Mengenal Gambut, Bentang Lahan Warisan Zaman Es

Komponen pembentuk gambut
Komponen Pembentuk Gambut (Sumber : PantauGambut.id)

LindungiHutan.com, Semarang – Bentang alam Indonesia ini begitu kaya. Dari sekian banyak ekosistem yang ada di dunia, Indonesia memiliki hampir seluruh jenis ekosistem tersebut. Salah satu ekosistem khas yang dimiliki Indonesia adalah ekosistem lahan gambut.

Ads

Gambut adalah bentang lahan yang tersusun oleh tanah hasil dekomposisi yang tidak sempurna dari vegetasi pepohonan yang tergenang air sehingga kondisinya minim oksigen (anaerob). Material organik tersebut terus menumpuk dalam waktu lama sehingga membentuk lapisan-lapisan dengan ketebalan lebih dari 50 cm. Tanah jenis ini banyak dijumpai di daerah-daerah jenuh air seperti rawa, cekungan, atau daerah pantai.

Baca Lainnya : Melestarikan Hutan Indonesia bersama KUFPEC

Lapisan-lapisan tanah gambut terbentuk dalam jangka waktu yang sangat panjang, sekitar 10.000-5.000 tahun yang lalu, atau sekitar akhir Zaman Es. Di Indonesia sendiri, hutan gambut diduga terbentuk sejak 6.800-4.200 tahun.

Laju pembentukan tanah gambut berkisar 0-3 mm per tahun. Semakin dalam tanah seperti ini semakin tua umurnya.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

“Gambut merupakan jenis tanah yang mengandung 65% bahan organik, terbentuk dari daun, batang, akar tanaman membusuk yang berakumulasi di lingkungan jenuh air tanpa oksigen,” terang Daniel Murdiyarso dkk dalam factsheet “Cadangan Karbon di Lahan Gambut”.

Yuk, Adakan Penghijauan di Daerahmu!

Bersama LindungiHutan, Menghijaukan Indonesia.

Hutan Gambut di Kalimantan
Hutan Gambut di Kalimantan (Sumber : Rainforest Action Network)

Saat ini ancaman terbesar daerah seperti ini adalah pengeringan dan kebakaran yang biasanya diiringi dengan konversi hutan. Pengeringan menyebabkan permukaan air tanah turun dan bagian yang tidak terbasahi ini akan mengalami dekomposisi sehingga karbon akan terlepas ke udara. Kebakaran juga mempercepat proses pelepasan karbon, apalagi dengan sifat gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan karena menyisakan titik-titik api (hotspot).

Baca Lainnya : Rob Tak Halangi Semangat TRIPARI dan Relawan LindungiHutan Semarang Tanam Mangrove di Trimulyo

Sudah saatnya seluruh pihak dan masyarakat menjaga ekosistem lahan ini, karena dari proses pembentukannya yang memakan waktu lama dan kekhasan yang ada di dalamnya, apabila kawasan ini sekarang mulai rusak, entah kapan akan terbentuk kembali. (Kika)*

Referensi: Jurnalbumi, Mongabay,

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di daerahmu. Selain daerahmu, kamu  juga bisa membantu menghijaukan daerah lainnya di Indonesia lho!

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!