Mengenal Arapaima, Ikan Invasif yang Berbahaya

Ikan arapaima berbahaya bagi ekosistem air dan hampir punah

Ads
Gambar 1. ikan Arapaima
Gambar 1. Arapaima gigas © Aquarium Domain

Arapaima adalah spesies bonytongue besar dalam genus Arapaima yang berasal dari lembah Sungai Amazon dan Sungai Essequibo di Amerika Selatan (Species of Arapaima, n.d.). Dalam bahasa Portugis, Arapaima mempunyai nama pirarucu yang berarti “ikan merah”. Mereka adalah salah satu ikan air tawar terbesar di dunia dengan panjang tubuh yang mencapai 3 m dan berat mencapai 200 kg. Namun, rata-rata panjang tubuh Arapaima pada umumnya adalah 1 m dengan berat 90 kg (Arapaima, n.d.). Arapaima adalah ikan makanan (food fish) penting yang jumlah populasi aslinya telah menurun akibat kegiatan penangkapan ikan secara berlebihan dan kerusakan atau kehilangan habitat mereka. Saat ini, Arapaima sudah ada di beberapa daerah tropis lain, namun mereka kerap kali dianggap sebagai spesies invasif yang berbahaya apabila tidak berada di habitat alami mereka. 

Mengenal Ikan Arapaima

Gambar 2. ikan arapaima berbahaya
Gambar 2. Arapaima gigas © Nakama Aquatics  

Arapaima secara tradisional dianggap sebagai genus monotipe atau grup taksonomi yang hanya memiliki satu takson subordinat, namun kemudian dibedakan lagi ke dalam beberapa spesies (Castello & Stewart, 2008). FishBase mengenali empat spesies dalam genus Arapaima, namun ada bukti lain yang mengarah pada spesies A. arapaima sebagai spesies kelima dalam genus ini. Empat spesies dalam genus Arapaima selain A. arapaima adalah Arapaima agassizii, Arapaima gigas, Arapaima leptosoma, Arapaima mapae. Arapaima umumnya tersebar luas di perairan tawar dan tidak bermigrasi, sehingga para peneliti berasumsi bahwa ada lebih banyak spesies Arapaima di kedalaman Sungai Amazon yang belum ditemukan (Arantes et al., 2011). Oleh karena itu, perairan tawar yang menjadi habitat alami dari Arapaima perlu dijaga dengan baik karena ada kemungkinan keragaman spesies lain dari ikan ini yang belum ditemukan. 

Arapaima memiliki kepala yang lancip, berwarna hijau tembaga, mempunyai mulut yang terangkat, dan tubuh ramping dengan sisik berwarna hitam serta bagian tengah berwarna putih. Sirip punggung Arapaima membentang di sepanjang punggung menuju ekor besar mereka yang berwarna merah (Arapaima, n.d.). Sisik Arapaima memiliki lapisan luar yang termineralisasi, keras, dengan permukaan bergelombang yang di bawahnya terdapat beberapa lapisan serat kolagen dalam susunan tipe Bouligand (Sherman et al., 2017). Struktur susunan ini menyerupai kayu lapis, dan serat pada setiap lapisan yang berurutan mengarah pada sudut besar lapisan sebelumnya, sehingga meningkatkan ketangguhan. Permukaan lapisan luar yang keras dan bergelombang, serta lapisan kolagen internal yang keras bekerja secara sinergis untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk melenturkan tubuh dan berubah bentuk sambil memberikan kekuatan dan perlindungan (Sherman et al., 2015). 

BACA JUGA: Lets Do Somethinc Good

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Arapaima memiliki ketergantungan mendasar pada udara permukaan untuk bernapas. Selain insang, Arapaima memiliki gelembung renang (swim bladder) yang dimodifikasi dan diperbesar, dan terdiri dari jaringan yang mirip paru-paru. Gelembung renang ini memungkinkan mereka untuk mengekstraksi oksigen dari udara. Sebagai hewan yang perlu menghirup udara untuk bernafas, Arapaima hanya bisa bertahan di bawah air selama 10 hingga 20 menit. Mereka cenderung berada di dekat permukaan air sebelum naik untuk bernapas. Suara teguk Arapaima yang bising dan khas saat mengambil napas terdengar seperti suara batuk dan dapat terdengar dari jauh.

Berbahaya dan Invasif bagi Perairan di Indonesia

Gambar 3. ikan yang berbahaya
Gambar 3. Pirarucu (Arapaima gigas) © Global Aquaculture Alliance

Pada 25 Juni 2018, sebuah video pelepasan Arapaima gigas ke Sungai Brantas, Mojokerto, Jawa Timur beredar di media sosial dan menjadi viral (Nupus, 2018). Video ini pun memperoleh kecaman dari mantan Menteri Kelautan dan Perikanan dari Kabinet Kerja 2014-2019, Susi Pudjiastuti. Susi mengungkapkan bahwa Arapaima gigas merupakan satu dari 152 jenis ikan berbahaya yang dilarang beredar di wilayah perairan Indonesia. Pada saat itu, KKP bersama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Timur melakukan penyidikan dan menemukan 30 ekor ikan Arapaima yang beredar di Surabaya dan Sidoarjo. Dari 30 ekor ikan Arapaima, sebanyak 18 ekor masih dalam penampungan pemiliknya di Surabaya, empat ekor diserahkan kepada masyarakat, dan delapan ekor dilepaskan di Sungai Brantas. Berdasarkan penyelidikan lebih lanjut, satu dari delapan ekor Arapaima yang dilepaskan telah ditangkap kembali dalam keadaan mati, enam ekor telah dikonsumsi oleh masyarakat, dan satu ekor masih dalam proses penangkapan. 

BACA JUGA: Merawat Bumi Bersama Bumi Bulk-Store And Refillery Brand

Susi mengecam tindakan ini dan meminta jajaran Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada saat itu untuk melakukan sosialisasi peraturan dan sanksi hukum bagi masyarakat yang masih memelihara Arapaima sebagai hobi maupun budidaya. Sebagai jenis ikan berbahaya dan invasif, Arapaima dapat memakan ikan-ikan kecil di sungai-sungai di Indonesia dalam jumlah sangat banyak dan secara berangsur-angsur menyebabkan penurunan keanekaragaman biota laut di sungai. Oleh karena itu, terdapat UU nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan yang mengatakan setiap orang yang dengan sengaja membudidayakan ikan berbahaya dapat dipidana penjara paling lama enam tahun dengan denda maksimal Rp1.5 miliar. Pembuatan peraturan ini bertujuan untuk mencegah budidaya dan pelepasan ikan berbahaya di perairan Indonesia.

Ikan arapaima berbahaya dan merusak ekosistem air, Arapaima juga termasuk ikan yang terancam oleh kepunahan (Ashari, 2019). Sejak tahun 1996, Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam atau International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah menetapkan Arapaima sebagai spesies ikan yang terancam oleh kepunahan. Pada tahun 2014, Arapaima kembali terancam oleh kepunahan akibat penangkapan ikan secara berlebihan dan kurangnya regulasi yang mengatur penangkapan dan budidaya ikan ini. Menurut survei pada komunitas nelayan di Amazonas, Brasil, Arapaima sudah punah di beberapa bagian lembah Sungai Amazon. Padahal, Arapaima merupakan spesies invasif yang seharusnya hidup di habitat alami mereka. Akibat beberapa orang yang hobi memelihara dan membudidayakan Arapaima, jumlah ikan ini justru meningkat di perairan asing dan menyusut di habitat alami mereka sendiri. Oleh karena itu, perlu lebih banyak diadakan sosialisasi mengenai spesies ini agar manusia dapat menjaga keberadaan mereka serta menjaga keseimbangan ekosistem perairan di daerah masing-masing. 

BACA JUGA: Kampanye Alam Lets Keep The Earth Clean And Green

Penulis: Fiona Evangeline Onggodjojo

Dikurasi oleh Inggrit Aulia Wati Hasanah

 

Lindungihutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya yang dapat merugikan pihak. 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!