusi. Greenpeace Indonesia. https://www.greenpeace.org/indonesia/cerita/3541/kenapa-kantong-plastik-biodegradable-bukan-solusi/ diakses pada 18 Juli 2020.

Monique Shintami. 2017. Apa itu Plastik Biodegradable?. Ruparupa.com. https://www.ruparupa.com/blog/apa-sih-plastik-biodegradable/ diakses pada 18 Juli 2020.

Rilin Purwati. 2017. Plastik Degradable: Seberapa Efektif dalam Mengurangi Jumlah Sampah. Lautsehat.id. https://lautsehat.id/artikel/09/02/2017/plastik-degradable-seberapa-efektif-dalam-mengurangi-jumlah-sampah/ diakses pada 18 Juli 2020.

 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak!

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!