Mengenal Kayu Jati Lebih Dalam, “Emas Hijau” dari India

Pernahkah kalian membeli lemari pakaian? Atau jenis meubel lain yang terbuat dari kayu? Jika iya, pasti teman-teman tidak asing dengan kayu jati. Ya, kayu jati memang sering digunakan sebagai bahan baku pembuatan meubel. Sifat kayunya yang keras, membuat meubel dari kayu jati memiliki harga jual yang tinggi. Tapi, tahukah kalian bahwa jati bukan tanaman asli Indonesia? Atau, tahukah kalian bahwa jati menjadi tanaman yang disukai oleh Belanda?  Pernasaran fakta lain tentang jati? Yuk, simak ulasannya berikut ini!

Ads
Pohon Jati
Tumpukan Kayu Jati Perhutani © tokoperhutani.com

Daun Jati yang Gugur Saat Kemarau Hingga Tahan Kebakaran

Tanaman jati atau yang memiliki nama latin Tectona grandis L.f. merupakan jenis pohon yang dapat tumbuh hingga ratusan tahun. Tanaman ini bisa tumbuh hingga mencapai tinggi 40-45 meter dan memiliki diameter hingga 1,8-2,4 meter. Batang dari tanaman jati umumnya berbentuk bulat, lurus, dan memiliki kulit kayu berwarna coklat, kuning, hingga keabu-abuan. Tanaman ini memiliki bunga dengan tipe majemuk dan buah berbentuk bulat gepeng. Tanaman jati memiliki daun berukuran besar, berbentuk bulat telur berhadapan, dan memiliki tangkai yang pendek. Daun-daun tersebut akan gugur pada saat musim kemarau, dan menjadi ciri khas dari tanaman jati itu sendiri.

Biji dari tanaman jati merupakan biji yang susah untuk berkecambah. Lapisan kulit luarnya yang keras, membuat biji jati perlu diberi perlakuan, seperti direndam dalam air, dipanaskan dengan api kecil, atau direndam dalam asam basa, untuk bisa membuatnya berkecambah. Hal tersebut yang membuat produksi jati secara konvensional menjadi agak sulit dilakukan. Meskipun demikian, biji yang keras pada jati ternyata sangat menguntungkan jati ketika terjadi kebakaran hutan. Kulit yang keras pada buah dan biji jati, ternyata cukup bisa melindungi lembaga biji jati ketika terjadi kebakaran. Kebakaran jutsru menjadi meia bagi jati untuk bisa berkecambah dan beregenerasi secara alami di alam.

Pohon Jati
Pohon Jati yang Dapat Tumbuh Hingga Ratusan Tahun © okezone.com

Datang dari India, Kayu Jati Tanaman Favorit Belanda

Jati merupakan tanaman yang cocok tumbuh di daerah dengan kondisi iklim kering yang nyata, memiliki curah hujan 1200-3000 mm, dan disinari oleh sinar matahari sepanjang tahun. Jati dapat tumbuh optimal jika berada pada ketinggian 0-700 mdpl dengan kondisi tanah basa, mengandung banyak cukup kapur (Ca) dan fosfor (P), serta tidak tergenang air. Karena kondisi habitat yang dimilikinya, jati banyak tersebar di negara-negara Asia seperti Myanmar, India, Thailand, Laos, Filipina, Srilangka, Vietnam, Malaysia, Tiongkok, Bangladesh, dan Indonesia (Jawa). Karena kualitas kayu yang dimilikinya, jati juga banyak dikembangkan oleh negara-negara di luar Asia seperti Australia, Selandia Baru, negara-negara di Afrika, Amerika Tengah, dan Kepulauan Pasifik.

Banyak ahli botani yang memperdebatkan mengenai negara asal dari jati. Sebagian ahli berpendapat bahwa jati merupakan spesies asli Myanmar. Tetapi sebagian lagi berpendapat bahwa jati berasal dari empat negara yang berbeda, yaitu Myanmar, Laos, Thailand, dan India. Tetapi yang jelas, jati tidak berasal dari Indonesia dan bukan tanaman asli Indonesia.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Ada beberapa dugaan yang muncul mengenai awal mula jati masuk ke Indonesia. Dugaan pertama adalah bahwa jati yang ada di Indonesia berasal dari Siam dan Pegu, dan masuk melalui jalur perdagangan. Dugaan tersebut timbul ketika Raffles mengetahui bahwa hutan jati terdekat yang bisa ditemui adalah di Siam dan Pegu. Dugaan kedua adalah bahwa jati telah masuk Indonesia sejak abad kedua, melalui pedagang-pedagang Hindu yang datang dari India. Pada saat itu, jati dianggap sebagai pohon yang sakral dan digunakan untuk menghormati Dewa Siwa. Karenanya, jati banyak diimpor dari Kelinga, pantai timur India Selatan, dan banyak ditanam di daerah-daerah di Pulau Jawa.

Di Indonesia, jati banyak ditanam di Pulau Jawa, Muna, Bali, hingga pulau-pulau di Nusa Tenggara. Oleh Belanda, jati menjadi tanaman yang sangat disukai dan dikuasai perdagangannya ketika zaman penjajahan. Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) menyebut jati dengan “emas hijau” karena nilai jualnya yang tinggi. Mereka menganggap bahwa jati dapat menyaingi perdagangan rempah yang sedang gencar pada saat itu. VOC mengumpulkan kayu jati melalui sistem blandong, dimana para pemuka bumiputera diwajibkan untuk menyerahkan jati dengan jumlah yang telah ditentukan. Kayu-kayu tersebut kemudian diboyong ke Amsterdam dan Rotterdam untuk diperdagangkan.

Dari Kayu Hingga Serangga Pengganggu

Rumah Joglo Jati
Joglo, Rumah Adat Jawa yang Menggunakan Kayu Jati © notepam.com

Jati merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan setiap bagian pohonnya. Mulai dari akar hingga daun, bahkan serangga pengganggu dari jati bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dimulai dari akar. Akar dari tanaman jati biasa digunakan oleh masyarakat di Sulawesi Selatan sebagai bahan pewarna untuk mewarnai barang anyaman mereka. Hal tersebut telah tercatat dalam sejarah dan sudah dilakukan sejak abad ke-17 masehi.

Dari akar, naik ke batang. Tidak usah ditanyakan lagi, batang atau kayu dari tanaman jati memiliki banyak kegunaan dan dapat disulap menjadi berbagai macam barang. Mulai dari meubel, bagian penyusun rumah, ukiran kerajinan, bantalan rel, bahan dok pelabuhan, hingga kapal, menggunakan kayu jati sebagai bahan utamanya. Sifatnya kayunya yang awet, keras, tetapi mudah dibentuk, menjadikan kayu jati banyak diincar produsen barang berbahan dasar kayu.

Setelah batang, kemudian naik ke ranting. Pada zaman dahulu, sebelum kompor gas ditemukan, masyarakat di sekitar hutan jati menggunakan ranting dari pohon jati sebagai bahan untuk kayu bakar. Nyala apinya yang awet, membuat ranting dari kayu jati menjadi sangat diminati oleh masyarakat.

Setelah ranting, ada daun. Daun sepertinya menjadi bagian lain yang masih umum digunakan selain kayu jati. Setiap daerah menggunakan daun jati untuk kegunaan yang berbeda-beda. Masyarakat di Pulau Bawean, Jawa Timur biasa menyeduh daun jati untuk menghasilkan pewarna coklat dan merah. Tumbukan dari daun jati dipercaya oleh masyarakat di Lamongan dan Madura sebagai obat dari kolera. Mereka biasa mencampurnya dengan asam jawa sebelum meminumnya. Selain sebagai obat dan pewarna, secara umum, masyarakat di Jawa juga menggunakan daun jati sebagai bungkus dari makanan. Sebut saja nasi jamblang di Cirebon dan tempe di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Tidak hanya bagian tumbuhannya saja, serangga pengganggu yang biasa hinggap di pohon jati, ternyata juga bisa dimanfaatkan. Belalang jati dan ulat jati, yang merupakan hama bagi tanaman jati, ternyata bisa diolah menjadi hidangan yang lezat. Ulat jati bahkan kerap diburu setiap menjelang musim hujan karena kelezatan yang dimilikinya setelah diolah menjadi makanan. Ulat-ulat tersebut biasa ditemui di pohon jati ketika hendak mencari tempat untuk berkepompong.

Meskipun memiliki banyak manfaat, sudah jarang kita temui produk-produk di pasaran yang terbuat dari bagian-bagian tanaman jati. Permintaan pasar yang tinggi, ditambah dengan lamanya pertumbuhan jati hingga bisa dimanfaatkan, membuat jati jarang kita temui di pasaran. Jika ada, harganya pasti lebih mahal jika dibandingkan dengan jenis kayu lainnya. Bagaimana? Adakah produk olahan jati di rumah kalian?

Penulis : Tatag Suryo Pambudi

Referensi :

Suroso, S.P. 2018. Jati (Tectona grandis). Yogyakarta : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak!

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!