Mengenal Ekonomi Rendah Karbon dan Penerapannya di Indonesia

Ekonomi rendah karbon (low carbon economy) atau ekonomi hijau kini kerap kali disebut sebagai solusi untuk menghadapi krisis iklim. Beberapa istilah lain yang mengikutinya adalah ekonomi sirkular serta pembangunan berkelanjutan yang merupakan strategi pemerintah untuk mengubah arah ekonomi Indonesia menjadi lebih rendah karbon. Sederhananya, ekonomi rendah karbon menggambarkan sistem ekonomi yang tidak banyak membutuhkan karbon sebagai sumber tenaga, serta tidak melepaskan karbon sebagai emisinya ke atmosfer sehingga tidak menimbulkan efek rumah kaca yang mempercepat krisis iklim. Namun, bagaimana konsep ekonomi karbon muncul? Sudah sejauh mana penerapannya di Indonesia?

Ads

Mengenal Ekonomi Rendah Karbon

Ekonomi rendah karbon pertama kali disebut dalam publikasi paper oleh The British Department for Trade and Industry, dengan judul “Our energy future – creating a low carbon economy” pada tahun 2003. Istilah ini mengacu pada ekonomi hijau berdasarkan konsumsi energi yang rendah dan polusi yang rendah pula. Untuk mewujudkan ekonomi rendah karbon, dibutuhkan perubahan pada cara produksi dan pola konsumsi serta pengembangan produk dan teknologi rekayasa yang menghasilkan emisi karbon serendah mungkin selama seluruh prosesnya, mulai dari produksi, penggunaan, hingga limbah atau polusi yang dihasilkan. Selain itu, inovasi mengenai penangkapan karbon dioksida serta daur ulangnya juga didorong untuk mewujudkan emisi rendah ini.

Konsep ekonomi rendah karbon (juga disebut sebagai ekonomi dekarbonisasi) merupakan sistem ekonomi yang menghasilkan tingkat emisi gas rumah kaca (GRK) yang lebih rendah dibandingkan dengan ekonomi intensif karbon yang digunakan saat ini. ‘Karbon’ mengacu pada karbon dioksida, GRK, yang memberikan kontribusi terbesar terhadap perubahan iklim. Ekonomi rendah karbon dapat dilihat sebagai langkah dalam proses menuju ekonomi nol karbon. 

Perubahan yang perlu dilakukan untuk mewujudkan ekonomi hijau ini bersifat struktural dan saling berhubungan, sehingga dibutuhkan kebijakan publik yang dapat mempercepat dan menjaga keberlangsungannya. Pada beberapa negara, sistem ekonomi ini telah banyak diadaptasi dengan cara meningkatkan pembangunan energi terbarukan seperti panel surya, serta mengurangi konsumsi energi fosil. Di Indonesia sendiri, ekon0mi rendah karbon telah menjadi tujuan dalam pembangunan berkelanjutan dengan ekonomi sirkular yang dianggap sebagai salah satu cara untuk mewujudkannya.

Gambar 1. Pembangkit Listrik Tenaga Angin
Gambar 1. Pembangkit Listrik Tenaga Angin

Salah satu negara yang telah memulai berpindah ke dalam sistem ekonomi rendah karb0n adalah Australia. Di negara ini, beberapa pemukiman telah menerapkan panel surya sebagai pembangkit listrik yang diletakkan di atap rumah. Diharapkan, pembangkit listrik tenaga surya domestik ini dapat dijadikan sebagai pemenuhan kebutuhan listrik terpusat dengan memanfaatkan teknologi penyimpanan yang lebih baik dan distribusi yang lebih efisien ke setiap rumah. 

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa langkah menuju ekonomi rendah karbon dapat menghasilkan penciptaan kekayaan baru sekitar 20 triliun dolar yang didorong oleh komersialisasi paten teknologi bersih. Ini berarti bahwa kekuatan pasar, bukan hanya kebijakan pemerintah saja, akan mendorong transisi ke ek0nomi rendah karbon. Misalnya, ketika pembangkit listrik berbahan bakar batu bara menjadi usang, akan menjadi lebih murah untuk menggantinya dengan pembangkit listrik tenaga angin atau tenaga surya.

Sudah Sejauh Mana Penerapannya di Indonesia?

Gambar 2. Panel Surya
Gambar 2. Panel Surya

Di Indonesia, Bappenas telah memulai mengarahkan pembangunan ke arah rendah karbon melalui pendirian Low Carbon Development Indonesia (LCDI) dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG). Hal ini dilakukan dengan harapan agar ekonomi tidak kembali ke cara sebelumnya, yaitu ekonomi dengan emisi karbon yang tinggi, dan tetap menjaga momentum yang sudah dilakukan dengan berpegang pada SDG, LCDI dan Nationally Determined Contribution (NDC). Harapan dari pembangunan rendah karbon ini adalah menghasilkan pertumbuhan ekonomi rendah emisi gas rumah kaca sebagai upaya menanggulangi dampak perubahan iklim, perbaikan kualitas lingkungan, dan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Saat ini, pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan harus berjalan dengan baik dan beriringan. Di Indonesia, prioritas pembangunan rendah karbon dapat dibagi menjadi lima bidang, yaitu pembangunan energi berkelanjutan, pemulihan lahan berkelanjutan, penanganan limbah, pengembangan industri hijau, dan pelaksanaan rendah karbon. Selain mengurangi emisi gas rumah kaca, implementasi pembangunan rendah karbon melalui EBT juga dinilai dapat menciptakan potensi lapangan kerja yang cukup besar. Salah satu contohnya adalah pemasangan solar home system (SHS) di Bangladesh, India, yang mampu menciptakan 15.000 lapangan pekerjaan di bidang penjualan, pemasangan, dan perbaikan SHS.

Meskipun telah terdapat rencana yang matang mengenai arah pembangunan rendah karbon, pandemi COVID-19 menjadi prioritas persoalan yang harus diatasi saat ini. Bappenas mendukung prioritas kebijakan alokasi dan penggunaan anggaran pada masa pemulihan dari pandemi COVID-19 dengan mempercepat transisi ekonomi rendah karbon yang lebih inklusif, adil dan tangguh. Selain itu, terdapat pula susunan roadmap implementasi pengembangan pendanaan pembangunan rendah karbon yang disalurkan dalam bentuk stimulus untuk green recovery. Stimulus ini diprediksikan dapat dialokasikan pada 2022 sehingga dapat mendorong program-program terkait pembangunan rendah karbon lebih kuat.

 

Penulis: Nur Annisa Kusumawardani

 

Sumber Literatur:

Chen, Hongzhang, and Lan Wang. “Coproducts Generated from Biomass Conversion Processes.” Technologies for Biochemical Conversion of Biomass, 2017, pp. 219–64. Crossref, doi:10.1016/b978-0-12-802417-1.00009-0.

Meilanova, Denis Riantiza. “Implementasi Pembangunan Rendah Karbon Butuh Dana Fantastis.” Bisnis.Com, 14 Dec. 2020, ekonomi.bisnis.com/read/20201214/44/1330759/implementasi-pembangunan-rendah-karbon-butuh-dana-fantastis.

Setyorini, Virna. “Bappenas Rekomendasi Kebijakan Ekonomi Rendah Karb0n Hadapi COVID-19.” Antara News, 28 May 2020, www.antaranews.com/berita/1521768/bappenas-rekomendasi-kebijakan-ekonomi-rendah-karbon-hadapi-covid-19.

Suttie, E., et al. “Environmental Assessment of Bio-Based Building Materials.” Performance of Bio-Based Building Materials, 2017, pp. 547–91. Crossref, doi:10.1016/b978-0-08-100982-6.00009-4.

“What Is a Low-Carbon Economy?” The Lighthouse, 19 June 2019, lighthouse.mq.edu.au/article/please-explain/march-2019/what-is-a-low-carbon-ecomony.

Wiguna, Dewa Ketut Sudiarta. “Bappenas Sasar Pembangunan Rendah Karbon Pasca-Corona.” Antara News, 28 May 2020, www.antaranews.com/berita/1519965/bappenas-sasar-pembangunan-rendah-karbon-pasca-corona.

 

Sumber Gambar:

https://lighthouse.mq.edu.au/article/please-explain/march-2019/what-is-a-low-carbon-ecomony

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online uuntu Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk melakukan kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di berbagai daerah. Mari kita sama-sama melestarikan lingkungan dan menjaganya.

Yuk bergabung bersama kami sebagai pioneer penghijauan! 

Enable Notifications    Ok No thanks