Mengenal Hutan Mangrove PIK di Jakarta

Dokumentasi Pribadi Tim Lindungi Hutan
Dokumentasi Pribadi Tim Lindungi Hutan

Sebelum mengetahui salah satu hutan Mangrove di Jakarta, apa yang pertama kali terlintas saat seseorang menyebutkan nama Jakarta? Metropolitan, kota besar, monas, gedung – gedung yang tinggi, macet, polusi, banjir. Mungkin itu lah sebagian besar jawaban orang – orang saat ditanya mengenai kota Jakarta. Meski kini sudah berganti status dan tidak lagi menjabat sebagai Ibu Kota, Jakarta tetap memiliki daya pikat. Terbukti data wisatawan yang melancong ke Jakarta selalu mengalami kenaikan sebelum masa pandemi, tercatat Jakarta telah dikunjungi wisatawan sebesar 2,45 juta pada tahun 2019.

Ads

Menjadi pusat suatu negara bukan tanpa beban, seperti stereotip yang telah disebutkan diatas, Jakarta kerap kali diterpa masalah, terlebih masalah lingkungan, Jakarta hampir tidak pernah lepas dari masalah banjir. Terbaru pada tanggal 7 Desember 2020 lalu, sebanyak 34 RT di Jakarta terendam banjir. Sebelumnya pada tahun 2007 Jakarta tergenang banjir yang lebih parah, sebanyak 905 RW terendam banjir, dengan luasan area yang tergenang mencapai 455 Km persegi, dan mencatat korban meninggal sebanyak 48 orang, serta total pengungsi mencapai 276.33 jiwa.

Selain masalah banjir, kualitas udara di Jakarta selalu menjadi momok menakutkan baik bagi masyarakat maupun wisatawan di Jakarta, sebanyak 6.100 jiwa mengalami kematian dini akibat polusi udara di Jakarta hanya dalam jangka 7 bulan selama 2020, data tersebut didapat dari sebuah alat baru yang dikeluarkan oleh Greenpeace Asia Tenggara yang bekerja sama dengan IQAir AirVisual.

Lebih parah lagi situs tersebut juga mencatat polusi dari segi ekonomi akibat polusi udara. Polusi udara yang ada di Jakarta menelan biaya ekonomi sebesar Rp. 21,5 Triliun, angka tersebut setara dengan 26% dari anggaran kota Jakarta tahun 2020.

Lebih memprihatinkan lagi ternyata Jakarta masih belum memenuhi ruang terbuka hijau untuk kebutuhan hidup masyarakat sekitar. Data dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menyatakan bahwa Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta hanya menyentuh  angka 9,98 persen saja, cukup memprihatinkan mengingat populasi Jakarta per 2019 saja sudah mencapai 10,77 juta jiwa.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Padatnya kota Jakarta memang menjadi alasan utama, sehingga pembangunan RTH dirasa menyulitkan. Kebutuhan masyarakat Jakarta terhadap gaya hidup boleh jadi tidak selaras dengan kesadaran akan pentingnya lingkungan untuk kehidupan, pada tahun 2011 saja Jakarta sudah memiliki 564 pusat perbelanjaan, dengan rincian 132 mall dan sisanya swalayan, pusat grosir, pertokoan, dan pasar tradisional. (Tirto,2017)

Udara yang bersih adalah salah satu kriteria untuk suatu wilayah yang layak huni, oksigen menjadi kebutuhan pokok manusia untuk dapat hidup, tak terkecuali di Jakarta. Dengan minimnya lahan untuk kembali membangun Ruang Terbuka Hijau, agaknya memaksimalkan kawasan pesisir menjadi pilihan yang menarik.

Dokumentasi Pribadi Tim Lindungi Hutan
Dokumentasi Pribadi Tim Lindungi Hutan

Solusi ini juga bisa menjadi rute bagi permasalahan lain, mengingat permasalahan pesisir pantai Jakarta yang cukup pelik. Mantan Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) DKI Jakarta Bidang Pengelolaan Pesisir Marco Kusumawijaya menyebut sembilan permasalahan yang ada di Jakarta, diantaranya pantai publik yang tak terdefinisi, sampah dan sanitasi, pencemaran teluk, sedimentasi, potensi bencana, pemukiman padat minim fasilitas, pengelolaan ekosistem pesisir, serta tanggul pesisir dan dermaga pelabuhan.

Oleh karenanya dibutuhkan sebuah solusi bagi masalah pelik yang ada di Jakarta, baik masalah kekurangan Ruang Terbuka Hijau maupun permasalahan lingkungan di sektor pesisir, sepertinya solusi tepat dari masalah ini adalah konservasi mangrove.

Seperti yang kita semua tahu bahwa mangrove adalah salah satu tumbuhan yang paling banyak menyumbang oksigen, selain itu mangrove menjadi garda terdepan pencegahan abrasi di pantai, keberadaan mangrove dapat mencegah garis pantai dari kerusakan yang disebabkan oleh gelombang air laut.

Jakarta tidak melulu soal kemewahan gedung pencakar langit, di sisi lain Jakarta juga memiliki kawasan mangrove, selain menjaga pesisir pantai Jakarta, kawasan mangrove tersebut saat ini menjadi destinasi wisata yang syarat manfaat, hutan mangrove tersebut berada di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), hutan mangrove PIK biasa dikenal dengan sebutan hutan mangrove angke.

Dahulu kawasan hutan mangrove angke didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1936, dengan luas 1.114 Ha yang dikukuhkan sebagai kawasan cagar alam, selain itu kawasan tersebut sudah dirancang sebagai daerah penyangga lahan basah untuk menampung massa air pada saat banjir. (detiktravel,2015)

Dokumentasi Pribadi Tim Lindungi Hutan
Dokumentasi Pribadi Tim Lindungi Hutan

Kini kawasan hutan mangrove PIK sebagian telah berubah, baik menjadi jalan tol maupun, pemukiman warga, serta lapangan golf perumahan elit. Meskipun seperti itu kawasan mangrove PIK tetap diperhatikan oleh pemerintah sekitar sebagai suatu wilayah yang penting untuk warga Jakarta. Seperti yang saya sebutkan diatas, kawasan mangrove Pantai Indah Kapuk menjadi salah satu penyumbang oksigen terbanyak di Jakarta, juga menjadi benteng pertahanan pesisir pantai Jakarta dari ancaman abrasi.

Pada tahun 2019 misalnya, pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melakukan penanaman bibit tanaman mangrove sebanyak 5.000 di kawasan ekowisata mangrove pantai Indah Kapuk (okezone,2019). Tentunya ini adalah salah satu bukti nyata pemerintah daerah atas kepedulian terhadap pentingnya ruang terbuka hijau bagi masyarakat sekitar.

Jakarta bukan hanya satu – satunya kota yang sering dihinggapi masalah lingkungan, hampir semua kota besar yang ada di seluruh dunia maupun Indonesia memiliki masalah serupa. Hutan mangrove barangkali menjadi salah satu contoh pentingnya menjaga lingkungan, sebab pohon dan hutan memiliki banyak manfaat untuk sekitar.

Kita tidak bisa mengandalkan atau menyalahkan satu pihak, sebab menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama sebagai manusia.

 

Penulis: Ipan Fanani

 

Referensi :

Cegah Abrasi Laut, Ini yang Dilakukan Pemprov DKI, Okezone 2019 (https://www.google.com/amp/s/megapolitan.okezone.com/amp/2019/12/21/338/2144667/cegah-abrasi-laut-ini-yang-dilakukan-pemprov-dki)

Polusi Udara Memakan Biaya Rp 21 Triliyun di Jakarta pada tahun 2020, GreenPeace 2020 (https://www.greenpeace.org/indonesia/siaran-pers/5389/polusi-udara-memakan-biaya-rp-21-triliun-di-jakarta-pada-tahun-2020/)

Eks TGUPP Sebut Sembilan Isu Besar Terkait Penataan Pesisir Jakarta, Tirto 2019 (https://tirto.id/eks-tgupp-sebut-sembilan-isu-besar-terkait-penataan-pesisir-jakarta-eoEJ)

Jakarta Krisis Ruang Terbuka Hijau, Medcom.id 2020 (https://m.medcom.id/nasional/metro/nbwQp33K-jakarta-krisis-ruang-terbuka-hijau)

Mengenal Lebih Dekat Wisata Hutan Mangrove Jakarta, Detik Travel 2015 (https://travel.detik.com/dtravelers_stories/u-2793682/mengenal-lebih-dekat-wisata-hutan-mangrove-jakarta)

 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak!

Yuk, jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!

Enable Notifications    Ok No thanks