Mengenal dan Menjaga Lapisan Ozon di Atmosfer Bumi

Bumi merupakan satu-satunya planet di tata surya kita yang memiliki lapisan atmosfer. Adanya atmosfer memungkinkan bumi terlindungi dari aktivitas luar angkasa seperti tumbukan meteor dan gelombang radiasi. Atmosfer bumi yang terbentang menyelubungi bumi setebal lebih dari 500 kilometer terdiri dari beberapa lapisan. Salah satu lapisan atmosfer yang memiliki fungsi sangat penting untuk melindungi kehidupan di bumi yaitu lapisan ozon. Bagaimana cara menjaga lapisan ozon di Bumi?

Ads

Baca Lainnya : Gaharu dan Berjuta Keajaiban dalam Satu Jenis Tumbuhan

Apa Itu Lapisan Ozon?

Lapisan ozon yang 90% terletak di bagian stratosfer pada ketinggian 15-30 kilometer dari permukaan bumi ini merupakan kumpulan gas yang sangat reaktif, molekulnya terdiri dari tiga atom oksigen (O3). Lapisan ozon muncul secara alami di atmosfer, menyelubungi bumi dengan konsentrasi yang berbeda-beda di setiap wilayah, tergantung musim dan letak astronomisnya. Hal yang membuat keberadaan lapisan ozon menjadi sangat penting adalah kemampuannya dalam menyerap radiasi sinar ultraviolet B (UV-B) yang dipancarkan oleh matahari.

Lapisan Ozon
Lapisan Ozon yang Menyelimuti Atmosfer Bumi © greenmatters.com

Fakta Menarik Lapisan Ozon

Lapisan ozon pertama kali ditemukan pada tahun 1913 oleh dua orang fisikawan berkebangsaan Perancis yaitu Charles Fabry dan Henri Buisson. Pada rentang tahun 1928 hingga 1958, ahli meteorologi Inggris, G.M.B. Dobson, mengembangkan spektrofotometer dan mendirikan stasiun pengamatan ozon di seluruh dunia. Berkat jasanya ini, satuan konsentrasi ozon dinamakan dengan unit Dobson. Total massa ozon yang diketahui saat ini yaitu sekitar 3 miliar metrik ton. Jumlah ini mungkin terlihat sangat banyak, namun faktanya jumlah tersebut hanya sebesar 0,00006% dari keseluruhan gas di atmosfer bumi. Dari 10 juta molekul gas yang ada di atmosfer, hanya 3 diantaranya yang berupa molekul ozon, sangat sedikit sekali dibandingkan molekul oksigen yang bisa mencapai 2 juta molekul.

Fakta lain dari ozon yaitu bahwa ada dua jenis ozon yang terdapat di bumi. Lapisan ozon di stratosfer termasuk lapisan ozon yang ‘baik’ sebab terbentuk secara alami dari molekul oksigen (O2) yang terpecah oleh sinar matahari menjadi atom oksigen tunggal. Atom oksigen ini dapat bergabung kembali dengan sesamanya untuk membentuk O2 atau dapat bergabung dengan molekul O2 untuk membentuk ozon (O3). Ikatan ozon dapat hancur ketika bereaksi dengan molekul yang mengandung nitrogen, hidrogen, klor atau brom. Beberapa molekul yang merusak ozon terbentuk secara alami, namun keberadaan manusia membuat molekul-molekul perusak ozon semakin banyak.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Aktivitas manusia yang semakin kompleks dengan sendirinya membentuk ozon ‘buruk’ di lapisan troposfer yang lebih dekat dengan permukaan bumi. Ozon ‘buruk’ ini terbentuk ketika gas nitrogen oksida yang dihasilkan dari emisi kendaraan dan industri bereaksi dengan senyawa organik yang mudah menguap seperti pengencer cat. Adanya ozon dengan konsentrasi tinggi di lapisan troposfer ini sangat berbahaya bagi tumbuhan dan hewan, termasuk manusia.

Peranan Penting Ozon dan Ancaman Rusaknya Lapisan

Lapisan ozon yang terletak di stratosfer memiliki peranan yang penting bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Lapisan ozon berperan di dalam menyerap sinar ultraviolet yang dihasilkan oleh matahari, khususnya sinar ultraviolet B (UV-B). Menipisnya lapisan ozon, berarti meningkatnya paparan radiasi sinar UV-B ke permukaan bumi. Tingginya paparan radiasi sinar UV-B memiliki dampak buruk bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya dirasakan oleh manusia, tetapi juga oleh makhluk hidup yang tinggal di ekosistem lautan. Permasalahan pangan dan kesehatan merupakan buah dari meningkatnya radiasi sinar UV-B. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Cahyono (2006), meningkatnya radiasi sinar UV-B dapat merusak beberapa jenis tanaman pangan yang sensitif, seperti kacang kedelai, dan berpengaruh terhadap jumlah hasil panen yang diproduksi. Meningkatnya radiasi sinar UV-B juga mengancam kehidupan fitoplankton pada ekosistem laut. Fitoplankton merupakan kunci bagi rantai makanan makhluk hidup di lautan. Berkurangnya fitoplankton akan mempengaruhi kehidupan hewan laut lainnya, yang pada akhirnya juga akan berdampak pada berkurangnya jumlah hasil tangkapan laut yang bisa dimanfaatkan oleh manusia. Hal tersebut secara nyata berpotensi menimbulkan masalah pangan bagi manusia.

Selain pangan, kesehatan juga menjadi masalah baru yang ditimbulkan akibat meningkatnya radiasi sinar ultraviolet. Orang-orang yang sering terpapar sinar ultraviolet berpotensi terkena penyakit kulit dan mata, terutama kanker kulit dan katarak. Menurut Isfardiyana dan Safitri (2014), kanker kulit banyak disebabkan oleh paparan sinar matahari di siang dan sore hari. Paparan sinar UV-B, yang terdapat pada matahari siang dan sore tersebut, dapat merusak fotokimia yang terdapat di dalam DNA manusia, termasuk di bagian kulit, dan berpotensi menimbulkan kanker. Katarak juga berpotensi menyerang orang-orang yang sering terpapar radiasi sinar ultraviolet. Katarak telah menjadi penyebab terjadinya 51% kasus kebutaan di seluruh dunia. Paparan sinar ultraviolet menjadi salah satu penyebab dari terjadinya penyakit katarak tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hamidi dan Royadi (2017), paparan sinar ultraviolet yang kuat berpotensi menyebabkan terjadinya katarak senilis hingga 63 kali lipat. Dampak pangan dan kesehatan tersebut cukup memberikan bukti bahwa lapisan ozon sangat berperan di dalam menjaga kehidupan makhluk hidup, terutama manusia.

Meskipun menjadi pihak yang paling mendapatkan manfaatnya, manusia rupanya juga menjadi penyebab menipisnya lapisan ozon tersebut. Bahan perusak seperti Chloro Fluoro Carbon (CFC), Halon, dan Carbon Tetra Cloride (CTC), yang dihasilkan oleh manusia, rupanya menjadi penyebab dari bencana yang dialami oleh manusia itu sendiri. Peralatan-peralatan seperti air conditioner (AC), lemari pendingin, dan bahan penyemprot, yang digunakan oleh manusia, menjadi sumber bagi munculnya gas-gas beracun tersebut. Meskipun gas-gas tersebut juga dihasilkan secara alami di bumi, namun jumlah alami tersebut tidak memberikan dampak yang berarti bagi lapisan ozon di atmosfer. Manusia dan aktivitasnya tetap menjadi penyebab utama dari berkurangnya lapisan ozon. Menurut Cahyono (2007), bahan perusak seperti CFC dapat berdampak pada lapisan ozon melalui reaksi yang ditimbulkan oleh atom klorin (Cl), yang dihasilkan oleh bahan perusak tersebut, dengan ozon di atmosfer. Reaksi tersebut berdampak pada terurainya ribuan molekul ozon, dan menyebabkan lapisan ozon menjadi menipis.

Lapisan Ozon
Lapisan Ozon Melindungi Bumi Dari Radiasi Sinar UV © scied.ucar.edu

Penjagaan Lapisan Ozon

Setelah kita mengetahui lapisan ozon dan pentingnya bagi kesehatan makhluk hidup di bumi, sejatinya keresahan kita muncul akibat lapisan pelindung itu semakin rusak dan akan berdampak lebih buruk lagi jika tidak diantisipasi. Mau tidak mau yang harus kita lakukan adalah mencegah kerusakannya lebih parah lagi, juga sebagai tanggung jawab karena manusia sendiri yang telah memperparah kerusakan lapisan ozon tersebut.

Negara-negara dunia telah membahas pentingnya pelestarian lapisan ozon ini dalam Konvensi Wina, atau Vienna Convention for the Protection of the Ozone Layer pada 1985. Konvensi tersebut dilakukan setelah ditemukannya lubang ozon di Antartika pada musim dingin dan musim semi sebelumnya. Setelah Konvensi Wina menjadi tonggak, komitmen dunia terhadap masalah ini dilanjutkan dengan Protokol Montreal pada 1987, yang mengatur langkah-langkah yang harus dilakukan berbagai pihak untuk mengurangi penggunaan bahan perusak ozon (BPO). Protokol ini kemudian mengalami pembaharuan atau diamandemen pada beberapa kesempatan, yang terakhir adalah Amandemen Kigali 2016 yang mulai berlaku pada awal 2019. Pada proyeksinya, diharapkan kondisi lapisan ozon antara tahun 2050 dan 2070 dapat kembali kepada keadaan tahun 1980.

Indonesia juga telah meratifikasi Protokol Montreal, seperti tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 1992 dan Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2005. Soal implementasinya, dalam data terbaru Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2016, Indonesia berhasil mengurangi 158,56 ozone depletion potential (ODP) ton HCFC, dari baseline 403,92 ton. Hal ini juga merupakan pengaruh dari regulasi pelarangan bahan perusak ozon (BPO) dari Kementerian Perindustrian, yaitu 41/M-IND/PER/5/2014. Atas peraturan tersebut, para produsen lemari es dan pendingin ruang mulai diharuskan beralih menggunakan bahan yang lebih ramah lingkungan. Sharp contohnya, yang pada 2014 memutuskan untuk mengganti bahan pendinginnya dari R-22 menjadi R-32, untuk mendukung regulasi pemerintah dan menjalankan bisnis yang ramah lingkungan dan hemat energi.

Jika kita bertanya tentang apa yang bisa kita lakukan? Regulasi dan tata cara regulasi itu satu hal, dan aktor lainnya yang dapat mempengaruhi perubahan adalah para konsumen. Tentu untuk mengurangi polusi bahan perusak ozon (BPO), yang harus kita lakukan adalah mengurangi dan menyetop penggunaan barang dan benda yang menghasilkan BPO. Jika kita telah mengetahui lemari es dan pendingin ruangan dapat merusak ozon, dan kita tidak dapat menghindari keberadaan benda itu di rumah kita, maka kita bisa mengurangi penggunaannya.

Penulis : Qorry Shofia Nurullail/Abiyyi Yahya Hakim/ Tatag Suryo Pambudi

Referensi :

Artikel Jurnal

Cahyono, W.E. 2006. Dampak Peningkatan Radiasi Sinar Ultraviolet B terhadap Manusia. Berita Dirgantara. 7(1) : 22-26.

Cahyono, W.E. 2007. Urgensi Menjaga Lapisan Ozon Bagi Penghuni Bumi. Berita Dirgantara. 8(2) : 38-41.

Hamidi, M.N.S., dan Royadi, A. 2017. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Terjadinya Katarak Sinilis pada Pasien di Poli Mata RSUD Bangkinang. Jurnal Ners Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai. 1(1) : 125-138.

Isfardiyana, S.H., dan Safitri, S.R. 2014. Pentingnya Melindungi Kulit dari Sinar Ultraviolet dan Cara Melindungi Kulit dengan Sunblock Buatan Sendiri. Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan. 3(2) : 126-133.

Laman dan Media Massa

https://www.canada.ca/en/environment-climate-change/corporate/international affairs/partnerships-organizations/ozone-layer-depletion-montreal-convention.html

https://www.softschools.com/facts/weather/ozone_layer_facts/2220/

https://ozonewatch.gsfc.nasa.gov/facts/SH.html

https://www.nationalgeographic.com/environment/global-warming/ozone-depletion/

https://dlhk.jogjaprov.go.id/perindungan-lapisan-ozon

https://republika.co.id/berita/koran/trentek/14/11/14/nf0os91-saatnya-beralih-ke-ac-ramah-lingkungan

https://voi.id/teknologi/4332/lapisan-ozon-bumi-yang-kembali-pulih-di-tengah-pandemi-covid-19

 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak!

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!

Enable Notifications    Ok No thanks